.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      REPUBLIKA   9 SEPTEMBER 2008

       

      Semua Berawal dari Masjid

       

      Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah. Menurut J Pedersen dalam bukunya Arabic Book, pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.

      "Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan," papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan djkopi oleh seorang warraqin yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.

      Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memainkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan. Kehadiran perpustakaan didunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan}.

       

      Masyarakat di hampir seluruh dunia Islam, mulai dari Atlantik hingga ke Teluk Persia, menjadikan masjid sebagai tem­pat yang aman untuk menyimpan buku. "Buku-buku itu dihadiahkan dan banyak ilmuwan yang mewariskan perpustkaan pribadinya kepada masjid untuk menjamin buku mereka tetap terpelihara," ungkap R Mackensen dalam Background of the History of Muslim Libraries Observes.

      Tak heran, jika koleksi buku yang dimiliki perpustakaan masjid begitu melipah. Di Allepo, Suriah, misalnya, perpustakaan masjid tertua bernama Sufiya mengoleksi buku hampir 10 ribu volume. Buku-buku itu merupakan pemberian dari penguasa Kota Aleppo yang termasyhur, Pangeran Sayf al-Dawla. Gerakan wakaf buku ke per­pustakaan masjid yang dipelopori pemimpin itu juga diikuti oleh para ilmuwan dan intelektuaf.

      Masjid Abu Hanifah di Irak pun memiliki  koleksi buku yang melimpah. Buku-buku yang tersimpan di perpustakaan masjid itu merupakan hibah atau hadiah dari koleksi pribadi. Dengan menyimpan bukunya di per­pustakaan masjid, buku-buku itu akan di-rawat dan dibaca oleh lebih banyak orang. Sehingga, pengetahuan yang terkandung dalam buku itu bisa tersebar lebih luas.

      Salah seorang tokoh yang menyumbangkan koleksinya ke Masjid Abu Hanifah adalah seorang dokter bernama Yahia Ibnu Jazla (wafat 1099 M) dan penulis sejarah Al-Zamakhshari (wafat 1143 M). Perpustakaan masjid lainnya yang juga mengoleksi banyak buku adalah AI-Qarawiyyin. Aktivitas perpustakaan dan keilmuwan di masjid yang terletak di Kota Fez, Maroko, itu telah melahirkan universitas pertama di dunia.

      Sejarawan AI-Fasi pada 1548 M mengungkapkan, salah seorang ilmuwan yang menyumbangkan buku yang ditulisnya adalah Abu Abdullah Muhammad AI-Ajmawi. la menyumbangkan karya besarnya berjudul AI-Qawl AI-Mutabar kepada para siswa yang belajar di masjid itu. Ilmuwan legendaris, Ibnu Khaldun juga mewakafkan bukunya yang berjudul Kitab Aal-lbar ke perpustakaan masjid itu.

      Buku yang berharga itu lalu dipinjamkan kepada orang tepercaya selama dua

      bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke perpustakaan. Jadilah perpustakaan masjid menjadi tempat penyimpanan buku-buku yang langka dan tak ternilai harganya. Dengan koleksi buku yang melimpah, para pelajar, serta ilmuwan pun berbondong-bondong pergi ke masjid.

      Mereka datang ke masjid dengan dua tujuan. Untuk beribadah, sekaligus me-ningkatkan pengetahuan dengan membaca buku. Bahkan, para ilmuwan dan sarja­na Muslim sampai menetap di masjid. Syahdan, dua ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka, AI-Ghazali dan AI-Baghdadi, sempat menetap beberapa periode di menara Masjid Umayyah di Damaskus.

      Sedangkan, Ibnu AI-Haitham fisikawan penemu optik sempat tinggal di sebuah qubah Masjid AI-Azhar Kairo, Mesir. Menjelang meninggal, para ulama dan ilmu­wan itu mewakafkan koleksi buku mereka ke masjid. Masjid AI-Aqsa di Yerusalem, pada era kejayaan Islam, juga memiliki empat perpustakaan. Tempat tersuci ketiga umat Islam itu mengoleksi buku dalam jumlah yang sangat banyak. Buku itu ter­simpan di Madrasah Nahawiya dan Ashrafyia yang berada di sekitar masjid.

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 13:56  

      Items details

      • Hits: 409 clicks
      • Average hits: 4.4 clicks / month
      • Number of words: 918
      • Number of characters: 7080
      • Created 7 years and 9 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 106
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125232
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC