Jendela Dunia Yang Terkoyak PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 01 June 2009 09:57
Article Index
Jendela Dunia Yang Terkoyak
Page 2
Page 3
Page 4
All Pages

 Jendela Dunia Yang Terkoyak

Pernahkah Anda melihat orang yang memorinya hilang atau sakit? Ia akan menjalani sebuah kehidupan yang tanpa kontrol, berjalan tidak tentu arah dan berbicara tanpa makna. Lihatlah juga orang yang perkembangan pengetahuannya terbelakangan (ideot) ia akan mudah untuk dijadikan bulan-bulanan yang lain. Bayangkan! apabila yang tidak memiliki memori itu adalah sebuah bangsa. Laiknya seorang manusia, ia akan ia kehilangan jati dirinya. Ia pun akan menjadi sebuah bangsa yang ideot, bangsa yang hanya akan menjadi alas kaki bagi bangsa lain yang sedang bertarung di pentas pertarungan global untuk memperebutkan hegemoni dan menyongosong peradaban masa depan. Kita semua berharap bangsa itu bukan Indonesia. Di manakah letak dari sebuah memori peradaban? Jawabnya adalah, buku! Buku adalah memori peradaban. Thomas Carlyle, empu sejarah kelas dunia yang terkenal dengan teori Great Man-nya, mengatakan “In book lies the soul of the whole past time.” Hanya dengan buku kita dapat mengenggam dunia, menjelajahi seluruh pemikiran dan imajinasi yang terhampar di jagat raya. ( Gong, 2006).

Jostein Gaarden dalam novelnya yang berjudul Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken (Mizan, 2006) mengungkapkan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk hidup di planet ini yang dapat saling bertukar pikiran, perasaan, dan pengalaman. Sejak berabad-abad yang lalu sudah mampu melakukannya. Tetapi kita baru belajar menulis lima atau enam ribu tahun yang lalu. Dan itu memberikan nuansa yang benar-benar baru ke dalam bahasa. Sekarang kita bisa berbagi pengalaman dengan manusia lain yang berjarak ribuan kilometer dari kita ataupun dengan manusia yang akan hidup ratusan atau bahkan ribuan tahun setelah kita nanti.

Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang masih hidup. Sungguh tak dapat dibayangkan, fantastis, dan ”ajaib” bahwa kedua puluh enam huruf dalam alfabet kita bisa dipadukan sedemikian rupa sehingga bisa memenuhi rak raksasa dengan buku-buku dan membawa kita ke sebuah dunia yang tak pernah berujung. Dunia yang selalu bertumbuh dan bertumbuh, selama masih ada manusia di muka bumi ini.

Buku merupakan alat komunikasi tulisan yang dirakit dalam satu satuan atau lebih agar pemaparannya sistematis, sehingga isi maupun perangkat kerasnya bisa lestari. Segi pelestarian inilah yang membedakan buku dari alat komunikasi tulisan lain yang lebih pendek umurnya. Melalui buku, seluruh hasil cipta, karsa, dan karya manusia dapat dilestarikan. Dari buku pula peradaban manusia berkembang. Di dalam buku tersimpan rekaman-rekaman teori yang bisa melahirkan suatu teori baru. Bukankah setiap penemuan suatu teori baru selalu dilandasi oleh teori sebelumnya? Sebagaimana yang diakui oleh ilmuwan ahli Issac Newton. Ilmuwan besar ini pernah berkata, "Jika saya mampu melihat jauh, maka hal itu disebabkan karena saya berdiri di pundak para jenius terdahulu"(Deny Riana, 2003)

Buku adalah guru yang paling baik karena buku tidak pernah jemu menggurui kita. Ia dengan sabar membimbing dan melayani pembacanya baik yang berkecepatan lamban maupun sepercedas. Ia bisa menghampiri kita kapan pun, tidak terikat waktu dan tempat, dan yang pasti menjadikan orang lebih bijaksana. (Fauzi Ahmad Muda, 2006)

Maurois (1977) mengatakan bahwa buku adalah satu-satunya alat untuk mempelajari abad-abad yang sudah lewat. Buku adalah kunci terbaik untuk memahami bangsa-bangsa lain yang belum kita kunjungi.

Kekutan buku sudah diakui dunia sejak lama. Pada saat menjelang Tahun Buku Internasional tahun 1972 UNESCO menyatakan keyakinannya bahwa, (Kertosedono, 1983)

Books are pre-eminent as vehicles for information, education and research, and as a source of culture and recreation, serving national development and the enrichment of individual human life, and fostering that better understanding between peoples of different nations and cultures and that strengthening of desire for peace in the minds of men and women



Comments
Add New
hendra  - diploma   |2009-08-27 14:36:39
berjuang terus para guru,aku kan selalu mendukungmu,tapi!jangan di jual mahal
-mahal ya!
hendra   |2009-08-27 14:47:38
mengapa semua penulis blog selalu bangga dengan kepercayaannya.islamlah yang
terhebat,islamlahlopornya,islamlah penemunya.sebagai islam aku malu karena
generasinya kumpulan pemalas yang tak mau melanjutkan penerusnya.sekarang semua
negara islam jauh di tinggalkan negara barat dam amerika.kusarankan jangan
terlalu romantis dengan sejarah tapi ajarkan kepada anak cucumu sikap kerendahan
hati agar kita bangkit kembali dan pemenang.tolong ya hilangkan sikap munafik
karena banyak yang ketawa membaca artikel ini.gimama yang baca nonmuslim!pasti
dia bilang bego bangat yang nulis artikel ini!!!!!!!!
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Monday, 01 June 2009 10:09
 

Kalender & Agenda

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Tidak Mungkin Intelektual Menganggur

Oleh:

Suherman

Ketua Masyarakat Literasi Indonesia (MLI)

Sarjana menganggur sangat banyak, tapi intelektual menganggur rasanya tidak mungkin alias mustahil. Sarjana dan intelektual tidak sama dan sebangun alias memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sarjana adalah gelar yang dicapai seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat terakhir di perguruan tinggi. Sedangkan intelektual artinya seseorang yang cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan atau disebut juga cendekiawan. Jelas sarjana bukan padanan kata intelektual. Dengan memperhatikan definisi atau arti kata intelektual saja sudah dapat disimpulkan mustahil ada intelektual yang memnganggur atau terjadi trategi “pengangguran intelektual”. Akan tetapi, walaupun kata “pengangguran intelektual“ terasa rancu namun sudah terbiasa diucapkan di masyarakat umum alias salah kaprah. Seperti judul sebuah artikel di harian Tribun Jabar edisi tanggal 15 Oktober 2009 “Mewaspadai Booming Pengangguran Intelektual”, yang ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.

Read more...