.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      MEDIA INDONESIA, 4 NOVEMBER 2010

      Pentingnya Membangun Data Base Insentif Riset

      Oleh M Athar Ismail, SSi, ME

      Staf Bidang Insentif Riset, Keasdepan Relevansi Program Riptek,

      Kementrian Riset dan Teknologi

      Salah satu instrumen kebi­jakan pemerintah dalam menstimulasi riset untuk menghasilkan inovasi bernilai komersial tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat adalah melalui pemberian insentif pendanaan riset. Sejak 1993 sampai sekarang, sejumlah jenis insentif pen­danaan riset telah diluncurkan peme­rintah, seperti insentif dana hibah kompetitif, riset unggulan terpadu, riset unggulan kemitraan. Namun sayang, setelah 17 tahun program insentif digulirkan, database program insentif riset tersebut belum tersusun dengan baik. Padahal sebagai bentuk akuntabilitas publik, pembangunan database program insentif riset mutlak diperlukan, terutama sebagai bukti ilmiah dalam mengevaluasi kinerja kebijakan yang telah diambil pe­merintah. Apalagi mengingat karakter masyarakat kita dalam menilai suatu kebijakan masih berdasarkan pikiran common sense, instan, sering hanya melalui opini publik, isu, dan kabar-kabar semata. Fenomena tersebut tidak dapat dimungkiri sebagai akibat rendahnya tingkat akses public terhadap kinerja pengembangan riset dan iptek di Indonesia. Salah satu media tersebut tentunya melalui keberadaan layanan penyediaan database program insentif riset.

       

      Untuk itu, penyusunan database in­sentif riset hendaklah berkelanjutan dan tidak hanya diperuntukkan sebagai konsumsi internal lembaga. Namun, seyogianya telah dikemas dan siap untuk digunakan sebagai konsumsi publik. Namun, mengapa database tersebut selama ini belum tersedia sebagai kon­sumsi publik? Sebenarnya sampai 2009, kontribusi riset dan iptek dalam pembangunan nasional tidak sedikit. Sebagaimana hal ini pernah disampaikan Menristek Kusmayanto Kadiman di akhir-akhir masa jabatannya.

      Di bidang teknologi pertahanan dan keamanan misalnya, Indonesia telah mampu membuat berbagai alat komunikasi, panser, senjata peluru karet, robot penjinak bom, roket pengorbit satelit, pesawat udara nirawak dan kendaraan benam nirawak. Di bidang ketahanan pangan, kementerian terse­but bersama lembaga penelitian nonkementerian (LPNK) Ristek telah mengembangkan jagung hibrida tahan bulai, kedelai M220 & kedelai plus.

      Di bidang teknologi informasi, Kemenristek dan LPNK telah mengem­bangkan wimax, mikrosatelit, sistem pengendali udara dan IGOS. Salah satu instrumen kebijakan utama yang digunakan Kemenristek dalam mendorong produktivitas riset tersebut adalah melalui program insentif riset. Hasil penelitian yang pernah dipresentasikan di masyarakat juga membuktikan bahwa keberadaan program insen­tif riset sangat dirasakan manfaatnya,

       

      “Kita berharap di era reformasi birokrasi serta penguatan inovasi nasional ini, terjadi peningkatan akuntabilitas publik serta integritas moral baik di kalangan pemerintah maupun peneliti."

       

       

      termasuk bagi kalangan industri. Keterlibatan industri dalam program insentif tersebut telah mendorong tingkat produktivitas dan penjualan sekitar 15%, kenaikan turnover sekitar 8%, dan manfaat lainnya seperti di antaranya penanganan limbah industri, diversifikasi produk, dan jejaring sekitar 62%.

      Sebenarnya masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa eksistensi program insentif riset dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Walaupun mungkin secara nasional, magnitude-nya masih jauh dari yang diharapkan. Ketidaktersediaan database seringkali telah memunculkan penilaian masyarakat terhadap peran riset dan iptek tidak proporsional, dan tidak berdasarkan pada data dan informasi yang valid.

      Adapun sebab ketidaktersediaan database insentif riset, menurut penulis, disebabkan dua faktor utama. Pertama, masih lemahnya mekanisme kontrol dan instrument punishment pemerintah dalam program insentif riset. Berdasar­kan pengalaman penulis selamat erlibat dalam proses pemantauan dan evaluasi program insentif riset, pemerintah sangat kesulitan untuk mendapatkan laporan hasil-hasil program insentif riset. Jangankan meminta laporan rencana pendaftaran paten, hak kekayaan intelektual, atau manfaat riset tersebut bagi masyarakat, meminta data berupa jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan pun sulitnya bukan main.

      Lebih sulit lagi, ketika data itu diminta setelah periode pemberian dana berakhir, di saat periode pendanaan biasanya berkisar antara 1-3 tahun. Oleh karena itu, diperlukan instrument pu­nishment seperti misalnya blacklist terhadap lembaga peneliti dari seluruh program-program insentif riset ke depan, sampai mereka kembali menunaikan kewajiban yang dimaksud. Tentunya, sanksi tersebut diakhirkan setelah segala bentuk proses dan upaya persuasif gagal dicapai serta ditemukan unsur kesengajaan dan kelalaian. Sebaliknya, lembaga dan peneliti yang se­cara berkala melaporkan hasil penelitian mereka akan dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dan entry point dalam proses seleksi program insentif selanjutnya.

      Kedua, faktor sulitnya penyusunan database insentif riset juga disebabkan mindset sebagian peneliti kalau tidak mau dikatakan sebagian besar, masih menganggap bahwa dana penelitian adalah sebuah proyek. Hal itu menyebabkan munculnya persepsi yang berkembang di sebagian lembaga atau peneliti penerima insentif riset bahwa kewajiban melaporkan hasil penelitian adalah sampai kontrak kerja sama berakhir.

      Seolah-olah mereka lupa bahwa dana yang diberikan tersebut adalah uang rakyat. Tanpa menafikkan faktor profesionalisme para peneliti, dan dana riset yang telah digunakan, ada hak rakyat yang seyogianya tidak terlupakan. Dan rakyat berhak mengetahui sejauh mana riset tersebut bermanfaat bagi mereka. Kita berharap di era reformasi birokrasi serta penguatan inovasi nasional ini, terjadi peningkatan akuntabilitas publik serta integritas moral baik di kalangan pemerintah maupun peneliti. Khususnya dalam upaya memberikan informasi berupa hasil program insentif riset dalam bentuk database kepada masyarakat.

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 13:14  

      Items details

      • Hits: 343 clicks
      • Average hits: 3.7 clicks / month
      • Number of words: 5087
      • Number of characters: 45639
      • Created 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 90
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124449
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC