.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Kompas 7 september 2007

       

      Sidamulya, DesaSeribu Penyandang Buta Aksara

      Ada dua jalur menuju Desa Sidamulya,yaitu melalui kecamatan Cibogo atau Kecamatan Cipunagara. Dua duanya sama jeleknya. Dari pusat Kota Subang, jarak tempuhnya hampir sama, yaitu sekitar 40 menit. Demikian seorang tnkang ojek memberi petunjuk Meski demkian, ia lebih merekomendasikan untuk melalui jalur Cibogo. Jalurnya tidak lebih gersang daripada jalur Cipunagara Di kanan-kiri jalan menghampar kebun cokelat, karet, dan tebu.

      Dari Jalan Raya Subang-Sumedang, Sidamulya hanya berjarak sekitar 12 kilometer. Namun, jarak itu bisa dicapai dengan perjalanan selama sekitar 25 menit, Jalan berbatu dan kerikil membuat kendaraan sulit dipacu lebih cepat.

      Senyap. Demikkian kesan pertama begitu masuk Kampung Sukamaju, Desa Sidamulya, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang. Sebagian besar rumah terlihat kosong, dan hanya sebagian kecil penduduk yang terlihat beraktivitas.

       

      Hanya beberapa sepeda dan kendaraan bermotor yang hilir mudik di jalan utama menuju Sida­mulya. Sawah menghampar mengelilingi permukiman, narnun sepi di tinggal petani. Tanah sawah tampak retak-retak mengering.

      "Kantor Desa Sidamulya masih sekitar tiga kilometer dari sini," ujar seorang warga Kampung Sukamaju. Kondisi jalan makin rusak dan berdebu.

      Desa Sidamulya merupakan desa dengan penyandang buta aksara terbesar di Kabupaten Subang. Pada survei tahun 2008, sekitar 1.500 jiwa dari total penduduk 5.700 jiwa diketahui tidak bisa membaca dan menulis.

      Dinas Pendidikan Kabupaten Subang memperkirakan jumlah penyandang buta aksara di desa tersebut tahun ini masih mencapai sekitar 1.200 jiwa. Sebagian besar adalah warga berusia di atas 44 tahun.

      Desa Sidamulya menempati lahan seluas sekitar 940 hektar.Di sebelah timur, wilayahnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, yang dipisahkan oleh Sungai Cipunagara.

      Sebagian besar penduduk Sida­mulya bermata pencarian sebagai buruh tani, buruh kebun, dan buruh bangunan. Sekitar 40 persen dari penduduk usia produktif merantau dan bekerja sebagai buruh bangunan. Umumnya adalah laki-laki.

      Sementara itu, sebanyak 40 per­sen lainnya bekerja sebagai buruh sawah dan buruh di perkebunan milik PT Perkebunan Nusantara, baik di perkebunan cokelat, karet, maupun tebu. Penghasilan rata-ratanya Rp 10.000 per hari.

      Yadi Sujono, Kepala Desa Sida­mulya, menambahkan, dari sekitar 1.700 kepala keluarga (KK) yang ada, 560 KK di antaranya menerima dana kompensasi BBM atau bantuan langsung tunai (BLT). Se­mentara versi penyaluran beras miskin (raskin), sebanyak 1.200 KK dari 1.700 KK yang ada menerima raskin.

      Jarak

      Sukin Supardjo, Ketua Badan Perwakilan Desa Sidamulya, menambahkan, tingginya angka buta aksara tidak lepas dari rendahnya kesadaran bersekolah, terutama adalah penduduk berusia di atas 44 tahun. Menurut dia, selain faktor jarak rumah-sekolah, tingginya angka putus sekolah juga disebabkan oleh kondisi ekonomi.

      "Sebelum tahun 1990-an, Desa Sidamulya dan Sidajaya hanya memiliki satu sekolah dasar. Padahal, ada sembilan kampung di dua desa itu dan jaraknya jauh-jauh," ujar mantan guru dan kepala sekolah SD Sidamulya di era 1966-2000 itu. Buruknya akses jalan membuat warga enggan melanjutkan pendidikannya. Menurut dia, pendu­duk berusia di atas 44 tahun yang lulus SD bisa dihitung dengan jari, apalagi yang melanjutkan ke seko­lah menengah pertama.

      Sebelum tahun 1990, desa itu hanya dihubungkan oleh beberapa jalan tanah. Ketika hujan sulit dilalui, dan ketika kemarau berdebu.

      Keterbatasan ekonomi warga yang umumnya buruh, lanjutnya juga menjadi sebab tingginya angka putus sekolah. Selain itu, kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak juga masih rendah.

      "Sebelum tahun 1990, untuk melanjutkan ke SMP, siswa harus indekos karena tidak ada SMP di sini dan tidak mungkin dijangkau pulang-pergi setiap hari," katanya.

      Yadi Sujono menambahkan, hingga kini mobilitas warga juga terbilang masih rendah. Pasalnya, ongkos transportasi dari dan ke Desa Sidamulya terhitung tinggi.

      "Satu-satunya alat transportasi, ya, ojek. Ongkosnya dari desa kejalan raya, Rp 15.000 sekali jalan. Jelas tidak mungkin bagi warga kare­na penghasilannya tidak lebih dari itu sehari," ujarnya menambah­kan.

      Kini, tiga sekolah dasar dan satu madrasah tsanawiyah telah berdiri di Desa Sidamulya. Kesadaran warga untuk menyekolahkan anaknya, minimal sembilan tahun, juga semakin baik Menurut Sukin Supardjo, beberapa program pemerintah untuk menggenjot bidang pendidikan memiliki dampak positif bagi warga.

      (MUKHAMAD KURNIAWAN)

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:20  

      Items details

      • Hits: 684 clicks
      • Average hits: 8 clicks / month
      • Number of words: 988
      • Number of characters: 8168
      • Created 7 years and ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,794
      • Sedang Online 103
      • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9103672
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      March 2019
      S M T W T F S
      24 25 26 27 28 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30
      31 1 2 3 4 5 6

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC