.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Penanganan Buta Aksara Perlu Kepedulian Bersama

      Ace Suryadi

      BUTA aksara masih menjadi masalah serius dalam struktur masyarakat di Tanah Air. Setidaknya, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) mencatat sekitar 12 juta warga negara In­donesia mengalami masalah literasi itu.

      Bagaikan berlomba dengan waktu, berbagai upaya ditempuh untuk memberantas buta aksara. Pada 2015 diharapkan Indonesia sudah terbebas dari masalah yang satu ini. Sebelum mencapai ke arah itu, pada 2009 pemerintah menargetkan tingkat litera­si, di usia 15 sampai 44 tahun, harus tersisa sekitar 7 juta orang saja. Sebuah pekerjaan besar yang tentunya memerlukan gerak cepat, terobosan, dan inovasi.

      Untuk mengetahui langkah-langkah strategis penanganan masalah buta ak­sara itu, berikut ide-ide mendasar yang disampaikan Dirjen Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Depdiknas, Ace Suryadi dalam wawancara khusus:

       

      Bagaimana pemerintah memandang permasalahan buta aksara yang angka-nya masih besar?

      Sikap pemerintah sudah jelas. Penuntasan buta aksara telah menjadi komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah (provinsi, kabupaten/kota). Bahkan, secara spesifik, Inpres No 5 Ta­hun 2006 berisi tentarig pemberantasan buta aksara dan gerakan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan ta­hun.

      Bagaimana dengan dukangan pendanaannya?

      Kami menerapkan budget sharing dengan pemerintah daerah, yakni 50-50. Pemerintah pusat tiap tahun mengalokasikan anggaran sekitar Rp600 miliar. Demikian juga pemerintah daerah untuk program penuntasan buta aksara bagi 2,4 juta orang.

      Bisa dijelaskan target-target pencapaiannya?

      Secara nasional tingkat pencapaian pemberantasan buta aksara, cukup bagus. Jika pada 2004 masih tercatat 15,4 juta orang, pada 2005 turun jadi 14,6 juta orang, dan pada 2006 ini kurang dari 13 juta. Den­gan target pencapaian seperti itu diharap­kan pada 2009 nanti tersisa lebih kurang 7 juta. Maka pada 2015 nanti buta aksara di Indonesia diharapkan menjadi 0%.

      Melihat  target pemerintah jika dibandingkan den­gan standar pencapa­ian yang dipakai UNESCO, sepertinya pemerintah berupaya melakukan percepatan. Kenapa demikian?

      Percepatan penun­tasan buta aksara di Indonesia bukan tanpa dasar. Kami menyadari penyandang buta aksara identik dengan kemiskinan. Ironisnya lagi, sebagian besar atau 60% penduduk buta aksara adalah perempuan. Hal itu pula yang memberikan kontribusi kecenderungan jika ibunya buta aksara, anaknya pun akan buta aksara. Mata rantai itu harus cepat diputus jika kita ingin menjadi bangsa yang kuat dan mampu mandiri. Bangsa yang besar adalah bangsa dengan ting­kat literasi yang tinggi.

      Nah, bagaimana dengan respons pemerintah daerah?

      Kami sudah mengidentifikasi. Secara kuantitas, provinsi dengan tingkat pe­nyandang buta aksara cukup tinggi berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan, Kaliman­tan Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Irian Jaya. Sebanyak 81% lebih penduduk buta aksara terkonsentrasi di sembilan provin­si itu. Di lain pihak, sisanya dibagi rata di 22 provinsi lain.

      Dalam kenyataannya, mereka juga su­dah bergerak dengan inovasi dan tero­bosan memberantas buta aksara dengan mengembangkan metode yang lebih canggih. Kalau dulu harus menghabiskan waktu hingga enam bulan, sekarang ada metode yang lebih cepat, yakni hanya dengan dua bulan bahkan dua minggu orang sudah bisa melek aksara.

      Beberapa model inovasi tersebut dilakukan lewat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), yang mewajibkan pesertanya bisa baca tulis, melalui pembelajaran mikro (seperti iqra dalam bahasa Latin), dalam bentuk permainan karakter dan angka, reach the unreach dengan menjangkau masyarakat adat. Kami juga menggandeng perusahaan, Ormas, se­perti Muslimat NU, Aisyiyah, Kowani, juga sudah bekerja sama.

      Jika komitmen pemerintah daerah dan masyarakat itu terns dipertahankan, saya sangat optimistis target nasional tercapai.

      • Soelistijono

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:09  

      Items details

      • Hits: 228 clicks
      • Average hits: 2.4 clicks / month
      • Number of words: 852
      • Number of characters: 6996
      • Created 8 years and 0 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 8 years and 0 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,799
      • Sedang Online 81
      • Anggota Terakhir Messa Rahmania

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9133314
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      February 2020
      S M T W T F S
      26 27 28 29 30 31 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC