.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KORAN TEMPO 24  AGUSTUS 2005

       

      JALAN BERLIKU MENGENALKAN BACA TULIS

      Hasil penelitian Lingkaran pendidikan Alternatif  Pe­rempuan (Kapal Perempuan) tiga tahun lalu membuat sri endras iswariniterenyak.aktivitas LSM pemberdayaan perempuan ini  tak percaya dengan temuan rekan-rekannya di Klender dan Kalimati di Jakarta Timur. Hari gini masih ada perempuan buta huruf di Jakarta?

      .Ya; perempuan yang buta aksara   pada usia produktif  kalder dan Kalimati itu memang kisah nyata. Benar-benar terjadi di salah satu pojok di tengah gemerlap Jakarta. Dan Kapal Perempuan datang mengulurkan bantuan. LSM yang memberdayakan pe­rempuan ini merancang tiga materi: pendidikan buta aksara, pen­didikan alternatif gender, dan penguatan ekonomi perempuan.

      Kapal Perempuan pun meng­ajak para perempuan itu mengenal huruf satu demi satu. Pada awalnya memang tak mudah. "Sebelum mengajak mereka bersekolah, kami tinggal dulu dengan mereka selama tiga bulan," kata Sri Endras, Koordinator Advokasi Pendidikan Kapal Perempuan.

       

      Sekolah yang berlangsung dua kali dalam sepekan itu pun berjalan lancar. Ada lima kelompok sekolah yang rata-rata diisi 30 peserta. Setiap pertemuan, masing-masing peserta mengumpulkan Rp 500-1.000 sebagai iuran. "Uang itu untuk membuat koperasi yang mereka kelola sendiri," kata Rini, panggilan Sri Endras.

      Sayang, sebagian suami peserta sekolah mulai resah dengan istrinya yang makin pintar. Bahkan mulai menyoal ketidakadilan gen­der. Penentangan terhadap seko­lah ini rmllai muncul. Karena tak ingin bentrok, Kapal Perempuan pun memutar sauh ke Gang Pelangi di Ciliwung.

      Uji coba Kapal Perempuan memberdayakan warga Klender dan Kalimati ini disorongkan ke Kementerian Pemberdayaan Pe­rempuan. Tujuannya mengajak kerja sama mengembangkan prog­ram pemberdayaan perempuan. Namun, rencana ini tak bisa men-cari titik temu antara dua pihak karena ada perbedaan prinsip.

      Kementerian Pemberdayaan Perempuan menilai program Ka­pal Perempuan memakan waktu lama dan butuh dana besar. Tapi Kapal Perempuan punya pendapat berbeda. "Kami menghargai proses dan biayanya juga tidak besar, kok," kata Rini. Karena tak ada titik temu, kerja sama itu tak ada kabar kelanjutarmya.

      Kapal Perempuan pun kembali memutar sauh ke Departemen Pen­didikan Nasional. Sayang, bertepuk sebelah tangan. Hasil program dan dana jadi persoalan lagi. Kini Kapal Perempuan bekerja sendiri ^dengan sokongan dana LSM internasional. "Malah enak tidak ada

      intonrpnsi " katanva • istikomah hayati

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:13  

      Items details

      • Hits: 681 clicks
      • Average hits: 7.3 clicks / month
      • Number of words: 536
      • Number of characters: 4344
      • Created 7 years and 9 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 81
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124986
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC