.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      PIKIRAN RAKYAT 30 SPTEMBER 2010

       

      Hari Gini masih buta huruf?

      Oleh SAHALA TUA SARAGIH

      SEORANG bapak berusia kurang lebih 45 tahun, tampak sedang asyik membaca koran di salah satu warung di pusat Kota Bandung sambil menikmati segelas kopi. Rupanya ada seorang laki-laki lain yang sebaya dengannya, memperhatikan cara si bapak itu membaca ko­ran. "Punten, Pa, kok baca korannya terbalik?" tanyanya po­los. "Oh, ya, ya, enggak sadar. Lagi ngantuk sih..." jawabnya malu-malu sambil membenarkan posisi koran di kedua tangannya.

      Sesungguhnya si bapak itu memang masih menderita buta huruf (aksara). Dia memang dapat mengenal nilai satuan uang, tetapi sebenarnya dia tak mampu membaca tulisan dan angka yang tertera pada lembar/keping uang rupiah.

       

      Mungkin di antara kita ada yang berkomentar dengan sinis, "Hah, 'hari gini' masih buta huruf? Hidup di kota besar pula." Si bapak tadi tak sendirian. Masih ada belasan juta, bahkan mungkin puluhan juta penduduk Indonesia yang tak sanggup membaca, menulis, dan berhitung dengan sangat sederhana sekalipun. Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Nasional, Hamid Muhammad, baru-baru ini di Jakarta mengatakan, masih ada lebih 8,3 juta (hampir enam persen) penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun menderita buta huruf, 80 persen atau lebih 6,64 juta orang di antaranya berusia di atas 45 tahun. Sebanyak 20 persen penduduk penyandang buta huruf itu, masuk kelompok masyarakat yang tersulit baik dari sisi ekonomi, geografis, maupun sisi sosial budaya. Di antara 8,3 juta pen­duduk yang masih menderita buta huruf itu, terdapat lebih 53 Juta orang (66,62 persen) perempuan.

      Ini angka resmi pemerintah" (Kemdiknas). Kita boleh per-caya, boleh pula tak percaya. Maklumlah, penyakit "ABS" ("asal bapak senang") masih diidap oleh banyak pegawai dan pejabat dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Alasan pemerintah menghitung jumlah penderita buta huruf, hanya penduduk yang berumur di atas 15 tahun. Padahal, usia anak masuk sekolah dasar (SD) enam tahun. Bila dihitung anak berusia 7-15 tahun yang tak bersekolah dan yang putus sekolah dari SD, SMP, dan yang sederajat (kurang-lebih satu juta siswa per tahun), sesungguhnya jumlah penduduk Indonesia yang buta huruf belasan juta orang, bahkan bisa jadi puluhan juta orang. Telah terbukti, terma-suk oleh penelitian UNESCO, orang yang sudah pernah melek huruf bila selama empat tahun sama sekali tak pernah lagi membaca dan menulis, mereka kembali menderita bu­ta huruf.

      Di Indonesia, mereka semakin cepat kembali menyandang buta huruf, karena warga masyarakat kita umumnya tidak suka membaca. Mereka sangat suka menonton televisi, apa pun materi siarannya, yang bersiaran tanpa pernah berhenti. Tak satu pun stasiun televisi di negri ini miliki acara pemberantasan buta huruf. Program-program televisi nasional dan lokal justru melestarikan kebutahurufan khalayak pemirsa.

      Dalam hal penyakit sosial, ternyata   kaum   perempuan yang buta huruf masih tetap dominan. Ini tak hanya terjadi .di negeri kita, tetapi juga secara global (sejagat). Dari seluruh   penduduk   dunia  yang    masih buta aksara ternyata 2/3 perempuan, sedangkan laki-la­ki 1/3 nya. Dari sekitar enam miliar penduduk bumi,   860 juta (10'75  Persen)  di   antaranya masih menderita buta huruf secara absolut. Mereka sama sekali tak mampu mem­baca, menulis, dan berhitung secara sederhana sekalipun. Dari jumlah ini, kurang lebih 573 juta (66,62 persen) di an­taranya perempuan. Mayoritas mutlak mereka hidup di negara-negara berkembang dan miskin,  terutama  di  benua Asia, Afrika, dan Amerika.

      Kita, penduduk Pulau Jawa boleh berbangga, karena merasa paling maju di republik ini. Memang betul, pusat unggulan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi di tanah air terdapat di Pulau Jawa. Akan tetapi, fakta membuktikan, justru mayoritas penduduk yang menderita buta huruf terdapat di pulau kecil yang paling padat penduduk ini. Provinsi Jawa Timur masih tetap "juara" pertama, Jawa Tengah "juara" kedua, dan Jawa Barat "juara" ketiga, sedangkan Su­lawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur "juara" pertama dan kedua di luar Pulau Jawa. Dari lebih 8,3 juta penduduk berusia di atas 15 tahun yang masih menderita buta huruf, 70 persen atau 5,81 juta orang terdapat di lima provinsi tersebut. Niscaya mayoritas mereka hidup di desa-desa dan berstatus petani miskin atau kuli tani.

      Sebetulnya, Indonesia lebih dulu membuat Program Na­sional Pemberantasan Buta Huruf, yakni sejak 1945.

      Badan Perserikatan Bangsa-bangsa Urusan Pendidikan, Sosial, dan Kebudayaan (UN¬ESCO) baru memproklamasikan Hari Aksara Internasional pada 8 September 1965. Akan tetapi, hingga kini pe-merintah (pusat) dan daerah (provinsi, kabupaten, dan kota) masih gagal memberantas penyakit sosial ini. Tidak aneh bila indeks pembangunan manusia (IPM) kita masih tetap berada di peringkat 108 di antara 177 negara. Sebagai bangsa dan negara besar, seharusnyalah kita malu. Kita boleh menyebut diri sebagai bangsa dan negara besar dan cukup maju. Ini antara lain diindikasikan banyaknya penduduk yang memiliki dan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, terutama telefon selular dan internet; Akan tetapi, inilah fakta yang sesungguhnya. Sejak 2008, Indonesia turut dalam program

      "Literacy Initiative for Empowerment" yang diselenggarakan UNESCO. Program tersebut ditujukan kepada sembilan negara di benua-benua Asia, Afrika, dan Amerika, yang memiliki penduduk penyandang buta huruf dalam jumlah sangat besar atau terbesar. Kesembilan negara tersebut adalab. India, Pakistan, Cina, Meksiko, Bangladesh, Mesir, Brasil, Indonesia, dan Nigeria.

      Faktor kemiskinan

      Tentu dari dahulu kala pun, pemerintah sudah mengetahui betul faktor utama penyebab masih sangat besarnya angka penyandang buta huruf di negeri ini, termasuk mereka yang telah Jama tinggal di ko-takota besar, pastilah kemiskinan, baik kemiskinan ekonomis maupun kemiskinan nirekonomis. Karena miskiri mereka tidak bersekolah, dan karena tidak bersekolah mereka tetap miskin, bahkan semakin miskin. Ini lingkaran setan, yang semestinya dari dulu sudah dipatahkan oleh negara (pemerintah). Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan para menterinya selama ini dengan bangga rmengatakan, jumlah penduduk miskin terus berkurang. Akan tetapi, faktanya angka penderita buta huruf masih sangat besar. Ini jelas merupakan salah satu indikator utama, masih sangat banyak penduduk miskin yamg sudah lebih 65 tahun merdeka ini

      Tak perlu di paparkan disini berbagai kerugian yang di alami penyandang buta huruf.,penduduk yang sudah melek huruf pun masih terbukit di tindas,di pinggirkan, di miskinkan, di bodoh bodohi, di lecehkan, di diskriminasi, dan berbagai hak asasi mereka lainya yang dilanggar secara terang terangan,baik oleh pemerintah,pengusaha,maupun para penegak hukum dan orang pintar lainya.

      Kita perlu mmenggurui pemerintah dalm mengenyahkan kemiskinan, terutama kemiskinan ekonomis Pemerintah dari rejim satu ke reJim-rejimberikutnya,senantiasa memihki program pemberantasan kemiskinan. Akan tetapi apa dan mana hasilnya? Ironisnya, program yang menggunakan uang bertriliun triliun rupiah   justru sering menjadi arena korupsi. Maklumlan, penyakit buta huruf secara moral dan rohaniah ini masih diidap oleh banyak pejabat pemerintah dan pengusaha, yang memperoleh projek pemberantasan kemiskinan, termasuk projek pemberantasan buta huruf. Andaikata hak (jatah) rakyat miskin yang sangat besar itu tak "dimakan" terus oleh koruptor kelas kakap hingga koruptor kelas teri, tentu kemiskinan dan kebutahurufan telah lema lenyap dari republik ini. Sebab, tak seorang pun bisa menjamin kapan wabah korupsi lenyap dari negara kita, kini yang perlu kita lakukan adalah memerangi kemiskinan nirekonomis (kesadaran dan motivasi) di kalangan penduduk penderita buta huruf.

      Mereka harus disadarkan dan dimotivasi bahwa mereka rugi besar dan sering dirugikan karena mereka butfi huruf (bodoh). Mereka dapat disadarkan dan dimotivasi bahwa hanya mereka yang mampu mematahkan lingkaran setan kemiskinan yang membelenggu selama ini. Mereka harus disadarkan dan dimotivasi agar tak pernah berharap kepada orang lain, termasuk pemerintah pusat dan daerah, DPR, dan DPRD, untuk mengeluarkan mereka dari kubangan kemiskinan.Penyadaran dan pemotivasian ini jauh lebih efektif ketimbang cuma Program pemberantasan buta huruf yang dilaksanakan Kemendiknas dan Dinas-dinas Pendidikan.

      Kita sangat mengharapkan, para tokoh masyarakat, ulama atau rohaniwan, aktivis lemba-ga swadaya masyarakat, guru, dosen, mahasiswa, dan wartawan mau melakukan ge-rakan sosial penyadaran serta pemotivasian para penyandang buta huruf di tanah air. Kalau mengandalkan pemerintah belaka, jangan harap kemiskinan dan kebutahurufan lenyap dari negeri ini. Mengacu kepada situasi dan kondisi nasional dan berbagai program "pembutahurufan" oleh puluhan stasiun televisi swasta nasional dan lokal, tak mustahil jumlah rakyat miskin dan penderita buta huruf justru akan meningkat pesat.***

      penulis dosen Jurusan Jurnalistik, Fikom. Unpad.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 09:03  

      Items details

      • Hits: 169 clicks
      • Average hits: 1.8 clicks / month
      • Number of words: 1656
      • Number of characters: 13076
      • Created 7 years and 9 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 75
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124342
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC