.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keaksaraan
E-mail

 

27 MEI 2009

 

Buta Aksara Ditargetkan di bawah 5 persen

Peraturan Pemerintah tentang Dosen disahkan.

BANDUNG — Mental Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menyatakan persentase buta aksara usia di atas 15 tahun telah bisa diturunkan dari 10,21 persen pada 2004 menjadi 5,97 persen pada 2008. Angka itu akan terus ditekan dan diharapkan bisa berada di bawah 5 persen pada akhir 2009.

"Insya Allah, dengan kerja keras kita bersama, akhir tahun ini bisa berada di bawah 5 persen," kata Bambang Sudibyo dalam acara peringatan puncak Hari Pendidikan . Nasional 2009 di Sasana Budaya Ganesha ITB kemarin.

Menurut dia, dari 36 indikator kunci keberhasilan pembangunan pendidikan, sebagian besar sudah rnemenuhi sasaran. Bahkan beberapa target indikator berhasil dilampaui dengan amat baik. Contohnya, dalam perluasan dan pemerataan akses pendidikan, pemerintah berhasil menuntaskan pendidikan untuk semua di tingkat pendidikan dasar melalui program wajib belajar sembilan tahun. Selain itu, pemerintah berha­sil menurunkan angka buta huruf.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:35 Read more...
 
E-mail

 

Bersama  kita berantas buta aksara

OLEH BENI SETIAWAN


DepartemenPendidikan Nasioanal nienyatakan, Jawa Barat menduduki peringkat ketiga dalam buta aksara setelah Ja­wa Timur dan Jawa Tengah. Tingkatbuta aksara di Jawa Baratmencapai 12 persen dari 15,3 juta penduduk Indonesia. Berarti lebih dari 1,836 juta penduduk Jawa Barat tidak dapat membaca dan menulis

Penyebaran terbesar ada di Ka­bupaten Indramayu, Cirebon, Karawang, dan Subang. Kabupaten Indramayu menyumbang partisipasi buta aksara 331.938 jiwa, atau 22,7 persen dari penduduknya. Ka­bupaten Karawang ada di peringkat kedua dengan 12,2 persen. Berikutnya di Kabupaten Subang dan Cirebon masing-masing sebesar 11,9 persen dan 11,5 persen.

Persoalan di atas sungguh meresahkan. Artinya, Jawa Barat sebagai daerah pusat pendidikan, baik pesantren, sekolah umum, maupun perguruan tinggi yang hampir imerata di setiap kabupaten, mempunyai masalah buta aksara.

Sebut saja Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, dan sejumlah Sekolah Tinggi Agama Is­lam Negeri (STAIN) yang menyebar hampir di setiap kabupaten/kota.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:35 Read more...
 
E-mail

 

PROGRAM KEAKSARAAN

Belajar Bukan untuk Ijazah

Asnita (46) duduk duduk di waning nasi milik Risna wati Silalahi (55), tetangganya, yang terletak di Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimoon, Kota Medan, akhir pekan lalu. Kompas yang sudah berada di sana sebelumnya mengajak bercakap-cakap mantan tenaga kerja wanita di Malaysia ini.

"Selama bekerja di sana, setidaknya satu bulan sekali, pada saat gajian, saya berkirim surat Bukan saya yang membuatnya, tapi teman saya karena saya ti­dak bisa menulis," ujar Nita, panggilan akrab Asnita.

Nita menuturkan, setelah mendapat gaji dari sang majikan, dia membeli buah-buahan atau cokelat. Buah atau cokelat itu digunakan untuk menyogok temannya agar mau menuliskan surat untuk keluarganya di Me­dan. Akan tetapi, apa kata te­mannya? "Kau pasti mau nyogok aku, ya. Sudah ketahuan gelagat kau," ujar Nita sambil tersei nyum, menirukan perkataan temannya saat dia memberikan  buah atau cokelat Dengan buah  dan cokelat, hati sang teman luluh, dan akhirnya membuatkan Nita surat untuk keluarganya

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:33 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, SENIN, 16 JUNI 2008

 

 

SURVEI PAMERAN BUKU

Beda Usia, Beda Alasan

(BAMBANG SETIAWAN/ Litbang Kompas)

Apa yang membedakan kaum muda dan golongan yang sudah mapan dalam perilaku mengunjungi pameran? Apakah usia turut berperan dalam membedakan minat orang mengunjungi pameran buku?

Survei pengunjung yang dilakukan oleh Litbang Kom­pas dengan mengambil 281 responden menunjukkan beberapa kecenderungan karakteristik pengunjung menurut kelompok umur.

Meskipun membeli buku de­ngan harga murah menjadi alasan utama pengunjung datang ke pameran buku, jika dilihat lebih jauh, ada beberapa perbedaan di antara kelompok umur dalam menjawab alasan-alasan lainnya. Setidaknya, ini tergambar dari survei pengunjung Kompas Gramedia Fair, Februari 2008.

Faktor menarik atau tidaknya produk yang disajikan menjadi alasan yang lebih menonjol pada kelompok remaja hingga usia 20 tahun untuk datang atau tidak datang ke pameran dibandingkan dengan kelompok umur di atasnya. Mengisi waktu kosong atau sekadar jalan-jalan juga menjadi alasan yang menonjol pada kelompok muda di bawah 25 tahun.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:29 Read more...
 


Page 12 of 16

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 70
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9126587
Dialog_Peradaban.jpg

Kalender & Agenda

December 2019
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC