.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keaksaraan
E-mail

 

PIKIRAN RAKYAT 6 SEPTEMBER 2006

 

 

13,2 Juta Orang Masih Buta Aksara


Pemberantasan di Indonesia Jadi Model Asia Pasifik


JAKARTA, (PR).-

Angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas berdasarkan catatan semester pertama 2006 masih tinggi, yakni 13.182.492 orang. Tahun 2005 tercatat 14.595.088 orang. "Dari angka itu, dua per tiganya disandang kaum perempuan," ujar Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdik-nas, Ace Suryadi, di Gerai Informasi dan Media (GEM) Depdiknas Senayan, Jakarta, Selasa (5/9).

Pernyataan itu terkait rencana peringatan Hari Aksara Internasional ke-41 di Kab. Probolinggo, Jatim, 8 Sep­tember 2006, sekaligus temu nasional percepatan pemberantasan buta ak­sara, 6 - 9 September 2006. Menurut dia, masih tingginya angka buta aksara disebabkan sejumlah faktor, masih ada anak usia 7-12 tahun

Tidak pernah sekolah. Masih ada siswa yang putus belajar dari SD kelas 1,11, dan III dengan jumlah 334 ribu anak per tahun. Jika tidak dimanfaatkan, beberapa tahun ke depan berpotensi menjadi buta aksara kembali.

Ace menjelaskan, masalah buta ak­sara harus dipahami semua pihak, memberikan kesadaran pentingnya melek huruf. Masalahnya, belum maksimal perhatian pemerintah daerah terhadap penuntasan pemberantasan, belum maksimalnya kesadaran masyarakat, dan belum tergali potensi bangsa menunjang penuntasan.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:16 Read more...
 
E-mail

 

RADAR BANDUNG 12 SEPTEMBER 2006

 

 

1.254 Warga Buta Huruf

 

Pemkot Target Melek Huruf

SUKABUMI Penuntasan warga yang menderita buta huruf bukan hanya menjadi PR tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi. Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi pun tak mau ketinggalan. Meski, angka buta huruf di wilayah ini hanya mencapai 1.254 orang. Pemkot tetap akan berupaya menuntaskan masalah ini dengan berbagai program yang mulai dan sudah berjalan.

"Persentase buta huruf di kita adalah 0,82 persen dari jumlah warga yang ada. Dengan jumlah itu, tentu kita tidak mau tinggal diam begitu saja. Program kejar paket sebagai program penuntasan buta aksara adalah program yang akan terus kami geber, " ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Kota Sukabumi, Mulyono kepada Radar usai mengikuti Haornas di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi, Sabtu lalu.  Dijelaskan Mulyono, program kejar paket memang akan dijalankannya. Mengingat, dari tatanan usia. Penderita buta huruf di wilayahnya berasal dari kalangan 45 tahun ke atas.


 

"Angka yang dihitung untuk menjadi target penuntasan buta huruf sebelumnya adalah dari 15 hingga 45 tahun. Namun, karena pada nyatanya yang dominan masih belum mengenal tulisan ini dari kalangan umur 45 tahun ke atas. Maka, semua umur akan jadikan target kita supaya mereka bisa membaca dan mengenal tulisan dengan baik," ulasnya.

Sementara, ketika ditanya dukungannya terhadap pembelajaran anti korupsi yang oleh Pemerintah Pusat akan diterapkan ke setiap sekolah. Pihaknya, kata Mulyono sangat mendukungnya. "Sebab, mata pelajaran itu adalah intergasi mata pelajaran kepribadian seperti pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan (PKN), dan pendidikari jasmani dan kesehatan. Kami sangat mendukungnya jika itu diterapkan secepatnya. Kota insyaallah siap pungkasnya. (veg)

 

 

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:14
 
E-mail

 

REPUBLIKA 13 OKTOBER 2006

 

1,5 Juta Warga Jabar Buta Huruf

Faktor kemiskinan menjadi penyebabnya.

BANDUNG, jumlah masyarakat yang buta huruf di jabar ternyata masih banyak. Padahal setiap tahunya pemerintah pemerintah telah  melakukan program pemeberantasan buta aksara menurut kasudin bina program dinas  pendidikan (disdik)jabar, ruchiyat,pada 2006  jumlah warga yang buta huruf di jabar mencapai 1.512.899 orang

Angka itu kata ruhiyat sebenarnya sudah berkurang sekitar 100.000 bila di bandingkan dengan 2006. "Pro­gram pemberantasan buta huruf setiap tahun kami buat untuk mengurangi jumlahnya agar tidak terlalu besar. Pem­berantasan buta huruf itu ka­mi fokuskan pada usia 15-44 tahun karena masih tergolong usia produktif," ujarnya, Kamis (12/10).

Ruchiyat mengatakan, dae­rah yang menjadi kantung buta huruf di Jabar ada di beberapa. Yaitu, Kabupaten indramayu, Subang, Cirebon, dan Karawang. Penyebab tingginya jumlah buta huruf di daerah itu, kata dia, karena faktor kemiskinan. Akibat kemiskinan itu, tingkat pen-didikan di daerah tersebut masih rendah. .

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:11 Read more...
 
E-mail

RADAR BANDUNG 17 OKTOBER 2006

 

1,5 juta warga buta huruf

Budaya malu penyebab tingginya buta huruf

BANDUNG-Budaya malu merupakan salah satu faktor penghambat pemberantasan buta huruf di Jabar. Kepala Sub Dinas Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Disdik Jabar, Drs Herang Abiyanto, mengaku diketahuinya budaya malu sebagai peng­hambat pemberantasan buta huruf terungkap saat rapat koordinasi dengan enam kabupaten yang memiliki jumlah buta huruf terbanyak.

Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa pendekatan lokal atau kedaerahan dianggap membantu dalam pemberantasan buta huruf. Saat ini jumlah daerah yang me­miliki jumlah buta huruf terbanyak adalah Kabupaten Indramayu, Kabupaten Subang, Majalengka, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cirebon.

Jumlah total masyarakat yang buta "huruf saat ini 1.512.899 orang atau 5,13 persen dari jumlah penduduk Jabar. Rinciannya terdiri dari 479.337 laki-laki dan 1.033.562 perempuan. Dari jumlah masyarakat yang buta huruf itu, 23 persen atau sekitar 347 ribu orang merupakan usia produktif.


 

"Budaya malu tersebut sebe-tuhiya mengikat erat dalam diri pri-badi warga karena memang me­rupakan suatu keadaan psikologis. Sehingga dalam pendataan ada warga yang malu mengakui dirinya buta huruf kepada petugas. Jadi, wajar saja jika Disdik kabupaten masih mendapati ada warganya yang masih buta huruf karena tidak terdata," kata Herang.

Selain ito, lanjut dia, rasa malu juga berhubungan erat dengan faktor ekonomi. Pasalnya, kata dia, masyarakat yang buta huruf berasal dari golongan miskin, sehingga takut ikut belajar program pemberantasan buta huruf karena khawatir dibebahi biaya. "Jika

dilihat dari geografis kebanyakan masyarakat yang buta huruf itu berasal dari sekitar daerah Pantura. Mereka lebih memilih untuk bekerja dari pada belajar," katanya.

Pada rapat dengan enam kabu­paten itu, kata Herang, pihaknya membahas mengenai rencana aksi , daerah (RAD). Setelah melihat faktor penyebab itu, maka pemberian program belajar selama enam bulan bagi buta huruf dilakukan atas dasar kelokalan atau sesuai kultur kedaerahan. (tie)

 

 

 

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:08
 


Page 14 of 16

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 122
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9126644
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

December 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC