.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keaksaraan
E-mail

 

SUMBER : PIKIRAN RAKYAT  2 JANUARI 2007


Siapa Berani

Melawan Buta Huruf?


Keberhasilan Kabupaten Indramayu Dapat Menjadi Lokomotif di Jabar

SETIAP meraih keutamaan hidup, para satria Pandawa haras menempuh berbagai laku. Salah satu­nya adalah mengalahkan para buta (raksasa). Setelah mampu mengalahkan para buta inilah, para Pandawa akan meraih kebahagiaan dan keberuntungan, terutama mengalahkan para Kurawa, yang merapakan lambang keangkaramurkaan.

Dalam kehidupan kontemporer, suatu masyarakat akan mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan jika mampu mengalahkan jenis buta yang satu ini, yaitu buta huruf dan buta aksara. Pada zaman ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang, tidak mungkin suatu masyarakat mampu memenangkan kompetisi tanpa penguasaan iptek itu. Persoalannya, bagaimana mungkin suatu masyarakat menguasai iptek jika mereka membaca, menulis, dan berhitung pun ti­dak mampu.

Membaca, menulis, dan ber­hitung (calistung) inilah merupakan pekerjaan rumah (PR) paling utama dalam dunia pendidikan di tanah air. Amanat UUD 1945 agar APBN dan APBD menganggarkan 20% untuk pendidikan merupakan modal utama memberikan semangat para pengelola pendi­dikan untuk segera menuntaskan kemampuan literacy ini.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:19 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS 26 JULI 2008

Saatnya Muliakan Keberaksaraan

Demokrasi tak bisa berumah di angin. Triliunan uang terkuras, berbilang institusi tiruan dicangkokkan, dan pelbagai prosedur baru digulirkan tak membuat rakyat kian berdaya secara politik. Perangkat keras demokrasi memang berhasil dipoles, tetapi perangkat lunaknya masih berjiwa tirani. Demokrasi berjalan dengan meninggalkan sang "demos" (rakyat jelata), seperti Malin Kundang yang melupakan ibunya sendiri.

Oleh YUDI LATIF

Situasi demikian mengingatkan kembali sisi kegagalan demokrasi Indonesia pada dekade 1950-an. Menurut pandangan Ricklefs, ke­gagalan tersebut disebabkan oleh lemahnya fondasi demokrasi. "Di sebuah negara yang masih ditandai oleh tingginya tingkat buta huruf, rendahnya pendidikan, buruknya kondisi ekonomi, lebarnya kesenjangan sosial, dan mentalitas otoritarian, wilayah politik masih merupakan hak istimewa milik sekelompok kecil elite politikus."

Hal ini mengindikasikan, reformasi sosial tidak akan pernah muncul hanya mengandalkan reformasi kelembagaan politik dan ekonomi, melainkan perlu mengakar ke bumi reformasi budaya. Reformasi budaya me­rupakan fungsi dari perubahan proses belajar sosial secara kolektif, yang membawa transformasi tata nilai, ide, dan jalan hidup. Dalam hal ini, terasa penting untuk memerhatikan jalinan erat antara budaya, politik, dan ekonomi.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:18 Read more...
 
E-mail

 

SUMBER : PIKIRAN RAKYAT                                                   12 SEPTEMBER 2007

Ribuan Warga Kota Bogor.

Penyandang Buta Aksara

Jumlahnya Mencapai 7.820 Orang

BOGOR, (PR).-

Sedikitnya 7.820 warga Kota Bogor saat ini masih buta aksara. Meskipun jumlah ini relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Bogor yang berusia di atas 15 tahun pada tahun 2006 yaitu sekira 0,92%, pemerintah Kota Bogor terus berupaya untuk menekan jumlah warga yang buta aksara.

Menurut Wali Kota Bogor, Diani Budiarto, berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan jumlah warga yang buta huruf antara lain dengan melaksanakan program kelompok belajar paket A, keaksaraan fungsional yang pada tahun 2006 ini telah diikuti lebih dari 1.080 anggota masyarakat di seluruh wilayah Kota Bogor.

Saat ini, kata Diani, pen­duduk Kota Bogor yang telah melek huruf dan dapat membaca serta menulis. mencapai 99,8% dari total penduduk Ko­ta Bogor yang berjumlah 850 ribu jiwa.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:16 Read more...
 
E-mail

 

Relasi Kuasa di Balik Aksara

Keaksaraan bisa diandaikan pupuk yang dibutuhkan bagi pembangunan manusia dan demokrasi supaya akarnya lebih kuat tertancap dan bertumbuh. la merupakan resep nyata dalam setiap strategi penanggulangan kemiskinan.

Oleh NINUK MAKDIANA dan MARIA HARTININGSIH

Ironisnya, demokrasi tidak menyentuh persoalan aksara, ini karena keaksaraan lebih l.banyak dipahami sebagai keaksaraan huruf Latin.

Direktur Pendidikan Masyarakat Departemen Pendidikan Nasional Sudjarwo menyatakan, strategi percepatan pemberantasan buta huruf perlu memperhitungkan kondisi sosial budaya  komunitas adat yang merupakan bagian dari sekitar 15 juta penduduk Indonesia di atas usia 10 tahun yang masih buta aksara. (Kompas, 7/01). Sudjarwo mengatakan komunitas adat lebih tepat disentuh dengan pendidikan nonformal, termasuk keaksaraan, dan harus dikemas tersendiri. Namun, ia tak menjelaskan buta aksara apa yang dimaksud. Mungkin tidak terlalu disadari bahwa banyak anggota masyarakat di Indonesia yang menggunakan aksara non-Latin atau setidaknya tanda-tanda khas yang fungsinya dapat disetarakan dengan aksara untuk komunikasi tulisan.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:15 Read more...
 


Page 2 of 16

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,794
  • Sedang Online 166
  • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9103291
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

March 2019
S M T W T F S
24 25 26 27 28 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC