.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Keaksaraan
E-mail

 

TEMPO 14 SEPTEMBER 2007

 

KOMITMEN PBA DARI LAPANGAN

SANGKAREANG

Hari Aksara Internasional diperingati di Mataram,NTB, 8 September lalu. Meskipun tantangan masih menghadang, tapi optimistis segala pihak membuat para buta aksara semakin mengecil. Cukup 5 Persen Buta Aksara.

Bibir lelaki paruhbaya berpeci hitam itu bergerak-gerak pelan. la tengah terbata-bata    membaca secarik kertas yang dipegangnya. Orang-orang yang melihatnya tertawa geli Tawa pun akhirnya pecah, saat     penontonnya paham bahwa orang tua itu tengah mengeja lirik lagu yang sangat kondang saat ini, "Kucing garong".

Setelah ia selesai unjuk diri di panggung, giliran perempuan dengan usia relatif sama menunjukkan keterampilannya membaca puisi. Aksi para manula itu menjadi salah satu kegiatan sebuah stan yang terdapat pada perayaan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-42, pada 8 September 2007, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Aksi sekitar 10 orang berumur itu menjadi daya tank pengunjung yang datang pada kegiatan berskala nasional di Lapangan Umum Sangkareang ini. Semua sudah mahir mem­baca setelah diajari selama dua bulan oleh tutor.

Memang, persoalan buta aksara sudah menjadi keprihatinan dunia, termasuk Indonesia. Data menunjuk­kan jumlah buta aksara 14,6 juta (2005) atau. seki­tar 9,6 persen. Pada 2007,  dari data BPS telah menjadi 12,2 juta atau 7,9 persen. Bambang Sudibyo, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) menyatakan akan menjadikan angka buta aksara di bawah lima persen sesuai target UNESCO.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:54 Read more...
 
E-mail

 

KF Percepat Melek Aksara

Akan Diadopsi di Sejumlah Kota/Kabupaten


KARAWANG, KOMPAS — Inovasi program keaksaraan fungsional yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Kara-wangtelah membebaskan 117.710 wargadaributa aksara dalam tiga tahun terakhir. Selain cepat, inovasi tersebut lebih murah dibandingkan dengan program sebelumnya.

Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Karawang Eka Sanatha, Rabu (29/4) di Karawang, mengatakan, program keaksaraan fungsional (KF) konvensional dilaksanakan enam bulan dengan 2-3 kali perte-muan per pekan. Adapun program inovasi KF Karawang dilaksana­kan selama 32 hari penuh.

Kesimpulan dari hasil uji coba Badan Perencana Daerah Kabu­paten Karawang dan pelaksanaan program KF selama ini, program KF konvensional membutuhkan Rp 3,6 juta untuk 10 peserta. Ada-pun KF 32 hari membutuhkan Rp 5 juta untuk 20 orang. Artinya, ada penghematan anggaran Rp 110.000 perpeserta.

Dalam program KF inovasi, waktu belajar dipadatkan dari enam bulan menjadi 32 hari. Kurikulum pun didesain untuk 32 hari. Pemkab Karawang juga memberikan stimulan berupa uang saku kepada peserta untuk memaksimalkan tingkat kehadiran.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:53 Read more...
 
E-mail

 

Ketika Tetangga Menjadi Tutor

 



Hayati, ketiga dari kanan menjadi tutor bagi belasan tetangganya yang masih buta aksara di pulau kondingareng di selat makasar, Sulawesi selatab,jum’at (15/8)

Oee...! Tettere' ngasengko battu rinni. I katte ero' appilajara' ammaca siagang annulisi'. Tau ta le baka je'ne, tena nangngapa. Teamako rodong a'modei. Punna parallu ammake dastere mako antu. Tea maki' angngalingaliki, ka si-ampi balla ngaseng jaki'.

Hampir saban hari Hayati (30) meneriakkan kalimat berbahasa Makassar semacam itu di lorong-lorong kampung.

Oleh ESTER LINCE  NAPITUPULU dan NASRULAHNARA

Tutor keaksaraan di Pulau Kodingareng, salah satu pulau di Selat Makassar, Sulawesi Selatan, itu tak menge-nal lelah untuk mengingatkan tetangganya yang masih buta ak­sara untuk belajar."Hei...! Bergegaslah kalian ke sini! Kita mau belajar membaca dan menulis. Yang belum sempat mandi tidak masalah. Tidak usah dululah berdandan. Toh, kita ini semua tetanggaan, kok," ujar Hayati tidak sabar saat melihat warga belajar lamban berdatangan ke rumahnya pada suatu siang akhir Agustus lalu.

Ibu rumah tangga lulusan SMA, yang asli Pulau Koding­areng itu, mencoba mengetuk hati tetangganya untuk belajar mengenal aksara di rumahnya. Kolong rumah panggung kayu yang sederhana itu akhirnya hampir saban hari didatangi anak-anak putus sekolah, gadis-gadis remaja yang tak pernah mengenyam pendidikan di  bangku sekolah dasar, ibu-ibu rumah tangga, dan bapak-bapak, untuk mengenal aksara. Mereka tak lain adalah tetangga dekat Hayati yang mulai tersadarkan akan perlunya mengenal aksara.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:52 Read more...
 
E-mail

 

Kemiskinan dan Buta Aksara

David Krisna Alka

Anggota Pelaksana Progam Pendidikan Fungsional Berbasis Masjid (PKFBM)

Buta aksara identik dengan kemiskinan pengetahuan, keterampilan, dan keterbelakangan. Data Badan Pusat Statistik (EPS) tahun 2006 menyebutkan angka buta aksara usia 15 tahun di Indonesia berjumlah 12.881.080 orang atau 8,07 persen. Dan, sebanyak 81 persen lebih penduduk buta aksara terkonsentrasi di 10 provinsi dengan urutan tertmggi di provinsi Jawa Timur diikuti Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, NTB, Papua, NTT, Ball, Lampung, dan Banten. Sedangkan sisanya dibagi rata di 22 provinsi lain.

Bangsa kita masih dikategorikan sebagai masyarakat terbelakang. Sejatinya, pada setiap individu dan ma­syarakat Indonesia mesti ada obsesi dan motivasi urituk maju. Setiap manusia Indonesia hams kuat lebih dahulu, agar perjalanan kehidupan generasi bangsa tidak tersumbat dan tak berjalan terputus-putus.

Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:16 Read more...
 


Page 6 of 16

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,794
  • Sedang Online 90
  • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9110564
DSCF8754.jpg

Kalender & Agenda

June 2019
S M T W T F S
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 1 2 3 4 5 6

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC