.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ideologi & Konsep
E-mail

SENIN, 28 DESEMBER 2009 MEDIA INDONESIA

Menimbang Eksistensi Pendidikan Terpadu

Oleh Khoiruddin Bashori

Pengamat dan Psikolog Pendidikan, tinggal di Yogyakarta

KEMAJUAN sains dan teknologi semakin membuka lebar rahasia alam semesta. Komunikasi semakin mendekatkan pemahaman dan saling pengertian antar berbagai kebudayaan, tata nilai, dan norma kehidupan manusia. Akan tetapi sebaliknya, gerak kemajuan dan moderenisasi rupanya juga membawa serta limbah peradaban yang dapat mencemari akhlak dan perilaku mulia manusia. Artinya bahwa kemajuan teknologi ternyata juga sarat beban pergeseran tata nilai yang dapat menjerumuskan.

Kompleksitas permasalahan dunia modern, bagi banyak orang, justru membawa konsekuensi meningkatnya kesulitan dalam adaptasi kehidupan keseharian orang per orang. Akibtnya muncul fenomena kebingungan, ketegangan, kecemasan, dan konflik-konflik yang berkembang begitu serupa, sehingga menyebabkan orang mengembangkan pola prilaku yang menyimpang dari norma-norma umum, berbuat semaunya sendiri dan merugikan orang lain.

Fenomena ini juga semakin menambah kekhawatiran orang tua berkenaan dengan masa depan putra-putri mereka. Meningkatnya angka kriminalitas yang disertai tindak kekerasan, penyelewengan seksual, perkelahian pelajar, penyalahgunaan obat, narkotik dan minuman keras semakin mendorong semakin banyak keluarga berpikir ulang mengenai efektivitas pendidikan umum dalam mengembangkan kepribadian anak-anak mereka.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 06:52 Read more...
 
E-mail

SENIN, 2 NOVEMBER 2009 MEDIA INDONESIA

Mencari Rumusan Peningkatan Mutu Pendidikan

Oleh Qaimah Umar

Guru Sekolah Dasar Negeri Harapan Baru IV, Bekasi


PERSPEKTIF tentang rumusan mutu pendidikan yang akan saya bahas dalam artikel ini sesungguhnya berangkat dari best practice yang saya alami selama 17 tahun masa pengabdian sebagai guru. Memang sangat sulit untuk me-ngurai dari mana persoalan peningkatan mutu pendidikan itu harus kita mulai. Apalagi jika mutu pendidikan itu dibebankan secara prak-sis kepada setiap sekolah, pandangan tentang mutu tentulah sangat beragam karena lokasi dan situasi setiap sekolah sangat berbeda. Sekolah tertentu akan berasumsi bahwa per­soalan mutu pendidikan harus dimulai dari guru. Sekolah lain beranggapan persoalan mutu harus dimulai dari input, baik siswa maupun gurunya. Selain itu, yang paling se-ragam dalam jawaban adalah persoalan dana, bujet, dan atau pembiayaan sekolah yang harus dibenahi terlebih dahulu jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Persyaratan mutu pendidikan (sekolah)

Berdasarkan pengamalan mengajar dan bacaan yang saya peroleh, untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan, kita harus memperhatikan beberapa unsur penting pada internal sekolah itu sendiri. Beberapa kajian tentang effective schools atau excellent school, Samomons et all (1995) menyebutkan bebera­pa persyaratan atau kondisi yang diperlukan untuk suatu sekolah bermutu, yaitu (a) kepemimpinan prefesional seorang kepala sekolah terutama menyangkut peran yang dimainkan, gaya kepemimpinan, pemahaman dan kemampuan menerjemahkan visi, nilai dan tujuan seko­lah dalam program atau aksi ponsif terhadap perubahan. Kepemimpinan efektif seorang kepala sekolah, dalam pandangan saya, dicirikan dengan keandalan dalam menata organisasi sekolah, berorientasi diri pada tujuan, memi-liki sikap dan prilaku demokratis yang dicer-minkan dalam penerapan pendekatan parti-sipatoris dalam pengambilan keputusan untuk program sekolah.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 06:24 Read more...
 
E-mail

SENIN, 30 NOVEMBER 2009 MEDIA INDONESIA

Mencari (Cari) Relevansi Ujian Nasional


Oleh
Ahmad Baedowi

Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

SEPANJANG sejarah, manusia secara alamiah selalu mencari bentuk standar tertinggi dan terbaik untuk setiap aspek kehidupannya. Dalam berbelanja sesuatu seperti motor, mobil, sepeda, hingga barang kebutuhan dapur seperti sayur, bumbu, dan buah-buahan kita cenderung mencari barang yang berkualitas. Pergi ke restoran, tempat wisata, hingga tempat untuk anak-anak kita bersekolah pun kita selalu mencari tempat yang berkualitas. Untuk hal yang terakhir ini, banyak orang tua dengan kemampuan finansial yang cukup akan dengan mudah mendapatkannya. Tetapi masyarakat dengan kemampuan ekonomi lemah, rata-rata mencari sekolah tanpa mempertimbangkan kualitas karena mereka tak memiliki cukup opsi. Kuali­tas, dengan demikian, merupakan kebutuhan asasi manusia yang selalu dicari dan diusahakan untuk kesempatan menikmati hidup menjadi lebih baik.

Jika ditanya dari mana semua nilai kualitas hidup itu berasal? Maka sekolah atau kualitas pendidikan adalah jawaban pastinya. Hampir semua sektor kehidupan, mulai dari kualitas demokrasi atau kehidupan politik, sosial, budaya, ekonomi, hukum hingga agama bermula dari bagaimana sekolah atau pendidikan dikelola. Karena itu dapat kita bayangkan, betapa tertekannya posisi sekolah karena me­reka harus mempertanggungjawabkan kuali­tas yang diharapkan oleh semua sektor kehi­dupan manusia. Tak banyak orang tersadar bahwa kondisi sektor pendidikan yang sudah tertekan tersebut rentan terhadap segala ben­tuk manipulasi. Karena, prosesnya tidak jarang dikotori oleh kepentingan-kepentingan yang justru tidak bertanggung jawab. Dalam konteks ini, agenda kebijakan tentang ujian nasional bisa jadi merupakan salah satu contoh rentannya posisi sekolah sebagai produsen kualitas berbagai aspek kehidupan manusia.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 06:23 Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

22 JUNI 2009 MEDIA INDONESIA

Mempertanyakan Visi Pendidikan para Calon Presiden

Oleh Ahmad Baedowi

Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

HIRUK pikuk kampanye menjelang pemilihan presiden terasa mulai memanas. Kepanasan situasi kam­panye kebanyakan ditandai bentuk black-campaign. Pendakuan terhadap keberhasilan setiap calon yang notabene pernah duduk di kursi kekuasaan itu lebih kentara daripada rencana program kerja ke depan. Tak pelak jika yang muncul ke permukaan adalah bentuk anarkisme politikyang tidak sehat dari setiap calon, sehingga masyarakat seperti sedang diajak menonton dagelan politik tingkat tinggi. Dari klaim satu ke bentuk klaim lainnya, dari sesumbar yang satu ke sesumbar lainnya dan berujung pada sikap saling menjelekkan, menuding, dan sedikit rasa fitnah. Jika kita mau jujur, sebenarnya perilaku para calon presiden sedang menggambarkan bagaimana tingkat pendidikan dan emosional bangsa ini sesungguhnya.

Dari tiga pasangan capres-cawapres, sejauh ini belum ada visi yang tegas soal rencana pembangunan pendidikan lima tahun ke depan. Semuanya hanya bermain di sekitar wacana tentang perlunya peningkatan kualitas pendidikan, perluasan akses, dan sedikit bicara tentang keselarasan (equity), tapi tak ada rumusan yang terang benderang soal know-haw-nya. Hanya satu capres/ cawapres yang secara gamblang telah menyatakan akan mengubah dan atau mencabut kebijakan tentang Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (BHP) dan penghapusan UN yang penuh kontroversi, tetapi sekali lagi tanpa dibarengi penjelasan tentang bagaimana strategi besar tersebut akan diimplementasikan. Hasilnya, isu pendidikan lebih banyak ditarik menjadi isu politik yang hanya menarik ditawarkan ketika kampanye, tetapi gagal ditarik sebagai isu besar dan fundamental yang harus ditangani secara komprehensif.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:22 Read more...
 


Page 5 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 86
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125117
DSCF8768.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC