.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      PIKIRAN RAKYAT 15 AGUSTUS 2006

       

      Buta Aksara


      SEORANG remaja pria yang terbilang perlente mendadak merah padam wajahnya, setelah ditampar salah seorang siswi sebuah SMA di Kuningan. Gara-gara sebelumnya menyodorkan secarik kertas bertuliskan ajakan tak senonoh yang dibuat oleh temannya. Meskipun penyebabnya kelihatan sepele, sesungguhnya bukan masalah kecil. Pria tersebut dipermalukan di depan umum, namun justru sebaliknya dia meminta maaf kepada siswi tersebut setelah mengetahui kalau tulisan itu berisi ajakan cabul terhadap yang menerima secarik kertas tadi. Ya, gara-gara pria ganteng itu tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung alias buta aksara.

      Ngamong-ngamong soal buta aksara, memang masih sangat memprihatinkan, karena sampai saat ini di masing-masing daerah, mereka yang buta aksara masih banyak. Seperti yang diakui Kasubdit Kesetaraan Pendidikan Menengah, Elih Sudiapermana, usai menyaksikan pencanangan gerakan nasional percepatan penuntasan pemberantasan buta aksara dan pembukaan kemah bakti Pen­didikan Luar Sekolah (PLS) seKab. Kuningan di Bumi Perkemahan Darmam, beberapa wakhi lalu. Saat ini warga yang buta aksara di seluruh Indonesia meiicapai 15,6 juta orang, terutama mereka yang berusia antara 15 sampai den-gan 44 tahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 70 persen di antaranya adalah perempuan. Terutama mereka yang hidup di daerah-daerah perdesaan dan secara ekonomis tergolong miskin.

       

      Memberantas buta aksara tersebut sudah barang tentu memerlukan peran serta seluruh lapisan masyarakat di daer­ah, jangan hanya mengandalkan pemerintah pusat. Bahkan, Elih pun mengakui, dana dari pusat untuk pemberantasan buta aksara terbatas. Sementara kendala untuk melakukan gerakan itu, selain terbatasnya dana, juga sebagian besar yang buta aksara usianya sudah di atas 45 tahun, sudah berkeluarga, banyak kesibukan sehingga untuk dimotivasi agar mau belajar pun menjadi masalah.

      Untuk menggairahkan membaca, tentu saja orang harus bebas dari buta aksara terlebih dahulu. Tidak harus melalui pendidikan formal, informal, dan nonformal pun bisa, seperti lewat pendidikan luar sekolah. Tak ada artinya slogan klise "buku itu gudang ilmu" tanpa ada kuncinya, yakni membaca. Slogan itu memang mengaitkan antara ilmu dengan bacaan. Artinya, berbagai macam ihnu pengetahuan itu bersumber dari bacaan, bisa berupa buku, majalah, koran, buletin,kitab-kitab agama, dan lainnya. Kalau buku dikatakan sebagai gudang ilmu, tentu saja kuncinya adalah membaca.
      (AMm Garis/"PR")****          ,

       

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:51  

      Items details

      • Hits: 152 clicks
      • Average hits: 1.6 clicks / month
      • Number of words: 531
      • Number of characters: 4305
      • Created 7 years and 1 ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 1 ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 97
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9130916
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      January 2020
      S M T W T F S
      29 30 31 1 2 3 4
      5 6 7 8 9 10 11
      12 13 14 15 16 17 18
      19 20 21 22 23 24 25
      26 27 28 29 30 31 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC