.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS 25 JANUARI 2006

       

      Perang Total Melawan Buta Aksara

      Oleh DODI NANDIKA

      Sebelum bangsa ini berdiri kokoh, Ki Hadjar Dewantara tahun 1936 telah mengajak masyarakat melakukan mobilisasi intelektual memberantas buta aksara. Caranya, dengan mengimbau semua orang yang bisa bacatulis meng-ajarkan ilmunya kepada saudara di sekitarnya.

      Selain itu, ia juga mengajak setiap orang yang memiliki rumah merelakan tempat tinggalnya menjadi tempat belajar baca-tulis. Mengapa Ki Hadjar Dewantara begitu gandrung memberantas buta aksara? Karena, sebelum kemerdekaan hanya tiga persen penduduk In­donesia yang berkesempatan bersekolah. Tidak heran jika saat negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya, 90 persen penduduknya buta aksara.

      Kenyataan itu berlangsung hingga kini. Menurut Susenas 2005, sekitar 14,6 juta orang atau 9,55 persen dari penduduk usia 15 tahun ke atas belum melek aksa­ra. Mereka akan kesulitan meng-ikuti kemajuan peradaban. Ini tantangan besar bangsa.

      Karena itu, tampaknya masa-lah buta aksara tidak bisa di-hadapi dengan cara konvensional. Ibarat peperangan melawan terorisme, penumpasan buta aksara harus dihadapi dengan melibatkan masyarakat, harus total football. Pasalnya, selama ini pemberantasan buta aksara dianggap kegiatan "sampingan". Lalu, di mana orang-orang terpelajar yang diimbau Ki Hadjar Dewantara itu? Di mana semangat kebangsaan untuk membangunkan saudara sebangsanya dari kebutaaksaraan?

       

      Sebenarnya upaya pemberan­tasan buta aksara di Indonesia mempunyai sejarah panjang. Sejak awal kemerdekaan, pemerintah menyadari dan dengan berbagai upaya terus melaksanakan pemberantasan buta aksara. Ketika itu sudah ada kesadaran, buta aksara terkait erat de­ngan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan ketidakberdayaan. Hasilnya, menurut Sensus Penduduk 1971, penduduk buta aksara usia 10 tahun ke atas tinggal 39 persen, tahun 1980 tinggal 28 persen, tahun 1990 tinggal 21 persen, dan tahun 2000 tinggal 10 persen.

      Masih adanya penduduk buta aksara disinyalir memberi kontribusi terhadap kurang suksesnya program wajib belajar. Pasalnya, orang tua yang buta aksara memiliki kecenderungan tidak menyekolahkan anaknya. Kalaupun sekolah, mereka banyak yang mengulang kelas bahkan putus sekolah, yang berpotensi besar untuk kembali membuat anak buta aksara. Apalagi, jika anak anak itu lalu tidak mendapat layanan pendidikan yang baik di sekolah. Suatu "spiral kebodohan" perlu dihancurkan.

      Selain itu, buta aksara mem-beri kontribusi terhadap rendahnya HDI (human development index, indeks pembangunan manusia) kita. Jika jumlah buta aksara tinggi, HDI kita rendah. Padahal, peningkatan melek aksara akan menambah kemampuan masyarakat untuk turut dalam pembuatan keputusan-keputusan pembangunan. Karena itu, diperlukan intensifikasi program terobosan pem-berantasan buta aksara.

      Target

      Tahun 1999, pemerintah melalui Depdiknas menetapkan sasaran yang ingin dicapai dalam pemberantasan buta aksara. Hingga akhir 2004 minimal ada pengurangan 50 persen penduduk buta aksara usia 10-44 tahun. Mengacu Konvensi Dakkar 1998, tahun 2015 pemerintah mencanangkan bebas buta aksara pada kelompok penduduk itu.

      Untuk itu, pemerintah menetapkan kebijakan menurunkan persentase penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas dari 10,2 persen tahun 2004 mehjadi sembilan persen tahun 2005, dan tahun 2009 dapat mencapai lima persen dari jumlah penduduk pa-da kohor yang sama. Kondisi ini diharapkan terus mengalami peningkatan hingga dinyatakan bebas tahun 2025.

      Target Konvensi Dakkar pada tahun 2015, minimal 50 persen penduduk harus melek aksara. Karena itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Desember 2004 mencanangkan percepatan program melek aksara. Target barunya, tahun 2009, sekitar 95 persen penduduk su-dah melek aksara. Artinya, posisi HDI Indonesia bisa mencapai peringkat 91, dari sebelumnya 111 (tahun 2004). Jika skenario target Dakkar 2015 diikuti, tiap tahun harus "menghabiskan" buta aksara sekitar 500.000. Sedangkan jika mengikuti pencanangan Presiden SBY, tiap tahun ada sekitar 1,5 juta penduduk harus dimerdekakan dari buta aksara Padahal, kemampuan pemerintah paling banyak hanya 200.000 orang.

      Perlu dicatat, angka melek aksara menyumbangkan dua pertiga bagian dalam penentuan HDI, sedangkan sepertiga sisanya adalah rata-rata lama masa pendidikan (years of schooling) penduduk, selain komponen HDI lainnya, yaitu kesehatan dan ekonomi. Jadi, pemberantasan buta aksara punya nilai strategis secara ekonomi, sosial, maupun politik, termasuk citra bangsa di dunia internasional.

      Pemerintah perlu mengajak semua komponen masyarakat mempercepat penumpasan buta aksara dengan memberi kesempatan kepada siapa saja, menyelenggarakan gerakan pemelekan aksara. Jika perlu, pemerintah memberikan block grant kepada organisasi-organisasi sosial, ke-lurahan/desa yang siap meme-rangi buta aksara.

      Pemberian block grant dapat melibatkan ormas yang memliiki jaringan, seperti PKK, Kowani, Muslimat NU, Aisyiyah, dan . organisasi keagamaan lain. Amat muhgkin perguruan tinggi dan sekolah menengah berpartisipasi dalam menumpas buta aksara.

      Katakanlah dalam konteks mata pelajaran kewarganegaraan tiap siswa atau mahasiswa diwajibkan memelek-aksarakan lima atau 10 orang di sekitar tempat tinggalnya. Jika seorang mahasiswa membantu lima orang buta aksara, berarti ratusan ribu orang akan segera melek aksara setiap tahun. Tentu siswa atau mahasiswa yang terlibat patut mendapat nilai/kredit dari sekolahnya. Jika rial itu terwujud, bisa menjadi gerakan perang dahsyat melawan buta aksara

      Dengan cara seperti ini, mudah-mudahan apa yang pernah diungkapkan Ki Hadjar Dewantara bisa diwujudkan dalam wak-tu tidak terlalu lama.

      DODI NANDIKA Sekjen Depdiknas

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:12  

      Items details

      • Hits: 326 clicks
      • Average hits: 3.5 clicks / month
      • Number of words: 1111
      • Number of characters: 9489
      • Created 7 years and 10 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 117
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126683
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC