.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Ideologi & Konsep
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

KOMPAS, SENIN, 14 SEPTEMBER 2009

Yuwono dan Eka, Pendiri Sekolah Alam


Pendidikan melalui sekolah adalah proses membangun sebuah peradaban. Tujuan itujangan dicampur aduk dengan kepentingan bisnis untuk memungut uang sebanyak mungkin dari orangtua murid. Niat itulah yang membulatkan tekad pasangan Yuwono dan Nurbaiti Eka Sari untuk mendirikan Sekolah Alam Palembang.

Oleh WISNU AJIDEWABRATA

Dengan modal awal Rp 10 juta pada 2005, mereka mendirikan Sekolah Alam Palembang. Sekolah ini satu dari 12 sekolah alam di Indonesia yang direkomendasikan penggagasnya, Lendo Novo.

BIODATA

*Nama: Yuwono

*Lahir: Trenggalek, 10 Oktober 1971

* Pendidikan:

- SO Negeri Palas Jaya, Lampung Selatan

- SMP Negeri Palas, Lampung Selatan

- SMA Negeri 2 Tanjung Karang

- Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, tamat 1996

- Master bidang biomedik Fa­kultas Kedokteran Ul, 2002

- Program doktor bidang llmu Kedokteran Fakultas Kedok­teran Unpad, 2009

* Nama: Nurbaiti Eka Sari • Lahir: Palembang, 30 Septem­ber 1970

* Pendidikan:

- SD Negeri Putri 137 Plaju, Palembang

- SMP Negeri 20 Plaju

- SMA Yaktapena I Plaju

- Fakultas MIPA Kimia Uni-versitas Sriwijaya, 1994

* Anak:

- Muhammad Jawad Yuwono (10)

- Imadul Aqil Yuwono (9)

- Mamduh Widad Yuwono (7)

- Afaf Mihlah Yuwono (4)

Ditemani istrinya, Eka, Yu­wono mengatakan, ide mendi­rikan sekolah alam di Palem­bang muncul setelah ia menyekolahkan anaknya di Sekolah Alam Bandung. Dia merasa cocok dengan konsep sekolah alam ala Lendo Novo.

la menyekolahkan anaknya di Sekolah Alam Bandung saat kuliah S-3 ilmu kedokteran di Universitas Padjadjaran tahun 2004-2005. Selesai kuliah, Yu­wono dan Eka kembali ke Palembang, tetapi di kota ini tak ada sekolah alam.

Mereka memutuskan mendi­rikan sekolah alam di Palem­bang karena tak ingin anak-anaknya mendapat pendidikan seperti mereka dulu di sekolah umum.

"Pendidikan kita banyak yang mubazir. Semua pelajaran diajarkan, ibarat komputer hanya memenuhi memori tetapi tak pernah dibuka. Cara mendidiknya tak memunculkan po­tensi pribadi anak," kata Yuwono.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:24 Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

KOMPAS, KAMIS, 3 SEPTEMBER 2009

Patok-Duga Pendidikan

Oleh JC TUKIMAN TARUNA

Perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia sebaiknya segera direnungkan ulang, menggunakan filsafat pendidikan yang selalu mempertanyakan hakikat pendidikan itu sendiri.

Apabila pada abad ke-19, terutama pasca revolusi Perancis, muncul masalah nasionalisme karena lahirnya negara-negara baru, amatlah beralasan kalau sejak saat itu hakikat pendidikan terkait kuat dengan nasionalisme itu.

Saat kemajuan teknologi pada abad ke-20 mengguncang ranah kehidupan berbangsa dan bernegara di banyak negara, pemikir seperti Huntington memprediksi akan terjadinya guncangan kuat terhadap nasionalisme itu. Lalu, ikatan kuat paham negara-bang­sa amat mungkin memudar menjadi ikat­an artifisial dan kurang menyentuh aspek-aspek emosional yang mendalam.

Barangkali tahapan bangsa In­donesia saat ini, tahun 2009, sedang berada persis seperti pre-diksi Huntington, sampai-sampai ikatan emosional lagu kebangsaan "Indonesia Raya" lewat begitu saja, atau muncul banyak keluhan betapa siswa-siswa sekolah tidak lagi fasih menyanyikan lagu-lagu perjuangan/nasional, karena jauh lebih menghayati lagu-lagu pop.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:22 Read more...
 
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

KORAN TEMPO, 19 JULI 2009

SUYANTO

DIREKTUR JENDERAL MANAJEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

MOS Bukan Ajang Balas Dendam


Keriangan tahun ajaran b-ru terusik. Roy Aditya Perkasa, 16 tahun, murid SMA Negeri 16 Surabaya, meninggal ketika menonton acara kesenian yang digelar se-elah masa orientasi sekolah (MOS) berakhir. Akan halnya M. Rajib, siswa SMK Pelayaran di kawasan Kampung Rambutan, Jakarta Timur, meninggal setelah menginap tiga malam untuk mengikuti MOS.

Polisi sedang mencari tahu sebab-sebab meninggalnya Roy. Namun, sejumlah pihak menuding kematian Roy akibat mengikuti MOS, yang lazim digelar sekolah untuk memperkenalkan siswa kepada lingkungan barunya, Pemerintah kota membentuk tim untuk menelusuri dugaan penyimpangan MOS. Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono mengancam akan memberikan sanksi kepada sekolah jika ditemukan adanya penyimpangan. Akan halnya dewan perwakilan rakyat mendesak, lembaga ini Kepala Dinas Pendidikan Surabaya mundur dari jabatannya.

Bambang juga mempertimbangkan akan menghapuskan MOS di wilayah kerjanya. Hal yang sama diusulkan oleh Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi. Seto menilai kegiatan itu rawan kekerasan bagi siswa baru sebagaimana perpeloncoan di masa lalu, yang bisa berdampak buruk pada perkembangan jiwa anak. Anak, kata Seto di Surabaya, Kamis lalu, bisa menyimpan dendam dan akan melampiaskannya kepada juniornya pada tahun berikutnya.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:23 Read more...
 
E-mail

SENIN, 16 NOVEMBER 2009 MEDIA INDONESIA

Menimbang Kebijakan Integrasi UN-SNMPTN

Oleh Ahmad Baedowi

Direktur Pendidikan Yayasan Sukma - Jakarta

BELUM genap seratus hari pencanangan program Kabinet Indonesia Bersatu II dijalankan, publik, pengamat, dan praktisi pendidikan dikejutkan dengan rencana Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh untuk mengintegrasikan ujian nasional (UN) dengan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Bentuk shock therapy kebijakan dari Mendiknas ini tentu saja harus kita kritik secara sejak awal karena pola kerja birokrasi pendidikan kita biasanya sangat senang dalam melempar. isu kebijakan di tingkat nasional, tanpa perlu menghitung risiko kegagalan dalam implementasi di ting­kat lokal dan sekolah. Juga seringnya sebuah kebijakan Mendiknas dibuat hanya atas dasar asumsi adalah fakta yang berulang kali kita saksikan. Mulai kebijakan perubahan kurikulum, ujian nasional, buku teks elektronik, bantuan operasional sekolah (BOS), hingga program sekolah gratis yang sama sekali tak mendidik. Semua bentuk kebijakan itu dibuat tanpa ada assessment yang memadai, plus minimnya keterlibatan publik untuk ikut serta, baik dalam aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi-monitoring program.

Rencana integrasi UN-SNMPT jangan-jangan hanya merupakan kebijakan dadakan untuk meredam ingar-bingar protes para pengamat dan praktisi pendidikan terhadap kebijakan ujian nasional yang banyak melanggar hak orang Tua dan siswa untuk memperoleh pendidikan yang baik, jujur, dan bersih. Selain itu, jika rencana ke­bijakan ini rnemang benar adanya, seyogianya Mendiknas memiliki tim assessment (semacam TPF atau Tim 8 yang menangani kasus Bibit-Chandra), yang akan bekerja untuk mencari fakta-fakta strategis tentang relasi UN dengan kapasitas guru dan orang tua serta ekspektasi dari pihak perguruan tinggi terhadap calon mahasiswa yang akan masuk ke kampus mereka.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 06:53 Read more...
 


Page 4 of 18

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 114
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125078
DSCF8790.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC