.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kemiskinan: Mentalitas Korban, atau Jualan?

      Wacana Kemiskinan di Indonesia sekarang mundur. Dulu, kemiskinan dipahami sebagai mentalitas pemalas. Kemudian, orang melihatnya sebagai akibat struktur ekonomi-politik yang timpang. Sekarang, isu ini sekadar jadi "dagangan".

      Pada era kolonial, kemis­kinan dipahami sebagai takdir. Saat itu masyarakat kita dicekoki pandangan bahwa manusia diciptakan bertingkat-tingkat. Kemiskinan dianggap sebagai nasib yang hams ditanggung pribumi, sedangkan kemakniuran sudah selayaknya jadi hak orang gedongan atau kaum Barat.

      Ideologi fatalis ini sengaja diembuskan penjajah derni mempertahankan hegemoni dan memperlemah pemberontakan. Pada masa kemerdekaan, wacana kemiskinan nyaris tak muncul. Maklum, saat itu para pemimpin nasional lebih disibukkan perjuangan proklamasi dan mempertahankan kemerdekaan yang  baru saja diraih.

      Menurut pengamat sosial dari Universitas Airlangga, Surabaya, Hotinan Siahaan, wacana kemis­kinan pada masa selanjutnya le­bih mengental. Memasuki Orde Baru, kemiskinan dianggap sebagai ekspresi dari mentalitas masyarakat yang memang pe­malas. Sumber daya manusia miskin dinilai tak mampu mengelola kekayaan alam.

      Berdasarkan paham ini, pemerintah lantas meluncurkan program pembangunan lima tahunan. Pembangunan ekonomi dibangkitkan dengan memberikan modal kepada perusahaan-pemsahaan besar. Saat mereka maju diharapkan kaum papa dapat menikmati kucuran keka­yaan dari atas.

      "Dengan landasan paradigma pembangunan, pemerintah menggenjot pertumbuhan dulu, baru kemudian diharapkan terjadi pemerataan dengan sendirinya. Selama Presiden Soeharto berkuasa, paham ini selalu dipegang," kata Hotman, yang juga peneliti pada Lembaga Studi Perubahan Sosial (LSPS).

      Pandangan   ini   tak   mampu mengatasi kemiskinan, malah akhirnya hanya memperkuat sta­tus quo. Modal dan aset-aset produktif tetap dikuasai pengusaha-pengusaha kaya dan dekat dengan pemerintah. Harapan rakyat mendapat tetesan ekonomi ternyata ilusi.

      Struktur

      Pada tahun 1979, ada perkembangan menarik. Ada seminar yang diselenggarakan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (Hipis) di Malang, Jawa Timur, yang dibuka Wakil Presiden saat itu, Adam Malik. Di situ muncul wacana tandingan yang dibawa Arief Budiman, yang baru pulang dari Harvard University.

      Akar kemiskinan tidak lagi ditimpakan pada mentalitas, melainkan pada struktur. Masyarakat menjadi miskin bukan karena tak mampu, melainkan karena struktur yang tak adil dan hanya memihak para pemilik modal. Akibatnya, masyarakat tak memperoleh apa yang semestinya menjadi bagiannya. Mereka mengalami kelangkaan aset produktit tak hanya tanah dan modal, tetapi juga akses terhadap dunia pendidikan, pasar, serta pemanfaatan hasil riset dan teknologi.

      Padahal, orang-orang miskin sebenarnya mengetahui hidupnya, punya kemampuan, tetapi struktur yang menindas telah memperlemah mereka. "Jadi, orang-orang miskin itu adalah korban. Solusinya, struktur yang tak adil tadi dibongkar. Masya­rakat miskin diberdayakan, diberi akses modal, dan diberi kepercayaan untuk mengembangkan pekerjaan yang layak," kata Hotman menambahkan.

      Meski berseberangan dan cenderung ditekan Pemerintah Orde Baru, paham ini tumbuh di kalangan akademisi di kampus-kampus. Setelah Reformasi 1998, paham kemiskinan struktural itu mendapat tempat. Itu yang antara lain dicoba Menteri Koperasi dan UKM tahun 1998-1999, Adi Sasono.

      "Saya ingin meredistribusi aset produktif, seperti membuka ak­ses modal, teknologi, dan pasar. Buktinya tahun 1999, inflasi turun menjadi 2 persen, dari sebelumnya 65 persen tahun 1998. Dollar AS turun dari Rp 16.000 per 1 dollar menjadi Rp 6.500. Aset ekonomi bergerak," klaim Adi Sasono, yang sekarang men­jadi Ketua Dewan Pembina Koperasi Indonesia.

      Jualan

      Hanya saja, program tersebut saat ini tidak berkembang seiring meredupnya wacana tentang kemiskinan. Perdebatan seputar kemiskinan seperti tenggelam oleh hiruk-pikuk pesta demokrasi Menurut   pengamat   budaya asal Yogyakarta, Sindhunata, ke­miskinan tak mendapat perhatian selayaknya, bahkan termasuk dalam dunia keilmuan. "Bagaimana kita mau mengatasi masalah kemiskinan kalau kita sendiri berhenti mengkaji, di mana akar kemiskinan itu, dan bagaimana memecahkannya. Fenomena kemiskinan sekarang berhenti sebagai angka dan kita tak mampu membangun paradigma untuk mencermatinya dengan tuntas," katanya.

      Kemiskinan, terus ada dan mungkin malah berkembang. Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, jumlah orang miskin tahun 2009 ini diperkirakan meningkat menjadi 33,7 juta jiwa atau sekitar 14 persen dari jumlah penduduk In­donesia. Jumlah itu hanya bergerak sedikit dibandingkan de­ngan data penduduk miskin ta­hun 1998 sebanyak 49,5 juta ji­wa. Realitas kemiskinan masih berkembang,  kalangara lembaga swadaya masyarakat se­perti kehilangan arah dan terjebak pada upaya menjual ke­miskinan saja. Itu persis dengan wacana ekonomi kerakyatan melawan neoliberalisme, yang akhirnya meleset hanya jadi jar­gon kampanye. Fenomena ke­miskinan justru muncul dalam tayangan media secara banal, se­perti dalam tayangan televisi. "Tiba-tiba kehidupan orang

      miskin dieksploitasi atau para selebriti mimpi jadi orang miskin. Ini kegenitan betul. Orang-orang miskin itu jadi aktor tian dapat untung sekejap, sementara pengelola tayangan itu dapat lebih banyak. Nasib orang yang ke-pontal-pontal itu kok dijual jadi dagangan. Itu menghina rakyat kecil," kata Hotman.

      Bagi Sindhunata, tayangan-tayangan itu hanya mengeksploitasi drama kemiskinan sesaat yang taelankolis. Orang-orang miskin kembali jadi obyek. "Se­mentara, masalahnya kemiskin­an itu sendiri tak pernah ditangani," katanya.

      Sementara itu, dosen Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia, Dedy N Hidayat, menilai tayangan di layar kaca sudah menjadi komoditas yang menjual kesengsaraan orang dan menguntungkan industri hiburan.

      (SUSI IWATY)

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 889 clicks
      • Average hits: 11.3 clicks / month
      • Number of words: 2767
      • Number of characters: 23089
      • Created 6 years and 7 months ago at Wednesday, 18 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 124
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091493
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC