.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kanker dan Kemiskinan di Negara Berkembang


      Margaret Chan dan Yukiya Amano *)

      KORAN®TEMPO

      KAMIS, 10 MARET 2011

      Kanker merupakan persoalan kesehatan masyarakat sedunia yang serius dan terus meningkat. Dari 7,6 juta kematian akibat kanker setiap tahun, 4,8 juta terjadi di negara-negara berkembang. Penyakit yang dulu dianggap banyak terjadi di negara maju ini sekarang lebih banyak menimpa rakyat miskin di bagian dunia lainnya.

      Di beberapa negara Afrika, tidak lebih dari 15 persen penderita kanker mampu bertahan selama lima tahun setelah didiagnosis menderita kanker rahim dan kan­ker payudara, penyakit yang umumnya di negara-negara lain bisa disembuhkan. Angka ini menunjukkan statistik yang mengejutkan dengan implikasi yang rnenyangkut penderitaan manusia, sistem (dan anggaran) layanan kesehatan masya­rakat, serta upaya internasional untuk mengentaskan angka kemiskinan. Maka, ini harus menjadi cambuk bagi kita semua untuk mengambil tindakan.

      Meningkatnya dampak kanker terhadap rakyat miskin ini mencerminkan banyak faktor, termasuk pertumbuhan demografis, penyebaran gaya hidup yang tidak sehat termasuk merokok), dan kurangnya kontrol terhadap infeksi-infeksi yang berkaitan dengan kanker. Walaupun kanker umumnya berkembang dengan lambat, perubahan gaya hidup telah berkembang dengan cepat dan menjangkau jauh. Kecenderungan ini tidak mudah dihentikan.

      Jika tidak diambil tindakan, jumlah kematian akibat kanker di negara-negara berkembang diramlkan bakal mencapai 5,9 juta orang pada 2015 dan 9,1 juta pada 2030. Sementara kematian karena kanker di negara-negara kaya meningkat tidak begitu dramatis, namun ia diramalkan meningkat tajam sebesar 40 persen pada 20 tahun ke depan.

      Di semua negara berkembang, kebanyakan sistem layanan kesehatan dirancang untuk mengatasi kasus-kasus penyakit menular. Sebagian besar di antara negara berkembang ini kekurangan dana, perlengkapan, dan tenaga terlatih yang dibutuhkan untuk memberi layanan dasar bagi para penderita kanker. Tiga puluh negara separuhnya di Afrika tidak satu pun yang memiliki peralatan radioterapi. negara-negara itu pasti juga tidak punya sumber daya keuangan, fasilitas, perlengkapan, teknologi, infrastruktur, tenaga, atau program pelatihan untuk menangani perawatan kanker jangka panjang.

      Negara-negara itu juga praktis tidak punya kemampuan pencegahan, pendidikan masyarakat, atau diagnosis awal dan pera­watan, baik itu berupa deteksi awal, pera­watan primer, bedah, radioterapi, maupun kemoterapi. Di banyak bagian Afrika, la­yanan dan perawatan semacam itu biasa-nya hanya bisa dinikmati oleh mereka yang kaya dan mampu mendapatkan pera­watan spesialis di luar negeri.

      Beban untuk perawatan penyakit sema­cam kanker jelas luar biasa. Negara dan keluarga yang bersangkutan juga membayar ongkos ekonomi yang mahal, sementara jutaan orang yang dengan kata lain bisa memberikan sumbangan yang produktif kepada keluarga dan masyarakat selama beberapa dekade ke depan tidak terselamatkan.

      Sudah tentu tragedi sebenarnya adalah bahwa banyak di antara penderita kanker ini sebenarnya bisa diselamatkan. Kita tahu bahwa sekitar sepertiga dari kanker yang menyebar di dunia ini bisa dicegah. Angka ini bisa ditingkatkan lagi jika lebih banyak tekanan diberikan pada identifikasi faktor-faktor lingkungan dan gaya hi­dup yang meningkatkan risiko terjangkit kanker. Di samping itu, diagnosis tidak la­gi harus berarti kematian bagi penderita kanker, karena sepertiga dari kanker bisa disembuhkan bila dideteksi lebih awal dan dirawat dengan baik.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAE A) bekerja sama erat untuk mengendalikan kanker di negara-negara berkembang. Upaya yang dilakukan IAEA termasuk membangun kemampuan negara-negara berkembang menyediakan pengobatan de­ngan teknologi radiasi. Tapi teknologi tidak berarti apa-apa tanpa tenaga yang terlatih baik dan termotivasi untuk menggunakannya. Itulah sebabnya kedua organisasi ini telah mengembangkan jaringan pendidikan dan pelatihan serta kemitraan yang inovatif antara pemerintah dan swasta. Dengan pendekatan semacam ini, penting pula memperkuat sistem layanan kesehatan dan layanan primer guna meningkatkan deteksi awal, diagnosis tepat waktu, dan layanan yang meringankan penderitaan. Langkah-langkah pencegahan, seperti inisiatif kesehatan masyarakat untuk mengurangi jumlah perokok, bisa sangat efektif .Vaksin melawan hepatitis B dan vi­rus papilloma manusia, jika disediakan de­ngan harga yang terjangkau, bisa memberikan sumbangan yang signifikan bagi upaya pencegahan kanker hati dan kanker rahim. Di Badan Internasional Penelitian Kanker, suatu badan khusus yang menangani kanker di WHO, penelitian lanjutan mengenai penyebab kanker sudah dilaku­kan, yang bakal memberi basis bukti yang diperlukan untuk meringankan lagi beban kanker di seluruh dunia. Kita sudah menyaksikan hasilnya di beberapa negara, tapi upaya yang kita lakukan ini tidak lebih daripada setitik air di sebuah lautan kebutuhan yang besar. Un­tuk merespons meningkatnya epidemi kanker, kita perlu melakukan aksi global bersama seperti mobilisasi yang derita lakukan terhadap HIV/AIDS. Kanker harus diakui sebagai bagian dari agenda utama kesehatan global. Para pe­mimpin dunia harus disadarkan akan skala krisis kanker yang sedang dihadapi ne­gara-negara berkembang. Kita memerlukan tindakan sistematis pada tingkat tinggi untuk mengakhiri kesenjangan yang ada antara negara kaya dan negara miskin dalam penanganan kanker ini dan, dengan demikian, membantu menyelamatkan jutaan nyawa. Tujuan yang hendak dicapai ha­rus berupa peningkatan kontrol terhadap kanker yang efektif dan terpadu ke dalani sistem layanan kesehatan nasional di nega­ra-negara berkembang. Konferensi Tingkat Tinggi Mengenai Penyakit Menular, yang akan diselenggarakan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September nanti, memberi peluang bagi kita memusatkan perhatian dunia pada penyebaran kanker di negara-negara berkembang. Marilah kita jadikan pengendalian kanker salah satu berita ba­ik pada 2011. *) MARGARET GHAN, DIREICTUR JENDERAL ORGANISASI KESEHATAN SEDUNIA. VUKIYAAMANO, DIREKTUR JENDERAL BADAN TENAGAATOM INTERNASIONAL. HAK CITTA: PROJECT SYNDICATE, 2011.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 828 clicks
      • Average hits: 10.5 clicks / month
      • Number of words: 2717
      • Number of characters: 23011
      • Created 6 years and 7 months ago at Wednesday, 18 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 111
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091239
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC