.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ideologi & Konsep
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, SENIN, 28 DESEMBER 2009

Minimbang Eksistensi Pendidikan Terpadu

Oleh Khoiruddin Bashori

Pengamat dan Psikolog Pendidikan, tinggal di Yogyakarta

KEMAJUAN sains dan teknologi semakin membuka lebar rahasia alam semesta. Komunikasi semakin mendekatkan pemahaman dan saling pengertian antar berbagai kebudayaan, tata nilai, dan norma kehidupan manusia. Akan tetapi, sebaliknya, gerak kemajuan dan modernisasi rupanya juga membawa serta limbah peradaban yang dapat mencemari akhlak dan perilaku mulia manusia. Artinya bahwa kemajuan teknologi ternyata juga sarat beban pergeseran tata nilai yang dapat menjerumuskan.

Kompleksitas permasalahan dunia modern, bagi banyak orang, justru membawa konsekuensi meningkatnya kesulitan dalam adaptasi ke­hidupan keseharian orang per orang. Akibatnya muncul fenomena kebingungan, ketegangan, kecemasan, dan konflik-konflik yang berkembang begitu rupa, sehingga menyebabkan orang mengembangkan pola perilaku yang menyimpang dari norma-norma umum, berbuat semaunya sendiri, dan mengganggu orang lain.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:50 Read more...
 
E-mail

 

SEPUTAR INDONESIA, 11 MEI 2009

Menggagas Peningkatan Mutu Pendidikan


DR Syahril Chaniago

Staf Departemen Pendidikan Nasional

Perkembangan kebijakan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari sejarah berdirinya pendidikan di Indonesia. Pada 1607 VOC mendirikan sekolah pertama di Ambon dan pada 1940 jumlah anak pribumi yang memasuki sekolah mencapai 2.200.000 orang. Namun, saat pemerintahan Jepang memegang kendali, jumlah anak Indonesia yang berusia sekolah, kemudian mengikuti pendidikan kiansedikit. Ditambah lagi mutu pendidikan yang tersedia juga makin merosot. Tentu, pada zaman kemerdekaan semangat pemerintah dan rakyat masih sangat tinggi untuk membangun pendidikan, namun potensi dan kemampuan terbatas, sehingga pendidikan dilaksanakan tanpa komitmen mutu. Pada gilirannya, hal ini terlihat pada prog­ram Wajib Belajar 6 Tahun dan Wa­jib Belajar 9 Tahun yang masih mengabaikan mutu pendidikan karena masih menitik beratkan pada pertumbuhan kuantitatif.

Setelah sukses melaksanakan program Wajib Belajar 6 Tahun dengan pencapaian angka partisipasi kasar (APK) yang tinggi, pen­capaian APK untuk SLIP yang sudah mencapai angkat 74% terpaksa melorot, demikian juga dalam hal mutu yang makin melorot. Mu­tu pendidikan di Indonesia sangat tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, bahkanThailand.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:49 Read more...
 
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, SENIN, 2 NOVEMBER 2009

Mencari Rumusan Peningkatan Mutu Pendidikan


Oleh Qaimah Umar

Guru Sekolah Dasar Negeri Harapan Baru IV, Bekasi

PERSPEKTIF tentang rumusan mutu pendidikan yang akan saya bahas dalam artikel ini sesungguhnya berangkat dari best practice yang saya alami selama 17 tahun masa pengabdian sebagai guru. Memang sangat sulit untuk mengurai dari mana persoalan peningkatan mutu pendidikan itu harus kita mulai. Apalagi jika mutu pendidikan itu dibebankan secara praksis kepada setiap sekolah, pandangan tentang mutu tentulah sangat beragam karena lokasi dan situasi setiap sekolah sangat berbeda. Sekolah tertentu akan berasumsi bahwa persoalan mutu pendidikan harus dimulai dari guru. Sekolah lain beranggapan persoalan mutu harus dimulai dari input, baik siswa maupun gurunya. Selain itu, yang paling seragam dalam jawaban adalah persoalan dana, bujet, dan atau pembiayaan sekolah yang harus dibenahi terlebih dahulu jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Persyaratan mutu pendidikan (sekolah)

Berdasarkan pengamalan mengajar dan bacaan yang saya peroleh, untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan, kita harus memperhatikan beberapa unsur penting pada internal sekolah itu sendiri. Beberapa kajian tentang effective schools atau excellent school, Samomons et all (1995) menyebutkan bebera­pa persyaratan atau kondisi yang diperlukan untuk suatu sekolah bermutu, yaitu (a) kepemimpinan profesional seorang kepala sekolah terutama menyangkut peran yang dimainkan, gaya kepemimpinan, pemahaman dan kemampuan menerjemahkan visi, nilai dan tujuan seko­lah dalam program atau aksi serta responsif terhadap perubahan. Kepemimpinan efektif seorang kepala sekolah, dalam pandangan saya, dicirikan dengan keandalan dalam menata organisasi sekolah, berorientasi diri pada tujuan, memiliki sikap dan prilaku demokratis yang dicerminkan dalam penerapan pendekatan partisipatoris dalam pengambilan keputusan untuk program sekolah.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:33 Read more...
 
E-mail

 

PIKIRAN RAKYAT, MEI

Membangkitkan Roh Pendidikan

Oleh KISUPRIYOKO

TIDAK ada bangsa yang bangkit dari keterpurukan kalau pendidikannya "melempem". Filosofi ini perlu ditanamkan bagi bangsa In­donesia umumnya dan pimpinan partai politik pada khususnya, yang notabene sedang asyik menimang calon presiden dan wakil presiden menghadapi pemilu, beberapa bulan ke depan. Hal ini penting karena jalannya roda pendidikan kita masih terseok-seok, dan ada beberapa faset yang hilang.

Ada ilustrasi empiris yang pernah sa­ya alami. Bersama seorang sahabat asli Jepang yang berprofesi sebagai dosen di Showa University, Tokyo, saya menghabiskan waktu sight seeing di Tokyo. Ketika turun dari kereta api di Stasiun Shinjuku, sahabat tersebut membungkukkan badan hampir 90 derajat sebagai penghormatan kepada seseorang yang berpapasan dengannya. Ketika saya tanyakan siapa orang itu, dia menjawab orang tersebut adalah guru dari anaknya di SD.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:27 Read more...
 


Page 9 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 122
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125311
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC