.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Perempuan Membuta aksarakah perempuan

      Oleh S Sahala tua Saragih Dosen Rkom Unpad


      Dalam hal buta ak­sara rupanya kaum perempuan masih tetap jauh "lebih unggul" daripada kaum laki-laki, baik di tingkat sejagat (global) maupun nasional. Kini, dari kurang lebih enam miliar penduduk bumi, sekitar 860 juta (10,75 persen) di antaranya masih menderita buta aksara absolut. Mereka sama sekali tak mampu membaca, menulis, dan berhitung secara sederhana sekalipun. Dari jumlah tersebut, kurang lebih 573 juta (66,62 persen) di antaranya perempuan.

      Di Indonesia kini masih terdapat lebih 8,3 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun masih menderita buta aksara, lebih 5,53 juta orang (66,62 persen) di antaranya perem­puan. Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Na­sional, Hamid Muhammad, baru-baru ini mengungkapkan, dari lebih 8,3 juta penduduk yang masih buta aksara itu 80 persen atau 6,64 juta orang di antaranya berusia di atas 45 tahun.

       

      Kita semua telah lama mengetahui faktor-faktor yang membuat banyak orang men­derita buta aksara. Faktor utamanya pastilah kemiskinan. Oleh karena miskin, mereka tak bersekolah, dan karena tak bersekolah mereka tetap miskin. Ini lingkaran setan, yang semestinya dari dulu sudah dipatahkan oleh negara (pemerintah). Sudah lama pula kita mafhum mengapa kaum perempuan mendominasi angka buta aksara di dalam dan luar negeri.

      Tak dapat dimungkiri bahwa ajaran agama dan budaya (terutama adat istiadat atau tradisi lama), baik yang sengaja maupun tak sengaja disalahtafsirkan, merupakaa kontributor utama dalam rnembutaaksarakan (dalam arti sempit) kaum perempuan.

      Memang kita mesti bersukacita dan bersyukur karena ang­ka; partisipasi kaum perem­puan di republik ini dalam pendidikan formal (mulai ta-man kanak-kanak hingga perguruan tinggi, termasuk pro­gram strata tiga atau doktor) terus meningkat. Bahkan, kini banyak jurusan/program studi di perguruan tinggi yang didominasi kaum perempuan, terutama secara kuantitatif. Kealitas aktual ini tak terbayangkan pada 1970-an, apalagi sebelumnya.

      Akan tetapi, kita patut masygul karena kaum perempuan yang telah sangat pintar mem­baca, menulis, dan berhitung sangat fasih berbahasa Indo­nesia (sekurang-kurangnya se­cara lisan), bahkan sebagian mereka fasih berbahasa asing (internasional), ternyata masih terus dibutaaksarakan. Kita lebih masygul lagi melihat ma­sih sangat banyaknya mahasiswa, bahkan sarjana, termasuk lulusan program pascasarjana, juga masih terus dibutaaksa­rakan (dalam arti luas). Ironisnya, yang niembutaaksarakan mereka bukan kaum lelaki belaka, melainkan juga kaum pe­rempuan sendiri.

      Lihatlah kebiasaan buruk para orang tua (terutama ibu-ibu), para guru (termasuk pe­rempuan guru), para dosen (termasuk perempuan dosen), para wartawan (termasuk pe­rempuan wartawan), media massa (termasuk media massa khusus buat kaum perempuan), pemerintah (dari yang tertinggi hingga yang terendah), termasuk perempuan pejabat, para anggota DPR dan DPRD (ter­masuk kaum perempuannya), para pembuat iklan, infotain­ment, sinetron, film, para pem­buat berbagai acara di televisi (TV)ypara penulis cerita fiktif, ;para pengusaha swasta dan negara, kaum ulama atau para rohaniwan, dan sebagainya.

      Sadar atau tak sadar, me­reka terus membutaaksarakan kaum perempuan dalam arti luaS.,Perempuan selalu dimi­toskan sebagai ciptaan Allah yang derajatnya di bawah laki-laki. Kaum Adam ini senantia-sa dimitoskan sebagai warga kelas satu dunia, sedangkan kaum Hawa warga kelas dua saja.

      Laki-laki terus dimitoskan sebagai pemimpin, sedangkan perempuan dipimpin. Mereka selalu memitoskan bahwa laki-laki diciptakan Tuhan sebagai makhluk kuat yang harus melindungi, sedangkan perem­puan sebagai kaum lemah yang harus dilindungi.

      Kaum perempuan meyakini ini sebagai takdir yang mesti diterima karena ini kehendak Allah. Di kota-kota besar sa­ngat banyak orang tua yang takut sekali bila anak perempuan mereka pulang cukup malam dari sekolah, kampus, atau tempat kerja, apalagi kalau harus menginap di sekolah kampus/tempat kerja. Mereka langsung berpikir negatif. Jangan-jangan anak perempuan mereka, yang memang diyakini sebagai mahluk lemah, diperkosa orang di jalan atau di sekolah/kampus/tempat kerja.

      Ajaran "sesat" tersebut ter­nyata umumnya sangat dipercayai kaum perempuan yang telah dibutaaksarakan sejak kecil. Oleh karena itu, kita tak perlu heran melihat banyak perempuan ilmuwan bergelar doktor juga sangat percaya bahwa secara biologis perempuan memang lemah, sedangkan laki-laki sangat kuat.lihatlah bagaimana repotnya Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Raya menciptakan bus dan gerbong kereta api khusus buat kaum perempuan, agar mereka tidak terus terusan dilecehkan dan diganggu oleh laki-laki nakal atau jahil.

      Fasilitas ini sesungguhnya tak perlu ada andaikata anak perempuan dan laki-laki sejak kecil dimelekaksarakan (dalam arti luas), baik di rumah maupun di sekolah, baik di masyarakat maupun media massa. Kepada mereka seharusnya ditanamkan terus sebuah mitos bahwa secara biologis perempuan sama kuatnya dengan laki-laki. Dengan demikian, para laki-laki tak sembarangan menjahili atau melecehkan kaum perempuan.

      Ini juga harus ditunjang oleh pendidikan seks yang benar sejak kecil oleh orang tua, guru, dosen, rohaniwan, pemerintah, wartawan, dan para pengelola media massa, terutama TV.

      Andaikata para pejabat pemerintah, anggota DPR dan DPRD dimelekaksarakan sejak kecil, tentu mereka tak tega membuat produk-produk hukum yang mendiskriminasikan kaum perempuan.Andaikata para pemilik rumah produksi dan pembuat infotainment, pembuat iklan, sinetron, film, cerita fiksi, para pemilik dan pembuat semua acara TV, serta semua pemilik dan pengelola media massa lainnya sejak kecil tidak di-butaaksarakan, tentu mereka tidak akan menyajikan "ra-cun" dan "sampah" kepada khalayak, yang semakin membutaaksarakan kaum perempuan di negeri ini. •


       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:13  

      Items details

      • Hits: 935 clicks
      • Average hits: 9.9 clicks / month
      • Number of words: 1151
      • Number of characters: 9205
      • Created 7 years and 10 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 121
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127235
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC