.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keaksaraan
E-mail

 

TEMPO 7 SEPTEMBER 2006

 

PROGRAM PELESTARIAN

Sebagai usaha program pembelajaran yang sustainable ( berkelanjutan ) berbeberapa harapan diutarakan oleh Ace berharap suatu waktu ada sistem sehingga masyarakat selalu ada keinginan untuk terus belajar, sehingga program yang tadinya telah berhasil dijaiankan tidak sia  sia," ujar Ace. Untuk maksud tersebut, rnenurut Ace bisa dilakukan program-program pelestarian. Salah satu bentuknya, dengan memberikan modal Rpl juta hingga Rp2 juta jika memiliki keinginan berusaha.

Langkah pelestarian berikut ditempuh dengan menyediakan taman bacaan masyarakat (IBM) yang bisa bagikehidupan sehari-hari. Berbeda dengan kondisi IBM yang ada seperti kebanyakan, taman bacaan yang dimaksud disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitarnya. "Misalnya bagi yang banyak bertani diberi bacaan yang menyangkut bidang tersebut, sehingga lebih aplikatif dan menarik bagi mereka," ujar Ace. Ada satu momen penting di tingkat internasional terkait keterlibatan Indonesia dalam pemberantasan buta aksara. Fisrt lady Amerika Serikat Mrs.Laura Bush telah mengundang Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo ke Washington DC, Amerika Se­rikat, pada 18 September 2006 dalam rangka In­ternational Literacy Program. Acara ini akan diha-diri oleh 9 negara undangan yangterbilang aktif da­lam memerangi buta aksara, pada kesempatan ter­sebut "Laura Bush sebagai icon UNESCO ingin men-dengarkan pengalaman Indonesia dalam program pemberantasan buta huruf di Tanah Air," ujar Ace menutup perbincangan.*

 

 

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:14
 
E-mail

 

Perempuan Membuta aksarakah perempuan

Oleh S Sahala tua Saragih Dosen Rkom Unpad


Dalam hal buta ak­sara rupanya kaum perempuan masih tetap jauh "lebih unggul" daripada kaum laki-laki, baik di tingkat sejagat (global) maupun nasional. Kini, dari kurang lebih enam miliar penduduk bumi, sekitar 860 juta (10,75 persen) di antaranya masih menderita buta aksara absolut. Mereka sama sekali tak mampu membaca, menulis, dan berhitung secara sederhana sekalipun. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 573 juta (66,62 persen) di antaranya perempuan.

Di Indonesia kini masih terdapat lebih 8,3 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun masih menderita buta aksara, lebih 5,53 juta orang (66,62 persen) di antaranya perem­puan. Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Na­sional, Hamid Muhammad, baru-baru ini mengungkapkan, dari lebih 8,3 juta penduduk yang masih buta aksara itu 80 persen atau 6,64 juta orang di antaranya berusia di atas 45 tahun.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:13 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS 25 JANUARI 2006

 

Perang Total Melawan Buta Aksara

Oleh DODI NANDIKA

Sebelum bangsa ini berdiri kokoh, Ki Hadjar Dewantara tahun 1936 telah mengajak masyarakat melakukan mobilisasi intelektual memberantas buta aksara. Caranya, dengan mengimbau semua orang yang bisa bacatulis meng-ajarkan ilmunya kepada saudara di sekitarnya.

Selain itu, ia juga mengajak setiap orang yang memiliki rumah merelakan tempat tinggalnya menjadi tempat belajar baca-tulis. Mengapa Ki Hadjar Dewantara begitu gandrung memberantas buta aksara? Karena, sebelum kemerdekaan hanya tiga persen penduduk In­donesia yang berkesempatan bersekolah. Tidak heran jika saat negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, 90 persen penduduknya buta aksara.

Kenyataan itu berlangsung hingga kini. Menurut Susenas 2005, sekitar 14,6 juta orang atau 9,55 persen dari penduduk usia 15 tahun ke atas belum melek aksa­ra. Mereka akan kesulitan meng-ikuti kemajuan peradaban. Ini tantangan besar bangsa.

Karena itu, tampaknya masa-lah buta aksara tidak bisa di-hadapi dengan cara konvensional. Ibarat peperangan melawan terorisme, penumpasan buta aksara harus dihadapi dengan melibatkan masyarakat, harus total football. Pasalnya, selama ini pemberantasan buta aksara dianggap kegiatan "sampingan". Lalu, di mana orang-orang terpelajar yang diimbau Ki Hadjar Dewantara itu? Di mana semangat kebangsaan untuk membangunkan saudara sebangsanya dari kebutaaksaraan?

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:12 Read more...
 
E-mail

 

Kompas 7 september 2007

 

Penduduk tidak tamat SD menghawatirkan

Berdasarkan Data Survei Sosial Ekonomi Daerah Provinsi Jawa Barat tahun 2005, persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang tidak tamat sekolah dasar mencapai 26,98 persen. Angka tersebut meningkat 0,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 26,73 persen. Kabupaten Bogor merupakan wilayah dengan Jumlah penduduk terbanyak yang tidak dapat menamatkan SD, yakni 1,23 juta orang. Berikutnya, Kabupaten Indramayu dengan 731.460 penduduk. Selanjutnya Kabupaten Karawang dengan 625.334 orang.

Pada 2005, Jumlah penduduk Jabar yang tidak mampu tamat SD mencapai 8,7 juta orang. Namun, Jumlah perempuan yang tidak tamat SD lebih besar, yakni 4,86 juta orang atau 55,8 persen. Adapun laki-laki berjumlah 3,84 juta orang atau 44,2 persen. Ketimpangan ini mengakibatkan persentase perempuan yang buta huruf juga lebih tinggi, yakni 7,63 persen, sedangkan laki-laki 3,1 persen.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:11 Read more...
 


Page 3 of 16

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,794
  • Sedang Online 104
  • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9103578
DSCF8803.jpg

Kalender & Agenda

March 2019
S M T W T F S
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC