.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      PENDIDIKAN

      Mengatasi Buta Aksara Dunia

      Oleh KISUPEIYOKO

      Menteri pendidikan sembilan negara yang tergabung dalam kelompok E-9 Banglades, Brasil, China, In­dia, Indonesia, Meksiko, Mesir, Nigeria, dan Pakis­tan baru saja berkumpul di Denpasar, Bali, untuk aktivitas "E-9 Ministerial Review Meeting on Education for All". Aktivitas seperti ini bukan yang pertama kali. Tahun 2006 pernah dilakukan di Monterey, Meksiko; tahun 2003 di Cairo, Mesir; tahun 2001 di Beijing, China; tahun 2000 di Recife, Brasil, dan sebagainya.

      Pertemuan menteri pendidikan anggota E-9 itu sangatlah strategis karena keputusan yang diambil secara langsung berlaku bagi penduduk di sembilan negara yang notabene jumlahnya sekitar separo penduduk dunia

      Masalah klasik yang dihadapi sembilan negara anggota E-9 adalah buta aksara (illiteracy matter). Besarnya anggota masyarakat yang tidak dapat membaca (dan menulis) me-rupakan masalah besar yang dihadapi. Masalah ini bersifat klasik karena sejak sembilan negara anggota E-9 untuk pertama kalinya bergabung pada 12 Desember 1993 di New Delhi, India, masalah itu sudah muncul dan hingga kini belum tersolusi.

       

      Secara kuantitatif, sekitar 70 persen penyandang buta aksara dunia tinggal di sembilan negara E-9. Dalam catatan The World Factbook, "World Literacy Rate" (2007), hanya ada tiga negara anggota E-9 yang angka melek hurufnya di atas 90 persen. Ketiga negara itu adalah Meksiko 91,6 per­sen, China 90,9 persen, dan Indonesia 90,4 persen. Namun, ada dua negara yang angka melek hurufnya di bawah 50 persen, yaitu Pakistan 49,9 persen dan Banglades 47,5 per­sen.

      Masih dalam catatan The World Factbook, rata-rata angka melek huruf di negara berkembang (developing countries) 76,6 persen, sedangkan di negara-negara tertinggal (least developed countries] sebesar 53,9 persen. Ini berarti hanya empat negara yang pencapaian angka melek hurufnya di atas rata-rata negara berkembang, yaitu Meksiko, China, Indo­nesia, dan Brasil. Adapun lima negara di bawahnya, bahkan dua negara, yakni Pakistan dan Banglades, berada di bawah negara tertinggal.

      Ada miliaran penyan­ dang buta aksara di ne­gara E-9. Penduduk China sekitar 1,3 miliar jiwa, maka 118 juta (9,1persen x 1,3 miliar) pe­nyandang buta aksara. Penduduk Indonesia sekitar 220 juta jiwa. Maka 21 juta penyandang buta  aksara.penduduk Pakistan sekitar 150 juta jiwa,maka 76 juta penyandang buta aksara


      Kalau angka penyan­dang buta aksara dari sembilan negara E-9 di-kumpulkan, jumlahnya

      hampir setengah miliar orang. Jumlah ini "mengerikan" karena di tengah orang bicara teknologi canggih untuk pen­didikan, ternyata masih miliaran orang yang tidak bisa mem­baca

      Berbicara mengenai sekolah terbaik versi The Interna­tional Baccalaureate Organization (IBO) tentang perguruan tinggi terbaik model Times, universitas kelas dunia versi Centre de Information y Documentation (Cindoc), akre-ditasi pendidikan terbuka model International Council for Open and Distance Education (ICDE), dan sebagainya, yang semuanya mengandalkan teknologi canggih, kiranya memang perlu, tetapi hal itu tidak mendesak bagi negara E-9. Adapun yang mendesak adalah bagaimana mengatasi buta aksara yang disandang miliaran penduduknya.

      Masalah dana

      Untuk mengatasi buta aksara dunia diperlukan dana besar: untuk pendidikan anak-anak yang belum dapat baca-tulis, menyiapkan guru, menyiapkan tentor, mengevaluasi prograrnnya, dan sebagainya.

      Ilustrasi konkretnya, Pakistan misalnya Negara yang ber-penduduk 150-an juta ini, produk domestik bruto (PDB)-nya hanya 59 triliun dollar AS dengan PDB per kapita hanya 408 dollar AS. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang ber-penduduk 300-an juta, PDB-nya 10.383 triliun dollar AS dengan PDB per kapita 36.000 dollar AS; atau dengan Jepang yang berpenduduk 130-an juta, PDB-nya 4.000 tri­liun dollar AS dengan PDB per kapita 31.000 dollar AS.

      Bagi Pakistan, mengeluarkan 1 dollar untuk pendidikan, khususnya menyolusi buta aksara, harus berhitung seribu kali. Bagi negara kaya seperti AS dan Jepang, mau me­ngeluarkan 1.000 dollar untuk pendidikan tidak perlu ber­hitung panjang karena dananya tersedia. Itulah sebabnya, tingkat melek huruf orang dewasa AS dan Jepang sudah mencapai 100 persen, artinya semua orang dewasa bisa membaca dan menulis; sementara di Pakistan angkanya baru 49,9 persen, artinya lebih dari separo orang dewasa tidak bisa membaca dan menulis.

      Kalau negara-negara kaya ingin membantu mengatasi bu­ta aksara dunia, sebaiknya mereka memberikan dana bagi negara E-9. Negara-negara kaya tidak perlu membantu staf ahli, expert, supervisor, dan sebagainya, karena yang di­perlukan negara-negara E-9 bukan itu. Yang diperlukan negara-negara E-9 untuk mengatasi buta aksara adalah dana.

      KI SUPRIYOKO Pamong Tamansiswa; Mantan Sekretaris Komnas Pendidikan

      Indonesia; Wakil Presiden Pan-Pacific Association of Private

      Education di Tokyo, Jepang

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:06  

      Items details

      • Hits: 3367 clicks
      • Average hits: 35.1 clicks / month
      • Number of words: 1138
      • Number of characters: 9465
      • Created 8 years and 0 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 8 years and 0 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,799
      • Sedang Online 81
      • Anggota Terakhir Messa Rahmania

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9133316
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      February 2020
      S M T W T F S
      26 27 28 29 30 31 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC