.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

IPTEK Populer
E-mail

Kompas 2 12 2009

50 Tahun Revolusi Kuba, Castro, dan Bioteknologi

IRWAN JULIANTO


Kalau negara-negara maju sejak beberapa dekade terakhir ini berpacu dalam riset dan industri bioteknologi, itu tentu bukan barang aneh. Tetapi Kuba? Bagaimana mungkin negara miskin yang diisolasi dan diembargo oleh Amerika Serikat selama hampir setengah abad ini ternyata juga mampu bersaing dalam menciptakan produk-produk biotek mutakhir?

Jawabnya tentu bukan hanya sekadar retorika "Bersama Kita Bisa" atau "Kita Pasti Bisa" tetapi adalah paduan antara visi, kepemimpinan dan cukup banyaknya pakar yang dedikatif di bidang iptek/biotek, tersedianya dana dan atmosfer yang kondusif bagi riset dasar dan terapannya. Itulah yang bisa kita temukan di Kuba saat ini.

Awal tahun ini genap 50 tahun Revolusi Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro dan Ernesto "Che" Guevara menumbangkan diktator Fulgencio Batista yang didukung AS. Nasionalisasi aset-aset AS di Kuba berujung pada putusnya hubungan diplomatik kedua negara dan embargo terhadap Kuba yang berlangsung hingga kini. Kaum terdidik, profesional, dan ilmuwan Kuba cukup banyak yang hengkang ke AS. Namun, perlahan tetapi pasti Kuba bisa melakukan konsolidasi, terus mendidik ilmuwan-ilmuwan baru yang mam­pu melakukan riset dasar ataupun terapan, termasuk di bidang biotek.

Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

RABU, 26 AGUSTUS 2009 MEDIA INDONESIA

Menelaah Kualitas, PT Indonesia


Oleh Edison Munaf

Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Andalas

SETIAP perguruan tinggi (PT) di dunia pada saat ini terus berusaha meningkatkan mutu dengan berbagai cara dan standar acuart mutu yang dibuat. Namun, sebagai suatu perguruan tinggi, standar umum yang selalu menjadi acuan adalah standar akademik dan manajemen pengelolaan suatu per­guruan tinggi. Masyarakat dunia tidak lagi melihat luasnya kampus, megahnya bangunan, tapi lebih melihat kepada sejauh mana perguruan tinggi telah berbuat untuk masyarakat dan lingkungan melalui pendekatan penelitian yang dilakukan perguruan tinggi yang bersangkutan, dan tidak lagi mengacu kepada text book ataupun literatur yang tersedia di perpustakaan saja.

Untuk melihat sejauh mana mutu perguruan kita di Indonesia jika dibandingkan dengan mutu perguruan tinggi lainnya di dunia, ada beberapa sistem pemeringkatan perguruan tinggi yang bisa dipedomani. Sistem pemeringkatan yang biasa dirujuk adalah THES (times higher education suplemen) Ranking, Shanghai Ranking, dan Webometrics Rangking. Ketiga sistem pemeringka­tan perguruan tinggi tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Yang terberat adalah Shanghai Ranking yang juga menekankan pada berapa orang staf pengajar atau alumni pergu­ruan tinggi yang dinilai telah berhasil memenangi hadiah nobel atau medali bergengsi lain­nya dalam bidang yang ditekuni. Lalu yang kedua adalah sistem pemeringkatan THES dan yang agak lebih ringan adalah sistem pemering­katan Webometrics.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:25 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, 20 Januari 2010

 

Presiden, Ilmuwan, dan Iptek

NINOKLEKSONO

"Dihadapkan pada tantangan yang belum ada sebelumnya, kemajyan teknologi bisa memberi mesin kuat untuk memajukan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan membutuhkan kepemimpinan politik yang memahami kekuatan mengubah (trans-formatif) besar dari teknologi dan inovasi."

(Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi AS)

Hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan bertemu dengan para ilmuwan Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pangetahuan Indonesia (AIPI), Dewan Riset Nasional (DRN), dan Tim Inovasi 2025 di Puspiptek, Serpong. Di tengah hiruk-pikuk permasalahan yang melilit, boleh jadi ini bisa menjadi momen langka yang penting karena betapa pun menyerapnya urusan politik, di luar itu bangsa masih punya urusan lain yang tidak kalah penting, yang harus dipikirkan pula oleh pimpinan nasional.

Seyogianya, momen langka ini bisa men­jadi forum dialog antara Presiden dan komunitas ilmiah dari beragam latar belakang keahlian. Pertama-tama tentu komunitas ilmiah Tanah Air ingin mendengar apa visi Presiden tentang pengembangan sains dan teknologi, apa strategi yang ditempuh pemerintah untuk menerapkan sains dan tek­nologi bagi kemajuan bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Soal-soal di atas sebenarnya bukan saja ingin didengar oleh para ilmuwan, tetapi juga oleh rakyat Indonesia pada umumnya. Maklum saja, di tengah ingar-bingar isu politik dan ekonomi, sains dan teknologi, atau untuk ringkasnya Iptek, seperti jatuh dalam skala nonprioritas. Dicerminkan oleh rendahnya dana riset, yang masih di bawah 0,1 persen pendapatan domestik bruto pada 2009, dunia ilmiah Indonesia masih belum bisa bersinar terang di kancah dunia.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:28 Read more...
 


Page 11 of 11

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 119
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124282
DSCF8803.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC