.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kelisanan (Orality) dan Keaksaraan (Literacy)[1]

      Oleh:

      Suherman

      Meski telah memasuki usia tujuh puluh dua tahun sejak kemerdekaan tahun 1945, bangsa Indonesia  masih kesulitan membangun budaya membaca. Padalah  inilah sesungguhnya inti permasalahan utama bangsa. Secara struktural, lemahnya budaya memaca bangsa karena lamahnya peran negara  seperti dibahas di atas. Secara sosial budaya, faktor-faktor pengaruh yang paling menonjol  dan yang paling sering dibahas dalam hubungannya dengan budaya membaca adalah bidang pendidikan yang sudah dibahas di bab terdahulu. Juga ada faktor lain yang tidak kalah populernya adalah warisan sejarah khususunya dialektika antara kelisanan dan keaksaraan.

      Banyak yang beranggapan bahwa lemahnya budaya membaca diakibakan karena bangsa kita secara genealogis adalah memiliki tradisi lisan daripada  tradisi tulisan atau literasi. Rendahnya budaya membaca di Indonesia  terjadi  karena faktor sejarah atau karena pewarisan dari nenek moyang kita yang lebih bersifat  budaya oral daripada budaya literasi. Selain itu, dianggap bahwa masyarakat Indonesia  diduga telah mengalami “lompatan budaya” dari budaya lisan (kelisanan primer)  langsung ke budaya visual (kelisanan sekunder), tanpa melalui budaya literasi atau tulisan. Beda dengan budaya masyarakat maju yang perjalanan sejarahnya bersifat linear, yaitu dari budaya pra-literasi, literasi, dan post-literasi.  Pendapat-pendapat di atas sering  dijadikan apologi  dan rasionalisasi terhadap status quo atau kemandekan atas upaya perbaikan kondisi budaya baca masyarakat. Terlebih bagi mereka yang memang malas membaca merasa ada legitimasi historis untuk  tetap malas membaca. “Habis mesti gimana lagi, dari sananya memang begitu” kata mereka yang malas membaca. Tulisan ini mencoba untuk menelusuri tradisi literasi bangsa Indonesia,  terutama dilihat dari hasil-hasil kesusasteraan dalam setiap fase waktu penulisannya. Betulkan nenek moyang kita tidak mengenal tradisi literasi ataukah  ini hanya sekedar mitos?

      Tidak diketahui secara pasti kapan bangsa Indonesia bersentuhan dengan peradaban literasi atau tulis-menulis. Yang banyak dibahas adalah sejarah kesusateraan Indonesia yang biasanya berisi tentang periodisasi sastra yang dimulai dengan Sastra "Melayu Lama" yaitu karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah Sumatera lainnya", Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel Barat. Sampai pada sastra anggkatan reformasi sekarang ini, bahkan sampai cybersastra.

      Menurut penulis, sesungguhnya tradisi literasi sudah ada jauh sebelum zaman Melayu Lama seperti  ditemukannya  Nagarakretagama, sebuah karya paduan sejarah dan sastra yang bermutu  tinggi dari zaman Majapahit, gubahan pujangga Prapanca  pada tahun 1365, kini  diakui sebagai Memori Dunia oleh UNESCO. Naskah Nagarakretagama disimpan di Leiden.  Pada saat  kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia  pada tahun 1973, naskah ini diserahkan kepada Republik Indonesia dan sempat disimpan oleh Ibu Tien Soeharto di rumahnya, dan akhirnya naskah disimpan di Perpustakaan Nasional RI.

      Menurut  Slamet Mulyana dalam bukunya Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya,  sebagai karya sastra Nagarakretagama mendudki tempat utama dalam kesusasteraan Jawa kuno. Isinya bukan cerita tentang dewa-dewa atau khayalan seperti kebanyakan karya sastra lama, tetapi uraian tentang rentetan peristiwa  dan deretan desa.

      Terlebih apabila prasasti dianggap sebagai bukti tradisi literasi, maka sudah ada sejak abad 10 seperti prasasti Kamalagyan (1037), prasasti Pucangan (1041), prasasti Pamwatan dan Ganhakuti (1042) yang dibuat pada zaman Raja Erlangga.bahkan mungkin ada yg lebih tua lagi seprti prasasti Bebetin yg dibuat pada tahun 989.

      Pada abad kesepuluh ini pun sudah ada  epik Mahabharata yang disadur kedalam bahasa Jawa kuno atas perintah raja Dharmwangsa Teguh Ananta Wikrama Utunggadewa.

      Karya sastera lain yang berupa buku yang sangat terkenal dalam kebudayaan nusantara setelah Nagarakretagama adalah Serat Pararaton gubahan antara tahun 1478 dan 1486 tanpa diketahui nama penggubahnya.

      Banyak juga karya-karya sastra Jawa kuna gubahan dari zaman Kediri, yang berdasarkan Mahabharata, di antaranya ialah Bharatayudha oleh Mpu Sedah dan Panuluh, Ghatotkacasraya oleh Mpu Panuluh, Hariwangsa oleh Mpu Panuluh, dan Kresnayana oleh Mpu Triguna.

      Maju ke permulaaan abad kesebelas kita pun akan berjumpa dengan Arjuna Wiwaha gubahan Mpu Kanwa. Cerita tentang perkawinan antara Arjuna dan Dewi Suprabha, hadiah bhatara Guru kepada Arjuna setelah mengalahkan raja raksasa Nirwatakawaca

      Mahakarya lain sebagai bukti sejarah budaya literasi masyakat Indonesia adalah dengan ditemukannya La Galigo. Bahkan ada yang menduga bahwa epik ini mungkin lebih tua dan ditulis sebelum epik  Mahabharata dari India. Isinya sebagian terbesar berbentuk puisi yang ditulis dalam bahasa Bugis kuno. Epik ini mengisahkan tentang Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani dan juga perantau.

      Menurut para ahli sejarah La Galigo bukanlah teks sejarah karena isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14. La Galigo juga sudah diakui sebagai Memori Dunia oleh UNESCO.

      M.C. Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern mengemukakan fakta-fakta sejarah budaya literasi masyarakat Indonesia pada abad ke 14. Rickflefs mencatat bahwa dalam suatu pelayaran pada tahun 1413-5, seorang muslim Cina, Ma Huan, mengunjungi daerah   pesisir Jawa. Ia melaporkan dalam bukunya yang berjudul Ying-yai Sheng-lan (Peninjauan Umum tentang pantai-pantai Samudra ) diterbitkan tahun 1451.

      Pada abad ke-14 di Tatar Sunda ada  naskah Perjalanan Bujangga Manik, naskah kuna berbahasa Sunda yang memuat kisah perjalanan seorang tokoh bernama Bujangga Manik mengelilingi Tanah Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis pada daun nipah, dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan saat ini disimpan di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 (R), cf. Noorduyn 1968:469, Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari 29 lembar daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang terdiri dari 8 suku kata.

      Tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari Kerajaan Sunda yang lebih suka menjalani hidup sebagai seorang resi, walaupun sebenarnya ia seorang kesatria dari keraton Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi Kota Bogor.

      Kemudian  pada wal abad ke XVI Tome Pires,  seorang ahli obat-obaan dari Lisbon yang menghabiskan waktunya  di Malaka dari tahun 1512 hingga 1515. Pada waktu itu, dia mengunjungi Jawa dan Sumatera, dan dengan sangat giat mengumpulkan informasi dari orang-orang lain mengenai seluruh daerah Malaya-Indonesia. Bukunya yang berjudul Suma Oriental menunjukkan dirinya sebagi pengamat yang tajam, yang deskripsi-deskripsinya melebihi para penulis Portugis lainnya.

      Sebagai sejarah literasi kita pun mencatat karya yang cukup terkenal dengan judul Hikayat Raja-Raja Pasai. Naskah ini berbahasa Melayu yang disalin di Demak pada tahun 1814. Buku ini berisi legenda yang menceritakan bagaimana Islam masuk ke Samudra.

      Sejarah Melayu, merupakan naskah berbahasa Melayu lainnya yang dikenal dalam beberapa versi bertahun 1612. Berisi kisah tentangn masuk Islamnya Raja Malaka. Terdapat sekurang-kurangnya 29 versi tetapi versi yang paling masyhur adalah versi Shellabear. Menurut naskah Shellabear, Yang Dipertuan Raja di Hilir Sultan Abdullah Mu'ayat Syah Ibni'l Sultan Abdul Jalil Syah telah mengutus Seri Nara Wangsa Tun Bambang untuk memerintahkan Bendahara Paduka Raja Tun Muhammad Mahmud (Tun Seri Lanang) pada hari Kamis, 12 Rabiul Awal 1021 bersamaan 13 Mei 1612 agar menyunting salinan Sejarah Melayu yang dibawa oleh Orang Kaya Sogoh dari Goa/Gowa.Ketika itu Sultan Johor Lama, Sultan Alauddin Riayat Syah ibni Sultan Abdul Jalil Syah telah ditahan di Istana Raja AcehSultan Iskandar Muda.

      Sejarah Melayu (Sulalatul Salatin) bergaya penulisan seperti babad, di sana-sini terdapat penggambaran hiperbolik untuk membesarkan raja dan keluarganya. Namun demikian, naskah ini dianggap penting karena ia menggambarkan adat-istiadat kerajaan, silsilah raja dan sejarah kerajaan Melayu dan boleh dikatakan menyerupai konsep Sejarah Sahih (Veritable HistoryCina, yang mencatat sejarah Dinasti sebelumnya dan disimpan di arsip negara tersebut.

      Babad Tanah Jawi (Sejarah Tanah Jawa). Menurut para sejarawan Babad Tanah Jawi ini punya banyak versi. Menurut Hoesein Djajadiningrat, kalau mau disederhanakan, keragaman versi itu dapat dipilah menjadi dua kelompok. Pertama, babad yang ditulis oleh Carik Braja atas perintah Sunan Paku Buwono III. Tulisan Braja ini lah yang kemudian diedarkan untuk umum pada 1788. Sementara kelompok kedua adalah babad yang diterbitkan oleh P. Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1722.

      Perbedaan keduanya terletak pada penceritaan sejarah Jawa Kuno sebelum munculnya cikal bakal kerajaan Mataram. Kelompok pertama hanya menceritakan riwayat Mataram secara ringkas, berupa silsilah dilengkapi sedikit keterangan. Sementara kelompok kedua dilengkapi dengan kisah panjang lebar.

      Babad Tanah Jawi telah menyedot perhatian banyak ahli sejarah. Antara lain ahli sejarah HJ de Graaf. Menurutnya apa yang tertulis dalam Babad Tanah Jawi dapat dipercaya, khususnya cerita tentang peristiwa tahun 1600 sampai zaman Kartasura di abad 18. Demikian juga dengan peristiwa sejak tahun 1580 yang mengulas tentang kerajaan Pajang. Namun, untuk cerita selepas era itu, de Graaf tidak berani menyebutnya sebagai data sejarah: terlalu sarat campuran mitologikosmologi, dan dongeng.

      Selain Graaf, Meinsma berada di daftar peminat Babad Tanah Jawi. Bahkan pada 1874 ia menerbitkan versi prosa yang dikerjakan oleh Kertapraja. Meinsma mendasarkan karyanya pada babad yang ditulis Carik Braja. Karya Meinsma inilah yang banyak beredar hingga kini.

      Dan inilah buku yang paling populer terutama di pulau Jawa,  Primbon (buku penuntun). Buku ini berisi ramalan, petung perjodohan, horoskop jawa, foto hantu dan fenomena supranatural lainnya. Tidak diketahui kapan buku ini muncul dan beredar di masyarakat. Walapun gerakan purifikasi keagamaan sangat gencar dilakukan oleh berbagai organisasi keagamaan—terutam  yang berhubungan dengan tahayul, bida’ah dan kurafat—tetap saja buku ini masih banyak dibaca sampai sekarang, malahan sampai dibuatkan situsnya di internet.

      Pada tahun 1595-6, Jan Huygen van Lin-schoten dia menerbitkan bukunya Iti-nerario near Oost ofte Portugaels Indinein (Pedoman Perjalanan ke Timur atau Hindia Portugis) yang memuat peta-peta dan deskripsi-deksripsi terperinci mengenai penemuan-penemuan Portugis.

      Di antara  karya-karya besar pada abad ke-17 yang berbahasa Jawa yang sangat terkenal adalah Serat Rama (Ramayana), Serat Bratayuda (Bharatayuddha), Serat Mintaraga (Arjunawiwaha), dan Serat Sasrabahu atau Lokapala (Arjunawijaya) gubahan Yasadipura I (1729-1803) seorang satrawan besar yang aktif di istana Surakarta.

      Di abad abad ke-20  ada seorang penulis buku yang terkenal di nusantara namanya Alfred Russel Wallace. Namanya  berdampingan sejajar dengan Charles Darwin sebagai penemu Teori Evolusi. Namun kemudian orang hanya mengingat Darwin dan menafikan hipotesis Wallace. Padahal Wallace-lah yang menguatkan hipotesis Darwin dengan sejumlah temuan dari Ternate pada 1858. Catatan perjalanannya dituangkan dalam buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1869, The Malay Archipelago. Tepat 140 tahun kemudian Komunitas Bambu menerjemahkan dan menerbitkannya dengan judul Kepulauan Nusantara.

      Dalam buku ini ditemukan nama-nama flora dan fauna Nusantara dalam nama ilmiahnya, lengkap dengan kedudukan spesies tersebut dalam taksonomi. Persebarannya pun dijabarkan secara terperinci, lengkap dengan perkiraan perubahan lempeng bumi dan masa geologisnya. Wallace juga menggambarkan fenomena mimikri pada beberapa spesies serangga dan burung.

      Manusia pun tak luput dari mata jeli Wallace. Ia mengamati suku-suku di Kepulauan Nusantara ini, khususnya dua suku besar: Melayu dan Papua. Digambarkan karakter fisik dan mental manusianya. Ketika Wallace menginjak bumi Nusantara ia menemui aneka bangsa hidup di dalamnya dengan kerajaan ataupun sistem sosial politik yang bisa disebut “kecenderungan bernegara”. Sistem itulah yang saat Wallace datang tengah dihadapi oleh pemerintahan kolonial Belanda dalam usahanya meluaskan negara yang bernama Hindia-Belanda. Ya, Belanda coba meluaskan kuasanya di sini. Dalam konteks itu, Wallace tak pernah sungkan untuk menilai kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia-Belanda, seperti despotisme, tanam paksa, perbudakan, seraya membanding-kannya dengan negaranya sendiri, Inggris, sebagai sebuah otokritik.

      Itulah beberapa rangkaian data adanya budaya literasi yang tidak pernah terputus dari abad ke abad. Ternyata budaya lisan dan budaya literasi selalu berdampingan. Jadi sangat sulit diterima apabila dikatakan bahwa budaya masyarakat Indonesia adalah budaya lisan.

      Pendapat saya di atas selaras dengan pendapat  Amin Sweeney dalam bukunya  Puncak Gunung Es: Kelisanan dan Keberaksaran dalam Kebudyaan Melayu-Indonesia. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011). Di halaman 41 dia menulis bahwa, “ alam Melayu telah mengenal huruf sejak lebih dari serbu tahun yang lalu. Ini berarti bahwa sejak ketika mula-mula mesuknya huruf itu, masyarakat Melayu tidak lagi dapat disifatkan sebagai masyarakat lisan sejati, karena biarpun hanya satu orang dalam seribu yang mampu menulis, pengaruhnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan pasti terasa dalam masyarakat seluruhnya.”

      Amin juga mengatakan bahwa perkembangan tradisi tulisan tidak berlangsung secara massif dan simulatan di seluruh daerah alam Melayu sehingga masih tersisa anggapan bahwa masyarakat masih bergantung semata-mata pada sistem pengolahan ilmu secara lisan. Di samping itu, banyak juga daerah yang mempertahankan  tradisi lisan—biarpun sudah agak terhuyung-huyung di pinggiran masyarakat modern.

      Di halaman yang lain Amin malah mengaskan bahwa suatu usaha untuk mendalami kajian terhadap tradisi lisan akan berhasil hanya kalau kita berupaya meningkatkan keberaksaran, karena mengkaji tradisi lisan dapat dilaksanakan hanya oleh orang yang telah menghayati dengan benar keberaksaraannya. Tradisi lisan bukan sesuatu yang jauh dari pengalaman kita. Kita semua menjadi pembawa tradisi lisan. Tetapi mungkin cerita yang kita bahwa itu aslinya dikarang dengan tulisan. Mungkin kita hanya membacanya.

      Sejak masuknya tulisan ke dalam alam Melayu, pengembangan tradisi tertulis maupun tradisi lisa tidak terlepas satu dari yang lain, bahkan tidak juga hanya hidup berdampingan secara sejajar. Pada satu pihak, kemampuan menulis menyebabkan  tersingkirnya bidang-bidang luas yang sebelumn menjadi milik tradisi lisan dan merubah hampir seluruh tradisi lisan yang masih bertahan. Pada pihak lain, kebiasaan-kebiasaan lisan bertahan teguh dalam komposisi  tertulis sepanjang zaman kebudayaan naskah tulisan tangan, bahkan dalam zaman percetakan dan keberaksaran umum yang terdapat sekarang ini, masih banyak bidang dalam masyarkat berbahasa Melayu yang memperlihatkan orientasi lisan yang kuat.

      Itulah beberapa bukti sejarah literasi di Indonesia yang diakhiri dengan  pendapat dari Amin Sweeney yang sekali lagi menjelaskan bahwa budaya nenek moyang kita adalah budaya  lisan tidaklah mutlak kebenarannya. Mungkin yang terjadi pada waktu itu adalah belum adanya demokratisasi informasi terutama informasi tertulis. Informasi hanya ada di lingkungan elit politik. Hal ini terjadi untuk mencegah multitafsir terhadap informasi sehingga akan menimbulkan instabilitas di masyarakat. Akan tetapi juga bisa diartikan bahwa hal tersebut terjadi atas dasar skenario elit politik untuk melanggengkan kekuasaannya.

      Hubungan dialektis yang harmonis antara kelisanan dan keaksaraan telah, sedang, dan akan terus terjadi di sepanjang sejarah manusia. Keberadaannya seperti dua sisi mata uang, saling menguatkan dan saling memberi makna. Tindakan memisahkan satu dari yang lain malah akan mereduksi keduanya. Berikut adalah gambaran dialektika tersebut yang sebagian besar idenya saya ambil dari buku Kelisanan dan Keaksaraan karya Walter J. Ong (Yogyakarta: Gading Publishing, 2013)

      Terlebih dahulu kita bahas tentang kekurangan dan kelebihan budaya lisan: Budaya lisan menghasilkan performa verbal yang kuat dan indah serta bernilai artistik dan kemanusiaan tinggi, yang tak mungkin ada lagi begitu tulisan telah menguasai psike. Meski demikian, tanpa tulisan, kesadaran manusia tak dapat mencapai potensinya yang lebih penuh, tak bisa menghasilkan karya-karya indah dan kuat lainnya. Dalam pengertian ini, kelisanan perlu menghasilkan dan ditakdirkan untuk menghasilkan tulisan. Keaksaraan mutlak diperlukan bukan saja bagi perkembangan sains melainkan juga sejarah, filsafat, sastra termasuk ujaran lisan itu sendiri.

      Nyaris tak ada lagi budaya lisan atau budaya mayoritas lisan di dunia sekarang ini yang tidak menyadari entah bagaimana keluasan potensi yang tak mungkin tercapai tanpa keaksaraan. Kesadaran ini sangat menyiksa bagi orang-orang dengan akar kelisanan primer, yang sangat mendamba keaksaraan tetapi juga tahu betul bahwa memasuki dunia aksara yang menggairahkan berarti meninggalkan banyak hal yang menggairahkan dan sangat dikasihi di dalam dunia lisan yang terlebih dahulu ada. Kita harus mati supaya bisa terus hidup.Teknologi tulisan telah mereduksi suara dinamis ke ruang yang lembam dan memisahkan kata dari masa kini yang hidup. Tradisi lisan dapat menghasilkan pengorganisasian pikiran dan pengalaman yang kompleks, cerdas, dan indah yang semua itu terjelma dalam poses kerja memori lisan. Pemikiran lisan sangat canggih dan reflektif dengan caranya sendiri. Kita tidak boleh memikirkan bahwa pemikiran berbasis lisan adalah pralogika atau tidak logis dalam pengertian yang simplistis—seperti misalnya dalam pengertian bahwa masyarakat lisan tidak memahami hubungan sebab-akibat.  Ingatan memainkan peran ygn sangat berbeda dalam budaya lisan dibandingkan perannya dalam budaya aksara.  Dalam budaya lisan, begitu diperoleh pengetahuan harus terus-menerus diulang, kalau tidak ia akan hilang. Sokrates mengatakan bahwa tulisan menghancurkan daya ingat. Orang-orang yang menggunakan tulisan menjadi mudah lupa, mengandalkan sumber luar untuk apa yang tidak mereka miliki dalam sumber internal mereka. Tulisan melemahkan pikiran. Teks tertulis pada dasarnya tidak responsif. Jika anda meminta penjelasan kepada seseorang Anda akan mendapat penjelasan. Jika anda minta penjelasan pada teks, Anda tidak akan mendaptkan apa-apa kecuali kata-kata yang sama. Kelisanan dapat menghasilkan karya-karya di luar jangkauan orang-orang melek aksara. Kelisanan juga tak akan pernah sepenuhnya hilang: membaca suatu teks berarti melisankannya. Baik kelisanan maupun perkembangan keaksaraan dari kelisanan diperlukan bagi evolusi kesadaran.

      Sejak awal tulisan tidak mengurangi kelisanan melainkan memperkuatnya, memungkinkannya untuk mengatur prinsip-prinsip atau unsur pokok pidato menjadi suatu seni ilmiah, sekumpuluan penjelasan yang tertata secara runtun yang menunjukkan bagaimana dan mengapa pidato mencapai dan dapat dibuat untuk mencapai beragam efeknya yang spesifik. Tanpa tulisan, kata-kata tidak memiliki kehadarian visual, bahkan ketika objek-objek yang diwakili bersifat visual. Kata-kata adalah suara. Tulisan menyusun pengetahuan dengan mengambil jarak dari pengalaman nyata, sedangkan lisan harus memverbalkan seluruh pengetahuan dengan rujukan yang lebih dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, membaurkan dunai objektif yang asing dengan interkasi manusia yang lebih akrab dan langsung. Tulisan memisahkan antara yang mengetahui dengan yang diketahui. Tanpa tulisan, pikiran yang melek huruf tidak akan dan tidak mampu berpikir sebagaimana yang bisa dilakukannya, bukan hanya ketika tengah menulis tetapi biasanya bahkan ketika tengah menyusun pikiran dalam bentuk lisan. Lebih dari penemuan lain, tulisan telah mengubah kesadadaran manusia. Tulisan telah membentuk bahasa ‘bebas konteks atau wacana mandiri, wacana yang tidak bisa langsung dipertanyakan atau diperdebatkan sebagaimana ujaran lisan karena wacana tertulis telah terlepas dari penulisnya.

      Tulisan bukan sekadar pelengkap ujaran lisan. Karena tulisan memindahkan ujaran dari dunia lisan-pendengaran ke dunia inderawi yang baru, yakni dunia penglihatan, tulisan mengubah pula ujaran dan pemikiran. Kondisi kata-kata dalam sebuah teks sangat berbeda dengan kondisi kata-kata dalam percakapan lisan. Kata-kata tertulis terasingkan dari konteks yang lebih utuh tempat kata-kata terucap itu muncul. Kata dalam habitat lisan alamiahnya merupakan bagian dari masa kini yang nyata dan benar-benar ada. Ucapan lisan disampaikan oleh seorang manusia nyata yang hidup kepada manusia nyata yang hidup lain pada waktu tertentu di latar nyata yang selalu mengandung lebih dari sekadar kata-kata. Cetakan menciptakan rasa kepemilikan privat baru terhadap kata. Orang-orang dalam budaya lisan primer bisa saja menyimpan rasa memilki terhadap sebuah puisi, tetapi perasaan semacam itu jarang muncul dan biasanya dilemahkan oleh kepemilikian bersama akan certai rakyat, folklore, dan tema-tema yang digunakan semua orang. Karena meskipun teks itu otonom bila dibandingkan dengan ungkapan lisan, pada akhirnya tidak ada teks yang dapat berdiri sendiri secara terpisah dari dunia di luar teks. Semua teks dibuat atas dalih (pretext) tertentu. Penafsiran apapun atas sebuah teks harus bergerak di luar teks supaya relevan bagi pembaca: teks tidak memiliki makna hingga ada yang membacanya, dan untuk memahaminya teks harus ditafsirkan, dengan kata lain harus terkait denga dunia si pemaca—yang bukan berarti dibaca secara asal-asalan atau tanpa rujukan ke dunia si penulis.



      [1] Literacy dibahasaindonesiakan menjadi literasi atau keaksaraan. Ada lagi istilah yang hampir sama yaitu literati. Istilah literati, disebut juga puo che dalam bahasa Cina yang artinya “perpustakaan berjalan”, dipopulerkan oleh Max Weber. Istilah ini untuk menunjukkan pada sebuah jabatan yaitu kelas terdidik dan intelektual khususnya di bidang sastra dan seni yang ada pada abad ke-17 di Cina. Literati sebagai kelompok status  memilki kedudukan seperti bangsawan. Literati dianggap telah menjadi pembawa kemajuan menuju administrasi rasional dan juga kemajuan semua kecerdasan. (Max Weber. Teori Dasar Analisis Kebudayaan. Jogjakarta: IRCISOD, 2012, hal. 315-369)

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 820 clicks
      • Average hits: 39 clicks / month
      • Number of words: 6728
      • Number of characters: 55081
      • Created one month and 9 months ago at Thursday, 23 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC