.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ideologi & Konsep
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

SENIN, 14 DESEMBER2009 MEDIA INDONESIA

Pendidikan Berbasis Karakter

Oleh Aan Hasanah

Pengamat pendidikan dan dosen UIN Bandung

BERBAGAI fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan, tetapi buta pada keadilan.

Sepertinya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan. Apakah pendidikan telah kehilangan sebagian fungsi utamanya? Berkaca pada kondisi ini, sudah sepantasnya jika kita bertanya secara kritis, inikah hasil dari proses pendidikan yang seharusnya menjadi alat transformasi nilai-nilai luhur peradaban? Jangan-jangan pendidikan telah teredusir menjadi alat yang secara mekanik hanya menciptakan anak didik yang pintar menguasai bahan ajar untuk sekedar lulus ujian nasional. Kalau betul begitu, pendidikan sedang memperlihatkan sisi gelapnya.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:21 Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

MEDIA INDONESIA, 22 JUNI 2009

CALAKEDU

Pendidikan Damai

SEORANG peserta asal Nigeria bertanya kepada publik seminar forum tentang pendidikan damai di Aceh yang diselenggarakan Hiroshima University, 12 Juni lalu. "Has and how peacebuilding process through education contributed to the peace dividend in Aceh?" Sebuah pertanyaan yang menantang sekaligus agak sulit dijawab dalam konteks perdamaian di Aceh secara keseluruhan. Tetapi Edu memberi keyakinan kepada penanya tersebut dengan memberinya gambaran tentang visi dan misi sekolah, termasuk praktik budaya sekolah (school culture) yang sudah berjalan sejauh ini.

Dengan mengedepankan pembentukan lingkungan pendidikan yang positif, Sekolah Sukma Bangsa sesungguhnya sedang berusaha mencari model pendekatan yang possible sekaligus prob­able untuk mendidik anak-anak korban konflik sekaligus korban tsunami. Dan secara integratif Edu memercayai pendekatan Willam De Jong dari Harvard School of Public Health, yang mengatakan bahwa the best school-based violence prevention programs seek to do more than reach the individual child. They instead try to change the total school environment, to create a safe community that lives by a credo of non-violence.

Dengan praktik tak ada kekerasan di sekolah, baik guru maupun siswa harus berusaha menghindarkan diri dari kebiasaan buruk berlaku kasar pada saat mengajar maupun di lingkungan sekolah lainnya. Kredo tentang asas nir-kekerasan ini merupakan disiplin serius yang ingin ditegakkan oleh Sekolah Sukma Bangsa mengingat masa lalu dan kondisi psikologis anak-anak di Aceh yang mengalami trauma konflik dan tsunami. Dari sekolah inilah kemudian manajemen sekolah menebarkan kredo non-violence ke masyarakat Aceh secara luas, dari mulut ke mulut terutama melalui penuturan berbasis pengalaman anak-anak di sekolah.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:23 Read more...
 
E-mail

SENIN, 5 OKTOBER 2009 MEDIA INDONESIA

PENDIDIKAN DARURAT PASCA GEMPA :

Prinsip Strategi dan Cakupan

Oleh Ahmad Baedowi

Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

INDONESIA kembali berduka. Rabu, tanggal 30 Septem­ber 2009, bumi Andalas Sumatra Barat kembali diguncang gempa tektonikberkekuatan 7,6 skala Richter yang menyebabkan hampir seluruh bangunan bertingkat dan rumah di Padang dan Pariaman roboh dan luluh lantak. Meski tak disusul tsunami sebagaimana di Aceh, jika dilihat dari tingkat kerusakan fisiknya jelas masyarakat Minang mengalami trauma yang luar biasa hebat. Ini terlihat dari begitu banyaknya masyarakat yang enggan untuk tinggal di dalam rumah mereka yang masih tersisa, tetapi lebih banyak yang membuat tenda-tenda darurat di halaman-halaman rumah mereka yang masih tersedia.

Dalam empat hingga lima hari belakangan konsentrasi seluruh unsur kekuatan masyarakat masih terfokus pada penanganan korban yang masih terimpit reruntuhan bangunan. Kita amat prihatin karena di antara sekian banyak jumlah korban, ternyata ada satu gedung lembaga pendidikan yang hingga kini evakuasi korban yang sebagian besar adalah anak-anak sekolah masih belum terselesaikan. Karena itu tidak ada salahnya jika kita mulai menyiapkan perangkat lunak dan keras (software dan hardware) bagi upaya penanggulangan pendidikan untuk semua level pascagempa yang hebat tersebut.

Last Updated on Saturday, 03 March 2012 07:51 Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

SENIN, 28 SEPTEMBER 2009 MEDIA INDONESIA

UU BHP dan Prospek Pengelolaan Pendidikan Tinggi


Oleh Tatang Muttaqin

Alumnus Curtin University-Australia

Staf Direktorat Agama dan Pendidikan Bappenas

DAYA saing nasional sangat ditentukan oleh kemampuan mengem-bangkan ilmu pengetahuan, melakukan inovasi teknologi, dan mendorong program penelitian dan pengernbangan untuk melahirkan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan tinggi menempati posisi sangat penting dan strategis karena berperan dalam (1) melahirkan tenaga kerja terlatih, kompetitif, dan profesional, (2) mengembangkan iptek sebagai instrumen pokok di era globalisasi ekonomi, dan (3) meningkatkan kemampuan mengakses perkembangan ilmu pengetahuan di tingkat global dan mengadaptasinya menurut konteks lokal (World Bank 2002).

Menurut World Competitiveness Report, berdasarkan growth competitiveness index (GCI) yang mencakup tiga indikator (teknolo­gi, lembaga-lembaga publik, dan lingkungan makroekonomi), posisi Indonesia bertengger di peringkat ke-69 pada 2004 dan membaik di 2007 menjadi peringkat ke-54. Malaysia semakin menanjak dari nomor 31 pada 2004 menjadi nomor 21 pada 2007. Merujuk laporan yang sama, berdasarkan business com­petitiveness index (BCI) yang mencakup dua indikator (strategi dan operasi perusahaan serta lingkungan bisnis nasional), menempatkan Indonesia pada urutan ke-19 di antara negara-negara anggota APEC, jauh di bawah Singapura yang berada di posisi ke-2, Taiwan ke-6, Korea Selatan ke-9, dan Malaysia ke-10. Semen tara itu, Thailand menempati urutan ke-11, China ke-13, Vietnam ke-16, dan Filipina ke-17.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:21 Read more...
 


Page 3 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 91
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125133
DSCF8794.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC