.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 11 FEBRUARI 2006

       

      PERPUSTAKAAN MERANA,

      PEMERINTAH CUEK

      'Masyarakat kita lebih menggunakan budaya lisan untuk menyebarkan informasi dan menularkan ilmu pengetahuan. Maka tidak salah, kalau budaya lisan dan.pertunjukkan berkembang pesat.

      IQRA bacalah. Demikian ayat pertama kitab suci Alquran. Namun, soal baca membaca, bukan menjadi yang pertama di negeri ini. Tidak ada yang memungkiri kenyataan bahwa minat baca masyarakat kita amat rendah. Berbagai survei maupun indikator dapat menjelaskannya mulai dari oplah koran yang stagnan, jumlah buku yang diterbitkan per tahun, perpustakaan yang semakin tidak terurus juga penelitian yang dilakukan berbagai lembaga.

      Pada 1992, badan PBB untuk pendidikan, UNESCO, menyebutkan, tingkat minat baca rakyat Indonesia menempati urutan 27 dari 32 negara. Juga hasil survei yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional, 1995 menyatakan, sebanyak 57% pembaca dinilai sekadar membaca, tanpa memahami dan menghayati apa yang dibacanya. Belum lagi kalau kita lihat jumlah buku yang diter­bitkan tiap tahunnya yang tidak beranjak naik. Berdasarkan data Ikapi, rata-rata jum­lah buku terbit 6.000 judul per tahun, sedangkan jumlah penduduk Indonesia 210 juta, ini berarti 29 buku untuk satu juta penduduk.

       

      Adalah ironi. Karena jika melihat tingkat melek huruf di Indonesia, angkanya sudah termasuk tinggi. Angka melek huruf pada 1996 mencapai 84%, artinya 176 juta masya­rakat Indonesia sudah bisa membaca. Tetapi mengapa minat baca masih rendah? Apakah membaca bukan budaya masyarakat kita?

      Jika menengok pada budaya masyarakat kita sejak dulu, membaca bukan menjadi bagian yang penting. Membaca yang diyakini secara universal sebagai cara untuk mendapatkan pengetahuan, jendela untuk membuka dunia, bukan menjadi tradisi masyarakat kita. Masyarakat kita lebih meng­gunakan budaya lisan untuk menyebarkan informasi dan menularkan ilmu pengetahu­an. Maka tidak salah, kalau budaya lisan dan pertunjukkan berkembang pesat. Jauh melampaui budaya baca tulis yang hanya berkembang di lingkungan keraton dan pa­ra bangsawan. Pertunjukkan wayang di Jawa misalnya, dulu dipadati penonton jelata. Dengan wayang, penonton mendapatkan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang. Selain wayang, di Jawa dikenal ketoprak, dengan lakon babad tanah Jawa, ludruk di Jawa Timur, kesenian janger di Banyuwangi dan sebagainya.

      Kini, budaya menonton masyarakat kita yang sudah sedemikian dalam menembus mendapatkan pelampiasan oleh maraknya televisi. Keberadaan 11 televisi nasional di Indonesia berikut dengan televisi lokal su­dah pasti membuatnya semakin menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat kita. Survei Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) tahun 2002 menyebutkan terhadap kebiasaan me­nonton televisi 561 siswa sekolah dasar di Jakarta. Dalam sehari, anak-anak inimenon-ton televisi antara 4 jam sampai 6 jam. Jika sehari ada 24 jam, berarti seperempat harinya untuk menonton televisi. Dalam survei ini 53,4% responden mengatakan waktu menonton yang dihabiskan untuk televisi lebih lama dari pada belajar.

      Dari data itu jelas, bahwa dalam usia dini punbudaya menonton jauh lebih mendominasi daripada belajar, apalagi membaca. Itulah salah satu jawaban mengapa angka-angka yang menunjukkan minat baca selalu rendah. Dampaknya sepinya perpusta­kaan dari pengunjung.

      Perpustakaan yang merana ini mungkin bukan berita yang asing lagi, baik perpustakaan di sekolah maupun perpustakaan milik negara. Sering dilaporkan kondisi fisik perpustakaan ini amat memprihatinkan.Bangunan yang mulai rusak juga koleksi buku-bukunya yang bukannya makin bertambah tetapi malah terus berkurang karena rusak.

      FuadHassan pada 2001 mengatakan, dari 200 ribu sekolah dasar, hanya 1% yang memiliki perpustakaan layak. Sementara untuk tingkat SLIP, dari 70 ribu hanya 34% dan dari 14 ribu SLTA hanya 54% yang perpustakaannya sudah layak. Tentu masih segar di ingatan kita betapa perpustakaan
      yang menyandang nama besar proklamator kita, Bung Hatta, yang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat diberitakan bangunannya bocor di sana-sini.
      Tidak serius

      Budaya bisa saja menjadi penyebab rnengapa minat baca bangsa Indonesia rendah. Tetapi, yang perlu mendapat perhatian adakah upaya lebih serius untuk meningkatkan minat baca. Sebetulnya upaya pemerintah selama ini sudah ada, namun ha­nya sebatas seremonial belaka.

      Pada 2003 misalnya, pada peringatan ke-38 Hari Aksara Internasional, pemerintah mencanangkan Gerakan Membaca Nasional Tahun 2003. Tujuannya sudah jelas yaitu ingin memupuk tradisi membaca dan menulis dengan meluangkan waktu untuk membaca setiap hari. Tahun ini pun, Perpus­takaan Nasional menunjuk presenter Tantowi Yahya, menjadi Duta Baca Indonesia 2006.

      Terkait dengan tingginya harga buku yang tidak terjangkau masyarakat misal­nya, harus ada kebijakan untuk mengatasinya, misalnya dengan subsidi harga kertas atau membebaskan pajak untuk buku-buku nonpelajaran. Ini penting karena harga buku di negeri kita ini jauh relatif mahal. Banding-kan dengan India, yang pemerintahnya menyubsidi kertas sehingga harga buku menjadi sangat murah dan terjangkau masyarakat

      Tetapi, cara paling sederhana untuk mengetahui keseriusan pemerintah itu adalah bagaimana upaya untuk menyediakan per­pustakaan untuk warganya. Apakah su­dah ada kesadaran bahwa keberadaan per­pustakaan menjadi elemen penting untuk meningkatkan minat baca warga yang ak-hirnya akan meningkatkan pula status kualitas manusia Indonesia. Ternyata, pemerin­tah masih kelihatan belong. Betapa tidak, dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan tahun 2003, tidak ada satu pasal pun yang mengatur tentang perpustakaan sebagai salah satu sumber
      belajar. Indikator lain ketidakseriusan pemerintah adalah alokasi dana dalam anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBD) untuk perpustakaan.

      Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misal­nya, APBD memang telah menganggarkan untuk pembiayaan perpustakaan. Pada 2004, anggaran untuk perpustakaanRp2,8 miliar dan tahun 2005 menurun menjadi Rpl 1,7 miliar. Jika membandingkan dengan total anggaran, terlihat jumlah ini persentasenya teramat kecil.Tahun 2004 hanya 0,1 % dan tahun 2005 menjadi 0,08%, Padahal, DKI Jakarta termasuk daerah dengan pendapatan besar di Indonesia. Tetapi bagaimanapun alokasi anggaran tersendiri ini merupakan kemajuan karena pada 2001, anggaran untuk perpustakaan masih masuk kategori penunjang pembangunan pendidikan. Jumlahnya sebesar Rp 5,27 miliar (0,07% dari APBD 2001).

      Tetapi bagaimanapun juga, usaha peme­rintah daerah untuk terus membenahi per­pustakaan dengan tujuan meningkatkan minat baca masyarakat wajib diberi penghargaan. Seperti yang dilakukan Pemerin­tah Kabupaten Kampar dengan menyerahkan satu unit mobil perpustakaan keliling yang diperuntukkan bagi masyarakat di pedesaan.

      Meskipun selalu dikatakan minat baca masyarakat kita amat rendah, masih ada yang melegakan. Ketika tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah, masyarakat berkreasi sendiri. Mereka, mulai dari penulis, artis, aktivis LSM, sampai ibu rumah tangga membentuk taman-taman bacaan di berbagai daerah. Aksi nyata mereka ini sekaligus membuktikanbahwa sebenarnya nasib bangsa ini tidak parah-parah amat.

      Berdirinya taman bacaan, terutamayang dikhususkan bagi anak-anak, ini menjadi oase yang ke depannya mungkin saja bisa menggantikan peran perpustakaan milik pemerintah. Ditambah lagi dengan semakin mudahnya membentuk jaringan komunikasi antar penggila buku dengan fasilitas mailing list.

      Yoseptin Pvatiwi, Litbang Media Group

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 21 February 2012 08:43  

      Items details

      • Hits: 285 clicks
      • Average hits: 3.1 clicks / month
      • Number of words: 1540
      • Number of characters: 12164
      • Created 7 years and 9 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Tuesday, 21 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 81
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124950
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC