.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

IPTEK Populer
E-mail

 

Republika 13 Juli 2010

Gaya ITB Meretas Kesenjangan Iptek

Oleh: msudiaman


Genap sudah pendidikan tinggi teknik Indonesia bernama Institut Teknologi Bandung berusia 90 tahun. Sebagai lembaga pendidikan teknik tertua di Tanah Air, ga­gasan ilmu dan teknologi (ip­tek) terus digulirkan bagi kema­juan bangsa. Tak berlebihan jika pada akhirnya iptek berperan sebagai salah satu agen kemajuan bangsa.

Di mata Rektor ITB, Prof Akhmaloka, Ph.D, ilmu dan teknologi (iptek), saat ini tantangan yang dihadapi adalah adanya kesenjangan. Pertama, kesenjangan ekonomi di masyarakat kedua, kesenjangan iptek pada industri-industri di dalam negeri dan ketiga, ke­senjangan kemaju­an (berbagai bidang) antara bang­sa yang satu dengan lainnya. Sementara perumusan gagasan kewirausahaan, teknologi tepat guna di ITB tak tertepas dari persepsi mengenai permasalahan ke­senjangan di masyarakat. "Untuk mendukungdan memperkuat inovasi sistem nasional dan mencapai predikat WCU (world class university) perlu memerhatikan masalah kesenja­ngan tersebut," ujar Akhmaloka dalam pidato Hmiah peringatan pendidikan teknik di Indonesia di Aula Barat Kampus ITB, Senin (12/7).

Menangani masalah kesen­jangan iptek dimaksud, jelasnya, ada beberapa langkah yang akan ditempuh. Antara lain, diseminisasi informasi iptek ITB. Lang­kah ini pada dasarnya adalah mengkomunikasikan pengetahuan akademik yang telah tersedia. Diseminasi iptek ini diperlukan agar hasil-hasil penelitian (termasuk skripsi, tesis, dan disertasi) dapat diakses oleh pelaku lain. Baik lingkungan akade­mik maupun non akademik secara luas di masyarakat. "Banyak perusahaan dan organisasi lain­nya tidak sadar akan state of the artdi bidang iptek di ITB.

Read more...
 
E-mail

Kompas 21 9 2011

Di Ujung Pencarian Materi Gelap

LAPOKAN IPTEK

AGNES ARISTIARINI

Manusia tampaknya harus segera menyadari pikirnya tentang alam semesta. Kalau selama ini ma­teri di semesta selalu bisa dikenali dengan segenap indera dirasakan, dilihat, dicium, diraba, dan didengar penelitian terakhir mengonfirmasi adanya materi yang tidak terdeteksi pancaindera.

Inilah yang disebut dengan materi gelap atau dark matter. Materi ini dipostulasikan astronom Swiss, Fritz Swicky, ketika mengobservasi kluster Galaksi Coma tahun 1933.Swicky bisa menghitung massa rata-rata galaksi dalam kluster. Namun, ketika mencoba menghitung pendar cahayanya, ia mendapatkan hasilnya 160 kali lebih besar dari yang diharapkan. Kelebihan hitung inlah yang kemudian disimpulkan Swicky sebagai dampak dari faktor materi gelap.

Selama ini manusia mengenal materi konvensional seperti elektron, neutron, dan proton. Adapun materi gelap diasumsikan mengandung partikel subatomik baru yang tidak berinteraksi secara elektromagnet ataupun dalani ikatan nuklir. Hanya gravitasi dan fenomena ikatan nuklir lemah yang mengatur peluruhan beberapa tipe radioaktif dapat menyatukannya.

Fisikawan Albert Einstein sebenarnya telah mengakomodasi materi gelap ini dalam teori kesetaraan massa dan energinya terkenal. Sayangnya, teori yang meyakini bahwa alam semesta ini berkembang belum terbukti saat itu karena keterbatasan alat.

Maka, Einstein pun terpaksa memodifikasi teorinya dengan menambahkan konstanta kosmologi. Baru setelah teleskop Hubble diluncurkan, teori Einstein terbukti benar lewat foto-foto kiriman Hubble.

Setelah teknologi makin canggih, para astro­nom menemukan justru alam semesta ini berkembang lebih cepat dari yang diduga. Sesuai teori Einstein, pengembangan membutuhkan energi yang setara dengan massanya. Di sinilah materi gelap diperhitungkan seperti diketahui, analisis komputer terhadap foto-foto kuasar benda antariksa bercahaya terjauh yang tampak dari pengamat Bumi menampakkan pola emisi cahaya yang berubah-ubah. Variasi ini disebabkan oleh awan materi-materi gelap yang melintas di depan kuasar. Bolak-baliknya awan itu memperbesar cahaya pancaran kuasar.

Meski para fisikawan yakin bahwa materi gelap ini benar-benar ada, pembuktiannya sungguh tidak mudah. Berbagai uji coba yang dilakukan selama puluhan tahun tidak juga menunjukkan hasil. Persoalan utamanya adalah bagaimana mengisolasi uji coba ini agar tidak terkontaminasi dengan cahaya-cahaya kosmik yang ada di alam.

Maka, para peneliti mengupayakan pencarian materi gelap ini dengan membuat laboratorium jauh di dalam perat Bumi. Salah satunya adalah percobaan DAMA yang berlangsung di kedalaman 1.400 meter di bawah Gunung Gran Sasso, Italia.

Read more...
 
E-mail

Oleh Azyumardi Azra

Demokrasi Revisited


Di tengah gejala titik beberapa negara demokrasi, khususmya Thailand belakangan ini, Indo­nesia yang telah 'mengalami' demokrasi sejak 1999 kini sering dipuji banyak kalangan internasional sebagai negara yang kian stabil dengan demok-rasinya. Memang, dalam perspektif perbandingan, misalnya dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya bukan hanya dengan Thailand, tetapi juga dengan Filipina Indonesia kelihatan menonjol dengan stabjlitas demokrasi seperti terlihat dalam pemilu yang berlangsung damai pada 1999, 2004, dan 2009.

Namun, demokrasi Indonesia masih mengandung banyak masalah, baik di tingkat nasional maupun iokal. Satu hal sudah pasti demokrasi Indonesia kfan 'mahal' dan membuat tidak efisiennya pelaksanaan program pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Lagi pula, masih banyak terjadi penyimpang-an semacam politik uang, DPT yang ma­sih kacau, kekerasan di pemilukada, dan sebagainya. Karena itu, masalah-masalah seperti ini perlu diatasi jika demokrasi bakal terus bertahan di Indonesia.

Kalangan pengamat asing yang cermat juga tidak luput mempertanyakan keberlangsungan (sustainability) demok­rasi Indonesia. Pengalaman Thailand yang lebih lama dengan demokrasi membuat mereka tidak hanya rnemuj[ pj;rtrumbuhan demokrasi di Indonesia, tetapi juga mencemaskan masa depannya. Namun, dengan segera, kita harus menyatakan dengan sedikit apologi, situasi sosial, budaya, politik, dan militer Indonesia ber-beda jauh dengan Thailand. Sebab itu, banyak faktor yang membuat situasj Indo­nesia lebih kondusif yang membuat keberlangsungan demokrasinya lebih besar.

Read more...
 
E-mail

Kompas 7 September 2011

Clostridium untuk Kalahkan Ranker

AGNES ARISTIAR1NI


Penatalaksanaan terapi kanker yang terns berkembang makin memberi harapan bahwa sel-sel ganas ini bisa dikalahkan. Selama 30 tahun terakhir, pengobatan kanker memang telah mengalami revolusi yang begitu luar biasa.

Kalau pada mulanya terapi kanker berbasis pada pembedahan, penyinaran, dan kemoterapi yang berdampak samping bumk dan tidak mengenakkan, ke depan terapi akan menjadi semakin spesifik dan berkurang gangguannya terhadap kualitas hidup mereka yang terpaksa menjalaninya.

Terapi konservatif masih seperti bom atom yang membuat seluruh tubuh luluh lantak merasakan akibatnya. Pasien penyinaran dan kemoterapi, misalnya, sering mengalami mual, rontok rambut, hingga gosong kulitnya. Sebaliknya, terapi lebih maju yang disebut anti-bodi monoklonal hanya menembak sel-sel kanker sasarannya sehingga, selain lebih efektif, efek sampirignya juga sudah jauh ber­kurang.

Hari-hari ini, media massa di Eropa tengah memberi tempat kepada para peneliti di Universitas Nottingham, Inggris, dan Universitas Maastricht, Belanda, karena temuannya. Me­reka berhasil merekayasa genetika bakteri ta-nah sehingga bisa melawan kanker langsung pada sumbernya.

Read more...
 


Page 9 of 11

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 125
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124373
DSCF8798.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC