.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

IPTEK Populer
E-mail

Kompas 3 Agustus 2011

Mencari Desain Riset Perguruan Tinggi

AGNES ARISTIARINI


Hari-hari ini, ketika para lulusan sekolah menengah diterima di perguruan tinggi, isu biaya pendidikan mahal kembali mengemuka. Wacana memang kemudian lebih ke bagaimana membuat masyarakat yang tidak mampu bisa mengakses pendidikan, bukan kepada upaya peningkatan kualitas ilmunya. Tentu saja tidak ada yang salah dengan wacana itu, apalagi undang-undang menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Hanya saja, sisi lain untuk menjadikan perguruan tinggi setara dengan universitas-universitas bergengsi di luar negeri masih jarang dibahas.

Padahal, pengembangan penelitian adalah salah satu hal yang paling mendasar untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi. Riset tidak hanya mendukung pendidikan, tetapi juga pengabdian kepada masyarakat.

"Perguruan tinggi adalah tempat kelahiran dan mengembangkan ilmu-ilmu baru. Karena itu, riset menjadi keharusan," kata Prof Dr Terry Mart, lektor pada Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, pekan lalu.

Tanpa riset, ilmu yang diajarkan akan man-dek dan hakikat universitas akan terdegradasi menjadi lembaga pendidikan setingkat akademi atau bahkan SLTA. "Ilmu hanya akan sekadar ditransfer dari buku teks luar negeri, tak ubahnya produk-produk impor lain, ke­pada mahasiswa," kata Terry menambahkan.

Read more...
 
E-mail

Kompas 6 April 2011

Mencari Asal-usul Kehidupan

LAPORAN IPTEK

AGNES ARISTIARINI


Dalam Frankenstein, buku klasik karya Mary Shelley yang terbit tahun 1818, Victor Frankenstein mengumpulkan potongan-potongan mayat dan menjahitnya menjadi tubuh yang utuh. Menggunakan aliran listrik, Frankenstein berhasil menciptakan kehidupan meski kemudian menyesalinya.

Dalam kehidupan nyata, manusia memang tak henti-hentinya mencari jawaban, apakah kehidupan ini ada karena suatu kuasa atau semata-mata proses alam? Ada berbagai teori dan percobaan menyangkut asal-usul kehidupan, Dalam buku The Grand Design (2010), fisikawan Stephen Hawking bersama Leonard Mlodinow menjelaskan tentang penciptaan ini. Menurut mereka, "Tata surya dapat membentuk dirinya sendiri karena ada hukum alam, seperti gravitasi. Maka, penciptaan spontan adalah sumber adanya sesuatu dan bukan kehampaan, adanya alam semesta dan adanya kita.

Sebelum itu, para ahli biokimia sudah merumuskan berbagai teori dan menguji coba di laboratorium. Salah satu yang fenomenal ada­lah uji laboratorium yang dilakukan Stanley Miller, kandidat doktor di University of Chi­cago, Amerika Serikat, tahun 1953.

Read more...
 
E-mail

SINDO 7 April 2012

Menata Masa Depan Riset Indonesia

Pemerintah telah mendirikan 474 lembaga riset di berbagai perguruan tinggi, kementerian,dan lembaga peneiittan non-kementerian, Namun hampir seiuruhnya bekerja sendiri sendiritanpa koordinasi yang balk. Mereka saling tidak tahu apakah riset yang sedang mereka lakukan juga dilakukan lembaga riset lain.

Oleh : VITAALWINA DARAVONSKY BUSYRA

Pertengahan Maret lalu, bertempat di University of Maryland, College Park, Amerika Serikat (AS), Ikatan Imuwan lndonesia lnternasional (1-4), Permias DC, dan Indonesian American Associa­tion (IAA) didukung oleh KBRI Washington menyelenggarakan workshop dengan tema "Bridg­ing International Cooperation in Research and Education between Indonesia and USA".


Dalam workshop itu, tampil sebagai panelis antara lain Prof Dr Yohanes Surya, Prof Dr Fasli Jalal, Prof Dr Anies Baswedan, Prof Dr Nelson Tansu, dan Prof Dr Yow Pin Lim dari Indonesia. Sementara dari AS hadir President of the Association of State and Land-grant Univer­sities Dr M Peter McPherson dan dari National Science Foun­dation Prof Tom Chapman.

Read more...
 
E-mail

Kompas 30 juni 2010

Maraknya Kecerdasan Buatan


"(Mulai) dari menjawab telepon hingga memesan di restoran, kini mesin punya peran.... Ke depan, ke-cerdasan buatan bukan saja akan mengubah cara manusia dan mesin berkomunikasi dan bekerja sama, ia juga akan menghilangkan jutaan lapangan kerja (seraya) menciptakan banyak lapangan kerja baru...."

(Steve Lohr dan John Markoff, International Herald Tribune, 26-27/6)

Pada dasawarsa 1980-an, salah satu topik hangat di jagat iptek adalah kecerdasan buatan. Dengan kemajuan kecerdasan buatan, banyaklah wujud kecerdasan yang selama ini hanya diperlihatkan oleh manusia, lalu diperlihatkan oleh robot. Memegang sebutir telur tanpa pecah, yang pernah menjadi tantangan, kemudian bisa ditaklukkan. Ro­bot-robot pengganti pekerjaan rutin mekanistik bahkan sudah dimanfaatkan secara luas di pabrik otomotif atau produk-produk industri lain. Kini, robot canggih juga dipergunakan dalam peperangan. Majalah Scien­tific American edisi Juli 2010 juga memuat artikel "War of the Machines", yakni tentang robot yang kini menjadi mesin perang.

Dari perkembangannya tampak mula-mula robot ditantang untuk menirukan gerak, yang dari waktu ke waktu sernakin rumit. Berikutnya dikembangkan pula daya sensoriknya atau kemampuannya untuk mengindra, apakah itu jarak, suhu, suara, dan lainnya. Maju pula kemampuan analitiknya.

Sulit kita percayai, dialog berikut ini merupakan dialog antara seorang ibu, yang membawa anak laki-lakinya yang sakit diare, dan "seorang" asisten medik berupa sebuah komputer. Di sini bukan demo mekaniknya yang mengesankan, tetapi daya analisisnya.

Ketika tiba di depan satu klinik, si ibu mendengar sapaan dari sebuah avatar di layar komputer. "Hai, terima kasih sudah datang. Anda ke sini untuk anak Anda atau untuk Anda sendiri? Untuk anak laki-laki saya," jawab si ibu. la terserang diare.

Asisten tadi kemudian menanyakan, apa­kah ada gejala lain, termasuk demam (yang dijawab sedikit) dan nyeri di perut (dijawab si ibu "dia tidak mengeluh soal itu").

Si ibu lalu beralih ke anaknya dan bertanya, Apakah perutmu sakit, Nak? Ya, jawab sang anak. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan lain, asisten itu lalu menyatakan, "Saat ini tak ada yang perlu dicemaskan." la pun lalu membuatkan perjanjian dengan dokter untuk beberapa hari kemudian. Si ibu lalu menggandeng anaknya pergi dari tempat itu. Namun, kepalanya masih terus menoleh ke belakang. Tampaknya ia masih terkesan de­ngan pengalaman yang baru saja dialaminya. Asisten medik tadi hanya ada di layar komputer. Ucapan simpati yang ia sampaikan bernada datar dan khas suara robot. Namun, yang istimewa, ia punya kelebihan lain, yakni bisa mengerti bicara orang, mengenali kondisi kesehatan anak, dan bernalar mengikuti aturan sederhana. Dengan itu, ia bisa membuat diagnosis awal mengenai sakit anak-anak dan tingkat keseriusannya. (Dari laporan Steve Lohr dan John Markoff, In­ternational Herald Tribune,, 26-27/6, yang dikutip di atas).

Read more...
 


Page 6 of 11

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 75
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125241
Dialog_Peradaban.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC