.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      SUMBER : KOMPAS 27 September 1997

      Rendahnya Apresiasi Masyarakat terhadap Perpustakaan

      Oleh S Bayu Wahyono

      HARIAN ini menyajikan tulisan menarik yang menginformasikan betapa merananya Perpustakaan Hatta di Yogyakarta. Koleksi buku tak pernah bertambah, halaman dan taman yang tak terawat, kaiyawan yang bergaji di bawah standar, dan kegiatan ilmiah macet total. Singkatnya, per-pustakaan yang terletak di kota yang disebut-sebut sebagai kota pendidikan itu kondisinya seperti mati tak mau, hidup pun serasa megap-megap (Kompas, 11/8/1997).

      Kondisi Perpustakaan Hatta yang memprihatinkan itu bisa rnenjadi salah satu cermin, betapa rendahnya apresiasi masyarakat kita terhadap fasilitas pencerahan bangsa. Ironisnya itu justru terjadi di tengah-tengah masyarakat bangsa yang sedang gencar mencanangkan program-program nasional, se-perti bulan gemar membaca, hari kunjung perpustakaan, dan wajib belajar sembilan tahun. Terjadi di saat kita bertekad bulat ingin menuju masyarakat industri. Padahal disadari, tumbuhnya masyarakat industri yang berteknologi maju, tidak jatuh dari langit, tidak juga sekadar hasil pencangkokan, akan tetapi berakar dan bersandar pada apa yang disebut mayarakat yang senang belajar alias learning society.

       

      AGAKNYA kita sebagai bangsa masih mempunyai banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan lebih dulu sebelum benar-benar menjadi masya­rakat industrial yang egaliter. Pekerjaan rumah itu yang utama adalah bagaimana kita meningkatkan apresiasi terhadap atribut-atribut masyarakat yang menjadi sumber vital pencerdasan dan pencerahan bangsa. Atribut-atribut itu antara lain mu­seum, gedung teater, gedung kesenian, pusat dokumentasi, lembaga sekolah, dan perpustakaan. Mengapa demikian? Karena di samping atribut-atribut tersebut mewakili kekayaan rohani, seni, dan budaya, juga di sanalah terdapat tempat dan sarana masya­rakat bisa belajar untuk mengembangkan potensi diri, sehingga bisa tampil cerdas, kreatif, inovatif, dan sekaligus arif.

      Repotnya, justru dalam hal itulah kita masih lemah. Kita masih kurang bisa mengapresiasi dengan baik terhadap tempat yang menjadi sumber belajar, karena itu kita pun minimal dalam memanfaatkannya. Ma­syarakat lebih mengapresiasi tinggi terhadap bangunan-bangunan megah yang menjadi perangkat pelayanan kehidupan modem, seperti hotel, mall, dan toko swalayan.

      Bahkan anak-anak sekolah pun sudah terkondisi ke arah sana. Tanyalah pada anak-anak sekolah di perkotaan, tentang di mana dan nama toko swalayan yang ada di kotanya. Mereka tentu akan lancar menjawabnya. Mereka akan dengan bangga menceritakan pengalamannya membeli hamburger, pizza hut, dan main computer game, atau video game. Tetapi tanyalah pada mereka, di mana letak mu­seum yang ada di kotanya, umumnya mereka akan kebingungan dan merasa asing de­ngan istilah itu. Padahal museum merupakan sumber belajar yang sangat sarat dengan nilai sejarah, dan sangat efektif untuk pencapaian tujuan pembelajaran. terutama aspek penghayatan.

      Fenomena semacam itu boleh jadi bukan kebetulan. melainkan merupakan implikasi dari pola pengajaran di sekolah yang lebih bermodel teacher based learning, dan bukan resources based learning. Dalam pola se­macam itu, guru diposisikan se­bagai satu-satunya sumber informasi pengetahuan, sementara fasilitas sumber belajar di luar guru, seperti perpustakaan, museum, dan berbagai obyek belajar yang berada di lingkungan sekolah tidak dimanfaatkan secara optimal. Memang. per­pustakaan sudah banyak disediakan di SD-SD. Namun sayangnya, tidak sedikit perpustakaan SD letaknya berdekatan dan bahkan jadi satu dengan ruang guru dan Kepala Sekolah, sehingga murid enggan meman­faatkannya karena merasa rikuh, dan mungkin juga takut.

      Sementara iklim belajar di rumah pun semakin tidak kondusif untuk menyuburkan kebiasaan membaca. Maraknya televisi semakin mengkondisikan anak enggan membaca. karena lebih terpikat untuk menonton. Memang, dari sisi lain, pengeta­huan dan infonnasi bisa disampaikan lewat media TV tetapi karena yang disajikan sebagian besar adalah hiburan, sebetulnya tidak ada bahan pengetahuan atau informasi yang disampaikan. Persaingan ketat antar stasiun televisi, bahkan stasiun yang memakai nama tambahan pen­didikan, kurang merangsang gagasan untuk memanfaatkan media pandang-dengar itu sebagai media pendidikan, termasuk kebiasaan membaca. ***

      BAGAIMANA situasi di perguruan tinggi? Di sana pun kon­disinya juga tidak terlalu meng-gembirakan. Kalau dicermati lebih mendalam, boleh dikatakan mahasiswa sekarang ada kecenderungan kian rendah mobilitas dalam mencari sumber-sumber bacaan. Bahkan jika mau jujur, kecenderungan sema­cam itu juga melanda kalangan dosen. Mengunjungi perpusta­kaan atau pergi ke toko-toko buku dapat dikatakan belum. menjadi perilaku yang melembaga di kalangan mahasiswa.Membaca buku ada kesan masih dipandang oleh kebanyakan mahasiswa sebagai beban, dan bukan tantangan yang meng-. gairahkan. Lebih-lebih untuk membaca buku berbahasa asing, beban itu menjadi lebih berat lagi, karena adanya kendala kesulitan bahasa. Sering terdengar pemeo di kalangan perguruan tinggi dalam hal kemampuan-memahami literatur berbahasa asing yang berbunyi: "bukan berapa lembar mahasiswa dapat memahami bacaan asing dalam sehari, tetapi berapa hari diperlukan mahasiswa untuk mema­hami selembar bacaan berbahasa asing."

      Penomena semacam itu agaknya juga bukan suatu kebetulan, melainkan bersumber dari ber-kembangnya sistem pengajaran yang instruktif. Pola pengajaran semacam itulah yang terasa lebih dominan di lembaga pendidikan kita. Tidak sedikit dosen yang menuntut agar mahasiswa mempelajari sampai ke titik koma, apa yang diajarkannya. Jawaban-jawaban dalam ujian harus merupakan fotokopi atau pita tape-recorder dari materi yang diajarkan ketika berlangsung kuliah. Akibatnya, kurang memberi kesempatan bagi ma­hasiswa untuk mengembangkan otoaktivitas. Dengan demikian pola pengajaran semacam itu kurang memberi kesempatan dan juga gairah kepada maha­siswa untuk mencari sendiri. khususnya dari bacaan, bahan-bahan yang bukan saja erat kaitannya dengan materi kuliah, tetapi yang juga bisa memperluas materi kuliah dan wawasan intelektual.

      Dalam sistem instruktif yang kuat, bahan-bahan yang diperoleh di luar kelas kurang diberi kesempatan untuk dikemukakan di forum kuliah atau di-tuangkan di dalam jawaban-jawaban ujian. Maka para maha­siswa pun jadi berpikir, untuk apa bersusah-payah mencari bahan-bahan sendiri dengan membaca buku atau bacaan-bacaan lain, toh tidak diperhitungkan oleh dosen untuk menjadi bahan pertimbangan lulus tidaknya suatu mata kuliah. Akhimya mahasiswa lebih terkondisi menjadi minimalis, yakni mereka hanya ingin sekadar lulus ujian, lebih suka men­jadi mahasiswa instruktif. * **

      SEMENTARA itu kondisi di masyarakat pun juga terkena arus instruktif. Serba komando, serba perintah dari atas, serba penyeragaman terasa semakin kuat, bahkan hanya untuk urusan membeli buku tulis pun ma­syarakat mesti perlu diberi instruksi dari pejabat. Akibatnya, tumbuh dan berkembangnya kebiasaan membaca sukar diwujudkan, karena masyarakat lebih terbiasa bersikap pasif, reaktif, dan menunggu perintah. Tradisi intelektual pun sulit ditumbuhkan, karena iklim kehidupan yang sering mengunggulkan kekuasaan. Padahal, hanya dalam suatu masyarakat yang kuat tradisi intelektual nyalah, kebiasaan membaca bisa berkembang subur.

      Memantapkan ketahanan nasional yang sekaligus memberi iklim kondusif terciptanya sumber daya manusia yang memiliki keunggulan   kompetitif,   tidak dapat   dicapai   dengan  segala macam  yang  serba  instruktif dan serba penyeragaman. Akan tetapi dengan menciptakan kondisi lingkungan belajar tempat orang  dapat   mengembangkan jati dirinya sendiri, yaitu pribadi yang otonom.

      Begitulah, berbagai pandangan, orientasi, sikap, dan tindakan yang selama ini kurang menun-jang terciptanya suatu masyarakat yang mengapresiasi tinggi terhadap perpustakaan, agaknya perlu diganti dengan kebiasaan-kebiasaan  yang  lebih menunjang. Segenap rencana besar kita untuk membangun bangsa yang. lebih ulet, gigih. berdisiplin, inovatif, cerdas, dan kreatif agaknya tidak akan terwujud tanpa upaya menjadikan perpustakaan sebagai  atribut yang membanggakan dan melatih diri untuk mengapresiasi   tinggi   terhadap perpustakaan    serta    sekaligus memanfaatkannya.

      * S Bayu Wahyono, dosen FIP
      IKIP Yogyakarta


       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 09:32  

      Items details

      • Hits: 168 clicks
      • Average hits: 1.8 clicks / month
      • Number of words: 1456
      • Number of characters: 11581
      • Created 7 years and 1 ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 1 ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 114
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9130913
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      January 2020
      S M T W T F S
      29 30 31 1 2 3 4
      5 6 7 8 9 10 11
      12 13 14 15 16 17 18
      19 20 21 22 23 24 25
      26 27 28 29 30 31 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC