.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 19 DESEMBER 2009

      Kearifan Pendidikan Samin

      Alam telah mengajari keseimbangan dan harmonisasi bagi masyarakat Samin yang polos ini.

      Widi Muryono

      Peneliti PARIST Kudus.

      BELAKANGAN ini boleh jadi banyak orang riuh membincangkan seng-karut ujian nasional. Namun, tidak dengan masyarakat Samin yang berdiam di pedalaman Blora, Jawa Tengah, dan tersebar di beberapa wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

      Jauh hari mereka telah menerapkan pendidikan dengan cara mereka sendiri. Untuk meretas masa depan, sedulur sikep ini tidak mengidamkan selembar ijazah, tapi nilai-nilai kearifan.

      Bagi kaum Samin, menjadi manusia seutuhnya tidak harus selalu ditempuh dengan melewati pendidikan formal di sekolah-sekolah. Mereka lebih mapan mendidik anak-anak samin de­ngan caranya sendiri. Pendidikan Samin tidak terlepas dari lingkaran kearifan komunitasnya.

      Sejauh ini, masyarakat Samin antipendidikan formal bukan semata luapan kemalasan. Mereka mengantongi alasan lain yang sudah mendarah daging. Dalam pandangan Samin, sekolah hanya akan merusak mental anak-anak mereka. Pendidikan formal akan mengubah selera mereka sebagai kawula (rakyat) menjadi bendara (penguasa). Ini yang tidak diinginkan sedulur sikep.

       

      Sekolah formal di mata kaum samin dianggap tidak mampu menyemai pendidikan moral seperti mereka punya. Bersekolah di pendidikan formal hemat Samin, semakin menggerus moralitas anak-anak mereka. Samin menganggap pendidikan formal berorientasi mencetak kaum elite yang serakah, dan bukan menga­jari mereka menjadi kawula yang berkeadaban.

      Pendidikan formal dianggapnya sebagai alternatif ambisi untuk berkuasa, atau setidaknya memeroleh kedudukan dan kemapanan ekonomi. Pendidikan seakan menjadi prasyarat mendapatkan legitimasi untuk meraup kuasa yang terepresentasi melalui ijazah.

      Samin berkehendak bebas dari belenggu sekolah seperti itu. Masyarakat Samin ingin pendidi­kan mereka berjalan leluasa tanpa intimidasi. Mereka mendamba iklim pendidikan yang demokratis, merdeka.

      Pendidikan impian samin ini, meminjam istilah Paule Fraiere (1986) dipandang sebagai konsep pendidikan untuk pembebasan. Melalui pendidikan, masyarakat leluasa menentukan selera hidupnya tanpa kendali kuasa.

      Pendidikan adalah aktivitas demokratis tanpa otoriter birokrasi. Kaum Samin lebih mengidam­kan generasi yang saleh (ngawruh tata). Manusia sempurna impian, Bagi kaum Samin, menjadi manusia seutuhnya tidak harus selalu ditempuh dengan melewati pendidikan formal di sekolah-sekolah."

      Samin adalah generasi yang punya etika, berbudi luhur. Mereka tidak tergoda dengan iming-iming menjadi masyarakat cerdas, berwawasan tapi tidak nyamudra tote. Filosofi Jawa menolak menjadi wong pinter seng minteri wong, (orang pintar yang membodohi orang lain).

      Untuk menyiasati polemik ini, Samin menyuguhkan strategi tersendiri untuk suksesi pendidikan anak mereka. Samin lebih menekankan pendidikan berbasis keluarga dan alam.

      Kedua model pendidikan itu bagi Samin dirasa cukup mengantarkan anak-anak mereka menjadi manusia yang berbudi, luhuring budi.

      Dalam lingkup keluarga, pen­didikan Samin disuguhkan de­ngan model home schooling. Aktivitas di lingkungan keluarga adalah pendidikan penting bagi anak-anak mereka. Orang tua dalam wilayah ini memainkan peran penting. Dalam masyarakat Samin, berhasil atau tidaknya pendidikan anak bergantung pada peran orang tua.

      Pendidikan berbasis keluarga ini menyuguhkan nilai kearifan hidup seperti diamini masyarakat samin selama ini. Semenjak kecil, anak-anak mereka dididik agar tidak drengki (memfitnah), srei (serakah), panesten (membenci sesama), dawen (menuduh tanpa bukti), kemeren (iri hati), dan aja kutil (jangan suka mengambil atau mencuri milik orang lain).

      Sistim modeling

      Modeling mendambakan keteladanan tokoh pengajar dalam proses pembelajaran. Ki Hadjar Dewantara menyemainya dalam semangat ing ngarsa sung tuladha (di depan memberikan teladan).

      Konsepsi modeling ini, dalam masyarakat Samin juga memberdayakan potensi sosial. Ketokohan dalam..masyarakat merupakan sesuatu yang penting. Samin mendambakan tokoh sentral sebagai figur modeling yang mereka jadikan panutan.

      Inilah mengapa Samin selalu menuakan tokoh adat mereka. Samin Suro Sentiko ialah figur sentral yang ajarannya masih diamini, dijunjung tinggi, dan dipraktekkan dalam laku kehidupan Samin.

      Model kedua adalah pendidik­an berbasis alam. Masyarakat Samin menganggap alam seba­gai sesuatu yang sakral, profan. Alam menyimpan energi natural yang menyemaikan kearifan jika dihargai.

      Lewat alam, masyarakat samin belajar tentang hakikat kehidupan, tentang nilai, etika dan kearifan hidup. Konsepsi itu melahirkan kearifan lingkungan yang mahadahsyat. Samin mampu hidup selaras dengan alam. Lumbung kehidu­pan mereka adalah alam. Jika mereka merusak alam, sama halnya menghancurkan kehidupan, jika tidak generasi sekarang, anak turun mereka.

      Lewat model pendidikan kearifan seperti itu, kaum Samin mencetak generasi mereka. Mereka tidak perlu bersusah payah menjadi orang dinas untuk menuai kesejahteraan hidup. Ketika banyak anak sekolahan depresi de­ngan ujian nasional, anak-anak Samin tetap bersahaja dengan kearifan yang mereka geluti.

      Sedulur sikep mampu mencapai sejahtera.berbekal kearifan pendidikan yang mereka semaikan turun-temurun, Mereka tidak membutuhkan seragam atau ijazah untuk menjadi manusia.

      Konsepsi pendidikan seperti ini telah mampu mengantarkan komunitas Samin pada kesejahtera­an hidup. Meski mereka tidak pernah ‘makan sekolahan’.

      This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:31  

      Items details

      • Hits: 1072 clicks
      • Average hits: 13.2 clicks / month
      • Number of words: 2894
      • Number of characters: 24519
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 162
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC