.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

       

      Buta aksara masih banyak


      64 persen buta aksara adalah wanita.

      JAKARTA, Perempuan masih banyak yang buta ak­sara dibandingkan laki-laki. Persentasenya mencapai 64 persen.

      Masalahnya, banyak perempuan yang tidak memiliki akses pendidikan dan drop out (DO) dari bangku sekolah lantaran ketiadaan biaya.

      Direktur Jenderal Pen­didikan Non formal dan In­formal (PNFI) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Hamid Mu­hammad, mengatakan, jumlah perempuan buta aksara sekitar 6,5 juta orang, sedangkan laki-laki 3,5 juta orang. Mayoritas perem­puan buta aksara berada pada usia 40 tahun ke atas.

      Hamid mengungkapkan, penyebab buta aksara karena budaya, tidak ada akses, dan angka putus sekolah. "Saya amati, buta aksara umumnya tidak pernah masuk sekolah dan pernah sekolah tapi DO," tuturnya seusai acara Lokakarya Pengalaman Terpetik Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan di Kantor Kemendiknas, akhir pekan lalu.

       

      Dia mengatakan, hal semacam itu diharapkan tidak terjadi lagi karena sekarang biayanya dibantu. Menurut Hamid, upaya yang akan dilakukan dengan mengurangi sumber buta aksara, yakni tidak sekolah dan DO."Sekarang di sekolah dasar (SD) ada 480 ribu,perempuan yang DO. Kalau mereka tidak membaca dan menulis sekian lama, biar kelas 4 atau kelas 5 nanti akan buta aksara kembali,"

      Upaya lain dengan memberi akses pendidikan bagi anak di daerah terpencil, anak jalanan, dan anak dari keluarga tidak mampu secara finansial.

      Untuk itu, kata Hamid, pemerintah menerapkan kebijakan afirmatif pendidik­an pemberdayaan perem­puan berupa pendidikan kelompok belajar keaksaraan mandiri, yang pada hakikatnya pendidikan kecakapan hidup sebagai kelanjutan dari program keaksaraan yang sudah ada.

      Untuk menarik minat warga kelompok umur di atas 40 tahun kembali bela­jar membaca, menulis, dan menghitung, diperkenalkan pula program kewirausahaan.

      "Bagi usia di atas 40 ta­hun, belajar membaca tidak menarik. Sehingga, dikemas pendidikan buta aksara disandingkan dengan pendi­dikan bermata pencaharian supaya tidak bosan," tutur­nya.

      Dari kegiatan itu, muncul kebutuhan membaca dan menulis. Setelah itu, sedikit-sedikit diberikan materi ke-aksaraan. Bagi usia sekolah, didorong masuk ke sekolah.

      Hamid mengungkapkan, kasus buta aksara perem­puan masih tinggi di wilayah Papua. Persentasenya 12 persen dari populasi pen­didikan di wilayah itu.

      Selain Papua, wilayah lainnya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Jawa Timur (Jatim).

      Menurut Hamid, jika dalam keluarga ada dua atau tiga anak bersekolah kemudian orang tua tidak mampu membiayai, yang putus se­kolah biasanya anak perem­puan. "Masih ada anggapan, perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi," kala dia menjelaskan.

      Ketidaksetaraan

      Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, mengakui, ketidaksetaraan gender dalam dunia pendidikan di Indo­nesia terjadi pada level pen­didikan tinggi. Ketidaksetaraan disebabkan ada kesan dan fakta kelompok perempuan kurang bisa berpartisipasi dalam membangun bangsa. Fakta tersebut bisa dilihat dari catatan akademik, karier, dan politik.

      Itu bisa terjadi karena sejarah yang panjang. Ideologinya, perempuan berada pada baris belakang, tidak usah belajar. Ujungnya juga perempuan jadi ibu rumah tangga.' 'Itu persoalan ideologi. Kenapa kita melakukan pengarusutamaan pendidik­an karena kita ingin ideologi itu bergeser, pendidikan untuk semua," ujarnya.

      Dia mengatakan, kesetaraan gender di pendidikan dasar menengah bagus. "Pada pendidikan tinggi, usia 18-23 tahun mulai berkurang karena ada proses pernikahan," dia menuturkan.

      Senada dengan M Nuh, Hamid mengatakan, ketidaksetaraan gender dalam pendidikan paling banyak terjadi di pendidikan tinggi .

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 28 February 2012 06:45  

      Items details

      • Hits: 287 clicks
      • Average hits: 3 clicks / month
      • Number of words: 966
      • Number of characters: 8250
      • Created 7 years and 1 ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 1 ago at Tuesday, 28 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 65
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9131032
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      January 2020
      S M T W T F S
      29 30 31 1 2 3 4
      5 6 7 8 9 10 11
      12 13 14 15 16 17 18
      19 20 21 22 23 24 25
      26 27 28 29 30 31 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC