.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      MEDIA INDONESIA, JUMAT, 28 AGUSTUS 2009

      Kesadaran lewat Pendidikan


      Oleh Toeti Adhitama

      Anggota Dewan Redaksi Media Group

      MINGGU-MINGGU ini kita mencatat tiga peristiwa penting pengumuman hasil final Pilpres 2009, peringatan HUT kemerdekaan delapan windu, dan Ramadan menuju Lebaran. Dari renungan, seminar, sarasehan, rnaupun diskusi seputar itu dapat diangkat sedikitnya tiga tema penting kewaspadaan, kesadaran, dan kesederhanaan.

      Kewaspadaan disebut yang pertama karena ledakan bom di Jakarta bulan lalu membuktikan, ada yang salah mengenai cara kita hidup bermasyarakat. Perlu ada kesadaran mendalam di kalangan masyarakat maupun di jajaran pimpinan nasional mengenai hal ini. Ramadan memberikan kesempatan untuk merenung perihal kelompok-kelompok yang kesal dan marah di antara kita. Teroris-teroris itu dalam kehidupan sehari-hari memberi kesan ramah dan rendah hati. Mereka mematuhi ajaran gembong-gembong yang memberi kesan sebagai guru saleh, tetapi ternyata menanamkan benih-benih kebencian terhadap kemanusiaan. Mereka serigala berbulu domba. Kita dilarang lamban dan harus benar-benar waspada. Maka wacana melibatkan TNI untuk membantu menghapuskan terorisme di bumi ini tentu kita dukung dan syukuri. Sudah saatnya mengerahkan siapa pun yang mau, mampu, apalagi yang ahli di bidang ini.

       

      Gawatnya situasi juga membuka kesadaran betapa naifnya masyarakat kita. Gampang dibodohi dan dikecoh anasir-anasir asing, dari mana pun datangnya Barat atau Timur Tengah. Lebih dari 120 juta angkatan kerja berpendidikan rendah, dari SMP ke bawah. Bahkan lebih dari dua pertiganya hanya tamat SD ke bawah. Ini mengakibatkan ketimpangan luar biasa dalam kehidupan ekonomi maupun pemahaman tentang politik. Kemiskinan yang menghantui puluhan juta rakyat tentunya mendistorsi kemurnian aspirasi politik mereka karena ketidakpahaman. Kita yang tahu hanya membohongi diri kalau percaya bahwa seluruh konstituen memiliki pemahaman politik yang setara. Masih perlu waktu sangat lama untuk menempatkan mereka di tataran yang sepadan. Di lain pihak, pergerakan politik bergegas sendiri. Banyak yang berlari pontang-panting mengejar di belakang, sekalipun tidak mengerti. Namun zaman memang menuntut politik bergerak cepat kalau kita tidak mau ketinggalan dalam percaturan politik maupun ekonomi dunia. Orde ekonomi dan orde politik tidak berdiri sendiri-sendiri. Seperti orde politik atau orde institusional lainnya, orde ekonomi mencerminkan keadaan masyarakatnya. Satu-satunya cara mengatasi situasi dan menyiasatinya hanyalah lewat pendidikan. Kesadaran ini harus terus-menerus ditingkatkan.

      Pendidikan berjalan lamban dan lama

      Walaupun menurut genetikanya atau organ tubuhnya tiap manusia mampu berkembang, perkembangannya banyak ditentukan lingkungannya. Agar berkembang, diperlukan kemailan politik untuk menggerakkan proses belajar-belajar tentang seperangkat nilai yang diangkat dari produk-produk kultural dan perilaku masyara­kat, termasuk kepercayaan, fakta, persepsi, perasaan dan emosi. Proses ini bukan hanya berlangsung pada masa anak-anak, melainkan terus sampai manusia itu dewasa dan baru berhenti ketika diamati. Perlu waktu amat lama. Ini pun disebutkan dalam Islam.

      Tentang proses pembelajaran, tersebutlah suatu penelitian klasik di abad ke-18. Ada anak yang ditemukan di tengah hutan di Aveyron, Francis. Tepatnya tahun 1799. Usia anak itu diperkirakan 10-11 tahun. Sebelum itu, dia rupanya tidak pernah menge­nai masyarakat manusia.

      Setelah satu tahun dirawat di rumah sakit, dia dipindahkan ke Paris. Di sana dia menjadi bahan tontonan umum. Yang tampil bukan noble savage, atau manusia buas yang luhur budi seperti yang digambarkan filosof Francis Jean Jacques Rousseau dalam The Social Con­tract (1762) yang menegaskan bahwa peradabanlah yang merusak manusia. Faktanya, anak buas itu ujudnya manusia tetapi sikap dan perilakunya seperti binatang. Dia jorok, menggeram seperti binatang, makan sampah dan kotoran dengan nikmat, dan tidak peduli akan lingkungannya.

      Setelah penelitian lama, tim dokter yang antara lain beranggotakan Philippe Pinel tokoh kedokteran terkemuka waktu itu akabtya berkesimpulan, anak itu berpura-pura yang memang memiliki kelainan jiwa. Narrtun dokter muda, Jean-Marc Itard, juga anggwi tim, tidak sependapat. Dia kemudian mengambil anak itu dan merawatnya sendiri.

      Selama lima tahun, Itard berusaha keras mengubah anak buas itu menjadi manusia seutuhnya. Dia berkeyakinan, bila diberi perhatian, kasih sayang, dan diperkenalkan kepada peradaban, mungkin anak itu bisa berkembang menjadi ma­nusia yang wajar. Terbukti memang kemudian ada kemajuan. Anak buas itu menjadi bersih, bisa makan normal, mengenal dan mengerti sejumlah kata untuk komunikasi sederhana, dan bahkan, mengerti arti kasih sayang. Setelah dewasa, dia pun merasakan apa yang dirasakan orang dewasa umurnnya. Dia butuh cinta, bukan hanya kasih sayang. Tetapi kelangkaan pengalamannya mengenai cinta membuatnya serba canggung. Tahun 1828, pada usia 40 tahun, 'anak buas' dari Aveyron itu meninggal dunia, tanpa mengecap apa arti menjadi manusia seutuhnya.

      Pesan moral yang ingin disampaikan kisah anak buas itu. Pendidikan memerlukan waktu dan kesabaran. Di zaman sekarang, pendidikan juga memakan biaya, dalam arti harfiah maupun bukan. Hasilnya pun tidak langsung, apalagi kalau menginginkan hasil yang memuaskan. Ada masa tenggang. Semakin lama ditunda, semakin lama masa tenggangnya. Untuk kita, alangkah jauhnya masa tenggang yang merentang di depan. Bedanya dengan masyarakat Jepang, dia telah memulainya sejak restorasi Meiji lebih dari 140 tahun yang lalu. Walaupun bangga luar biasa akan budayanya, demi perluasan wawasan bangsa, Jepang bertekad mengejar kemajuan budaya Barat. Ribuan judul buku asing, khususnya dari Amerika dan Eropa, telah diterjemahkan ke da­lam bahasa Jepang. Seperti orang yang terus-menerus kehausan, dia tidak henti-hentinya menimba ilmu dan pengetahuan. Untuk jumlah penduduk kurang lebih 128 juta, sekitar 110 juta lebih kecil dari penduduk Indonesia, di Jepang tiap hari beredar lebih dari 67 juta eksemplar surat kabar, tiap bulan beredar ratusan juta ek­semplar majalah dan penerbitan serupa, tiap tahun dicetak lebih dari satu miliar buku. Lebih dari separo tenaga kerja Jepang bekerja di indtw tri ilmu pengetahuan. Bandingkan dengan di Indonesia dengan penduduk 238 juta lebih, beredar sekitar 8,5 eksemplar surat kabar, hanya sekitar seperdelapan yang beredar di Jepang.

      RRC memiliki pengalaman yang juga beda. Seperempat abad yang lalu, ketika RRC masih berseberangan kalau bukan bermusuhan dengan Amerika, dia telah berani melepas 13 ribu pemudanya ke Amerika untuk belajar teknologi, tanpa waswas bagaimana pengaruh nya terhadap rasa kebangsaan mereka. Sekitar waktu yang sama kita malahan mengeluarkan larangan bagi para siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Barangkali antara lain khawatir para siswa itu akan kehilangan nasionalisme mereka. Mungkinkah rasa cinta pada bangsa dan negara gampang terhapus oleh beberapa tahun pendidikan di luar sulit dicerna akal. Larangan itu akhirnya memang dicabut. Sayang kita membuang-buang waktu. Sekarang bandingkan kemajuan RRC dengan kemajuan kita, khususnya di bidang teknologi.

      Bersenang-senang dulu?

      Ada ungkapan, "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." Seyogianya begitulah kita mengibaratkan usaha keras kita dengan kemudahan yang kemudian kita nikmati. Melepas 20% anggaran belanja untuk bidang pendidikan saja yang sudah diamanatkan founding fathers kita kelihatannya masih tarik-ulur. Kita memberatkan bidang-bidang lain. Lacurnya, yang tampak justru kecenderungan bahwa kita ingin menikmati kemewahannya dulu sebelum bekerja keras untuk mencapainya. Maraknya korupsi berbagai bentuk yang merongrong segenap segi kehidupan mencerminkan kecenderungan ini. Mengapa belum juga disadari terutama barangkali karena sistemnya tidak menunjang. Pemerintahan SBY selama lima tahun memang tidak henti-hentinya mengupayakan pemberantasan korupsi di kalangan menengah ke atas sebab hanya merekalah yang berkesempatan korupsi. Rakyat jelata tidak. Tetapi ibarat kanker, korup­si sudah jauh sekali dari tahap dini. Dengan perbaikan sistem dan peningkatan pendidikan, mungkin baru satu dasawarsa lagi hasilnya mulai kentara. Sinyalemen lama begawan ekonomi Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo (alm) bahwa terjadi kebocoran 30% dari anggaran belanja di masa Orde Baru tentu bukan sekadar ungkapan untuk sensasi.

      Dalam kaitan ini, tepat sekali apa yang pernah dikatakan Prof Dr King, pengajar bahasa dan sastra Sanskerta di Universitas George Washing­ton, Washington DC. Orang Barat yang lembah manah itu tekun mempelajari falsafah Timur. Dari ajaran-ajaran Barat maupun Timur, dia menyimpulkan, Apakah di Barat atau di Timur, yang kita dambakan sebenarnya, dan sebaiknya, adalah 'Hidup yang indah, bukan hidup yang mewah.'

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:08  

      Items details

      • Hits: 391 clicks
      • Average hits: 4.2 clicks / month
      • Number of words: 3658
      • Number of characters: 29062
      • Created 7 years and 10 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 114
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126657
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC