.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      MEDIA INDONESIA, 14 JULI 2008

       

      Kriteria Sekolah

      Berkualitas

      Oleh Ahmad Baedowi

      Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta

       

      Kondisi sosial dan politik Indo­nesia dalam 10 tahun terakhir pascareformasi digulirkan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang signifikan. Tingkat pengangguran terus meningkat hingga mencapai 42 juta jiwa. Gejolak sosial yang ditandai dengan berba­gai kerusuhan masih terjadi. Begitu juga pertumbuhan ekonomi stagnan dan tak memiliki daya saing yang cukup di pasar bebas. Salah satu keberhasilan pembangu­nan yang mungkin pantas untuk dirayakan oleh rakyat Indonesia adalah berkembang­nya kehidupan demokrasi secara terbuka bahkan cenderung melampaui batas-batas demokrasi itu sendiri. A Nation at Risk, mungkin inilah ungkapan kecemasan yang perlu dipikirkan bersama solusinya.

      Tanda-tanda kebangkrutan suatu negara sebenarnya dapat dengan mudah dideteksi dari kondisi sistem pendidikan nasional yang dijalankannya. Banyak sekali hasil studi yang menyebutkan bahwa jika kondisi ekonomi sebuah negara memburuk, itu pasti berkorelasi positif terhadap kon­disi sekolah. Sebaliknya, jika stabilitas eko­nomi mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat, dapat dipas­tikan bahwa sistem pendidikan negara tersebut berfungsi dengan baik. Dengan demikian kualitas sekolah memiliki penga­ruh yang jelas terhadap kemampuan daya beli masyarakat, sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalamjangka pan­jang.

       

      Para ahli ekonomi telah memberi perha­tian sangat serius kepada efek human capital terhadap berbagai hasil ekonomi. Investasi di bidang keterampilan yang diselengga­rakan melalui pendidikan akan selalu rele­van dengan pasar tenaga kerja jika sistem pendidikan suatu negara memiliki keter­sambungan dengan pasar dan dunia industri. Artinya, investasi sumber daya manusia melalui pendidikan merupakan tolak ukur sederhana untuk melihat sejauh mana relevansi sekolah dan dunia usaha bersinergi, sekaligus untuk mengukur sejauh mana sebuah sekolah itu memiliki ciri dan kriteria berkualitas.

      Seperti telah sering kita baca dalam bebe­rapa artikel di rubrik pendidikan ini dalam dua bulan terakhir, kondisi pendidikan atau situasi persekolahan saat ini menga­lami banyak sekali tekanan dari berbagai pihak, baik secara internal maupun ekster­nal. Secara internal, sekolah belum memi­liki kernampuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang menjadi kelemahan mendasar seperti efektivitas manajemen dan relasi sekolah-masyarakat. Sedangkan secara eksternal, meskipun telah memiliki Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam praktiknya masih terdapat kesalahan mendasar dalam menafsir masalah otono­mi pendidikan, sistem pengujian hingga kebijakan pengembangan kurikulum yang selalu membuat pelaksana pendidikan ber­tambah bingung. Padahal menurut pene­litian Elmore dan Fuhrman (2001), sebuah proses pendidikan akan baik dan berkua­litas jika masalah yang berkaitan dengan tanggung jawab internal sekolah mendapatkan prioritas terlebih dahulu untuk diselesaikan.

      Lima kriteria sekolah berkualitas

      Dalam dunia industri pada abad ke-19, sistem pendidikan yang dirancang dalam satu ukuran untuk sernua (one-size-firts-all) cukup membantu mengurangi pelecehan terhadap tenaga kerja anak dan membawa kesempatan bagi dunia luas. Pada tahun 1950-an, banyak orang mampu mendapat­kan pekerjaan layak dengan kemampuan yang terbatas. Tapi keadaan berubah de­ngan dramatis. Pekerjaan menuntut latar belakang pendidikan yang tinggi. Dalam waktu yang bersamaan, sekolah dituntut untuk mengikuti perkembangan semacam itu dan juga perubahan-perubahan yang terjadi seperti perubahan dalam struktur keluarga, perubahan tren dalam kebuda­yaan populer dan pertelevisian, konsurne­risme, kemiskinan, kekerasan, pelecehan anak, kehamilan pada masa remaja, dan perubahan sosial yang terus-menerus. Di lain pihak, sekolah juga mengalami teka­nan terus-menerus untuk menekan laju perubahan, untuk lebih konservatif, untuk tetap menjalankan kebiasaan-kebiasaan tradisional, dan tidak meninggalkannya.

      Belakangan ini, sejalan dengan makin besarnya tantangan yang harus dihadapi lembaga pendidikan, muncul sejunalah usaha untuk memperbarui konsep atau gagasan tentang apa yang disebut sebagai sekolah berkualitas. Salah satu konsep ter­kemuka dalam hal ini adalah lima prinsip pendidikan yang ditawarkan Peter Senge dalam The School That is Learn (2003). Diru­muskan dalam rangka mengimbangi arus globalisasi yang meluas di bidang pendi­dikan, lima prinsip pendidikan ini mene­kankan pentingnya melihat sekolah dan atau proses pembelajaran sebagai suatu institusi pendidikan semacam perusahaan yang memerlukan kerja kelompok dan me­nuntut keahlian tertentu.

      Seperti kita ketahui bersama, ada bebe­rapa keahlian yang dapat dimiliki seseo­rang dalam mengelola pendidikan seperti, bertindak dengan otonomi yang Iehih luas, berani mengambil kesimpulan, memimpin juga dipimpin, mempertanyakan masalah yang sulit dengan sikap yang baik, dan menerima kekalahan sehingga mampu membangun kemampuan untuk keberha­silan di masa mendatang. Semua itu adalah sikap yang dibutuhkan dalam organisasi pembelajaran dan masyarakat. Kemam­puan menyinergikan lima prinsip disiplin kolektif menurut Peter Senge ini dimak­sudkan untuk meraih keahlian-keahlian yang akan dapat membantu setiap sekolah di Indonesia menghadapi tekanan dan dile­ma dalam mengelola pendidikannya.

      Secara ringkas kelima disiplin kolektif tersebut sebagai berikut. Pertama, pengu­asaan diri (personal mastery), merupakan praktik mengartikulasikan gambaran koheren dari pandangan para pribadi yang terlibat dalam setiap sekolah, hasil yang paling ingin kita dapatkan dalam hidup, di samping pengamatan nyata dari kehidupan sehari-hari. Ketika terakumulasi, ini bisa menghasilkan keinginan alami yang dapat meningkatkan kapasitas dalam membuat pilihan-pilihan yang lebih baik dan menerima hasil lebih dari yang dipilih secara berkelompok. Setiap pengelola seko­lah harus berlaku jujur dalam mengemu­kakan kelemahan dan kelebihan situasi terkini sekolahnya dan mendukung setiap aspirasi yang tumbuh dan berkembang dari anak didik. Kedua, keberanian setiap pengelola sekolah untuk berbagi panda­ngan (shared vision), sebuah disiplin kolektif yang .menekankan perhatian pada tujuan bersama. Sekelompok orang dengan tujuan yang sama dapat belajar untuk mempertahankan komitmen dalam suatu kelompok atau organisasi dengan mengembangkan pandangan yang sama tentang masa depan yang ingin dicapai, prinsip-prinsip serta guiding practices yang mereka ciptakan bersama.

      Disiplin kolektif ketiga yang menjadi perhatian Peter Senge adalah pembentuk­an mental (mental models), sebuah disiplin yang ingin menekankan sikap pengem­bangan kepekaan dan persepsi, baik dalam diri sendiri atau orang sekitarnya. Bekerja dengan membentuk mental ini dapat mem­bantu kita untuk lebih jelas dan jujur dalam memandang kenyataan terkini. Karena pembentukan mental dalam pendidikan sering kali tidak dapat didiskusikan, dan tersembunyi, maka kritik yang harus diper­hatikan oleh sekolah yang belajar adalah bagaimana kita mampu mengembangkan kapasitas untuk berbicara secara produktif dan aman tentang hal-hal yang berbahaya dan tidak nyaman. Selain itu, pengelola sekolah juga harus senantiasa aktif memikir­kan asumsi-asumsi tentang apa yang ter­jadi dalam kelas, tingkat perkembangan siswa, dan lingkungan rumah siswa.

      Keempat, bentuklah kelompok belajar (team learning), sebuah disiplin dalam interaksi kelompok. Melalui teknik-teknik se­perti dialog dan skillful discussion, sekelom­pok kecil orang dapat mentransformasikan pikiran kolektif mereka, belajar memobili­sasi energi dan kegiatan mereka untuk mencapai tujuan bersama dan mengem­bangkan kepandaian dan kemampuan mereka lebih besar ketimbang jika bakat anggota kelompok digabungkan. Kelom­pok belajar dapat dikembangkan dalam kelas, antara guru dan orang tua murid, antaranggota komunitas, dan dalam kelom­pok utama yang mengejar perubahan suk­ses dalam sekolah.

      Adapun yang terakhir adalah disiplin kolektif tentang sistem berpikir (systems thinking). Dalam disiplin ini kita belajar memahami ketergantungan dan per­ubahan, sehingga kita dapat menghadapi dengan lebih aktif tekanan yang membentuk konsekuensi dari sebuah tin­dakan. Peralatan dan teknik yang diguna­kan dalam melatih sistem berpikir ini se­perti diagram stock and flow, dan berbagai simulasi yang membantu siswa untuk me­mahami lebih dalam dari apa yang dipe­lajari.

       


       

      Comments
      hendrik  - mahasiswa     |2012-03-27 02:30:31
      betul sekali!!!!!
      mardho   |2012-04-26 07:08:12
      very good...
      :)
      handayani   |2012-05-15 18:49:52
      bagus dan sangat bermanfaat
      omes   |2012-06-25 09:17:53
      sangat setuju
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 23 February 2012 07:50  

      Items details

      • Hits: 133027 clicks
      • Average hits: 1546.8 clicks / month
      • Number of words: 1514
      • Number of characters: 12035
      • Created 7 years and 2 months ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 2 months ago at Thursday, 23 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,794
      • Sedang Online 126
      • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9105473
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      April 2019
      S M T W T F S
      31 1 2 3 4 5 6
      7 8 9 10 11 12 13
      14 15 16 17 18 19 20
      21 22 23 24 25 26 27
      28 29 30 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC