.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, KAMI'S, 1 MARET 2010

       

      KOMPAS, KAMI'S, 1 MARET 2010

      PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

      Impian dari tepi deli

      Lampu hijau menyala di perempatan Jalan Letjen Supraptodan Brigadir Jenderal Katamso, Medan, Jumat (16/2) malam. Hiruk-pikuk berbagai macam kendaraan melintas dijalanan itu. Deru suara mesin becak motor, klakson mobil angkutan umwn, sepeda motor, dan mobil pribadi bercampur baur di malam menjelang perayaan Imlek bagi warga keturunan Tionghoa. Oleh MAHDI MUHAMMAD

      Sekitar 50 meter ke arah tenggara, tidak jauh dari perempatan itu, di mulut gang yang biasa disebut Gang Galon Lama, beberapa pemuda asyik nongkrong di waning makan. Berbaur bersama masyarakat sekitar, termasuk penarik becak dan ojek, mereka asyik menonton siaran televisi.

      Berbanding terbalik dengan pemandangan di jalan dan di muka gang, sekitar 100 meter berjalan masuk ke dalam gang, lebar jalan semakin menyempit. Beberapa perempuan paruh banya terlihat berkumpul di sebuah rumah bercat kuning. Beberapa di antaranya mengenakan daster berrmotif kembang. Ada juga yang menggunakan daster dikombinasikan kain sarung.

       

      Menenteng tas hitam, satu per satu perempuan-perempuan tersebut memasuki rumah ber­cat kuning itu. Dengan rapi, me­reka meletakkan sandal yang digunakan tepat di depan pintu masuk rumah, kemudian mema­suki ruangan berukuran sekitar 3 meter x 5 meter.

      Dalam ruangan, di atas dua lembar tikar berukuran besar, para perempuan paruh baya itu duduk dan bercakapcakap. Ketika ada yang datang, otomatis mereka menggeser duduknya agar semua kebagian tempat du­duk.

      Sebenarnya, dalam ruangan itu tidak hanya ada perempuan paruhbaya, Dua gadis muda ju­ga berbaur dengan mereka. Ti­dak ada rasa sungkan. Semuanya berbaur.Satu per satu perempuan yang ada di ruangan itu mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
      Satu per satu melirik ke samping kiri dan kanannya. Kemu­dian, salah satu dari mereka
      menceletuk, "Ada yang sudah mengerjakan PR (pekerjaanrumah) Aku sulit mengerjakannya. Bisa pinjam? Asni (43), salah satu perempuan itu, kemudian meminjamkan buku yang dipegangnya kepada Darmawati (44), perempu­an yang menceletuk tadi. Segera saja, dengan cekatan, Darmawati ijieliriki sekilas isi buku milik Asni dan kemudian menulis di bukunya sendiri.

      Sementara Dede Ramlah (18), salah satu gadis muda yang du­duk dalam ruangan tersebut, mengeluarkan buku yang diba-wanya. Tidak banyak yang di-lakukannya. Dia hanya membo-lak-balikkan halaman buku ter­sebut dan rriembacanya pelan.

      Tepat di sebelah pintu masuk, salah satu perempuan warga belajar, Samsidar (40), sempat meminta Kompas membawakan-nya beberapa bungkus rokok untuk menemaninya belajar ma­lam itu. "Awas kau, ya, kalau pulang tidak bawa rokok Fusing aku kalau tidak merokok," ujar-nya sambil tertawa. Selang be­berapa menit kemudian, bebe­rapa ' perempuan kembali bermunculan ke rumah tersebut.     .

      Belajar membaca

      Kumandang azan di Masjid Jami' Kampung Aur, Kecamatan Medan Maimoon, yang terletak hanya lima meter dari tempat mereka berkumpul, menggema. Tempat yang digunakan untuk belajar adalah rumah seorang warga belajar juga.

      Dalam ruangan dengan cahaya neon yang temaram, Juliwati Panggabean pamong belajar yang mengajari membaca dan menulis memeriksa satu per satu pekerjaan rumah mereka. Sebagian besar sudah menger­jakan walau masih terdapat ke; salahan dalam mengeja kata-kata yang dibuatnya. "Susan sekali PR-nya. Aku enggak bisa ngerjain semuanya. Payah kali," ujar Nita (46), salah satu perempuan di ruangan itu. Di sela-sela pelajaran punmereka meminta diajarkan ulang kepada Juli cara menuljs dan mengerjakan PR tersebut. Secara perlahan, Juli menerangkan kepada beberapa perempuan itu cara mengerjakannya. Tidak lupa pula ia mencorat-coret papan tulis agar mudah memberi penjelasan kepada mereka. Terakhir, Juli membubuhkan tanda tangan dan memberikan ponten (nilai) terhadap hasil pekerjaan "murid-muridnya.

      "Ponten sangat bernilai bagi ibu-ibu di sini. Kalau pekerjaannya dinilai dan kebetulan bagus, akan menambah semangat  mereka belajar," ujar Risnawati  Silalahi (55), sang ketua kelas.  Malam itu, Juli mengajari  mereka membuat kata dengan  konsonan yang dimatikan di akhir dan di tengah kata. Konsonan yang digunakan adalah huruf n, h, r, dan m. Setelah itu, mereka membaca contoh kalimat yang ada sebelum melanjutkan ke lembar latihan berikutnya, seperti kata "dalam", "badan", "penuh", "darah", "herman", "pergi", "manusia", "sabar", dan "beriman".

      Tidak lama kemudian, Samsidar meminta agar kelompok belajar ini berhenti sementara dan menyanyikan lagu mars Pemberantasan Buta Aksara. Untuk menambah semangat," ujarnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya.Setelah itu, secara serentak mereka menyanyikan lagu mars yang diciptakan penyanyi keroncong Sundari Soekotjo itu dengan gembira. Meski terdengar  fals, mereka tetap semangat untuk menyanyikannya.

      Ayo pacu pemberantasan buta aksara/untuk meningkaikan kualitas sumber daya manusia mari kita berantas buta huruf tuk membuka jendela masa depan.

      "Sekitar dua minggu setelah pelajaran berlangsung, masyarakat sekitar sempat mengira mereka melakukan kebaktian atau misa di rumah ini. Sebab, setiap kali pertemuan, selalu ada waktu untuk menyanyikan lagu mars Pemberantasan Buta Aksara, yang dikira sebagai kebaktian. Padahal, lagu itu hanya untuk menambah semangat belajar," kata Kak Ina sambil tersenyum.

      Kegiatan itu sendiri, menurut Juli, secara terstruktur baru dimulai sejak awal Januari lalu.

      Biasanya, kegiatan belajar baru usai sekitar pukul 21.30.       '

      Untuk mengajar di kelompok ini, menurut Juli, boleh dibilang gampang-gampang susah. Gampangnya karena hampir seluruh rombongan belajar sangat bersemangat untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ini mo-dal belajar yang bagus.

      Namun, susahnya, karena mayoritas peserta masuk dalam kategori buta aksara murni, Juli harus mengajari pengenalan huruf dari dasar. "Saya juga harus mengajarkan huruf, barang, atau kata yang biasa sehari-hari mereka gunakan di sini. Taruhlah , seperti air, wajan, sungai, dan banjir," ujar Juli.

      Belasan perempuan paruh baya dan beberapa gadis muda ini tergabung dalam Kelompok Belajar Aur Indah. tlinamakan Aur karena mereka bertempat tinggal di Kampung Aur, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimoon, Kota Medan. "Adapun Aur Indah karena dapat dikatakan para penduduk di wilayah ini setiap banjir melanda mereka harus pindah. Mengungsi ke tempat yang lebih aman,"ujar Risnawati Silalahi sambil tersenyum, lantaran huruf  p pada kata "pindah" itu sengaja dilesapkan hingga yang muncul hanya kata "indah".

      Menurut Ibu Ina atau Kak Ina, panggilan akrab Risnawati Silalahi, perempuan yang ikut dalam kelompok ini tergolong belum fasih membaca dan menulis huruf Latin. Padahal, beberapa di antaranya pernah mengecap pendidikan baca tulis dan berhitung di sekolah. Itu pun didapatnya beberapa puluh tahun lalu. Sekarang, tahun 2007, sebagian besar di antara mereka tidak ada lagi yang bisa menulis huruf Latin."Biasanya mereka malu untuk mengaku kalau mereka tidak bisa baca-tulis dan berhitung. Tapi, kalau didekati secara persuasif, mereka akhirnya mau juga mengakui. Mereka juga tidak imau dikatakan buta aksara karena ada beberapa yang bisa membaca, tapi tidak bisa menulis dan berhitung," tutur Ibu Ina.

      Sebenarnya, kelompok belajar yang baru memulai kegiatan pada awal Januari 2007 ini tidak murni muncul dari keinginan para perempuan yang membutuhkan keterampilan dasar tersebut. Keberadaan kelompok  belajar ini berangkat dari hasil survei Badan Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP) Regional I Medan."Mereka datang ke tempat ini untuk melakukan survei dan menganggap tempat ini cocok untuk melaksanakan kegiatan belajar bagi orang-orang yang belum melek huruf, menulis, dan berhitung. Saya diminta oleh tim dari BP-PLSP untuk mencari 15 orang calon pesertanya," ujar Ibu Ina. Gadisditolak

      Ibu dari empat anak ini juga mengatakan, sebenarnya masih banyak ibu-ibu dan gadis yang ada di kampung ini yang ingin ikut kelompok belajar itu. Tapi, karena permintaan dari pem-bimbing bahwa anggota kelompok belajar ini hanya bisa diisi oleh 15 orang dengan usia 15-44 tahun, keinginan beberapa ibu dan beberapa gadis terpaksa ditolak.

      "Kalau ada anggota kelompok belajar tidak masuk selama tiga kali berturut-turut, saya keluarkan. Banyak yang mengantre dan pelajarannya memang bagus, kok ditinggal begitu saja," ujamya.

      Waktu belajar kelompok mi adalah dua kali dalam satu minggu, yaitu pada hari Senin malam atau Rabu malam. Namun, menurut Kak Ina, penetapan waktu belajar juga tidak sekaku seperti sekolah formal pada umumnya. "Kalau kami atau pamong tidak bisa, diganti dengan hari lain. Itu pun sebe-lumnya atas kesepakatan bersama," ujarnya. Juli, pamong belajar dari BP-PLSP Regional I Medan, menjelaskan, kelompok belajar yang diasuhnya ini merupakan bagian dari pengembangan model-model belajar yang dilakukan lembaganya. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh tim pengembangan metode belajar Pendidikan Masyarakat BP-PLSP di lokasi yang persis di j tepian Sungai Deli ini, metode pembelajaran berbasiskan daerah aliran sungai bisa dikembangkan di lokasi ini. ; Model yang dikembangkan dan diujicobakan di Kampung Aur ini merupakan salah satu dari empat model pembelajaran untuk mengurangi tingkat buta huruf keaksaraan fungsional yang ada di Sumatera Utara pada umumnya, dan khususnya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran untuk masa anggaran 2006, yang dikembangkan oleh BP-PLSP Regional I Medan. Data yang diperoleh dari BP-PLSP Regional I Medan, pada tahun 2004, di Kota Medan sendiri masih terdapat sekitar 18.624 orang yang masih menyandang predikat buta aksara.

      Bagi Kak Ina sendiri, yang   sempat mengecap pendidikan hingga selesai SD, kemampuan membaca, menulis, serta berhitung sangat penting. Tak hanya bagi orang-orang muda, orang tua pun ingin memiliki kemampuan membaca dan menulis. Ramlah (52), salah satu warga belajar di kelompok tersebut, mengatakan, dirinya ingin belajar karena ingin berbicara dengan cakap di muka umum. Ramlah, yang pernah menjabat sebagai ketua organisasi perempuan di salah satu partai penguasa pada saat rezim Orde Baru, mengatakan dirinya merasa tidak percaya diri saat duduk bersanding dengan ibu-ibu pejabat partai lainnya."Apalagi kalau diminta berbicara di muka umum, susah dan  tidak nyaman," ujarnya.  Perempuan-perempuan di kelompok belajar ini memang bertekad untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung sebaik-baiknya. Keinginan mereka sederhana. Tidak untuk mencari ijazah, seperti sekolah pada umumnya. "Kami hanya tidak  ingin di-tokoh-tokohi (ditipu) oleh orang lain hanya lantaran kami tidak bisa membaca. Hanya itu," kata Ramlah.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:04  

      Items details

      • Hits: 245 clicks
      • Average hits: 2.6 clicks / month
      • Number of words: 2036
      • Number of characters: 15687
      • Created 7 years and 9 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 88
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125021
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC