.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Kepala Perpustakaan Inkonstitusional
      Page 2
      Page 3
      All Pages

      Esensi UU No. 43 tahun 2007

      Kepala perpustakaan juga hendaknya adalah orang yang memahami strategi membangun budaya baca. Kandungan undang-undang tentang perpustakaan pada hakikanya adalah undang-undang tentang membangun budaya baca. UU No. 43 Tahun. 2007 memiliki satu bab khusus untuk Budaya Baca ( BAB XIII dengan 4 pasal dan 11 Ayat). Dapat dikatakan bahwa bab yang lain sebenarnya hanyalah bab penunjang. Hal ini ditegaskan dari awal pembahsan bahwa tujuan perpustakaan adalah meningkatkan kegemaran membaca (BAB I, Pasal 4).

      Menurut penulis membangun budaya baca adalah proyek pembangunan yang sangat penting bagi suatu bangsa sebelum membangun bidang lain. Hal ini didasarkan pada sebuah kenyataan bahwa kebiasaan atau budaya membaca merupakan fondasi kemajuan sebuah bangsa. Negara maju adalah negara yang memilki kebiasaan membaca yang tinggi. Dan sebaliknya, negara terbelakang adalah negara yang memiliki kebiasaan membaca yang rendah.

      Menarik membaca hasil penelitian John Naisbitt, seorang futuris paling terkemuka di era modern. Ia sangat mempercayai bahwa kemunduran Amerika sebagai negara adidaya diakibatkan oleh lemahnya minat baca masyarakatnya. Dengan mengutip hasil penelitian dari Dan Gioia, ketua lembaga penelitian National Endownment for the Arts, Naisbitt mengatakan, “Dari tahun 1982 hingga 2002, tingkat baca di kalangan kaum kulit putih, Afro-Amerika, dan Hispanik menglami penurunan. Penurunan terbesar terjadi di kalangan Hispanik Amerika, sebesar 10%. Berdasarkan usia, penurunan paling tajam terjadi di kalangan tiga kelompok termuda. Tingkat penurunan di kalangan orang dewasa termuda, yaitu mereka yang berusia 18-24 tahun, mencapai 55% lebih besar daripada tingkat penurunan di seluruh populasi orang dewasa. Selanjutnya dia menyimpulkan hasil penelitian tersebut dengan sebuah perkataan yang sungguh dapat dijadikan sebuah cermin bagi para pemimpin, “Amerika tidak lagi dapat beranggapan bahwa mereka dapat meluangkan waktu dan aktif membaca kapan saja. Saat semakin banyak orang Amerika tidak dapat meluangkan waktu dan aktif membaca, Amerika menjadi negara yang kurang berpengetahuan, kurang inovatif, dan berpikiran kurang independen. (www.nea.com).

      Negara maju lainnya yang membangun negaranya dengan terlebih dahulu membangun budaya baca yang kokoh adalah Jepang. Amartya Sen, peraih nobel bidang ekonomi 1998, dalam tulisannya Beyond the Crisis: Developmnet Strategies in Asia (1999), mengatakan bahwa pada masa restorasi Meiji di pertengahan abad kesembilan belas, Jepang telah memiliki tingkat keberaksaran yang lebih tinggi daripada Eropa, meskipun Jepang masih belum memulai industrialisasi apa pun atau pembangunan ekonmi modern, yang telah dialami Eropa selama satu abad. Pada 1913, meski Jepang secara ekonomi masih belum berkembang, negara ini telah menjadi salah satu produsen buku terbesar di dunia—menerbitkan lebih banyak buku disbanding Inggris dan bahkan dua kali lebih banyak daripada Amerika Serikat. (Kutipan dari Carol Gluck. Japan’s Modern Myths: Idelogy in the Late Meiji Period (1985). Ini sebuah fakta bahwa pembangunan manusia melalui pendidikan, lebih khususnya melalui pembangunan budaya baca masyarakat, merupakan sebuah strategi Jepang dalam membangun negaranya menjadi maju. Sen pun membandingkan antara India dengan China yang segera akan menjadi negara maju. Mengapa China dapat melesat mengalahkan India? Sen mengatakan, “sementara Cina nyaris mendekati keberaksaraan universal, khususnya di kalangan muda, India masih sangat jauh dari itu, dan ini barangkali merupakan satu-satunya penghambat terbesar bagi partisipasi India dalam ekonomi global”. Sen sangat meyakini betul bahwa salah satu strategi pengembangan yang jitu menuju kejayaan suatu negara adalah dengan membangun mudaya baca.

      Pentingnya membangun budaya baca ini sudah sering diingatkan oleh para tokoh dari berbagai kalangan di tanah air. Para tokoh yang pernah menulis tentang masalah budaya baca, yang sempat penulis dokumentasikan di antaranya adalah : Budayawan: Taufiq Ismail, Ajip Rosidi, Moh Sobari, Ahmad Tohari; Intelektual/akademisi: Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat, Ki Supriyoko, Moh Baidowi, Arif Rahman, Yudi Latif, Anies Baswedan, Firmanzah; Politisi: A.M. Fatwa, Anis Matta; Birokrat: Fasli Jalal; Ulama: Quraish Shihab. Kepedulian dan kekhawatiran mereka semua bisa sangat difahami karena begitu pentingnya masalah budaya baca ini. Melakukan pembangunan dalam bidang apa pun tidak akan berhasil apabila budaya baca belum tumbuh di masyarakat, karena pembangunan memerlukan partisipasi. Dan partisipasi bisa tumbuh bila masyarakatnya terpelajar. Kita tidak pernah berhasil dalam membangun politik (demokrasi), ekonomi, pendikan, kesehatan, dan bidang strategis lainnya (menurut kriteria MDGs), karena semua itu tidak dilandasi dengan budaya baca masyarakat. Sekali lagi budaya baca adalah fondasi pembangunan. Tanpa budaya baca yang baik, pembangunan bangsa bagaikan membangun rumah tanpa fondasi yang akan cepat roboh disapu angin yang sepoy atau hempasan riak gelombang.

      Penutup

      Penulis tidak meragukan sedikit pun bahwa dibuatnya undang-undang tentang perpustakaan tentu saja suapaya pembangunan budayan membaca menjadi proyek bersama yang memiliki legalitas dan juga prioritas. Penulis pun melihat bahwa dengan dibuatnya undang-undang tersebut merupakan salah satu bukti keseriusan pemerintah dalam membangun budaya baca. Akan tetapi, apa jadinya apabila konstitusi yang sudah dibuat dan disepakati bersama itu kemudian dilanggar secara tersus-menerus dan massif? Yang pasti tentu saja undang-undang tersebut akan kehilangan wibawanya, yang akhirnya hanya berupa macan kertas yang tidak ada gunanya sama sekali. Semua upaya yang melibatkan tenaga, pikiran, dan juga uang rakyat yang miliaran rupiah untuk membuat undang-undang tersebut akan terbuang dengan percuma. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab?



      Comments
      MAIL   |2012-04-16 21:38:21
      iiii
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Wednesday, 04 January 2012 14:07  

      Items details

      • Hits: 2351 clicks
      • Average hits: 24.7 clicks / month
      • Number of words: 2580
      • Number of characters: 21462
      • Created 7 years and 1 ago at Wednesday, 04 January 2012 by Suherman
      • Modified 7 years and 1 ago at Wednesday, 04 January 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 110
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127165
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC