.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      Jendela Dunia Yang Terkoyak
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      All Pages

       Jendela Dunia Yang Terkoyak

      Pernahkah Anda melihat orang yang memorinya hilang atau sakit? Ia akan menjalani sebuah kehidupan yang tanpa kontrol, berjalan tidak tentu arah dan berbicara tanpa makna. Lihatlah juga orang yang perkembangan pengetahuannya terbelakangan (ideot) ia akan mudah untuk dijadikan bulan-bulanan yang lain. Bayangkan! apabila yang tidak memiliki memori itu adalah sebuah bangsa. Laiknya seorang manusia, ia akan ia kehilangan jati dirinya. Ia pun akan menjadi sebuah bangsa yang ideot, bangsa yang hanya akan menjadi alas kaki bagi bangsa lain yang sedang bertarung di pentas pertarungan global untuk memperebutkan hegemoni dan menyongosong peradaban masa depan. Kita semua berharap bangsa itu bukan Indonesia. Di manakah letak dari sebuah memori peradaban? Jawabnya adalah, buku! Buku adalah memori peradaban. Thomas Carlyle, empu sejarah kelas dunia yang terkenal dengan teori Great Man-nya, mengatakan “In book lies the soul of the whole past time.” Hanya dengan buku kita dapat mengenggam dunia, menjelajahi seluruh pemikiran dan imajinasi yang terhampar di jagat raya. ( Gong, 2006).

      Jostein Gaarden dalam novelnya yang berjudul Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken (Mizan, 2006) mengungkapkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup di planet ini yang dapat saling bertukar pikiran, perasaan, dan pengalaman. Sejak berabad-abad yang lalu sudah mampu melakukannya. Tetapi kita baru belajar menulis lima atau enam ribu tahun yang lalu. Dan itu memberikan nuansa yang benar-benar baru ke dalam bahasa. Sekarang kita bisa berbagi pengalaman dengan manusia lain yang berjarak ribuan kilometer dari kita ataupun dengan manusia yang akan hidup ratusan atau bahkan ribuan tahun setelah kita nanti.

      Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan ”ajaib” bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.

      Buku merupakan alat komunikasi tulisan yang dirakit dalam satu satuan atau lebih agar pemaparannya sistematis, sehingga isi maupun perangkat kerasnya bisa lestari. Segi pelestarian inilah yang membedakan buku dari alat komunikasi tulisan lain yang lebih pendek umurnya. Melalui buku, seluruh hasil cipta, karsa, dan karya manusia dapat dilestarikan. Dari buku pula peradaban manusia berkembang. Di dalam buku tersimpan rekaman-rekaman teori yang bisa melahirkan suatu teori baru. Bukankah setiap penemuan suatu teori baru selalu dilandasi oleh teori sebelumnya? Sebagaimana yang diakui oleh ilmuwan ahli Issac Newton. Ilmuwan besar ini pernah berkata, "Jika saya mampu melihat jauh, maka hal itu disebabkan karena saya berdiri di pundak para jenius terdahulu"(Deny Riana, 2003)

      Buku adalah guru yang paling baik karena buku tidak pernah jemu menggurui kita. Ia dengan sabar membimbing dan melayani pembacanya baik yang berkecepatan lamban maupun sepercedas. Ia bisa menghampiri kita kapan pun, tidak terikat waktu dan tempat, dan yang pasti menjadikan orang lebih bijaksana. (Fauzi Ahmad Muda, 2006)

      Maurois (1977) mengatakan bahwa buku adalah satu-satunya alat untuk mempelajari abad-abad yang sudah lewat. Buku adalah kunci terbaik untuk memahami bangsa-bangsa lain yang belum kita kunjungi.

      Kekutan buku sudah diakui dunia sejak lama. Pada saat menjelang Tahun Buku Internasional tahun 1972 UNESCO menyatakan keyakinannya bahwa, (Kertosedono, 1983)

      Books are pre-eminent as vehicles for information, education and research, and as a source of culture and recreation, serving national development and the enrichment of individual human life, and fostering that better understanding between peoples of different nations and cultures and that strengthening of desire for peace in the minds of men and women



      Begitu dahsyatnya perana buku dalam membangun peradaban suatu bangsa, hampir seluruh mantan presiden AS sealumembuat otobiografi sebagai buti kecintaan mereka pada budaya membaca buku. “ Reading is My Hobby” demikianlah sejarah mencatat, sehingga AS memiliki pempimpin-pemipimin besar yang gila buku, seprti John Quicy Adams, Abraham Licoln, dan JF Kennedy; Inggris pernah memiliki pemimpin legendaris Winston Schruchill yang maniak buku; dan India memiliki pemimpin besar Jawaharlal Nehru yang kutu buku. Keteladananmereka dalam hal membaca buku telah tertular secara meluas pada rakyatnya. Ketiga negara itu sekarang tercatat sebagai penghasil buku terbesar di dunia. Clinton dalam otobiografinya menulis bahwa buku adalah jembatan menuju abad 21.

      Sejarah Islam merupakan catatan orang-orang basar pecinta buku. Hampir semua pelatak dasar ilmu-ilmu modern berasal dari para pemikir Muslim. Mereka bukan para ”ulama murni” yang hanya mendalami ilmu-ilmu keagamaan, akan tetapi juga adalah para ilmuwan. Ibnu Sina peletak ilmu kedokteran, Muhammad bin Ahmad yang menemukan angka nol. Sekarang anda bisa dengan mudah menuliskan semua bilangan tadi dengan bantuan angka nol hasil penemuannya. Kemudian pemikiran ter­sebut dilanjutkan oleh Muhammad bin Musa Al Khawarizmiy, yang me­nemukan perhitungan Al Jabar yang merupakan dasar dari ilmu pasti. Mereka adalah pemikir-pemikir Islam kala itu. Seperti kata Roger Geraudy, seorang cendekiawan Perancis, selama berabad­ yang yang lalu dunia barat hanya bisa membanggakan satu orang jenius yang miliki multi disiplin keilmuan yaitu Leonardo Da Vinci. Akan tetapi sebenarnya dalam Islam terdapat begitu banyak orang-orang yang jenius secara univer­sal seperti Al Kindi, Ar Razii Al Baruni, sampai Ibnu Sinna. Ibnu Majid (ahli kelautan) yang menjadi inspirator bagi Vasco Da Gama untuk menemukan Calcutta. Ibnu Nafis (pakar kedokteran) yang menemukan sirkulasi darah empat ratus tahun sebelum Harvey dan tiga ratus tahun sebelum Servet dari Eropa. Abdul Qosim yang menyelidiki TBC tulang punggung, tujuh abad sebelum Percivall Pot (1713-1788) menemukannya. Belum lagi nama-nama Zero, Ci­kali Elixir dalam bidang kimia. Dalam bidang geografi terdapat nama-nama Azure, Zenith, Azimuth, Gibraltar, dan lain-lain, yang semuanya berasal dari Islam. (Agustian, 2001)

      Azyumardi Azra mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban buku-buku; jalan hidup Muslim dipandu Buku; dan kita menemukan nilai hidup kita hanya dalam buku-buku. Tuhan kita juga termanifestasi dalam Buku; dan identitas kita terbentuk oleh buku-buku. Jadi, bagaimana bisa ada orang di antara kita yang merusak Buku, dan menjadi para pengkhianat buku-buku? (Republika, 31 Agustus 2006 )

      Waktu berbicara pada saat kongres Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Mohamad Sobary, seorang budayawan, mengatakan: “Bagi saya, buku itu dunia ide, dunia gagasan. Saya mau menerima pendirian bahwa buku itu benda, yang oleh orang kantor pos disebut “barang cetakan”, dan jadi barang dagangan di tangan para penerbit. Tapi jangan salah, peradaban berkembang karena dunia gagasan, dunia ide, yang bergerak, dan tak pernah berhenti bertanya tentang apa lagi dan apa lagi, yang bisa membikin manusia hidup enak, makmur, dan sejahtera. Isi, dan jiwa, atau dunia ide, yang tercetak di dalam buku-buku itu yang membuat peradaban berkembang. Buku sebagai onggokan materi, hanya kertas, dan bisa berubah manjadi bungkus tahu pong, kacang tanah, cabai, atau trasi. Lalu dibuang. Tapi dunia ide, dunia gagasan tetap hidup. Dan mentereng.

      Peradaban modern, berkembang dan maju karena buku. Bangsa Arab, parcaturunnya ayat pertama, ”iqra”: bacalah, maju luar biasa, dan membikin gebrakan peradaban sangat modern sesudah mereka memasuki dunai buku, dan meninggalkan tradisi lisan. Para punjangga besar Islam menulis buku-buku babon, peletak dasar ilmu-ilmu, sesudah belajar, dan mengembangkan lebih lanjut filsafat Yunani. Untuk zamannya, dan untuk kepentingan dirinya sendiri, tradisi lisan sesuatu yang luar biasa. Tapi memasuki peradaban modern, tradisi itu tampak melankolik, dan kesepian, karena tak mampu menjawab kebutuhan zaman, yang ditandai membaca, menulis, dan mengembangkan dunia ide secara tertulis. Tradisi lisan lalu dianggap kurang relevan. Maka komunikasi tertulis pun menjadi cara terkini untuk menandai bahwa kita bagian dari modernitas dan kemajuan, dan bukan lagi milik masa lalu yang sengaja ditinggalkan di belakang sejarah, yang tdak punya jawaban atas pertanyaan masa depan (Kompas, 17 September., 2006).

      Para pahlawan nasional juga rata-rata adalah para pecinta buku. Bung Hatta adalah negarawan besar yang menjadikan buku sebagai istri pertamanya (bukan istri kedua). Dalam biografinya dikatakan bahwa pada saat beliau mau dibuang ke Digul yang pertama-tama dia persiapkan adalah 10 peti buku untuk menyertainya di pembuangan. Saking cintanya pada buku mas kawin kepada Ibu Rahmi adalah dua jilid buku karangannya: Alam Pikiran Yunani. Ibu kos Tan Malaka menuturkan bahwa apabila Iep (sebutan Tan Malaka) membaca buku kelihatan mukanya seperti berwana hijau (saking lamanya). Semua para Pahlwan kita adalah kutu buku. Tidak pernah tercatat dalam lembaran sejarah ada orang sukses tanpa buku.

      Dalam perkembangan peradaban manusia, buku memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kendati demikian, kedahsyatan buku tentu tidak akan ada apa-apanya jika benda tersebut hanya ada dalam mimpi alias tidak dimiliki, dan kalau pun ada hanya dipajang, tidak pernah disentuh dan dibaca. Dan tampaknya, inilah masalah kita saat ini. (Riana, 2003) Ahamd Tohari dalam “Resonansi” koran Republika (3 Juli 2006) menuturkan sebagai berikut:


      ”Dalam sebuah penelitian terungkap bahwa kebanyakan mahasiswa lebih mementingkan membeli pulsa HP daripada membeli buku. Fakta ini tidak mengejutkan karena masyarakat sudah tahu suasana umum kehidupan mahasiswa kita. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada kelompok minoritas mahasiswa yang serius dengan studi yang sedang mereka tempuh, kita mengerti lebih banyak mahasiswa yang itu tadi; lebih suka menikmati komunikasi dengan HP daripada membaca dan menambah koleksi bukunya. Bahkan mungkin lebih dari itu, banyak mahasiswa lebih mendahulukan rokok daripada kartu keanggotaan perpustakaan.

      Memang saat ini berkomunikasi dengan HP merupakan hal yang sangat umum. HP sudah menjadi kebutuhan standar seorang mahasiswa. Kita juga tahu dalam berkomunikasi dengan HP sebagian di antaranya memang penting. Namun ketika kebutuhan akan pulsa diletakkan di atas kebutuhan akan buku, dan hal ini terjadi di kalangan mahasiswa, rasanya jadi ironis. Sebab selayaknya buku menjadi kebutuhan utama bagi siapa saja yang sedang menuntut ilmu. Tapi mengapa buku telah terdesak ke belakang oleh pulsa? Pertanyaan ini akan mengundang berbagai jawaban. Rupanya buku belum menjadi sahabat para para mahasiswa karena minat baca mereka ternyata masih rendah. Mengapa minat membaca rendah, mungkin mereka belum bercaya bahwa buku mampu mengubah secara evolutif dirinya menjadi orang kaya dalam hal ilmu dan pengetahuan. Juga dalam hal kematangan, baik kematangan intelektual maupun emosional. Bahkan menurut Mochtar Pabottinggi, peneliti utama LIPI, salah satu sebab ketertinggalan bangsa Indonesia adalah kegagalannya menjadikan buku sebagai sumber inovasi kehidupan. Hal ini terbukti dengan sangat nyata pada bangsa Jepang yang terkenal sangat suka membaca. Kemajuan dan kemakmurannya sulit ditandingi. Bahkan kecerdasan anak-anak Jepang menempati tingkat tertinggi di dunia.

      Atau lebih celaka lagi kalau ada mahasiswa beranggapan dirinya bisa menjadi orang pandai (!) hanya dengan membaca secara terpaksa beberapa buku wajib. Namun bila para mahasiswa itu hanya menginginkan gelar sarjana, ya sudah. Mereka tidak sedikit pun celaka. Karena di seluruh wilayah negeri ini bertebaran sarjana dari berbagai jurusan dan mereka hanya membaca sedikit buku dan lebih sedikit lagi menulis. Para sarjana semacam ini diproduksi massal oleh lembaga-lembaga pendidikan gurem yang lebih mengutamakan keuntungan uang daripada mutu sarjana yang mereka hasilkan. Lembaga semacam ini sering menjadi alat bagi kalangan birokrasi yang membutuhkan tenaga asal bergelar sarjana untuk menempati posisi-posisi yang mempersyaratkan gelar, bukan kecakapan maupun keterampilan. Kembali ke masalah mahasiswa, buku dan pulsa. Fakta bahwa banyak mahasiswa lebih mengutamakan pulsa HP daripada buku tentu menjadi hal yang tidak menggembirakan. Namun sebenarnya mereka tidak bisa begitu saja dipersalahkan karena mereka adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita. Perilaku mereka adalah produk budaya masyarakat yang melahirkannya.

      Mengapa mereka lebih suka pulsa daripada buku juga mencerminkan watak masyarakat kita yang lebih suka terhadap sesuatu yang segera bisa dinikmati daripada hal-hal yang baru membuahkan hasil di masa depan. Ya, pulsa adalah hal yang bisa langsung dinikmati sebagai sarana keasyikan berhaha-hehe, ngerumpi atau pacaran. Sedangkan buku adalah investasi budaya yang baru bisa dinikmati hasilnya kelak, bahkan membacanyapun memerlukan keseriusan yang memakan energi tidak sedikit. Maka umumnya mahasiswa lebih menyukai pulsa daripada buku, suatu hal yang merupakan duplikasi dari watak masyarakat yang melahirkan mereka.

      Betapa kita seperti kurang berminat dalam hal berinvestasi kebudayaan terlihat misalnya dalam dunia pendidikan. Amanat UUD agar pendidikan dianggar 20 persen dari APBN baru sekarang ini bisa terlaksana meskipun kita sudah merdeka selama lebih dari 63 tahun. Perbukuan sebagai bagian dari amat penting dari upaya memajukan kehidupan bangsa masih begitu menyedihkan. Harganya mahal, pajaknya tinggi, kualitasnya kurang terjaga. Dan tidak seperti di negeri tetanga Malaysia misalnya, kehidupan para penulis buku di Indonesia rata-rata masih sengsara. Di Malaysia karya para penulis buku sangat dihargai oleh pemerintah. Buku-buku itu dibeli dan disebarkan ke masyarakat dengan subsidi sehingga penulisnya bisa hidup layak. Dan karena dibanjiri dengan buku-buku maka masyarakat jadi terbiasa membaca.

      Entah kapan kita mampu membangun kondisi di mana buku dibaca karena dipercaya mampu mendatangkan faedah yang besar untuk kemajuan hidup. Entah kapan para mahasiswa kita menjadi pecandu buku karena percaya dengan banyak membaca mereka anak berkembang menjadi orang pandai. Kapan? Jawabnya, kalau masyarakat Indonesia sudah yakin bahwa buku ternyata sudah berhasil membimbing kemajuan dunia. Sayang keyakinan seperti itu hanya ada pada masyarakat yang mau sungguh-sungguh belajar dari sejarah. Dan sejarah kita membuktikan bahwa kita kurang suka membaca buku. Maka kita juga tidak terkejut bila ternyata para mahasiswa kita pun lebih suka pulsa daripada buku.”


      Untuk menguatkan hasil riset tersebut di atas, penulis juga akan mengutip ceramah Ajip Rosidi, seorang sastrawan Indonesia terkemuka, pada saat mengikuti Kongres XVI Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), antara lain dia mengemukakan bahwa betapa sudah terupukurkanya rakyat Indonesia sekarang ini. Itu bisa dilihat dari keadaan dunia perbukuan, sebuah indikator utama maju tidaknya suatu bangsa. Sejak Indonesia merdeka tidak ada satu pun pemerintah yang menunjukkan perhatian yang serius kepada dunia perbukuan. Jarang ada pejabat yang peduli pada dunia perbukuna, bahkan banyak kota dan kabupaten, bahkan provinsi yang tidak mempunyai perpustakaan. ”Karena itu tak heran kalau ada yang mengatakan bahwa kebanyakan pejabat kita lebih menyukai bila rakyat tetap bodoh” kata Ajip. Kemudian dia menghitung: Penerbitan buku di Indonesia saat ini sekitar 12 ribu judul buku setiap tahun dengan oplah hanya dua sampai tiga ribu setiap judul, bagi bangsa dengan penduduk 225 juta niscaya itu tidak berarti apa-apa. Itu pun pada kenyataannya banyak penrbit yang mencetak bukunya hanya 500 eksemplar.

      Kalau dihitung akan seperti ini: 12 ribu x 5 ribu (angkanya dinaikkan) jumlahnya hanya 60 juta buku. ”Dengan demikian, setiap orang hanya kebagian membaca 60 juta berbanding 225 juta = 0,27 judul buku dalam setahun. Apa pula itu artinya? Kalau setiap buku rata-rata tebalnya 100 halaman, maka dalam 365 hari setiap orang Indonesia hanya membaca 27 halaman. Atau setiap halaman dibaca selama hampir dua minggu. (Pitono, 2006)

      Taufiq Ismail menggambarkan situasi di atas dengan sebutan ”Generasi Nol Buku.” Menurutnya tragedi nol buku ini hampir tidak masuk akal, mengingat fakta bahwa dahulu siswa AMS Yogya wajib membaca 25 buku sastra dalam 3 tahun, dalam emapt bahasa, yaitu Belanda, Inggris, Jerman , dan Prancis. Tragedi ini bermula pada tahun 1950-an, ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri. Demi mengejar ketertingalan sebagai negara terjajah, kewajiban membaca 25 buku sastra digunting habis, karena di pandang tidak perlu. ” Ini kesalhan luar biasa besar.” katanya Sebagai perbandingan dia menyodorkan fakta, SMA Amerika Serikat, tepatnya Forest Hills, mempunyai buku wajib sebanyak 32 judul, dalam kurun waktu 1987-1989. SMA Prancis (Pontoise) memiliki buku wajib sebanyak 30 judul, dalam kurun waktu 1967-1970. SMA Malaysia (Kuala Kangsar) memiliki 6 judul, dalam kurun waktu 1976-1980. ”Kita adalah generasi nol buku untuk SMA Indoensia dan ini sudah berjalan 62 tahun lamanya” kata Taufiq (Pikiran Rakyat, 5 Januari 2006).

      Tidak ada buku tidak ada kehidupan. Dunia tanpa buku adalah kegelapan. Peradaban tanpa buku adalah barbar. Sebagai kekuatan budaya, buku adalah aliran darah bagi keberlangsungan suatu bangsa. Kini, buku sedang menjalani sebuah kisah yang memilukan di negeri tercinta ini. Jendela dunia itu kini sedang koyak diterjang badai kegelapan. Akan tetapi tugas kita adalah ”menyalakan sebuah lilin bukan mencerca kegelapan”.

      Comments
      hendra  - diploma   |2009-08-27 14:36:39
      berjuang terus para guru,aku kan selalu mendukungmu,tapi!jangan di jual mahal
      -mahal ya!
      hendra   |2009-08-27 14:47:38
      mengapa semua penulis blog selalu bangga dengan kepercayaannya.islamlah yang
      terhebat,islamlahlopornya,islamlah penemunya.sebagai islam aku malu karena
      generasinya kumpulan pemalas yang tak mau melanjutkan penerusnya.sekarang semua
      negara islam jauh di tinggalkan negara barat dam amerika.kusarankan jangan
      terlalu romantis dengan sejarah tapi ajarkan kepada anak cucumu sikap kerendahan
      hati agar kita bangkit kembali dan pemenang.tolong ya hilangkan sikap munafik
      karena banyak yang ketawa membaca artikel ini.gimama yang baca nonmuslim!pasti
      dia bilang bego bangat yang nulis artikel ini!!!!!!!!
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 01 June 2009 10:09  

      Items details

      • Hits: 10637 clicks
      • Average hits: 90.9 clicks / month
      • Number of words: 2914
      • Number of characters: 21340
      • Created 9 years and 9 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator
      • Modified 9 years and 9 months ago at Monday, 01 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,794
      • Sedang Online 154
      • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9103582
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      March 2019
      S M T W T F S
      24 25 26 27 28 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30
      31 1 2 3 4 5 6

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC