.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ideologi & Konsep
E-mail

KOMPAS, 14 JULI 2009

Dokumentasi Hasil Penelitian Diabaikan

JAKARTA, KOMPAS - Pencatatan yang sistematis terhadap peneliti di Indonesia, baik berupa karya-karya ilmiah, identifikasi personal, maupun pergerakan personalnya ke luar negeri, masih diabaikan. Pemerintah tidak mampu menangani dunia penelitian karena tidak menempatkan penelitian sebagai hal penting.

"Mind set atau pola pikir menempatkan penelitian guna mencari bukti dan kebenaran belum tumbuh," kata Jossy P Moeis, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, Senin (13/7) di Jakarta. Ia menanggapi pernyataan Direktur Kelembagaan Departemen Pendidikan Nasional, Hendarman yang menyebut 600 peneliti Indonesia memilih bekerja di luar negeri. (Kompas, 13/7).

Hasil penelitian tidak digunakan untuk perbaikan pada masa depan, baik dari sisi kebijakan maupun sistem. Menumt Jossy, ketiadaan pola pikir menghargai pentingnya penelitian tersebut merembet pada kurangnya penyediaan dana, fasilitas, dan insentif untuk peneliti. Fasilitas dasar untuk pencarian literatur dan data, misalnya, sangat terbatas. Secara terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas, Fasli Jalal mengatakan, peneliti-peneliti Indonesia yang berada di luar negeri dan tidak kembali lagi untuk kurun waktu lama karena tahu apa yang hendak dilakukan dalam bidang penelitiannya di negara tersebut.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 13:11 Read more...
 
E-mail

KORAN TEMPO, 14 NOVEMBER 2011

Anti Ilmu Pengetahuan

Di Indonesia, kegiatan riset atau pengembangan sumber daya manusia juga belum dikelompokkan dalam sistem akuntansinya sebagai kegiatan investasi. Ketertinggalan ini tentu dimulai dari sikap yang bersifat anti ilmu pengetahuan, budaya yang sangat merugikan.

Kemunduran suatu bangsa dimulai dengan membudayanya sikap atau nilai anti ilmu pengetahuan. Apakah kita memiliki sikap atau nilai anti ilmu pengetahuan itu? Apa ukurannya? Sebagai ilustrasi saja, ki­ta dapat membuat imajinasi kondisi masyarakat yang menghakimi Copernicus atau Galileo, karena sikapnya yang berbeda dengan otoritas kekuasaan pada waktu itu. Ibnu Rusdi atau Averroes juga menunjukkan bagaimana kemajuan ilmu kedokteran akan terhambat oleh tidak dibolehkannya melakukan bedah mayat. "Jangan banyak tanya!" Hardikan orangtua kepada anaknya semacam ini juga berperan dalam membentuk sikap tidak kritis anak-anak tersebut di kemudian hari.

Alam raya menyimpan semua rahasia ilmu Tuhan. Kemudian kaum ilmuwan membuka satu per satu, tahap per tahap rahasia-rahasia tersebut, yang kemudian menyimpannya dalam bentuk buku-buku atau artefak sejarah, misalnya Candi Borobudur. Wujud penyimpanan ilmu pe­ngetahuan yang berkembang pada akhir abad ke-20 adalah perangkat lunak (software) komputer dan organisme hasil rekayasa genetik. Dalam konteks ini, sejarah mencatat bahwa penghancuran Perpustakaan Alexandria di Mesir, peninggalan hebat dari Alexander the Great, telah sempat menghancurkan peradaban yang mencapai hampir satu milenium untuk kembali pulih,

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 13:10 Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

KORAN TEMPO JUMAT, 31 JULI 2009

Rapor Pendidikan dan Menteri Pendidikan Baru

Ade Irawan, aktivis indonesia corruption watch dan koalisi pendidikan

Kontroversi mewarnai penunjukan Bambang Sudibyo sebagai Mente­ri Pendidikan Nasional periode 2004-2009. Latar belakang seba­gai mantan Menteri Keuangan dan ekonom membuat kemampuannya dalam mengurus pendidikan diragukan sekaligus memperlihatkan bahwa kompromi politik mengalahkan kepentingan pendi­dikan.

Walau tidak langsung mengganti kurikulum, Bambang Sudibyo membuat rangkaian "blunder" dalam beberapa bulan menjadi Menteri Pendidikan. Mulai bantahan telah menyatakan akan menghapus ujian akhir nasional ketika bertemu dengan Koalisi Pendidikan, mengusulkan sekolah berdasarkan status sosial dan kemampuan akademis, serta me­nyatakan penyebar draf rencana strategis pendidikan sebagai pembocor rahasia negara.

Secara umum, kinerja lima tahun Bambang Sudibyo bersama Departemen Pendidik­an Nasional dapat diukur berdasarkan pencapaian atas tiga prioritas kebijakan yang ditetapkan dalam rencana strategis pendidikan 2005-2009. Pertama, pemerataan dan perluasan akses pendidikan. Kedua, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing keluaran pendidikan. Ketiga, peningkatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pengelolaan pen­didikan.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:21 Read more...
 
E-mail

SENIN, 29 JUNI 2009 MEDIA INDONESIA

Pemerataan dan Akses Peningkatan Mutu Pendidikan

Oleh Prof Dr Husni Rahiem

Guru Besar pada Program Pascasarjana UIN, Jakarta

Bagian pertama dari dua tulisan

SAAT ini kita dihadapkan pada realitas bahwa mutu pendidikan kita tercatat paling lemah jika dibandingkan de-ngan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Parame­ter umum yang sering digunakan orang untuk melihat mutu pendidikan seperti HDI (human development index) Indonesia yang masih berada di peringkat 107, hanya satu tingkat di atas Laos. Prestasi siswa-siswi kita dalam matematika, sains, dan membaca dapat kita telusuri dari laporan TIMSS (Trends in Mathematic and Science Study) dan PISA (Programme for International Student Assess­ment). TIMSS adalah suatu program kajian untuk melihat penguasaan atau prestasi sains dan matematika siswa-siswi kelas 8 yang dirancang oleh IEA (International Association of Educational Achievement). Laporan TIMSS itu menyebutkan hasil atau prestasi siswa-siswi Indonesia dalam sains dan matematika masih di bawah standar average score TIMSS (500). Dalam bidang studi matematika, siswa-siswi Indonesia memperoleh skor 307. Adapun rekan-rekan mereka dari Singapura, Malaysia, Thailand masing-masing mendapat skor 593, 474,444. Juga Siswa-siswi Indo­nesia memperoleh skor 427 dalam sain, dibawah hasil rekan-rekan mereka dari Singa­pura yang mem­peroleh skor 567, Malaysia 471, dan Thailand 471 (Wil­liam et all, 2008:17-33).

Indonesia termasuk peserta PISA yaitu pro­gram OECD diselenggarakan tiga tahun sekali untuk siswa berusia 15 tahun. PISA melakukan assessment terhadap pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan di masyarakat pasca studi. Adapun fokus PISA adalah kompetensi (penguasaan) da­lam membaca, matematika, dan sains. PISA tidak hanya mengevaluasi kemampuan siswa mereproduk siapa yang telah dipelajari, juga menguji seberapa ke­mampuan siswa melakukan ekstrapolasi dari apa yang dipelajari dan menerapkan pengetahuan dalam setting baru, menghubungkan konteks sekolah dan luar sekolah. Fokus PISA 2006 pada penguasaan sains, yaitu memahami konsep dan teori dasar ilmiah serta kemampuan membangun dan memecahkan persoalan ilmiah. Fokus ini dimulai dengan bingkai atau konsep literasi yaitu kemampuan siswa mengekstrapolasi dari yang dipelajari dan menerapkannya da­lam situasi baru, kemampuan siswa menganalisis, berpikir (membuat alasan) dan berkomunikasi secara efektif, memecahkan masalah dan menafsirkan problema dalam situasi yang beragam. Berdasarkan tes PISA 2006, siswa-siswi Indonesia baru mencapai skor 393, sedangkari standar skor minimal 500
(OECD, 2007).

Last Updated on Saturday, 03 March 2012 08:08 Read more...
 


Page 2 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 113
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124769
DSCF8803.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC