.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      TEMPO 7 SEPTEMBER 2006

       

      Mempercepat Langkah Menuju terang

      Hanya dalam hitungan hari, tepatnya 9 September 2006, puncak peringatan hari aksara internasional kembali digelar di Tanah Air. Acara dengan tema Percepatan Pemberantasan Buta Aksara yang dilaksanakan di Probolinggo, JawaTimur, tersebut rencananya akan dihadiri oleh Menteri Pen­didikan Masional, dengan mengundang para gubernur dan bupati/walikota penerima Anugrah Aksara dan berbagai instansi terkait. Sebelumnya, tanggal 6-8 September 2006 Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan menyelenggarakan temu nasional sehubungan dengan te­ma tersebut.

      Direktur jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Na­sional (Depdiknas} Ace Suryadi mengatakan, penyelenggaraan acara ter­sebut merupakan salah satu rangkai­an keterlibatan Indonesia dalam prog­ram UNESCO. Pendidikan keaksaraan merupakan salah satu tujuan yang ditetapkan dalam Education for All yang telah menjadi komitmen dari sekitar 199 anggota aktif U N ESCO.

      Mengacu kepada tema acara yang digelarkali ini, Ace memaparkan bahwa saat ini pemerintah memangtengah gencar melaksanakan berbagai program pemberantasan buta aksara di Tanah Air. Hal tersebut tidak terle-pas dari target yang telah ditetapkan UNESCO untuk mengurangi jumlah penduduk dunia yang tercatat sekitar 771 juta orang mengalami buta ak­sara menjadi setengahnya pada akhir tahun 2015. Target lebih menantang lagi di Tanah Air, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2004-2009 serta rencana strategis Departemen Pendidikan Nasional, buta aksara di Tanah Air akan dikurangi menjadi setengah dari angka 10.21% pada tahun 2004 menjadi 5% pada akhir tahun2009.

       

      Keinginan pemerintah mempercepat pemberantasan buta aksara sebagai salah satu faktor yang berkaitan erat dengan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan ketidak berdayaan sehingga menghambat produktivitas masyarakat tersebut sangat beralasan. Karena faktanya menurutpe-nuturan Ace, Indonesia masih termasuk sebagai salah satu dari 34 negara di dunia yang buta aksaranya di atas 10 juta orang. Selain itu, Indonesia juga termasuk pada salah satu dari 9 negara berpenduduk terpadat dunia yang memiliki tingkat buta aksara tinggi.

      Rangkaian beberapa program pun digelar Depdiknas untuk mencapai target tersebut. Program pertama menurut Ace, adalah melakukan Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Buta Aksara (GNPPBA) dengan menggerakkan masyarakat sesuai porsi masing-masing.         :

      Depdiknas melakukan rangkaian pendekatan secara struktural, mulai dari perangkat paling atas negara hingga ke bawah. "Kami berupaya melibatkan mulai dari presiden, menteri, gubernur, walikota, faupati, camat, kepala desa hingga perangkat di bawah lainnya untuk mendorong percepatan," ujar Ace. Untuk hal tersebut Di-rektur Pendidikan Masyarakat Depdiknas Sudjarwo memaparkan, Dep­diknas telah melakukan road show di 25 provinsi dan telah terjadi penandatangan MoU (Memorandum of Un­derstanding) antara 25 pemerintah daerah dengan pemerintah pusat un­tuk menurunkan tingkat buta aksara. Berdasarkan kesepakatan tersebut, 50% dari biaya pemberantasan buta huruf berasal dari pusat, sedangkan 50% dari daerah (30% dari provinsi dan 20% dari kotamadya) Selain itu lanjut Sudjarwo, Depdiknas aktif melakukan sosialisasi dan dorongan pada para pejabat daerah di 11 kabupaten dan 9 provinsi yang terbilang memiliki   jumlah buta aksara terbanyak di Tanah   Air untuk mendeklarasi-kan bebas buta aksara.

      Di sam-ping pendekatan secara struktural,program pendekatan secara horizontal juga digunakan dengan jalan menjalin kerjasama dengan berbagai organisasi dan juga perguruan tinggi. Organisasi perempuan sering menjadi pilihan kerjasama, mengingatfakta bahwa 2/3 pe-nyandang buta aksara di Tanah Airtoer asal dari kalangan wanita.

      Pada program yangsatu ini, Depdiknas juga mencari cara yang lebih efektif menyentuh masyarakat. "Kebanyakan kelompok buta aksara di Indonesia susah diberantas karena rata-rata berumur 45 tahun ke atas, sehingga butuh pendekatan inovatif," ujar Ace. Pendekatan inovatif tersebut salah satunya dapat dilihat pada kerjasama yang tengah dilakukan Depdiknas dengan Universitas Gajah Mada. "Saat ini Kami tengah bekerjasama dengan UGM melaiui 500 mahasiswa KKN untuk aktif memberikan pengajaran menggunakan bahasa ibu dalam memberantas buta aksara," uj'ar Sudjarwo. Dengan jalan tersebut lanjut Sudjarwo, peserta dapat lebih cepat menangkap pembelajaran.

      Pengendalian mutu pembelajaran tak luput dari perhatian pemerintah. "Pelaksanaannya bisa dikatakan sama dengan pendidikan biasa, namun harus ada standar yang bisa dilihat dari ujian yang diteksanakan," ujar Ace. Menurut Sudjarwo terdapat tiga tingkatan keaksaraan, yaitu keaksaraan dasar, keaksaraan fungsional dan keaksaraan mandiri. Untuk masing-masing tingkat disyaratkan diantaranya dalam bentuk kemampuan merangkai kata dan berhituug serta lama pendidikan.

      Hingga saat ini program-program tersebut dikonsentrasikan pada daerah-daerah yang memiliki jumlah penduduk padat se-hingga menjangkau lebih banyak peserta. "Saat ini Kami konsentrasi di 9 provinsi yang memegangsekitar 81% dari jumlah penduduk." uiar Ace. Diantara 9 provinsi tersebut adalah Jawa Timur (27%), Jawa Tengah (22%), Jawa Barat (10%) sisanya Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Papua.

      Selain itu menurut Sudjarwo, pada pelaksanaannya Depdiknas juga menggunakan sistem blok. "Untuk program pemberantasan buta huruf ini dituntaskan dulu satu wilayah kecamatan baru pindah ke kecamatan lainnya/ujar Sudjarwo.

      Tak hanya mengandalkan programprogram tersebut, pemerintah juga membuka kesempatan bagi siapa saayang ingin melaksanakan sendiri secara swadaya program pemberantasan buta huruf, Menurut Ace pendekatan bisa dilakukan dengan mengajak organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) aktif. Disampingitu lan-jut Ace, ke depan akan ada program-program untuk 'mengetuk1 hati pengusaha pusat dan daerah untuk ikut berpartisipasi pada program serupa.

      Langkah serupa telah dilakukan salah satunya oleh sebuah yayasan bernama Gilang Tiara Bekasi yang mampu mengajar 1.200 orang per tahun dengan tenaga sendiri, tanpa meminta biaya dari pemerintah. Bahkan menurut Ace, yayasan tersebut mampu mengatasi pendekatan terhadap masyarakat. Caranya, memberikan kursus menjahit de-ngan syarat harus mengikuti kursus pemberantasan buta aksara terlebih dahulu. Waktunya melihat perkembangan pemberantasan

      buta huruf di Tanah Air. Ketika Indonesia baru merdeka,sekitar97% dari penduduk dikategorikan sebagai penyandang buta aksara, dalam artian buta aksara iatin, buta angka arab dan buta bahasa Indonesia,Dengan berbagai program yang dilakukan pemerintah, angka tersebut pada tahun 2005 telah menjadi 9,55% atau 14.595.088 orang, dan pada semester I tahun \

      2006 menjadi 8,36% atau ,13.182.492 orang.

      INFORIAL

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 10:04  

      Items details

      • Hits: 239 clicks
      • Average hits: 2.5 clicks / month
      • Number of words: 1332
      • Number of characters: 10969
      • Created 7 years and 10 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 127
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126951
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC