.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kompas 8 september 1997

       

      Perpustakaan Sekolah

      Terkesan Loyo

      dan Memelas

       

      Jakarta, Kompas

      Peranan kepala sekolah dalam memberdayakan perpustakaan se­kolah dewasa ini belum terlihat betul, terbukti banyaknva perpus­takaan sekolah yang terkesan loyo dan memelas. Sementara buku masih belum dipandang sebagai kebutuhan pokok manusia. Padahal, membaca buku merupakan awal dari penguasaan semua ilmu.

      Hal itu terungkap dari perbincangan Kompas dengan Kepala Perpustakaan Nasional Mastini Hardjoprakoso MLS, Kepala Kanwil Depdikbud DKI Jakarta Sri Sudono Sumarto, dan Ketua Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) Adwityani, yang ditemui secara terpisah di se-la-sela rehat acara "Sarasehan Peranan Kepala Sekolah dalam Memberdayakan dan Mengembangkan Perpustakaan Sekolah", di Jakarta hari Sabtu (6/9).

      Sri Sudono menilai, . perpustakaan sekolah saat ini tampak "loyo", bahkan banyak sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Kalaupun ada perpus­takaan, belum difungsikan secara maksimal, belum memberikan pelayanan yang maksimal.

       

      "Kondisi seperti itu tidak akan terjadi, kalau para kepala sekolah dan guru-gu­ru memberikan perhatian serius dan menyadari peran penting dari perpustakaan sekolah. Fungsi perpustakaan sekolah seyogyanya sejalan dengan fungsi seko­lah," katanya.

      Sebenarnya keluhan orangtua soal buku penunjang  yang akhir-akhir ini mencuat tidak seharusnya terjadi, sekiranya perpustakaan sekolah menyediakan buku-buku tersebut. Bukankah, lanjut Sri, buku pokok/wajib sudah dibagikan secara gratis, dan buku penunjang pengadaannya bisa dibeli iewat dana BP3?

      Kondisi ini, menurut Kakanwil Depdikbud itu, juga diperparah dengan jarangnya guru-guru memberi penugasan, sehingga anak didik tidak terbiasa membaca, memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang merupakan gudang ilmu pengetahuan.

      "Bagaimana meningkatkan mutu anak didik, sementara gurunya sendiri malas membaca, dan dengan sendirinya juga malas memberi penugasan Kalau guru rajin membaca, tentu sedikit banyaknya akan bisa menulis. Kenyataannya, kurang sekali guru menulis buku yang relevan untuk anak didiknya." papar Sri Sudono.

      Kebutuhan pokok ke-10

      Sedang Mastini mengakui, kurang .terkelolanya perpustakaan sekolah se­cara maksimal, mungkin disebabkan karena buku kurang dan harganya mahal. Selain itu, sebagian sekolah belum mempunyai tenaga pustakawan. yang bisa memberdayakan perpustakaan se­cara maksimal dan profesional.

      "Yang terpenting, buku sudah harus dimasukkan menjadi kebutuhan pokok manusia yang ke-10. Saya sudah berkali-kali membicarakan hal itu dengan Komisi IX DPR RI, tapi belum ada realisasi. Padahal, kalau buku menjadi kebutuhan pokok, orangtua akan terdorong memperkenalkan buku pada anak sedini mungkin, karena hal ini merupakan hal yang mendasar." jelasnya.

      Tentang tenaga pustakawan. lanjut Mastini, pihaknya telah berupaya mengadakan peiatihan-pelatihan di bawah direktorat pengembangan tena­ga pustakawan. Bahkan ada yang diki-rim ke luar negeri. Bersama Universitas Terbuka (UT) juga telah dibuka pro­gram Diploma 2 sejak dua tahun lalu. Begitu juga dengan sejumlah universitas, bekerja sama membuka program Diploma 3 (D-3).

      Senada dengan itu, Adwityani mengatakan, kebanyakan para kepala sekolah masih kurang peduli dengan keberadaan perpustakaan sekolah. Sehingga. kondisi perpustakaan sekolah dewasa ini seperti memelas. Padahal. pihak Klub Per­pustakaan Indonesia (KPI) telah berusaha maksimal untuk membantu membina sekolah bagaimana melengkapi koleksi. membeli buku dengan harga murah. memilih buku bagi koleksi perpustakaan, agar tidak terjadi tumpang tmdih materi isi yang sama. Kemudian alat-alat dan perlengkapan juga disiapkan oleh KPI.

      "Meski demikian. pihak kepala seko­lah tetap kurang respek. dengan alasan tidak punya uang. Bahkan Ketika guru-guru diberi wawasan tentang mengelola perpustakaan, sering kepala sekoiah keberatan. karena merasa banyak kebu­tuhan lam," tandas Adwityani.

      Dilukiskan, dari lebih 600 SLTP di Jakarta, yang menjadi anggota KPI hanya sekitar 300 sekoiah. untuk keseluruhan, dari SLTP hmgga perguruan tinggi jumlah anggota KPI mencapai 5 000. Jumlah ini amat kecil dibanding jumlah sekolah (SLPT/SMU/SMK dan PT yang ada di Indonesia (nal)

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 14:09  

      Items details

      • Hits: 169 clicks
      • Average hits: 1.8 clicks / month
      • Number of words: 859
      • Number of characters: 7071
      • Created 7 years and 9 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 130
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124373
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC