.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ideologi & Konsep
E-mail

 

KOMPAS, 6 Juli 2009

 

Pendidikan Vokasi

Oleh SJAMSOE'OED SADJAD


Tampaknya istilah vokasi digunakan untuk program pendidikan menggantikan istilah profesional atau profesi:

Istilah vokasi mungkin diturunkan dari bahasa Inggris, vo­cation, sama artinya dengan pro­fession. Di AS, vokasi digunakan untuk menyebut pengelompokan sekolah kejuruan seperti di sini. Sistem pendidikan tinggi di In­donesia dipilah untuk akademik dan profesional atau vokasi.

Dari tingkatan S-l sampai S-3, arahan akademik di perguruan tinggi di negeri ini lebih mapan, meluluskan jenjang sarjana, magister, dan doktor. Program pasca sarjana untuk berbagai bidang ilmu telah berkembang lama. Sebaliknya untuk vokasi uniumnya masih pantok sampai tingkatan D-3 dan amat jarang yang menyelenggarakan program D-4, apalagi program pasca profesional atau pascavokasi. Padahal, untuk jenjang itu terbuka.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 09:14 Read more...
 
E-mail

 

Seputar Indonesia, 30 Oktober 2009

PendidikanTinggi dan Daya Saing Bangsa

Priyo Suproyo

Rektor Institut TeknologiSepuluh November November (ITS), Surabaya.

Dalam rangka menghadapi era global, "keunggulan kompetitif" suatu negara terhadap negara lain menjadi faktor penentu agar mampu bertahan, berperan, dan bersaing. Globalisasi adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Dengan dimulai dari globalisasi di tingkat regional Masyarakat   Ekonomi   ASEAN (MEA) pada 2015 antaralndonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, lalu berlanjut hingga antarblok perekonomian dunia (MEE, AFTA, NAFTA, MEA), maka dampak glo­balisasi memacu lembaga pendidikan tinggi untuk meningkatkan kualifikasinya. Salah satu sarana tujuan peningkatan keunggulan kompetitif tersebut adalah diluncurkannya Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (14) pada 26 Oktober lalu di Jakarta.

Makna Daya Saing

Erase "keunggulankompetitif" tersebut bisa kita terjemahkan dalam duahal. Pertama, memenuhi kebutuhan diri sendiri (tidak tergantung kepada negara lain). Kedua, mampu berkompetisi dalam memenuhi kebutuhan negara dan bangsa lain. Keunggulan kompe­titif pertama itu kita sebut selanjutnya sebagai "kemandirian", sedangkan keunggulan kompetitif kedua kita sebut selanjutnya se­bagai "kemandragunaan".

Baik kemandirian maupun kecerdikan sangat diperlukan dalam membangun daya saing suatu bangsa. Suatu bangsa akanberdaya saing tinggi bila bangsa tersebut mandiri, baik secara ekonomi mau­pun budaya. Artinya, segala pemenuhan kebutuhan ekonominya mampu dipenuhi oleh sumber-sumber ekonominya sendiri. Demikian juga budayanya di mana bangsa tersebut menganut budaya-budaya berdasarkan nilai-nilai anutan (guiding value) yang tidaf terinfiltrasi budaya negatif asing.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 09:13 Read more...
 
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, SENIN, 11 JANUARI 2010

 

Pendidikan sebagai Medium Enkulturasi

Oleh Amich Alhumami

Peneliti Sosial, Department of Anthropology University of Sussex, United Kingdom

MASYARAKAT adalah suatu kumpulan individu yang memiliki karakteristik khas dengan aneka ragam etnik, ras, budaya, dan agama. Setiap kelompok masyarakat mempunyai pola hidup berlainan, bahkan orientasi dalam menjalani kehidupan pun tidak sama. Sebagai suatu unit sosial, setiap kelompok masyarakat saling berinteraksi yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. Dalam proses interaksi itu, setiap kelompok masyarakat saling mempelajari, menyerap, dan mengadopsi budaya kelompok masyarakat lain yang kemudian melahirkan sintesis budaya baru. Dalam kajian antropologi, ada tiga istilah untuk menjelaskan peristiwa interaksi sosial budaya, yakni sosialisasi, akulturasi, dan enkulturasi. Ketiganya saling terkait, namun masih tetap bisa dibe-dakan antara satu dan yang lain.

Para ahli antropologi mengemukakan, sosial­isasi adalah suatu proses sosial melalui mana manusia sebagai suatu organisme yang hidup dengan manusia lain membangun suatu jalinan sosial dan berinteraksi satu sama lain, untuk belajar memainkan peran dan menjalankan fungsi, serta mengembangkan relasi sosial di dalam masyarakat. Rumusan singkatnya adalah, "Socialization implicates those interactive processes through which one learns to be an actor, to engage in interaction, to occupy statues, to act roles, and to forge social relationships in community life" (Peter-Poole 2002). Akulturasi adalah suatu proses perubahan budaya yang lahir melalui relasi sosial antar kelompok masyarakat, yang ditandai oleh penyerapan dan pengadopsian suatu kebudayaan baru, yang berkonsekuensi hilangnya kekhasan kebudayaan lama. Penjelasan umumnya adalah, "Cultural change brought by contact between people with different cultures indicated by the loss of tradi­tional culture when members of small-scale cultures adopt elements of global-scale cultures " Qohn Bodley 1994). Enkulturasi adalah suatu proses sosial melalui mana manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya refleksi dan inteligensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan, dan kebudayaan sekelompok manusia lain. Definisi sederhananya adalah, "' Enculturation refers to the process of learning a culture consisting in socially distributed and shared knowledge manifested in those perceptions, under­standings, feelings, intentions, and orientations that inform and shape the imagination and pragmatics of social life" (Peter-Poole, 2002).

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:27 Read more...
 
E-mail

 

Republika, 11 juli 2009

 

Pendidikan Rusia: Sebuah Alternatif

M Aji Surya dan Khoirul Rosyadi

Alumnus Ul dan mahasiswa S3 Sosiologi RUDN Moskow

Tidak dapat dibantah bahwa setiap beasiswa yang diberikan oleh sebuah negara tertentu kepada mahasiswa negara-negara berkembang, seperti Indonesia, memiliki muatan ideologis di belakangnya. Harapannya, setelah lulus dan kembali ke masing-masing negaranya, mereka menjadi penyambung kepentingan negara yang memberikan beasiswa. Inilah model investasi rahasia yang sudah sangat dimaklumi semua kalangan.

Lewat pengetahuan yang mereka terima, diharapkan para mahasiswa yang memperoleh 'pencerahan' dan paradigma tertentu dimaksud kemudian memberi warna tertentu terhadap perkembangan negaranya. Mereka kemudian menjadi 'lidah' penyambung kepentingan ideologi negara sang pemberi beasiswa.

Dalam konteks itulah, mengapa pada zaman kekuasaan Orde Lama (1950-an) terdapat ribuan mahasis­wa Indonesia yang memperoleh bea­siswa untuk belajar di Uni Soviet (Rusia). Namun, begitu Indonesia mengalami perubahan orientasi ide­ologis di masa Orde Baru, kerja sama pendidikan dengan negara komunis itu tinggal kenangan dan para alumninya tercampakkan dengan cap eks mahid. Sebaliknya, di sekitar tahun 1970-an, merunyaklah mahasiswa Indonesia yang belajar ke Amerika. Untuk yang disebut terakhir itu, bahkan hingga kini para alumninya banyak yang memiliki peran penting dalam pembangunan; ekonomi, pen­didikan, politik, teknologi, hingga kebudayaan bangsa Indonesia. Itu­lah mengapa sampai saat ini model pembangunan Indonesia lebih condong kepada Amerika; positivistik, pragmatis, dan kapitalistik.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 09:09 Read more...
 


Page 7 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 118
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124431
DSCF8803.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC