.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, 10 FEBRUARI 2006

       

      TAMAN BACA, TAMAN BELAJAR

       

      NUSYA KUSWANTIN Pemerhati Rumah

      Taman adalah suasana yang sering digambarkatt sebagai miniatur dari surga. Aneka macam hijau-hijauan ta­naman hias, burung, air, ikan, dan bunga dalam komposisi ruang yang harmonis, indah, teduh, dan menenteramkan. Ada padang rumput di sana, tempat anak-anak bisa bermain dan bercengkerama. Ada bangku-bangku di sana bagi para pasangan kekasih berbagi cerita. Ada juga ruang terbuka, tetapi beratap tembus cahaya yang dirambati tanaman sulur-suluran untuk berteduh ketika hari hujan atau ketika panas terlampau terik.

      Di negeri-negeri empat musim, taman senantiasa melengkapi tata ruang kota yang beradab untuk merayakan da-tangnya musim semi. Maka, ke­tika rerumputan mulai menghi-jau, bunga-bunga mulai menguncup, dan udara mulai meninggalkan kebekuan musim salju, para penghuni kota satu per satu akan berusaha menyempatkan singgah duduk di taman manakala waktu mereka agak senggang.

       

      Bahkan, ada saja yang sengaja menikmati bekal makan siang mereka di taman karena tanam­an yang segar menghijau dan bunga-bunga senantiasa patut dinikmati. Ada juga of ang-orang yang sedang belajar melukis se­ngaja datang ke taman di musim semi khusus untuk memindah-kan keindahan bunga ke kanvas mereka.

      Apalagi makhluk yang sedang berjauhan dari kekasihnya. la bisa duduk di taman khusus me-nulis kartu pos untuk kekasih­nya itu, atau murigkin juga menggoreskan sepenggal puisi di buku kecilnya sambil duduk di tepi kolam di sebuah taman di Hibiya, Tokyo.

      Di negeri empat musim tidak setiap saat bunga bisa bermekaran. Karena itu, kehadirannya senantiasa ditunggu dan dinik­mati dengan penuh rasa syukur. Orang Jepang merayakannya de­ngan minum dan makan bersama para sahabat di bawah po-hon sakura yang sedang berme-karan di awal pertengahan bulan April. Acara ini disebut dengan hanami atau melihat bunga (sa­kura).

      Agak ironis apabila kota-kota di negeri tropis seperti Indone­sia kurang menghormati indah-nya taman atau tanaman dan sering kali bersikap lebih meng-alahkan tanaman demi bangun-an dan padang beton untuk parkir. Penduduk kota merasa sesak lantaran tidak memiliki cukup ruang terbuka yang menyegarkan mata, dada, dan batin me­reka.

      Hal yang menarik adalah perumahan atau apartemen papan atas selalu memberi ruang lapang untuk tanaman yang penuh warna. Tanaman berbagai jenis itu tampak serasi dengan bangun fisik perumahan dan apartemen yang elok.

      Sebaliknya, perumahan papan bawah justru kurang memerhatikan tanaman. Perumahan se­perti ini gersang dan kalaupun ada tanaman terkesan dipaksakan. Memang benar bahwa perumahan mewah mampu memberi ruang pada tanaman karena harga rumah di kawasan itu amat mahal sehingga ada semacani subsidi untuk ruang ter­buka hijau. Pada perumahan kelas murah, ini sulit dilakukan.

      Meski demikian, perlu ada pe-mikiran dari para pengambil keputusan di bidang perumahan untuk mematahkan kebiasaan tersebut. Perumahan sederhana pun perlu ruang hijau. Ruang itu bukan saja untuk membersihkan udara, tetapi juga pada estetika dan kesehatan warganyal

      Taman bermain

      Mungkin akan terlalu lama untuk menunggu kota-kota di negeri ini menjadi lebih berbu-daya dengan menghadirkan taman-taman kota bagi penduduknya. Tetapi, kita senantiasa bisa mencoba memindahkan ide ta­man ke dalam hunian kita. Ta­man yang tidak hanya sebagai tempat bersantai karena, ketika dipindahkan ke lingkungan rumah, taman ini juga bisa men­jadi ruang belajar terbuka bagi anak. Selain, tentu saja, bisa se-kaligus sebagai ruang bermain.

      Unsur yang penting bagi ta­man baca atau taman belajar ini adalah suasananya yang terbuka. Angin bisa bertiup dengan bebas. Dengan demikian, ruangan akan menyatu dengan alam dan tanam-tanaman. Meski demiki­an, karena dimaksudkan sebagai tempat belajar dan tempat baca, tentu saja taman ini tetap perlu dilengkapi dengan atap. Tergantung aksen yang dipilih, misalnya gaya tradisional, atap bisa dipilih dari rumbia dengan tiang bambu atau pohon kelapa. Atau bisa juga atap dari fiber dengan aksen kayu yang detailnya digarap dengan saksama.

      Meja bisa dipilih berukuran lebar, tetapi rendah bila ingin membuat suasana lesehan alias duduk di lantai. Alas tikar atau lampit bisa dipilih dari bahan alami maupun sintetis. Agar anak lebih betah duduk, ban-talan tipis untuk alas duduk adalah ide yang baik. Bisa pula taman baca ini dilengkapi meja tulis dengan kursi berukuran biasa atau ukuran anak-anak, tetapi bentuk dan warnanya di-rancang lebih santai.

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 14:02  

      Items details

      • Hits: 227 clicks
      • Average hits: 2.4 clicks / month
      • Number of words: 963
      • Number of characters: 7368
      • Created 8 years and 0 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator
      • Modified 8 years and 0 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,799
      • Sedang Online 86
      • Anggota Terakhir Messa Rahmania

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9133313
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      February 2020
      S M T W T F S
      26 27 28 29 30 31 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC