.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, KAMIS, 14 SEPTEMBER 20O6

      Buta Huruf dan Kesejahteraan Rakyat

      Oleh   JAFAR   FAKHRUROZI

      Perkembangan informasi yangkianmengglobal hanya dapat di akses melalui budaya literal Maka, sangat mengenas kan jika sekarangini tingkat buta huruf di dunia, khususnya di negara-negara miskin, masih tinggi. Berdasarkan datadari UNESCO, di antara tujuh orang terdapat satu orang yang tidak mampu membaca dan menulis.

      Di antara keseluruhan penduduk dunia yang berjumlah enam miliar, terdapat 800 juta orang dewasa yang buta huruf, dan dua pertiga di antara mereka adalah perempuan. Sementara itu, terdapat 100 juta anak usia sekolah yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bersekolah. Adapun di negara kita pada tahun 2003 jumlahnya mencapai 5,39 juta orang. Dari jumlah itu, penduduk usia 10-44 tahun yang buta huruf diperkirakan mencapai 3,62 persen atau 2,80 juta penduduk, sedangkan usia 44 tahun ke atas mencapai 2,59 juta orang dari seluruh jumlah penduduk Indonesia.

       

      Angka-angka di atas tidak  pentmg  jika hanya menja dipajangan di museum Balitbang. Dibutuhkan kesenusan pemerintah dalam menanggulangi persoalan besar ini jika Indonesia tidak ingin tertinggal Maka, salah satu kuncinya adalah dengan memosisikan sektor pendidikan sebagai yang paling utama diantara sektor lainnya Wujudnya adalah dengan merealisasikan 20 persen anggaran pendidikan dari APBN dan APBD sesuai dengan konsbtusi yang telah ada. Selama mi  pemerintah  terlalu  banyak memprediksi atau membuat target yang bersifat abstrak. Tahun 2009, pemerintah memiliki target mere­alisasikan 20 persen anggaran pendidikan, tahun 2015 memusnahkan buta huruf, dan sekian target lain yang sebetulnya semakin mengurangi kepercayaan masyarakat kinerja pemerintah.

      Mahalnya biaya pendidikan hari ini sudah jelas mempersempit akses masyarakat, khususnya masyarakat miskin, untuk menikmati pendidikan. Kejar Paket A dan Paket B yang merupakan alternatif sekolah murah pun keberadaan-nya kembang kempis. Dana bantuan operasional sekolah (EOS) memang sangat membantu bagi anak-anak miskin untuk bisa bersekolah,tetapi dilapangan ternyata rnasih banyak kebocoran atau korupsi. Maka, siasialah usaha mulia tersebut.

      Bergabungnya Indonesia dengan komunitas Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang memasukkan sektor pendidikan ke dalam perdagangan jasa sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Pendidikan sebagai komoditas hanya akan melahirkan kesenjangan pendidikan karena kebijakan memandirikan perguruan tinggi, misalnya, secara jelas mengakibatkan semakin mahalnya biaya masuk kuliah. Akhirnya, hanya orang-orang yang berduit yang bisakuliah.

      Dokumentasi realitas tersebut cukup memberikan kesimpulan bahwa jika Indonesia masih dibayang-bayangi kolonisasi ekonomi oleh negarakapitalis asing, sepertinya kemajuan pendidikan nasional hanya menjadi wacana yang ramai dibicarakan dan tidak berakhir pada solusi.

      Dua tugas

      Sejak dekade 1970-an, berbagai gerakan memberantas buta huruf dilakukan negara-negara miskin. Namun, banyak di antara negara-negara itu gagal menuai hasil dengan alasan krisis ekonomi dan peperangan. Akibatnya, sampai hari ini masalah-masalah yang amat fundamental seperti kesejahteraan dan keterbelakangan sosial menjadi penyakit kronis yang diidap negara miskin.

      Indonesia tak jauh beda posisinya. Jangankan untuk menggratiskan pendidikan, menangani busung lapar pun sulit. Padahal, seharusnya tingkat kesejahteraan secara ekonomi berkorelasi positif dengan kemajuan pendidikan. Pendidikan adalah mencerdaskan manusia Orang cerdas pasti tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyejahterakan dirinya. Nah, jangan jangan memang sistem pendidikan nasional kitayang tidak jelas ruhnya, dan tidak visioner bagi kemajuan peradaban bangsa kita yang sarat potensi.

      Selain itu, angka pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia yang tinggi tidak diimbangi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menjadikan masalah bertambah kompleks. Pemberantasan buta huruf harus diringi dengan usaha memperkecil angka pertumbuhan jumlah penduduk. antas, Indonesia mau bagaimana?

      Pemberantasan buta huruf membutuhkan anggaran dana yangsangatbesar. Sejatinyatakada lagi pemandangan ironis seperti yang masih tampak hari ini anggota dewan masih senang jalan-jalan ke mar negeri dengan alasan tugas negara, militer senang berperang dengan alasan terorisme atau pemberontakan, serta contoh lain yang cenderung mengakibatkan' kecemburuan dan cukup menyesakkan hati jika kita melihat juga realitas masyarakat Indonesiayang tak bisa membaca, miskin lagi.

      Maka, momentum Hari Aksara Internasional harus dijadikan ajang penguatan opini publik ten-tang isu pendidikan untuk semua (education for all) yang telah dicanangkan sejak Konferensi Pendidikan di Jomtien, Thailand, pada tahun 1990, lalu dikuatkan kembali oleh Forum Pendidikan di Dakkar pada tahun 2000. Hasilnya meliputi perencanaan pendidikan untuk semua di tingkat nasional sebagai bagian dari perencanaan pendidikan nasional (target 2002), mengurangi kesenjangan jender di pendidikan dasar dan menengah (2005), memastikan bahwa semua anak khususnya anak perempuan berkebutuhan khusus, dan anak dari etnis minoritas memiliki akses terhadap pendidikan yang memadai, berkualitas, dan gratis (2005), mencapai peningkatan 50 persen peningkatan melek huruf khususnya untuk perempuan dan akses yang memadai bagi orang dewasa untuk melanjutkan pendidikan serta mencapai kesetaraan jender dalam pendidikan (2015).

      Harus diselesaikan

      Persoalan buta huruf memang harus diselesaikan secepat mungkin. Manusia Indonesia harus melek huruf guna menguasai ilmu dan teknologi yang semakin jauh meninggalkan kita. Bahkan, oleh negara tetangga sekalipun Mta ter-inggal. Untuk itu, manusia Indonesia harus mampu membuka lahan kerja sendiri untuk mengejar ketertinggalan teknologi tersebut. Pemerintah mulai sekarang harus serius mengutamakan pendidikan dengan menyelesaikan persoalan-persoalan lain yang menghambat laju pendidikan, misamya pemberantasan korupsi yang telah menggerogoti kemampuan pemerintah dalam usaha perbaikan pendidikan dan sektor layanan publik lainnya.

      Sepertinya kita harus mengikuti negara China dalam hal pemberantasan korupsi. Sekecil apa pun tindakan korupsinya, maka tanpa kecuali siapapun harus dihukum mati. Walau tak mungkin diikuti, minimal ada sistem hukum dari pemerintah yang tegas mengaturnya

      Selain itu, tak ada salahnya kaum kaya di Indonesia memberikan donasi untuk pendidikan, tentunya dengan mekanisme keikhlasan dan sukarela, tidak malah menyimpan modal untuk dibisniskan. Pemerintah harus berusaha untuk tidak tergantung pada pemodal asing atau kebijakan internasional lainnya yang sebenarnya tidak memberikan kemajuan secara signifikan bagi Indonesia, khususnya kesejahteraan ekonomi masyarakat. Tak ada kata telanjur, apalagi tidakbisa.

      Sekali lagi pemberantasan buta huruf adalah tugas yang sangat berat, tetapi harus dilakukan. Secara ekonomi manusia Indonesia harus sejahtera. Pemerintah harus menyelesaikan dua tugas yang sama, yakni memajukan pendidikan dan menyejahterakan rakyatnya.

      JAFARFAKHRUROZI KetuaUnitKegiatanStudi Kemasyarakatan (UKSK)

      Universitas Pendidikan Indonesia

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:56  

      Items details

      • Hits: 364 clicks
      • Average hits: 3.8 clicks / month
      • Number of words: 1282
      • Number of characters: 10735
      • Created 8 years and 0 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 8 years and 0 months ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,799
      • Sedang Online 126
      • Anggota Terakhir Messa Rahmania

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9133311
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      February 2020
      S M T W T F S
      26 27 28 29 30 31 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC