.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KOMPAS, RABU, 19~AGUSTUS 2009

      Kemiskinan Dalam Kemerdekaan

      HS Dillon


      Merdeka bagi Bung Karno adalah kemerdekaan politik. Menyadari bahwa diperlukan perjalanan panjang mewujudkan pernyataan kemerdekaan politik menjadi kenyataan kehidupan bangsa, Proklamator mengibaratkan merdeka atau kemerdekaan itu sebagai sebuah jembatan emas.

      Dalam bahasa lebih lugas, Bung Karno menggambarkan proses yang harus dilalui dalam perjalanan panjang itu: "Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan hati-nya bangsa kita!" (Soekarno, 1 Juni 1945).

      Pernyataan terakhir ini mencerminkan kesadaran Pendiri Republik mengenai kisah tragis kehidupan rakyat yang terjajah selama 350 tahun sebagai korban nafsu akumulasi kolonialisme dan imperialisme. Itu sebabnya pernyataan memerdekakan rakyat dan memerdekakan hatinya bangsa itu mengandung makna sekaligus kewajiban memerdekakan segenap kehidupan rakyat Indonesia jasmani maupun rohani, termasuk dari belenggu rendah diri.

      Anak kalimat pada alinea pertama Pembukaan UUD 1945,"... maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan", semakin menegaskan bahwa tak tersedia ruang bagi kelompok yang mewarisi nafsu akumulasi kolonialisme dalam tubuh bangsa Indonesia merdeka.

       

      Sejak awal perjalanan Republik sudah diupayakan meningkatkan posisi tawar para buruh-tani dan meredistribusikan lahan kepada petani gureni dengan membentuk Komite Agraria pada tahun 1948. Kendati aset penjajah sempat dinasionalisasi, kelompok penikmat ketimpangan berhasil menghalangi implementasi UU Pokok Bagi Hasil dan UU Pokok Agraria.

      Fundamentalisme pasar

      Puluhan tahun kemudian terkesan bah­wa Presiden Soeharto menyadari kesenjangan yang timbul sebagai akibat fundamentalisme pasar. Dia mengumpulkan konglomerat di peternakan Tapos, mencoba meyakinkan mereka bahwa keadilan ekonomi akan lebih menjamin kesinambungan pembangunan. Namun, Franken­stein konglomerat yang menjadi kaya raya semata-mata akibat berkolusi dengan pejabat Orde Baru itu berhasil menggagalkan prakarsa penciptanya meredistribusikan 15 persen saham mereka kepada buruh dan stafnya.

      Bagaimana potret kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia memasuki usia kemer­dekaan ke-64? Kendati selalu muncul angka yang menghibur, secara kasatmata kemiskinan masih terus melekat dalam kehidupan petani gurem, buruh tani, buruh pabrik, buruh nelayan, nelayan gurem, pedagang kaki lima, penganggur, dan kaum terpinggirkan lainnya. Be­lum lagi tersiar masih nestapa seorang ayah menggendong jenazah bayinya ke sana kemari tak ada biaya untuk menguburkannya.

      Sementara itu, sekelompok warga yang dirasuki nafsu akumulasi dan konsumsi berlomba menyaingi rekan sejawatnya di mancanegara. Adegan seperti ini bukan saja menyilaukan kota-kota besar, tetapi disajikan ke seluruh pelosok Nusantara oleh media massa. Sukar menampik tudingan bahwa perbuatan dan pembiaran kita turut melanggengkan ketidakadilan dan kemiskinan. Padahal, pada tahun 2001 seorang pakar menaksir bahwa hanya 5 persen dari pendapatan 20 persen ke­lompok warga negara terkaya kita cukup menghapus kemiskinan di Xusantara.

      Berakhirnya masa otoriter dan digantikan dengan masa yang disebut sebagai Reformasi belum menimbulkan kesadaran bahwa realitas kemiskinan sebagian besar rakyat itu merupakan akibat ketidakadilan sistem yang melingkarinya selama ini. Sekitar 160 juta warga (80 persen penduduk) masih hidup di pedesaan. Turun-temurun mereka terpaksa berjuang mempertahankan hidup menghadapi berbagai matra ketidakadilan sosial. Tak mengherankan manakala lebih dari 70 persen warga miskin berada di pedesaan dan lapisan bawah di perkotaan ditempati mereka yang tergusur derita dari pede­saan. Kesimpulan ini diperkuat oleh catatan wartawan Kompas, Ahmad Arif, yang menyusun laporan ekspedisi "Jalan Raya Pos, 200 Tahun Pengisapan" sekitar setahun lalu.


      Paradigma pembangunan

      Dalam tulisan Peter Boomgaard (Chil­dren of the Colonial State, Amsterdam, 1989), citra Jawa awal abad ke-19 adalah kemiskinan dan kemandekan. Pulau ini dihuni jutaan petani yang hams hidup dari petak-petak tanah dan jutaan kuli yang berusaha bisa hidup di perkotaan yang padat penduduknya. Dua ratus tahun kemudian gambaran suram itu ternyata tak beranjak pergi. Pelajaran yang sepantasnya ditarik dari kenyataan getir "Kemiskinan dalam Kemerdekaan" ini adalah perlunya kita  meninggalkan   paradigma  pemba­ngunan tak manusiawi efek tetesan ke bawah. Paradigma ini menghalalkan disitanya sebagian besar hasil pembangunan oleh mereka yang sudah mapan dengan hanya sebagian kecil yang "diteteskan" kepada mayoritas rakyat Ini hanya mungkin berlangsung dalam keadaan rakyat tak berdaya Dengan kata lain, kemiskinan rakyat kita itu struktural, ditandai oleh penyebaran kekayaan dan kekuasaan yang sangat tak merata!

      Sudah saatnya menggunakan paradig­ma pembangunan yang mengutamakan pemerataan dan keadilan sosial. Saya selalu menyebutnya sebagai paradigma pem­bangunan yang diarahkan rakyat. Strategi pembangunan dengan sendirinya menjadi pertunibuhan melalui pemerataan.

      Untuk mengoperasionalkan strategi ini menanggulangi semua matra kemiskinan. dibutuhkan pendayagunaan secara sinergis empat perangkat kebijakan: modal, jangkauan, penghasilan, dan suara. Dalam kaitan ini, Reforma Agraria-terutama redistribusi tanah bagi rakyat dan memperluas jangkauan terhadap kredit merupakan landasan kukuh upaya meningkatkan pendapatan dan memperkuat sua­ra rakyat yang selama ini dibungkam.

      Terbentuknya keseimbangan baru pemilikan kekayaan dan kekuasaan politik dalam masyarakat akan dapat sekaligus memperkokoh kewarganegaraan. Dengan memperkuat peran serta dalam proses pengambilan keputusan yang bertalian de­ngan masa depannya secara bersama, diharapkan warga negara akan mampu membangun kohesi sosial dan meraih legitimasi politis guna mengalahkan kelompok kepentingan.

      Warga negara yang semakin berdaya akan menjadi kekuatan utama pendorong transformasi yang dibutuhkan untuk memutuskan pewarisan kemiskinan sebagai prasyarat terwujudnya keadaan sosial bagi seluruh rakyat. Pilihannya sudah jelas tak ada jalan tengah! Apakah melanjutkan budaya membohongi diri dengan terus menafikan bahwa kenyataan yang dihadapi rakyat yang sudah turun-temurun terus miskin barulah pribumisasi penjajahan, atau mengetuk nurani bertekad sungguh-sungguh memenuhi janji: "Bagimu Negri, jiwa raga kami"?

      Mendengarkan nurani akan menuntun kita menaklukkan nafsu akumulasi dan konsumsi, melintasi segala perbedaan gu­na bersama-sama mengerahkan seluruh daya dan dana untuk membantu upaya saudara-saudara kita merebut kemerdekaan seutuhnya dari belenggu kemiskinan. Sejarah perjalanan bangsa akan mencatat pilihan kita.


       

      Comments
      HS Dillon  - PhD (Cornell, '83)     |2013-07-22 05:02:44
      Tulisan/opini siapa ini?
      admin   |2013-07-22 17:52:22
      Itu adalah tulisan Anda, Bapah HS Dillon. Mohon maaf kami kurang hati-hati
      (tidak mencantumkan pengarangnya). Salam takzim dari kami buat Bapak. Terima
      kasih.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Saturday, 06 December 2014 18:16  

      Items details

      • Hits: 4154 clicks
      • Average hits: 52.6 clicks / month
      • Number of words: 4969
      • Number of characters: 44295
      • Created 6 years and 7 months ago at Wednesday, 18 April 2012 by Administrator
      • Modified 3 years and 1 ago at Saturday, 06 December 2014 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 130
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091398
      DSCF8798.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC