.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Kemiskinan di Tengah Pertumbuhan

      Didik J Rachbini

      Ekonom Indef

      APA yang terjadi pada perekonomian nasional ketika pertumbuhan ekonomi dan pasar berkembang dengan baik, tetapi menyisakan kesenjangan dan masih banyak penomena kemiskinan di tengah masyarakat? Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Akan tetapi, salah satu jawabannya adalah kondisi jalisme ekonomi masih terus berjalan dan masih belum berberhasil dipecahkan selama hampir satu dekade terakhir ini. Pada satu sisi pasar terus berkembang yang menghasilkan ekonomi indonesia tetap tumbuh di atas standar, tetapi pada sisi lainnya masih marak terlihat keadaan ekonomi di lapisan bawah, yang berbalut kemiskinan, ekonomi bawah tanah, dan setengah pengangguran. Golongan itu nyaris tanpa kebijakan yang arti untuk mengubah nasib mereka karena hilang di tengah hiruk pikuk politik elite, yang memikirkan nasibnya sendiri dan golongannya.

      Kemiskinan meluas

      Pertumbuhan ekonomi tidak dapat dijadikan indikator tunggal untuk menyatakan adanya perbaikan kesejahteraan rakyat. Faktanya fenomena kemiskinan tersebut sangat meluas. Dalam catatan pemerintah, tidak kurang dari 31 juta orang masih di bawah garis kemiskinan. Namun, sebenarnya kelompok nyaris miskin juga tidak kalah besar jumlahnya sehingga kategori miskin dalam arti luas termasuk golongan nyaris miskin tersebut sebenarnya mencakup tidak kurang dari 17 juta rumah tangga, yang beberapa tahun sebelumnya terdata sebagai penerima pro­gram beras miskin (raskin) dan jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas). Itu berarti kemis­kinan berhubungan dengan tidak kurang dari 70 juta warga atau penduduk Indonesia. Di daerah dan luar Jawa, ke­miskinan jauh lebih meluas jika tidak hendak dikatakan kolosal meskipun di Jawa sendiri kemis­kinan itu masih meluas.

      Dua sisi uang

      Kemiskinan berasosiasi sa­ngat erat dengan tingkat peng­angguran. Kemiskinan dan pengangguran bagaikan dua sisi pada satu mata uang, di mana ada kemiskinan di situ ada pengangguran. Indikasi kemis­kinan yang meluas tidak dapat disembunyikan di balik angka pertumbuhan ekonomi karena indikator penguatnya seperti pengangguran mengindikasi-kan betapa luasnya kemiskin­an tersebut. Sebagai catatan, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sekarang sebenarnya sudah kalah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara ASEAN lainnya.

      Tingkat pengangguran terbuka dinyatakan pemerintah semakin menurun sampai mendekati 7%. Akan tetapi secara relatif jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, tingkat pengangguran ini termasuk paling tinggi di antara negara-negara ASEAN. Jadi tidak aneh kalau banyak kritik bahwa pertumbuhan tersebut tidak berkualitas ka­rena tidak secara signifikan dapat mengurangi tingkat pengangguran.

      Solusi

      Yang jelas fenomena kemis­kinan berdimensi luas sekali. Namun, bisa hanya dimensi ekonomi dan kebijakan ekono­mi yang dijalankan untuk tujuan mengurangi kemiskinan dan sekaligus pengangguran. Kebijakan ekonomi bisa menjadi lokomotif, sedangkan kebijakan nonekonomi lainnya dijalankan sebagai pendukung untuk me­ngurangi tingkat kemiskinan. Karena bersifat multidimensional, program penanggulang-an kemiskinan seyogianya juga merupakan Gabungan yang tidak hanya memprioritaskan aspek ekonomi. Ada juga dimensi nonekonomi dari masalah kemiskinan tersebut, yang dapat dijalankan pe-merintah daerah atau kementerian terkait. Strategi pengentasan rakyat dari kemiskinan dengan dimensi nonekonomi hendaknya diarahkan untuk mengikis nilai-nilai budaya negatif seperti apatis, apolitis, fatalistik, ketidak-berdayaan, dan sebagainya. Jika budaya itu tidak dihilangkan, kemiskinan ekonomi akan sulit untuk ditanggulangi.

      Itulah pembahasan mengenai dimensi kemiskinan yang men-jangkiti perekonomian nasional. Solusi makro, investasi, produksi, ekspor, dan perdagangan dapat mendorong perluasan kesempatan kerja. Itu pun harus memilah dan memilih dorongan pertumbuhan yang berkualitas, tidak hanya menyerahkan pada pasar yang bebas begitu saja. Di sisi lain, kebijakan mikro di akar rumput juga sangat penting dilakukan pemerintah, pemerintah daerah, dan masvarakat sendiri.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 880 clicks
      • Average hits: 11.1 clicks / month
      • Number of words: 2256
      • Number of characters: 20348
      • Created 6 years and 7 months ago at Wednesday, 18 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 129
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091398
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC