.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kompas  rabu 16 juni  2010

      Teknologi SBY, dan Obama

      Oleh ARY MOCHTAR PEDJU


      Pada 20 Januari 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato di depan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan masyarakat Ilmiah di Puspiptek, Serpong.

      Namun, pidato ini kurang disambut antusias oleh media walaupun terasa penting. Tidak antusiasnya media mungkin karena topiknya "hanya" tentang teknologi dan pendidikan. Terasa penting karena Presiden AS Obama ikut menyambut, dibacakan duta besarnya.

      Diawali dengan mengilustrasikan majunya peradaban Islam pada abad pertengahan karena penguasaan, kemampuan, dan pengembangan iptek yang dilengkapi beberapa contoh hasil temuan, SBY mengungkapkan satu keyakinan: arus sejarah yang dahsyat akan mewarnai abad ke-21 dengan perubahan yang terutama digerakkan kedigdayaan teknologi. Dalam iklim politik galau sekarang, pemikiran tentang peradaban manusia dengan martabatnya seperti di atas tentu menyejukkan. Perkataan "per­adaban" diucapkan Presiden hingga 10 kali dan "inovasi" 22 kali.

      Kotak hitam

      "Sistem teknologi memang kompleks dan runyam (messy) serta mengandung komponen pemecah masalah (problem-sol­ving component) yang pelik. Tek­nologi tercipta secara sdsial oleh masyarakat, tetapi juga membentuk masyarakat (socially constru­cted and society shaping)" (Tho­mas Hughes)

      Teori sosiologi-teknologi ini mungkin dapat menjelaskan kegerahan banyak orang tentang tingkat penguasaan teknologi kita hingga ada cendekiawan yang menulis "kertas tidak ditemukan di Indonesia segala jenis mesin juga bukan made in Indonesia minyak bumi dan mineral me­mang banyak ditemukan di dalam perut bumi Indonesia, tetapi teknologi, modal, dan tenaga kerja terdidiknya berasal dari luar Indonesia. Indonesia hanya penyedia, sementaf a yang lain pemerah dan pemerasnya" (Koran Tempo 20/11/2009).

      Kotak hitam (black box) sistern teknologi mulai dibuka profesor ekonomi Universitas Stan­ford, AS, Rosenberg, awal dekade 1980-an, tetapi masih terbatas kajian ekonomi (Inside The Black Box: Technology and Economics, teknologi antar-industri (inter-in­dustry flow of technology). Juga diteliti bagaimana proses terjadinya serbuan'inovasi masif melalui satuan-satuan kecil: material komponen alat, pada pembangunan gedung, pembangkit listrik, hingga teknologi tinggi pada pembuatan pesawat terbang. Ini penting bagi perencanaan kebijakan inovasi nasional.

      Kajian sosial-lanjut

      Pada periode yang sama, 1982, profesor fisika Universitas Ca­lifornia, Berkeley, Fritjof Capra, ikut membuka black box dan menyimpulkan teknologi telah berkembang jadi anti-ekologi, anti-sosial, tidak sehat, dan tidak manusiawi seterusnya ia katakan, teknologi telah disederhanakan sebagai capaian terbatas fisik dan meninggalkan berbagai aspek relevan, seperti psikologi, sosial, riset perilaku, apalagi filsafat dan sastra. Namun, pada tengah hing­ga akhir 1980-an, lahir ilmu sosi­ologi-teknologi mutakhir yang didukung pengembangan ilmu sejarah-teknologi dan ilmu antropologi-teknologi (The Social Construction of Technological Systems/SCOT, 1989). Para ilmu-wan bidang ini termasuk Thomas Hughes, Donald Mackenzie, Mi­chael Fischer, Wiebe Bijker, dan Trevor Pinch (beberapa pernah ke Indonesia diundang ITB).

      Mereka mempelajari bagai­mana sebuah teknologi bisa berhasil atau gagal di masyarakat. Diteliti bagaimana insinyur bersama ahli lain bekerja tahap demi tahap untuk menghasilkan artifak fisik sebuah proyek/produk sekaligus proses-proses sosial yang mengiringinya "di luar sana". Proses sosial dapat menggagalkan penguasaan teknologi.

      Contohnya, tak semua kelompok sosial termasuk politik, bisnis di dalam dan di luar negeri mengharapkan Indonesia sukses menguasai berbagai teknologi kedirgantaraan, nuklir, energi hemat, otomotif, obat murah, atau pertahanan. Kita juga masih ingat kasus teknologi ICT untuk pedesaan ciptaan Onno Poerbo yang mendapat perlawanan.

      Tindakan penghadangan (re­verse salient) dapat terjadi pada setiap tahap proses teknologi dan tidak mudah terdeteksi. SCOT memberi kesadaran untuk mengatasi reverse salient.

      Jadi, investasi pembangunan infrastruktur yang ditargetkan pemerintah Rp 1.500 triliun pada 2015 perlu disikapi dengan semangat ilmiah inovatif, terutama oleh Universitas. Jembatan, pem­bangkit listrik, penjernihan air, nikasi, pelabuhan, memiliki variasi teknologi dari sederhana hing­ga supercanggih. Tergantung lokasi proyek dan prioritas pilihan, Universitas 'dapat menentukan sendiri tahap mana saja yang strategis untuk dikaji sejak seka­rang

      Amerika Serikat yang dipimpin Obama saat ini dipercaya berada di posisi terdepan bukan saja dalam kecerdasan membuka kotak hitam teknologi, tetapi juga mengelola dan mengolah pengetahuan itu jadi program-program akademik modern di universitas. Universitas kita membutuhkan pengalaman Amerika dalam hal kajian dan penelitian tentang hubungan teknologi, masyarakat industri, dan pemerintah. Mahasiswa kita perlu diberi kesempatan dan wadah belajar, meneliti, dan mengkaji persoalan kompleks teknologi dengan konteks Indo­nesia.

      Calon-calon pemimpin parpol dan birokrat yang akan berprofesi di DPRD, Bappeda, kantor bupati wali kota gubernur di seluruh Indonesia, apalagi di pusat, perlu dibekali kemampuan memecahkan masalah melalui "tema ganda lintas disiplin Misalnya Energi Lingkungan Kebi jakan Riset Teknologi Kebijakan Pengembangan Industri Hukum Teknologi Kebijakan Publik Kultur dan Implikasi Proyek Besar. Topiknya Inovasi Biomedik, Sains Material dan Engine­ering, Entrepeneurship, Real Es­tate, dan lainnya yang diperlukan masyarakat industri.

      Mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan berada di garis prioritas terdepan. Mereka harus sanggup membuat matematika, fisika, dan sains lain menjadi lunak dan tidak ditakuti seperti sekarang. Lebih penting lagi murid usia muda harus dimotivasi dengan mengenal kultur scientific bangsa lain melalui ilmu sejarah sains dan teknologi. Sebagai ilustrasi, pusat kajian se­jarah Universitas Stuttgart, Jerman, sekarang (2009) meneliti sejarah abad ke-19 dan ke-20 de­ngan tekanan pada peranan sains fisika modern dan teknologi.

      Kita lihat juga India, bekas koloni Inggris, dan China yang komunis    menilai universitas Amerika. Sejak tahun 2001, junilah mahasiswa India di Amerika rata-rata 80.000 per tahun dan China 60.000 (When China Rules The World, 2009)! Mereka tahu universitas di Amerika dijuluki "mesin pencetak hadiah Nobel".

      ARY MOCHTAR PEDJU

      Anggota AIPI dan Majelis

      Kehormatan Persatuan Insinyur

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 1682 clicks
      • Average hits: 18.5 clicks / month
      • Number of words: 3179
      • Number of characters: 26408
      • Created 7 years and 7 months ago at Thursday, 26 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 80
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125285
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC