.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Media Indonesia 13 MEI 2008

       

      Intelektual Organik

      ADA dua jenis orang yang konon mampu mengubah dunia, keduanya merupakan tipe manusia pikir, yakni nabi dan filsuf. Bukan seorang politikus atau juga bukan seorang jenderal. Semua perubahan yang ada di dunia ini berawal dari sebuah pola pikir. Yang mampu melakukan gerakan semacam itu hanya nabi dan filsuf.

      Manusia tidak bisa mencapai puncak peradaban seperti sekarang ini bila tidak ada dua jenis manusia tersebut. Mereka tak henti-hentinya berimajinasi, berselancar dengan cakrawala maha-abstrak bernama akal untuk menata dunia yang dititipkan Sang Pencipta.

      Tipe manusia semacam itulah yang banyak berjasa bagi kehidupan manusia. Wajar manakala mereka memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam tatanan masyarakat dunia. Sebut saja misalnya Nabi Muhammad dan Isa Al-Masih dengan jutaan umat yang mengaguminya.

      Mereka bak kreator dunia. Wa­jar jika di kemudian hari Michael H Hart dalam bukunya, Seratus Orang Tokoh Berpengaruh di Dunia (1985), memasukkan para pemikir itu dalam deretan teratas. Bahkan Muhammad menduduki peringkat pertama.

      Apa gerangan yang membuat mereka begitu dikagumi dunia. Tidak lain dan tidak buhan adalah karena tajamnya kritisisme yang mereka miliki dalam memandang realitas. Sosok semacam ini disebut dengan intelektual organik, yakni seorang intelektual yang tak pernah berhenti dalam mewacanakan perabahan dalam setiap ketimpangan sosial.

       

      Mereka tidak pernah mengkhianati diri sendiri. Selalu peduli dan tanggap serta berani menyuarakan hak-hak kaum tertindas sehingga mampu mendekonstruksi budaya lama dan direkonstruksi dengan budaya baru yang lebih baik. Lihat betapa berhasilnya Muhammad mengganti bu­daya jahiliah dengan peradaban Kota Madinah.

      Namun, karena kering dari aktivitas pemikir, Indonesia masih harus berjalan lebih jauh untuk membangun peradaban. Belum lagi ditambah rendahnya sumber daya manusia Indonesia.

      Dunia mengakui bahwa Indo­nesia memiliki potensi tinggi menjadi bangsa yang besar de­ngan kekayaan alamnya. Namun, masih harus terlebih dahulu melahirkan para intelektual organik. Lahirnya intelektual organik amat dinanti-nanti bangsa. Itu bermula dari kampus karena di sana prosesi pendidikan berpusat.

      M Abdullah Badri/T-1


       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:36  

      Items details

      • Hits: 1144 clicks
      • Average hits: 14.1 clicks / month
      • Number of words: 766
      • Number of characters: 6219
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 142
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091308
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC