.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

E-mail

Lego Ergo Scio


Judul di atas adalah bahasa Latin yang artinya “Saya membaca buku, maka saya tahu.” Kata-kata ini diyakini memilki landasan ideologis, ontologis, dan epistemologis yang berlaku universal. Dengan penghayatan yang mendalam tentang kata-kata tersebut maka kita akan mengerti mengapa para pakar menganggap seolah-olah membaca adalah nyawanya peradaban. Berikut adalah parade pendapat tentang pentingnya membaca yang dikemukakan oleh para ahli yang memiliki beragam latar belakang, lintas negara, dan lintas zaman: Barbara Tuchman Wertheim (1912-1989), sejarawan dan penulis berkebangsaan Amerika yang telah memenangkan dua kali Hadiah Pulitzer, mengatakan bahwa, “buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.” Perkataan yang senada juga diucapkan oleh Thomas Bartholin (16161680), seorang dokter, ahli matematika dan teolog Denmark, “Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan. Thomas Stearns Eliot (18881965), penyair masyhur Inggris berucap “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca. Salah satu pilar penyangga budaya tulis dan baca adalah buku.” Paulo Friere (19211997), filusuf yang terkenal dengan pedagogi kritis dari Brasil mengatakan, “Buku ibarat lentera yang memberi cahaya kehidupan dan membebaskan manusia dari kebutuhan ilmu pengetahuan.”[1] Walter Elias Disney atau lebih dikenal sebagai Walt Disney (19011966) produser film, sutradara, animator, dan pengisi suara berkebangsaan Amerika Serikat. Ia terkenal akan pengaruhnya terhadap dunia hiburan pada abad ke-20 mengatakan, “Ada lebih banyak harta yang terkandung di dalam buku ketimbang seluruh jarahan bajak laut yang disimpan di pulau harta karun.” Tidak ada teman setia sebagaiman buku (Ernest Hemingway, 1899 -1961). Melewatkan makan, jika memang harus, tak jadi masalah. Tapi jangan lewatkan buku (Jim Rohn, Pengusaha Amerika, 1930-2009). Ide-ide yang saya perjuangkan bukan milik saya. Saya meminjamnya dari Socrates. Saya mengutipnya dari Chesterfield. Saya mencurinya dari Yesus. Dan saya menempatkan ide-ide itu dalam sebuah buku. Jika Anda tidak menyukai aturan mereka, lalu ide siapa yang akan Anda pakai ?’” (Dale Carnegie, Guru Motivasi, 1888-1955).

Muhammad Adnan Salim mengatakan, “ Bangsa yang tidak mau membaca tidak bisa mengenali dirinya sendiri dan tidak mengetahui orang lain. Bacaan akan berkata: di sinilah orang-orang terdahulu berhenti. Di sinilah dunia bergerak saat ini. Jangan mengulangi kesalahan yang pernah mereka lakukan”.[2] Peradaban, kata El-Fadl, tidak dibangun di atas kenyamanan dalam kelambanan dan kebodohan. Peradaban selamanya dibangun di atas penderitaan para syuhada perbukuan”.[3]

Masih banyak lagi kata-kata mutiara yang deciptakan oleh para sastrawan, filusuf, dan lain-lain. Saya ingin mengutip satu lagi dari seorang negarawan terkenal Amerika, Thomas Jefferson, yang mengatakan, “Saya tak bisa hidup tanpa buku.” Hampir seluruh presiden amerika sesudah Jefferson hingga Obama sekarang ini menaruh perhatian yang begitu besar terhadap pembangunan budaya membaca di negaranya. Penghargaan Amerika terhadap buku tercermin dari bagaimana negara ini membangun perpustakaan dan membuat program sosialisasi budaya membaca yang begitu spektakuler. Hartoonian, seorang politikus AS, diwawancara wartawan perihal apa yang harus dilakuka bangsa Amerika untuk mempertahankan supremasinya. Jawabannya, “if we want to be a super power we must have individuals with much higer levels of literacy.” Individu yang peduli akan tradisi literasi merupakan benih masyarkat maju. Capaian terhadap budaya literasi akan menghantarkan sekumpulan masyarakat cerdas dan kritis dalam membangun bangsanya. [4]

Berikut saya juga tuliskan pendapat dari pahlawan, orang besar dan para intelektual dalam negeri tentang pentingnya membaca buku: Mohammad Hatta sang negarawan sejati yang pernah dimiliki Indonesia, mengatakan, “Buku merupakan sahabat sejati yang menemani hari-hari. Buku merupakan tempat studiku yang paling damai selama memiliki buku aku bisa hidup di manapun, tak seorang pun yang merasakan hidup nikmat di penjara.” Dalam kesempatan yang lain Hatta pun pernah berujar, “ Kalian bisa memenjarakanku, tapi selama aku bersama buku, aku tetap bebas.” [5] K.H. Agus Salim, yang gigih dengan otodidaknya, berujar, “Dunia tanpa buku ibarat malam tanpa cahaya. Semuanya menjadi serba gelap.”

“Bagi saya, buku itu dunia ide, dunia gagasan. Peradaban modern berkembang dan maju karena buku. Peradaaban berkembang karena dunia gagasan, dunia ide, yang bergerak , dan tak pernah berhenti bertanya tentang apa lagi dan apa lagi, yang bisa membikin manusia hidup enak, makmur, dan sejahtra.” [6]

“Melek huruf atau aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat baca. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide besar, segar, dan baru? Apabedanya orang yang buta aksara dengan buta membaca?” (Toeti Adhitama, Makna Membangkitkan Minat Baca, Media Indonesia, 12 September 2008).

“Lewat buku mereka bisa berkeliling dunia tanpa hrus ter bang ke sana. Buku juga menjadi ajang dialog yang tidak sekedar meambah wawasan, tetapi melatih kedewasaan dalam menerima perbedaan. Bahkan, buku misa membuat orang terpenjara di dalamnya karena kuatnya cerita yang disajikan.” (Iskandar Zulkarnaen, Mereka Bersahabat Dengan Buku, Kompas, 24 Mei 2012)

Milan Kundera (1929), novelis dari Republik Ceko, mengatakan, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan musnah.”[7] Tapi ada cara lain selain yang “disarankan” Kundera yaitu anjurkan supaya masyarakat tidak membaca, atau biarkan supaya budaya baca masyarakat terus berada dalam kondisi yang rendah. Bukankah sama saja antara memiliki buku akan tetapi tidak dibaca dengan tidak memiliki buku. Dua-duanya akan mengakibatkan kebodohan bangsa yang akhirnya akan mengancurkan peradaban bangsa.[8]

Supaya kondisi bangsa kita tidak terus berada dalam kubangan keterbelakangan maka, sekali lagi, membaca harus menjadi budaya di masyarakat. Kita semua sangat merindukan, dan akan berjuang ke arah itu, kondisi budaya bangsa seperti digambarkan dalam puisi karya Taufiq Ismail yang berujudul “Kupu-Kupu Di Dalam Buku” berikut:

Ketika duduk di stasiun bis, di gerbong kereta api,

di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,

kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,

dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,

di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku

dan cahaya lampunya terang-benderang,

kulihat anak-anak muda  dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,

dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,

warna-warni produk yang dipajang terbentang,

orang-orang memborong itu barang

dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,

dan aku bertanya  di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,  

Ketika singgah di sebuah rumah,

kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya,

dan mamanya tak bisa menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian  katanya,
“tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”,

dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,  

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di stasiun bis dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat  penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu karena memang dibaca.
(Taufiq Ismail, 1996)

Mungkin saja banyak orang yang karena situasi dan kondisi tidak bisa membaca buku, akan tetapi jangan sekali-kali untuk mengabaikan, mengingkari, apalagi sampai hati untuk meninggalkannya. Bacalah kata-kata dari Winston S. Churchill, penggemar buku dan tokoh politik dan pengarang dari Inggris yang paling dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya sewaktu Perang Dunia Kedua memperingatkan kita semua, “ Apa yang harus kulakukan dengan semua bukuku? Adalah pertanyaan dan jawabannya, ‘Baca mereka.’ Tetapi jika kau tidak bisa membaca mereka, pegang mereka, atau tepatnya timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka di manaupun mereka mau. Bacalah dari kalimat pertama yang menarik bagimu. Lalu balik ke halaman berikutnya. Lakukan petualangan, arungi laut yang belum terpetakan. Kembalikan mereka ke rak dengan tanganmu sendiri. Susun mereka dengan aturanmu sendiri, jadi jika kau tidak tahu apa isi mereka, setidaknya kan tahu di mana posisi mereka. Jika mereka tidak bisa menjadi temanmu, setidaknya jadikan mereka kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka.” [9] (Suherman)

 



[1] Terkenal di Indonesia melalui bukunya Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta: LP3ES, 1983)

[2] Dikutip dari Erwan Juhara, “Buku dan Peradaban”, Republika, 23 Mei 2012

[3] Dikutip daari Hajriyanto Y. Thohari, Buku dan Masa Depan Perdaban Kita, Seputar Indonesia, 5 Februari 2008.

[4] Dikutip dari Restu Ashari Putra, “Membaca Resep Ampuh Antibodoh”, Media Indonesia, 27 Desember 2009

[5] Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan. Para Penggila Buku: Seratur Catatan di Balik Buku. Yogyakarta: I:BOEKOE, 2009), hal. 21

[6] Mohamad Sobary. “Buku dan Watak Bangsa”, Kompas 17 September 2006.

[7] Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan. Para Penggila Buku: Seratur Catatan di Balik Buku. Yogyakarta: I:BOEKOE, 2009.

[8] Joseph Brodsky, pengarang kelahiran Rusia yang diasingkan dan kemudian menjadi warga negara Amerika, serta pemenang Nobel Sastra 1987, mengatakan “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” (Putut Widjanarko. Elegi Gutenberb. Bandung: Mizan, 2000, hal. 82)

[9] Dikutip dari novel karya Allison Hoover Bartlett. The Man Who Loved Books Too Much. Tangerang: Pustaka Alvabet, 2010, hal. 105

 
E-mail

Ideologisasi Membaca


Oleh:

Suherman

Apa sesungguhnya yang mendorong individu atau kelompok masyarakat tertentu untuk keranjingan membaca. Bagi mereka seolah-olah membaca adalah sebuah perjuangan untuk menentukan posisi bahkan eksistensi. Bagi yang berpegang tegus pada nilai-nilai agama seolah-olah membaca adalah jihad dengan aksara sebagai upaya yang harus ditempuh untuk merebut posisinya di surga. Sebaliknya, bagi yang tidak percaya pada kehidupan setelah mati seolah-olah mereka beranggapan bahwa membaca adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh manusia apabila ingin memenangkan persaingan atau survival of the fitest. Seolah-olah mereka berkata, “mari kita selesaikan di sini, di dunia ini.” Bertahan atau musnah.

Barangkali begitulah seharusnya kerangka berpikir yang harus dimiliki oleh setiap warga negara supaya memiliki budaya membaca dan inilah yang saya sebut dengan faktor-faktor parigmatik yang di antaranya terdiri dari ideologi.

Ideologi

Kata ideologi pertama kali diperkenalkan pada masa revolusi Prancis 1796 oleh filusuf Prancis Antonie Destutt de Tracy. Kata ini berasal dari bahasa Prancis ideologie, merupakan gabungan dua kata yaitu ideo yang mengacu pada gagasan dan logie yang mengacu kepada logos, kata dalam bahasa Yunani untuk menjelaskan logika dan rasio. Bagi Tracy ideologi dimaksudkan dengan “ilmu tentang ide” yang diharapkan dapat mengungkap asal-muasal dari ide-ide dan menjadi cabang ilmu baru yang kelak setara dengan biologi atau zoologi. Namun, makna ideologi berubah di tangan Karl Marx sebagai alat untuk mencampai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat.

Menurut Ali Shariati ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tetentu, suatu klas sosial, atau suatu bangsa, atau suatu ras. [1] Ideologi memiliki tiga pentahapan. Tahap pertama adalah cara kita melihat dan menangkap alam semesta, eksistensi, dan manusia. Tahap kedua terdiri dari cara khusus dalam kita memahami dan menilai semua benda dan gagasan atu ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kita. Tahap ketiga mencakup usulan-usulan, metode-metode, berbagai pendekatan dan keinginan-keinginan yang kita menfaatkan untuk mengubah status quo yang kita tidak puas. Pada tahap ketiga inilah ideologi mulai menjalankan misinya dengan memberikan pada para pendukungnya pengarahan, tujuan, dan cita-cita serta rencana praktis sebagai dasar perubahan dan kemajuan kondisi sosial yang diharapkan.[2]

Akan tetapi kini ideologi lebih diartikan sebagai sistem berpikir universal manusia untuk menjelaskan kondisi mereka, berkaitan dengan proses dan dinamika sejarah, dalam rangka menuju masa depan yang lebih baik. Berakar pada hukum kaum liberalis, ideologi diartikan sebagai sistem kepercayaan individu tentang dunia yang lebih baik, sehingga tampaki sebagai pola pikir (mind-set) bagi penganutnya. Ideologi pun dapat dilihat sebagai “cara pandang dunia” (world view) penganutnya untu menilai situasi keseharian mereka dalam rangka mencari jalan untuk mewujudkan kehidupan terbaik di masa yang akan datang. Namun berdsarkan kecenderungan masyarakat masa kini, ideologi dipandang sebagai kumpulan ide atau konsep mengenai cara hidup (way of life) diwarnai oleh budaya dan tatanan masyarakat serta kehidupan politik. Ideologi memiliki unsur konsep atau ide yang diyakini serta diaplikasikan sebagai cara pandang menghadapi masa depan. Ideologi sarat dengan dimensi keyakinan dan utopi.

Ideologi menjadi visi yang komprehensif dalam memandang sesuatu, yang diformulasi secara sistemik dan ilmiah dari seseorang atau sekelompok orang mengenai tujuan yang akan dicapai dan segala metode pengcapainnya. Ideologi berisi pikiran dan konsep yang jelas tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta serta kehidupan yang diyakini mampu menyelesaikan problematika kehidupan.

Dari kumpulan pengertian ideologi seperti di atas, maka jelas bahwa tidak ada manusia yang dapat hidup tanpa ideologi. Manusia tanpa ideologi hanya akan mengejar kemajuan material, namum mengalami kehampaan dalam aspeek emosional dan spiritual, sehingga teralineasasi serta kehilangan identitasnya yang sejati, lalu mereka mengalami disorientasi dan kesengsaraan hidup. Ideologi menyediakan kejelasan arah bagi manusia, dorongan, pembenaran dan dasar bagi aktivitas untuk bergerak menggulirkan agenda dan aksi-aksinya. Karenanya ideologi menyediakan elan vital, etos, dan bahkan militansi perjuangan. Semangat rela berkorban adalah refleksi keyakinan ideologis.

Makna ideologi yang indah seperti diatas seolah nampak seperti ada di atas awan bukan di atas bumi Indonesia. Indonesia kontemporer seolah tidak memiliki ideologi. Juga seperti tidak memiliki narasi, tidak cita-cita besar, atau tidak memilki utopi. Indonesia sekarang sedang kebingungan untuk menentukan masa depannya. Rasa romantisme terkadang membuncah kalau teringat kejayaan Sriwijaya atau Sumpah Palapanya Gadjah Mada yang ingin menyatukan nusantara. Alih-laih menjadi negara besar, kini Indonesia malah dimutilasi secara perlahan baik secara geografi, kedaulatan bahkan kebudayaan. Sehingga cita-cita ‘Trisakti’ yang dulu digaungkan oleh Soekarno kini berubah menjadi “Tripetaka” sehingga dalam dialog atau perjumpaan antar bangsa kini kita merasa tidak memiliki muka. Budayawan Taufiq Ismail (1998) dalam bait puisinya menyindir dengan tajam keadaan karakter bangsa ini,” malu aku jadi orang Indonesia.”

Kita terkadang iri dengan negara Amerika Serikat yang selalu ingin menjadi to be number one di segala bidang sehingga memang layak menjadi negara adidaya. Bangsa China yang merasa sebagai bangsa besar dan dengan budaya kuno tinggi warisan ribuan tahun. Jepang yang melalui jalur tenno heika merasa sebagai bangsa keturunan Dewa Matahari (Amaterasu), maka Indonesia sekarang ini tampak merunduk lesu secara ideologis. Tidak ada cita-cita besar dan heroisme untuk membangun peradaban adiluhung sebagai bangsa besar.

Budayawan Koenjaraningrat menyebut kita mengidap budaya instant atau “menerabas” budaya potong kompas, budaya miopis (rabun dekat). Ingin cepat sukses, kaya, atau berkuasa dengan usaha sedikit, dan kalau perlu tabrak aturan. Tak mampu melihat masa depan yang jauh, paling banter melihat dalam periode “lima tahunan.” Budaya “menanam jagung” yang tiga bulanan, ketimbang budaya “menenam jati” yang harus menunggu puluhan tahun. Budaya “jalur cepat” menuju sasaran, kalau perlu melangkahi kepala orang. Budaya selebritis instan yang ingin populer dalam sekajap. Atau, budaya “satu hari untung beliung” Seperti judul-judul buku populer: Jalan Pintas Menjadi Kaya, Cara Cespleng Pintar Matematika, dll.

Program-program pembangunan apabila diperhatikan banyak yang bersifat reaktif terhadap dinamika lingkungan strategis baik nasional maupun global. Seolah-olah tidak nampak program-program antisipatif yang visioner untuk masa depan Indonesia. Inilah salah satu ciri bahwa bangsa kita belum dewasa dalam berpikir, karena “kemampuan antisipasi merupakan indikator kebudayaan tentang kedewasaan suatu bangsa, apakah dia akan menghadapi masalah dengan terkejut dan emosional atau dia akan menanggapinya secara rasional dan siap mengatasinya.”[3] Penyakit kronis kita idap adalah kurang mengharagai mutu, memburu rente dalam ekonomi, politik uang dalam kekuasaan, gelar palsu dalam pendidikan, barang tiruan dalam perdagangan. Dalam budaya pragmatis dan hedonis seperti itu jelas “profit lebih penting daripada profet” atau “Pertanyaan ‘berapa kekayaanmu’ dianggap jauh lebih penting daripada ‘apa yang sudah kamu perbuat untuk bangsamu’. Akhirnya bangsa ini hanya punya para penyelenggara yang kaya material, tetapi miskin integritas, komitmen, dan kapabilitas serta dedikasi.”[4] Mentalitas seperti ini jelas sangat berpengaruh terhadap pembangunan budaya baca karena investasi dengan pengetahuan atau membaca merupakan investasi jangka panjang yang mungkin melintasi genarasi bahkan lintas zaman. Membangun bangsa dengan membaca adalah memerlukan bungker kesabaran yang membaja.

Kini, ideologi tak mendapat tempat, idealisme hanya tersisa di pojok-pojok sempit ruang kuliah atau kelompok-kelompok diskusi. Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian. Kembalikan Indonesia padaku! (Taufiq Ismail, 1971)

Bangsa ini perlu kembali menata cara pandang, membiakkan mimp-mimpi besar, memfokuskan masa depan, membangun gairah dan militansi, serta menancapkan cita-cita besar yang hidup dan dirasakan di dalamm hati. Sehingga energi bangsa ini tidak terbuang dalam gerak chaotic melingkar, namun mengalir sinergis dan fokus. Untuk itu, kita butuh semangat ideologi. Tanpa ideologi manusia hanya berlari mengejar peradaban materi, namun hampa dalam aspek emosi dan spirit. Secara kolektif jadilah kita bangsa yang miskin romantika sebagai mana perkataan penyair Jerman Schiller yang sering dikutip oleh Bung Hatta, “ Suatu abad besar telah lahir namun ia menemukan generasi kerdil”

Ideologisasi Membaca

Upaya ideologisasi membaca harus segera dilakukan supaya pembangunan budaya baca bangsa terjuwud secara akseleratif. Yang dimaksudkan dengan ideologisasi membaca adalah upaya mengubah cara pandang atau mind-set masyarakat supaya membaca dijadikan sebuah keyakinan atau kepercayaan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Juga agar membaca dipandang sebagai jalan kenabian atau sebuah titah suci dari Tuhan sebagai cara untuk mengelola dunia. Membaca dijadikan sebuah kegiatan yang memiliki nilai suci yang harus diperjuangkan dan disebarkan secara sadar dan totalitas oleh masyarakat. Negara harus berperan untuk mengemukakan serangkain ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan pembangunan budaya membaca. Hal itu dilakukannya supaya membaca dapat menjadi karakter bangsa. Negara harus berupaya untuk dapat segera menjadikan pembangunan budaya membaca menjadi prioritas pembangunan dan kemudian diimplentasikan secara massif dan simultan sehinga terinstitusionalisasi dan bahkan terinternalisasi dalam diri seluruh warga masyarakat.



[1] Ali Shariati. Tugas Cendekiawan Muslim. Jakarta: CV Rajawali, 1987, hal. 192

[2] Ali Syar’ati. Ideologi Kaum Intelektual. Bandung, Mizan, 1989

[3] Igans Kleden. “Kebudayaan dan Antisipasi”. dalam Kompas, 28 November 2013

[4] Indra Tranggono “Bangsa Miskin Legenda” dalam Kompas, 23 April 2013

 

 
E-mail

KECERDASAN LITERASI :

Sebuah Gagasan Awal

Oleh:

Suherman

Di zaman informasi seperti saat ini, hal yang sulit bukanlah mencari informasi, akan tetapi memilih dan mengolahnya sengingga menjadi informasi yang bernilai. Jangan terlalu bangga dengan kuantitas informasi yang dimiliki, bisa jadi itu akan tidak berarti apa-apa atau disfungsional. Dalam skala organisasi, sekarang ini banyak perpustakaan beralih menjadi museum buku dan lembaga repositori menjadi museum informasi. Hal tersebut terjadi karena informasi yang dimiliki tidak termanfaatkan sehingga menjadi idle information. Lebih baik memiliki informasi yang tidak banyak tapi berharga daripada memiliki jutaan informasi tapi tidak berharga. Bukankah lebih baik memiliki segenggam berlian daripada sekarung pasir? Idealnya memang memiliki informasi banyak dan berharga semuanya.

Menguasai informasi merupakan syarat utama untuk menjadi manusia yang berpengetahuan. Akan tetapi banyak informasi belum tentu juga bisa mengakselerasi pemahaman. Bayangkan!, pada tahun 2012 jumlah data dan informasi yang dihasilkan dan direplikasi diperkirakan mencapai lebih dari 2,8 zetabita atau sekitar 2,8 triliun gigabita. Tingkat pertumbuhan data mencapai sembilan kali lipat dalam waktu lima tahun. Angka ini diperkirakan terus meningkat hingga 50 kali lipat pada tahun 2020 (Livikacansera, 2016)

Kita tidak harus mengetahui semua hal tentang sesuatu agar memahaminya. Terkadang terlalu banyak fakta seringkali sama-sama menghambat pemahaman seperti juga terlalu sedikit fakta. Bahkan ada kesan bahwa terlalu dibanjiri oleh informasi sehingga menghancurkan pemahaman. Adler (2011) mengatakan yang dimaksud dengan belajar adalah memahami lebih banyak, bukan mengingat lebih banyak informasi yang tingkat keterpahamannya (intelligibility) sama dengan informasi lain yang sudah Anda miliki. Montaigne berbicara tentang “an abecedarian agnorance that precedes knowledge, and another doctoral ignorance that comes after it.” Yang pertama adalah ketidaktahuan orang-orang yang sama sekali tidak bisa membaca karena buta huruf. Yang kedua adalah ketidaktahuan orang-orang yang banyak membaca buku denga cara yang salah. Mereka, seperti dikatakan Paus Alexander, adalah orang-orang pandir yang banyak membaca buku akan tetapi dengan cara yang bodoh.

Sekarang ini banyak pusat repositori yang terobsesi untuk membangun data yang besar (big data). Tentu saja itu adalah hal yang baik dan positif sepanjang fungsional. Akan tetapi harus dipertimbangkan juga apakah dengan adanya google dan mesin pencari (search engine) lainnya big data yang ada di sebuah lembaga repositori masih diperlukan. Mengapa tidak memanfaatkan fasilitas yang sudah ada saja. Apabila masalah privasi dan eklusivitas masih menjadi pertimbangan, justru akan bertentangan dengan demokratisasi informasi yang apabila dinegasikan akan merugikan diri sendiri.

Supaya tidak terjebak kepada kesia-siaan maka diperlukan keterampilan memilih informasi dan mengelolanya menjadi informasi yang berharaga, yang saya sebut dengan kecerdasan literasi. Bayangkan, setiap hari milyaran informasi diproduksi baik oleh perorangan maupun lembaga, sehingga kita bagaikan berenang di lautan informasi dan mungkin juga menjadi tenggelam di dalamnya. Tanpa kecerdasan informasi alih-alih kita akan mendapat kemudahan malah mungkin akan terlibas dan tertelan gelombang informasi. Kecerdasan literasi ibarat papan selancar yang akan membawa kita mengarungi irama gelombang dari lautan informasi.

Kecerdasan informasi mutlak diperlukan terutama oleh lembaga repositori supaya koleksi informasi yang tersedia dapat disintesiskan, disajikan, dan didesiminasikan menjadi informasi yang aktual dan bernilai. Lebih jauh, dengan kecerdasan informasi, lembaga repositori menjadi lembaga yang antisipatif terhadap perkembangan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan muncul dan menjadi trend di masa yang akan datang.

Empat Pilar

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu seorang futurolog Alvin Toffler mengatakan bahwa sekarang ini adalah dekade gelombang ketiga yaitu gelombang informasi. Pada era ini kegiatan ekonomi akan berbasis kepada pengetahuan atau knowledge based economy, di mana informasi akan menjadi komoditas yang sangat menentukan. President of Microsoft Amerika Latin Herman Rincon bahkan menyamakan data sebagai mata uang baru. Masih menurut Rincon, sekitar 90 persen dari seluruh data yang ada saat ini tercipta hanya dalam waktu dua tahun terakhir. Dari aspek bisnis, nilai pasar global big data diprediksi mencapai 53,4 miliar dolar AS pada tahun 2017.

Seharusnya lembaga yang akan berperan dan tentu saja yang disangka akan mendapat banyak keuntungan adalah perpustakaan dan lembaga repositori. Karena lembag-lembaga inilah yang mengakumulasi pengetahuan dan informasi. Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Lembaga-lembaga tersebut tetaplah seperti business as usual, malah semakin hari lembaga ini semakin tergerus peran dan posisinya, bahkan sudah banyak yang mati atau bubar. Hal ini terjadi karena lembaga-lembaga pengetahuan ini hanya mengkoleksi sumber informasi dan pengetahuan bukan mengolohnya menjadi informasi baru yang bernilai. Kebanyakan lembaga repositori yang ada sekarang ini ibarat pasar tradisional yang menyediakan berbagai macam jenis informasi. Dan dengan pasif menunggu pembeli yang datang. Dalam prosesnya, sebagian besar lembaga ini hanya membuat klasifikasi sumber informasi berdasarkan kepada jenis informasi bukan berdasarkan kepada nilai informasinya.

Secara teknis Yanuar Nugroho dan Luis Crouch (2016) memberikan formulasi supaya data dan informasi menjadi fungsional atau berharaga: pertama, gunakan lebih banyak disaggregeted data (data yang dapat dipilah-pilah). Kedua, fokus pada input yang membuahkan hasil kahir positif, berdasarkan bukti, data, ataupun penelitian. Ketiga, mendorong inovasi dan kolaborasi antar berbagai sektor. Keempat, memastikan bahwa masyarakat sipil serta pemerintah pusat dan daerah menggunakan data untuk mengambil keputusan. Empat langkah terknis formulasi tersebut bisa dilakukan apabila dibarengi dengan kecerdasasn literasi yang memadai.

Untuk meraih kecerdasan literasi minimal diperlukan empat pilar utama yang sangat fundamental: pertama, tradisi membaca. Kecerdasan literasi akan dimiliki hanya oleh orang-orang yang memiliki tradisi membaca yang baik. Malah, apabila tradisi membaca sudah terpateri atau sudah menjadi karakter dalam diri seseorang dengan sendirinya pasti orang tersebut memiliki kecerdasal literasi. Tentu saja bukan hanya membaca, akan tetapi dengan sistematika dan perencanaan yang baik. Memiliki banyak informasi kalau tidak fungsional atau tidak saling berkorelasi tidak akan menghasilkan output yang bernilai. Tradisi membaca adalah pilar utama untuk memperoleh kecerdasaran literasi. Jangan bermimpi memiliki kecerdasar literasi tanpa memiliki tradisi membaca yang baik.

Kedua, manajemen pikiran. “Anda adalah apa yang anda pikirkan” kata Carnegie. Artinya pikiran adalah akar dari perilaku manusia. Tindakan atau prilaku seseorang tidak mungkin keluar dari bingkai pikirannya. Oleh karena itu, untuk membangun karakter langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki kualitas pikiran. Dan kualitas pikiran sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang masuk ke dalam benak yang kemudian diproses menjadi ide atau gagasan.

Input informasi yang salah otomatis akan mengeluarkan output yang berupa ucapan atau perbuatan yang juga salah. Perilaku seseorang tidak akan keluar dari perintah pikiran, walaupun informasi yang membentuk pikiran kita adalah informasi yang salah. Tidak jarang konflik terjadi karena misinformasi atau mendapatkan informasi yang keliru (hoax) melalui intrik atau isu yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

Oleh karena itu, biasakanlah diri untuk mengetahui sesuatu sebagaimana ia adanya, secara akurat, dan objektif yang disebut dengan ilmu pengetahuan. Tidak ada sesuatu yang dapat dilakukan secara benar, kecuali jika mempunyai pengetahuan yang benar tentang sesuatu tersebut.

Selain mempunya daya serap yang selektif terhadap informasi, juga harus memiliki kemampuan berpikir secara meluas dengan informasi yang general dan mendalam dengan informasi yang bersifa spesialis. Yang pertama lebih berorientasi pada keluasan cakupannya, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada kedalamannya. Yang pertama berorientasi pada pembentukan wawasan, sedangkan yang kedua lebih berorientasi pada penguasaan detil. Yang pertama memberi efek integralitas, yang kedua memberi efek ketepatan. Idealnya seorang pekerja informasi atau pustakawan memiliki kemahiran dalam menggabungkan kedua metode berpikir tersebut supaya memiliki informasi yang komprehensif, bersifat lintas disiplin, dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya.

Ketiga, metode analisis informasi. Metode analisis informasi ada dua jenis: kualitatif dengan teknik interpretasi misalnya analisis wacana dan analisis framing, sedangkan metode yang kuantitatif biasanya memakai analisis isi. Metode kualitatif memerlukan keluasan pengetahuan atau referensi (frame of reference) serta kekayaan pengalaaman (field of experience). Sementara metode kuantitatif memerlukan ketepatan perhitungan yang biasanya menggunakan statistik. Tentu saja untuk mendapatakan hasil analisis yang integral perlu memakai pendekatan kedua metode tesebut.

Analisis informasi diperlukan untuk mendaptkan informasi yang lebih mendekati kebenaran dan ketepatan. Karena antara teks dan konteks selalu ada mediasi yang terkadang bisa membuat bias. Kata Barthes (2000) teks terdiri bukan hanya barisan kata-kata yang melepaskan pesan dari pengarangnya, tetapi suatu ruang multidimensi di mana telah dikawinkan dan dipertentangkan beberapa tulisan, tidak ada yang asli darinya. Teks adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya.

Selain harus memperhatikan pengarangnnya, dalam membaca sebuah karya, Jean Paul Sartre (2000) mengingakan pada kita bahwa teks tidak bisa lepas dari konteksnya. Suatu karya adalah anak kandung zaman. Sebuah buku punya kebenaran mutlak dalam zamannya. Buku muncul dari inter-subjektivitas, ikatan hidup nafsu amarah, kebencian atau cinta antara orang-orang yang menghasilkannya (penulis) dan orang-orang yang menerimanya (pembaca).

Keempat, inovasi. Informasi yang sudah terakumulasi kemudian dipahami dan dicerna secara objektif melalui analisis yang intergral. Informasi yang telah diurai melalui pisau analisis tersebut kemudian dibangun dan diintegrasikan atau menghubngkan bagian-bagian yang terpisah dari peristiwa atau kenyataan menjadi kesatuan yang terkorelasi secara utuh. Maka dari situlah akan melahirkan informasi atau gagasan baru yang merupakan tambahan atas informasi atau pikiran yang semula sudah ada. Itulah inovasi informasi.

Kecerdasan literasi dapat memperlancar dalam pengelolalaan pengetahuan yang pada akhirnya bisa berkontribusi untuk memperlancar pembelajaran organisasi. Pengelolaan pengetahuan adalah perihal bisnis keilmuan. Gagal mengelola pengetahuan akan menjadikan bisnis keilmuan mengalami kebangkrutan substantif. Jika ini terjadi, peradaban sebuah bangsa akan sulit menjauh dari titik nadir. Sebab, menurut Kidwell, Lide, dan Johnsson “mengelola pengetahuan pada prinsipnya adalah mengubah informasi dan aset intelektual ke dalam nilai abadi” (Muzakki, 2016). Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kecerdasan literasi merupakan keniscayaan baik bagi individu maupaun organisasi, terutama institusi informasi.

Dengan waktu yang terbatas tidak mungkin untuk mengikuti atau membaca informasi yang tersedia. Akan tetapi dengan memiliki kecerdasan literasi kita bisa mendapatkan informasi yang mememadai. Dengan kecerdasana literasi pula, dalam konteks organisasi, sebuah perpustakaan atau pusat repositori akan mudah dalam melakukan menajemen informasi. Informasi yang masuk melalui kegiatan akusisi diproses berasarkan nalar yang kritis dan objek kemudan direkonstruksi dan akhirnya melahirkan luaran (output) berupa informasi baru yang inovatif dan bernilai.

Sepertinya hanya dengan kecedasan literasi inilah pusat informasi, perpustakaan, dan lain-lain institusi informasi akan terhindar dari kematiannya digilas oleh kemajuan teknologi informasi yang semakin akseleratif dan massif.

 
E-mail

Dari Literasi Ke Revolusi

Basinet (helm militer) bisa melindungi kepala dari peluru. Tapi tidak akan ada alat pelindung kepala secanggih apapun yang bisa melindungi dari tembakan sepotong kata. Atau meminjam kata-kata Sayid Quthub, seorang aktivis Ikhwanul Muslimin yang menjadi martir digantung karena tulisan-tulisannya, “satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala."

Kata bisa diucapkan dan didengar (orality) dan juga dilihat atau dibaca (literacy) yang melahirkan pengetahuan, dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Francis Bacon bahwa pengetahuan adalah kekutan (knowledge is power). Bahkan kalau kita renungkan kekuatan para Nabi dan Rasul mereka hanya berbekal Literasi (berupa firman Allah), untuk melakukan perubahan atau revolusi. Bukankah perintah pertama untuk membangun peradaban mulia adalah dengan perintah untuk membaca (Iqro!) ?

Karena kata-katalah yang dapat membangun kesadaran yang akhirnya akan menggerakan tangan untuk menenteng senapan dan kaki untuk berlari menyongsong tank dan rudal. Betapa dalamnya ucapan Rendra, “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Di belahan bumi manapun dan dipotongan zaman sejarah kapanpun, orang-orang literate (intelektual, intelegensia, cendekiawan) adalah yang selalu menjadi lokomotif perubahan atau pemimpin revolusi. Dan sebaliknya, tahta bisa bertahan bahkan menghegemoni juga karena ditopang oleh pengetahuan. Baik tahta yang membawa sejahtera maupun tahta yang menipakan angkara. Fira’un, sebagai representasi dari diktator yang tidak tertandingi, menopang rezimnya selain dengan senjata (kekutan militer) juga dengan pengetahuan. Dia sendiri adalah seorang literate yang bibliomania (hobi mengupulkan “buku) yang memiliki lebih dari 20.000 “buku.”

Bila kita menengok sejarah pra-Indonesia maka itulah juga yang terjadi. Saya sendiri mengagumi tokoh Ken Arok (abad ke-12) yang kontroversial namun inspiratif. Ken Arok adalah seorang pribadi yang literate. Beliau membangun kekuasaan dengan cara merangkak dari bawah. Ambisi untuk menduduki tahta Tumapel direncanakan dengan sangat apik. Akan tetapi langkah pertama yang dilakukan Ken Arok adalah melakukan revolusi mental atas dirinya sendiri. Arok tahu betul bahwa untuk merebut kekuasaan tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan militer, akan tetapi harus didahului dengan penguasaan atas ilmu pengetahuan. Dengan semangat revolusioner kemudian Arok membacai ribuan lembaran lontar yang berisi berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya. Akhirnya seorang yang bukan siapa-siapa dari kasta Sudra kemudian naik menjadi Ksatria dan akhirnya menjadi seorang Brahmana yang dipercaya untuk memimpin revolusi (kudeta pertama di tanah Jawa) terhadap singgasana Tunggul Ametung.

Revolusi Indonesia pun terjadi gara-gara literasi. Poltik etis yang dijadikan kebijakan politik kolonial Belanda bisa dikatakan menjadi percikan api yang menerangi kesadaran yang akhirnya api itu membesar dan dapat membakar tatanan kolonialisme. Senjata makan tuan. Pada awalnya politik etis diintroduksi oleh kubu demokrat selain untuk pencitraan juga untuk rekrutmen tenaga administratif birokrasi kolonial dari kalangan pribumi. Kesempatan ini, melalu sekolah-sekolah yang awalnya didirikan oleh Belanda, dijadikan jembatan emas baik untuk melakukan mobilisasi vertikal dengan menduduki jabatan birokrasi maupun mobilisasi horizonatal untuk mendidik masyarakat. Yang pada awalnya pendidikan diberikan kepada kaum pribumi hanya untuk memenuhi kekurangan tenaga administratif kolonial Belanda, ternyata malah dijadikan senjata yang ampuh oleh kaum pribumi untuk membunuh kedurjanaan kolonialisme.

Senjata literasi ini telah menyulut obor api kesadaran yang membakar kejumudan masyarakat pribumi dan menerangi gelapnya realitas kolonial yang menyengsarakan. Literasi telah menimbulkan perasaan untuk mencintai bangsa dan negara sendiri yang disebut dengan nasionalisme. Pelopor dan penggerak gerakan literasi adalah golongan intelegensia yang kemudian hari banyak menjadi pahlawan bangsa. Mereka membawa ilmu pengetahuan, yang diperoleh dari kegiatan literasi (membaca) kepada masyarakat agar mereka sadar akan realitas penindasan yang dilakukan oleh kolonial Belanda.

Akhirnya pijar api kesadaran tentang pentingnya kebebasan telah menerangi akal pikiran masyarakat secara massif dan simultan, maka tembullah kebernian untuk melepaskan diri dari cengkaraman kuku biadab penjajah. Kesadaran ini awalnya hanya sebuah riak kemudian menjadi ombak dan akhirnya menjadi gelombang dahsyat yang tidak ada kekautan lagi untuk membendungnya. Maka terjadilah revolusi untuk merebut kebebasan dan harga diri.

Revolusi tidak akan terjadi manakala tidak ada ide revolusi. Dan ide itu muncul dari banyaknya informasi yang masuk ke dalam memori yang instrumen utamanya adalah membaca. Bagi kolonial dan penguasa diktator budaya literasi atau masyarakat literate adalah ancaman bagi kekuasaannya. Maka tidak heran apabila Hitler mengatakan, “bahagialah seorang penguasa yang memiliki rakyat yang bodoh.”

Kini kolonialisme tidak lagi melalui senjata akan tetapi dilakukan melalui cara yang sangat halus (soft colonialism) terutama melalui pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Saking halusnya banyak yang tidak sadar bahwa kita tengah dijajah dan diperkosa secara ekonomi dan kebudayaan. Sedihnya sebagian merasa bangga dijajah bahkan mengundang penjajah dan memuluiakannya seolah mereka adalah para mesias yang akan membawa kita ke keadaan yang lebih makmur dan sejahtera.

Watak dan semangat kolonialisme sampai kapan pun tetap sama yaitu mengekploitasi bangsa melalui akal bulus “bantuan” dalam bidang ekonomi (utang), politik, pendidikan, dan kebudayaan. Kalau dulu disebut daerah jajajahan atau koloni maka sekarang berupa pasar untuk menjual produk kebudayaan mereka. Mereka masuk ke Indonesia melalui agen atau komprador yang telah mereka didik, atau lebih tepanya “dicuci otaknya” dengan pengetahuan yang mendewa-dewakan kemajuan mereka. Para komprador ini, yang terdiri dari kaum intelektual dan pejabat yang nirnasionalisme, membawa Indonesia untuk berkiblat kepada negara mereka. Maka kita lihat hasilnya hari ini pendidikan kita tidak membumi, gagal untuk mengindonesiakan dan memanusiakan rakyat Indonesia. Pendidikan telah berhasil memalinkundangkan generasi muda yang durhaka terhadap ibu pertiwinya. Secara ekonomi, akhirnya banyak rakyat yang bukan saja menjadi “koeli di negeri sendiri“ seperti kata Soekarno malah banyak yang menjadi “gelandangan di kampung sendiri” sebagaimana ditangisi Cak Nun.

Sejarah akan terus berualang, maka untuk mengembalikan kedaulatan, kemandirian, dan kembali kepada jati diri bangsa adalah juga dengan revolusi melalui gerakan literasi. Massa harus dibekali dengan kemahiran literasi informasi supaya pandai menganalisis informasi yang menipu dan memperdayakan. Literasi informasi adalah sebuah senjata supaya massa sadar tentang realitas yang sebenarnya. Dengan kesadaran ini maka kita akan sama-sama bangkit melakukan sebuah revolusi gerakan perlawanan untuk kembali kepada diri sendiri. Gerakan literasi mengemban amanah suci dari Pembukaan UUD 45 yang berbunyi “maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan” Merdeka! (Suherman)

 
E-mail

Bukan Literasi Benar Menusuk Kalbu

Oleh:

Suherman

Alhamdulillah literasi akhirnya mendapatkan tempat di ruang publik dan negara pun, yang awalnya terkesan acuh tak acuh, mulai meliriknya. Bukan hanya bidang pendidikan yang mulai mengitegrasikannya kedalam kurikulum, akan tetapi bidang lain pun seperti politik (literasi poltik), finansial (litrasi finansial) , termasuk masalah sosial (biblioterapi) sedang melakukan elaborasi . Dua dasawarsa yang lalu masalah literasi kurang dipedulikan mungkin karena istilah ini belum populer (sampai saat ini kata “literasi” belum ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Setelah banyak bukti bahwa budaya literasi ternyata sangat vital dalam proses pembangunan maka mulailah ramai dibahas. Dan untuk menutupi rasa bersalah ini banyak yang menyalahan budaya lisan. Budaya lisan tepatnya kelisanan (orality) dijadikan sebagai tersangkan, untung belum terdakawa, sebagai penghambat tumbuhnya budaya literasi di tanah air. Saya sendiri meragukan adanya budaya lisan ini, karena yang namanya lisan bukanlah hasil budaya akan tetapi sudah ada dari sono-nya (taken for granted). Bukan hasil dari kebudayaan manusia seperti keaksaraan atau literasi (literacy) yang diawali dari ditemukannya tulisan. Kelisanan sama seperti melihat dan mendengar bahkan mugkin juga sama seperti bersin, batuk, dan kentut semuanya berada di luar kuasa rekayasa manusia.

Dalam tulisan ini saya akan membahas hubungan antara literasi dengan masalah kekerasan. Kedua masalah ini sedang menjadi trending topic dalam pertarungan wacana di tanah air. Baik untuk pengembangan kebudayaan maupun hanya sekedar untuk keperluan branding dalam pertarungan politik yang masih jauh dari demokrasi ini.

Kekerasan ada di setiap tempat dan waktu. Sejak manusia diciptakan sampai nanti kiamat akan tetap ada. Sejarah adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan tidak mengenal suku bangsa, semua ras manusia melakukannya. Kekeran tidak mengenal status sosial, dilakukan oleh sorang raja maupaun rakyat jelata, orang kaya atau orang miskin. Dan kekeras tidak mengenal tingkat pendidikan, dilakukan oleh profesor maupun orang-orang rombengan dari bumi yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Kekerasan dilakukan oleh si pintar dan si bodoh. Kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja baik perorangan maupun secara kolektif terorganisasi bahkan oleh negara. Kekerasan bisa berbentuk ideologi, ekonomi, politik, maupun kebudayaan. Oleh karena itu kekerasan hanya bisa dihilangkan atau diminimalisasi hanya dengan antitesisnya yaitu moral.

Belakangan ini ada beberapa penelitian mengenai hubungan antara budaya literasi dengan tindakan kekerasan. Dengan sebuah asumsi atau hipotesis bahwa semakin tinggi budaya literasi di sebuah masyarakat maka akan mengurangi tindakan kekerasan pada masyarakat itu, dan sebaliknya. Misalnya ada yang meneliti hubungan ini di sekolah dasar dengan kesimpulan bahwa semakin banyak seorang siswa membaca ternyata akan mengurangi bahkan menghilangkan perilaku suka bulying. Atau kita sering menyodorkan kisah nyata dari buku atau film Freedom Writers yang menceritakan tentang keberhasilan seorang guru dalam mengelola kelas dengan murid yang super bengal malah sampai kriminal menjadi kelas yang penuh tolerasi, solidatiras, dan prestatif. Untuk menaklukan kelas itu sang guru hanya menggunakan dua senjata yaitu kisah dan buku. Satu lagi tentang Malcolm X, seorang berandalan putus sekolah yang berhasil menjadi cendkiawan—dan akhirnya menjadi seorang politisi bahkan dianggap sebagai pahlawan—di dalam penjara karena keranjingan membaca.

Dengan cerita-cerita seperti di atas lantas kita menyimpulkan bahwa budaya literasi bisa dijadikan sebagai penangkal kekerasan. Akan tetapi menurut saya belum tentu, karena dalam sejarah pun banyak cerita yang justru menjadi antagonisnya. Coba baca buku biografi Karl Marx, Stalin, Mao Zedung, dan Hitler. Para diktator tersebut adalah orang-orang yang literate atau kecanduan membaca buku, malah Marx, sang hantu komunisme inernasional ini, dijuluki sebagai bibliomania atau orang yang tergila-gila dengan buku. Akan tetapi mereka semua adalah jagal manusia dan kemanusiaan yang sangat bengis dalam sejarah peradaban. Orang-orang intlektual yang anti intelektual, dan dalam mencapai tujuan politiknya memakai cara kekerasan yang paling biadab dalam sejarah. Sama biadabnya dengan Jengis Khan yang tidak pernah baca buku. Di ujung jari mereka jutaan manusia mati dengan tragis. Dalam genggaman orang-orang pintar yang tidak bermoral kemahiran literasi justru menjadi mesin kekerasan bahkan mesin pembunuh yang paling berbahaya.

Jangan dikira bahwa orang yang banyak pengetahuannya tidak akan berbuat kekerasan, yang berbeda adalah hanya jenis kekerasannya. Kelas elit beda pendapat, kelas menengah konflik, dan orang yang rendah pengetahuannya bisanya tawuran. Orang tidak berpengethuan mencuri dengan cara merampok atau membegal dengan senjata, orang berpengetahuan mencuri dengan cara korupsi pake ballpoint. Seorang begal hanya membunuh dengan korban berjumlah hitungan jari, tapi seorang intelektual dengan buah pikirannya bisa membunuh sampai jutaan orang.

Kemahiran literasi bukanlah obat mujarab untuk mengobati penyakit masyarakat, kerawanan sosial, atau penolak bala kekerasan. Literasi hanyalah sebuah cara atau alat (tool) untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan. Literasi seperti sebuah pisau bisa digunakan untuk menyembelih ayam atau menggorok leher manusia. Oleh karena itu yang harus sangat diperhtikan adalah pesan atau isi dari bacaan. Makanya tidak hanya sekedar membaca akan tetapi harus iqro bismi robbikal lazi khalaq, membaca dengan selalu menyebut atau menyertakan nama Tuhanmu yang menciptakan. Jangan sampai melupakan eksistensi Tuhan atau demensi moral dalam kegiatan membaca.

Literasi bermakna bagaimana seseorang mahir dalam menganalisis informasi. Dari berbagai penelitian dan pendaptan para pakar ada indikasi bahwa siswa Indonesia tidak terbiasa menganalisis informasi. Fenomena hoax yang ramai sekeranga ini adalah cermin bahwa masyarakat Indonesia belum bisa membedakan mana informasi yang yang benar dan yang palsu sehingga mudah ditipu atau diperdaya. Oleh karena itu untuk mengeliminasi informasi hoax pemerintah tidak usah repot mengawasi media sosial dan melarang banyak situs. Jadikan saja masyarakat indonesia menjadi masyarakat yang literate atau pandai menganalisis informasi melalui lembaga-lembaga pendidikan.

Manusia adalah apa yang dia baca atau pikirkan. Oleh karena itu sangat berbahaya apabila tidak hati-hati dalam menerima informasi. Harus ada tabayun (analisis informasi) karena dari informasi yang diterima inilah sebuah keputusan atau kebijakan akan diambil. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada orang fasik membawa suatu berita (informasi), maka periksalah dengan teliti (tabayun = analisis informasi ) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum (audiens) tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (al-Hujurat: 6).

Untuk membuat analisis informasi yang benar memerlukan metode tersendiri yang harus memperhatikan berbagai variabel. Misalnya yang paling sederhana adalah formulasi komunikasi yang dibuat oleh Harold D. Laswell: who, say what, to whom, what chanel, and with what effect. Bila dirinci bisa menghasilkan satu variabel satu judul buku. Siapa (komunikator), berkata apa (pesan), kepada siapa (khalayak), menggunakan media apa, dan kira-kira apa yang dinginkan komunikator (efek).

Apabila kita membaca buku pernahkah kita menganalsis secara detil tentang penulisnya. Atau dalam sebuah karya ilmiah pernahkan sumber rujukannya dipermasalhkan identitas, kapabilitas, dan integritasnya. Biasanya dalam sebuah karya ilmiah yang penting disebutkan sumber rujukannya tidak peduli dengan keberadaan pengaragangnya. Ada seorang teman yang psikolog bahkan mengaku psikolog muslim yang mengagumi teori psikoanalisis dan merasa bangga bila mengutip nama Sigmund Freud yang membuat teorinya. Dia tidak pernah tahu siapa sebenarnya Freud ini. Ternyata menurut Zilboorg, sepanjang hidupnya Freud dihantui oleh death anxiety, pesimisme, dan memiliki sikap penyedih yang mencerminkan depressive neurosis. Lha, dengan demikian banyak ahli ilmu jiwa belajar dari orang yang sakit jiwa. Apakah ini tidak lebih gila dari orang gila? Bandingkan misalnya dengan proses penentuan kebenaran atau keotentikan sebuah hadits. Penyampainya (perawi) harus dinilai secara ketat identitas, kapabilitas dan integritasnya. Kalau ada caca moral sedikit saja maka tidak akan diterima. Jangankan menipu orang, menipu binatang saja pendapatnya tidang dipercaya.

Kata Bung Hatta buku akan membentuk karakter bangsa. Oleh karenanya menentukan buku apa yang akan dibaca sangatlah penting. Pesan yang tertulis dalam sebuah buku tidaklah bebas nilai, pasti bermuatan idelogi dari penulisnya. Melakukan akuisisi bahan pustaka pada era liberal seperti sekarang ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Semua pengarang baik yang bermolah maupun tidak bebas mengekspresikan pendapatnya melalui buku. Apalagi orientasi negara yang semakin kapitalis sangat mempangaruhi pasar yang tidak lagi memperhatikan dimensi moral, pertimbangannya hanya profit bukan lagi “profet.” Misalnya sekarang ini masyarakat sangat mudah untuk membaca atau membeli buku-buku sastra selangkangan atau sastra lendir. Malah buku-buku tersebut menjadi best-seller nasional padahal buku-buku tersebut secara tidak langsung akan memicu terjadi seks bebas dan kekerasan seksual. Menurut para ahli neurologi, fornografi akan merusak syaraf dan jauh lebih berbahaya dari pada narkoba. Pantas bila Imam Asyafi’i berkata “ hari ini setengah hafalanku hilang karena melihat aurat.” Padahal yang dilihat hanya betis perempuan bukan alat vital. Buku-buku berbau fornogarafi tidak ada manfaatnya sedikit pun bagi kehidupan malah buku sastra jahiliyah semacam itu akan menimbulkan pembusukan kebudayaan. Tapi tidak ada tindakan apa-apa dari negara, sangat beda dengan penangan kasus narkoba atau teroris, sekali lagi padahalan dampaknya sama-sama bebahaya terutama bagi genrasi muda.

Knowledge is power kata Francis Bacon, pengetahuan adalah kekautan atau kekuasaan. Kata-ka kata populer yang meliki makna yang hampir sama ducapakan oleh Rene Descarte cogito ergo sum ( aku berpikir maka aku ada). Atau yan paling eksplisit adalah pepatah Latin lego ergo scio (aku membaca maka aku tahu) Jauh sebelum Bacon dan Descartes, Nabi Muhammad bersabda apabila ingin mengusasi dunia dan akherat maka kuasailah ilmu, oleh karena itu mencari ilmu wajib hukumnya. Bahkan Firman pertama yang diturunkan adalah ayat literasi, perintah membaca, maka membaca pun sebuah perintah yang mestinya wajib hukumnya. orang yang banyak pengetahuannya akan menjadi orang kuat atau berkuasa tentsu saja secara intlektual bukan secara fisik. Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan mereka yang beroleh ilmu pengetahuan (Al-Mujadalah 11). Derajat seseorang sebanding dengan kedalam ilmu yang ada dalam dirinya. Apabila seseorang hanya mempelajari aspek teknis maka ia akan menjadi seorang teknisi; apabila yang dimiliki banyak informasi maka ia akan menjadi seorang manajer; apabila informasi itu diolah menjadi pengetahuan maka ia akan menjadi seorang pemimpin, dan apabila kedalaman pengetahuan yang dimilikanya mencapai kebenaran filosifis atau hikmah maka ia akan menjadi seorang master (guru) atau begawan. Salah satu cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling “gampang’ dan populer adalah dengan membaca buku.

Baik sabda Nabi maupun ucapan Bacon ternyata terbukti kebenaranya di dalam sejarah peradaban manusia, baik dalam taraf individu maupun skala negara. Coba kita perhatikan, bangsa yang maju secara teknologi adalah bangsa yang budaya literasinya tinggi. Sebaliknya, bangsa yang budaya literasinya rendah akan tertinggal. Akan tetapi bagaimana dengan Yunani yang bebrapa tahun yang lalu nyaris saja mengalami kebangkrutan? Padahal Yunani adalah sebuah negara tempat dilahrikannya banyak filosof dunia. Malah Yunani sempat menjadi pusat peradaban dunia. Menurut saya hal itu terjadi karena orientasi literasi Yunani kepada humaniora bukan teknologi. Filsafat berkembang akan tetapi teknologi atau ilmu praktis material ditinggalkan. Sedangkan negara-negara seperti Amerika, Jerman, Jepang, dan China adalah mereka yang mengembangkan ilmu rekasaya material. Bahkan sempat ramai bahwa Jepang akan menghapus ilmu-ilmu humaniora dari pendidikan tingginya karena dianggap tidak berguna dalam kemajuan pembangunan. Dari kasus ini sekali lagi kita melihat bahwa bukan masalah budaya literasi semata yang menjadi pendorong kemajuan akan tetapi isi atau pesan dari materi bacaan itu sangatlah menentukan.

 
E-mail

Babad Padjadjaran Menjadi

Memory of the World ?

 

Setelah Negara Kertagama, La Galigo, dan Babad Diponegoro resmi terdaftar di Memory  of the World (MOW), rasanya sudah  saatnya Babad Padjadjaran menyusul  menjadi nominasi berikutnya.  Bukan karena tuturut munding (ikut-ikutan) akan tetapi warisan budaya literatur asal Jawa Barat ini  adalah kekayaan khazanah budaya nasional yang sangat pantas untuk diketahui  warga dunia.

MOW adalah salah satu program dari UNESCO yang didirikan pada tahun 1992. Program ini  bertujuan untuk melakukan preservasi warisan literasi dunia yang rusak akibat perang atau pergolakan sosial dan melindungi naskah dari pencurian atau penjarahan. Filosofi dari program ini adalah dokumen (warisan literasi) dunia merupakan milik semua dan harus dapat diakses oleh semua.  MOW  membantu akses universal  ke documentary heritage dan juga turut meningkatkan kesadaran dunia tentang keberadaan dan signifikansi documentary heritage.

Ada beberapa hal yang melatari kepantasan Babad Padjadjaran menjadi MOW  tersebut. Pertama, secara substantif Babad Padjadjaran bercerita tentang Kerajaan Padjadjaran yang merupakan kerajaan terbesar di Tatar Sunda. Kedua, Babad Padjadjaran memiliki naskah yang lengkap sehingga secara administratif akan memudahkan pendaftarannya  menjadi MOW. Ketiga,  ini adalah salah satu langkah strategis untuk ngamumule (revivalisasi dan revitalisasi) nilai-nilai luhur  atau kearifan  budaya  Ki Sunda.

Upaya ngamumule sudah lama dilakukan oleh para inohong (tokoh) dengan berbagai pendekatan di antaranya: pertama, pendekatan institusional  misalnya dengan didirikannya Puseur Budaya Sunda dan  Pusat Studi Sunda. Kedua, pendekatan konsitutusional yaitu dengan peraturan daerah atau peraturan kepala daerah tentang berpakaian adat Sunda di hari-hari tertentu atau acara-acara tertentu serta Bahasa Sunda dimasukkan kedalam kurikulum sekolah. Ketiga, pendekatan kultural yang dilakukan dengan cara mengadakan berbagai macam kegiatan misalnya, pasang giri, lomba membaca pupuh, dan lain-lain.

Gerakatan ngamumule melalui MOW adalah juga  bisa menjadikan upaya untuk menghadang budaya bangsa deungeun (Barat dan Utara) yang telah lama meminggirkan bahkan mengubur  sebagian budaya adiluhung Sunda sehingga jati diri bangsa juga ikut hancur (jati kasulih ku junti). Diam-diam banyak masyarakat yang merindukan untuk berjumpa kembali  dengan kearifan lokal  Ki Sunda. Sebagai contoh, anjuran dari pemerintah daerah untuk mengenakan  pakaian khas Sunda (teruma totopong/iket dan pangsi)  disambut antusias oleh masyarakat.


Padjadjaran Center

Tentu saja upaya ngamumule tidak hanya cukup dengan mendaftarkan  menjadi MOW saja.  UNESCO hanya memfasilitasi  pelestarian saja sedangkan  supaya babad ini memiliki nilai tambah, itu sangat tergantung kepada kita semua. Untuk itulah maka  langkah berikutnya adalah  bagaimana babad ini bisa dioptimalisasi atau dikapitalisasi sehingga manfaatnya bisa dirasakan oleh semua orang.  Dalam hal ini penulis megusulkan didirikannya Padjadjaran Center (Puseur Padjadjaran).

Padjadjaran Center dibuat untuk tujuan merekonstruksi  Kerajaan Padjadjaran terutama dalam perspektif literasi. Tentu saja alangkah akan lebih baik apabila bisa direkonstruksi  secara arsitektural dalam bentuk maket atau diorama misalnya.

Ada  beberapa keuntungan apabila pendirian Padjadjaran Center ini bisa terlaksana, di antaranya: Pertama, Padjadjaran Center akan menjadi landmark baru Jawa Barat  sehingga Jawa Barat akan semakin dikenal di tingkat nasional, regional, dan bahkan di mata dunia. Kedua, Jawa Barat menjadi destinasi wisata literasi internasional, bukan hanya terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya tetapi juga  memiliki adikarya berupa documentary heritage.  Para wisatawan dapat mengenal kearifan lokal Jawa Barat dari segi sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Ketiga, menjadi inspirasi budaya dan ekonomi kreatif sehinga akan menciptakan  lapangan kerja baru terutama dalam sektor industri kreatif,  jasa, dan hiburan. Misalnya,  apabila Padjadjaran Center ini sudah menjadi destinasi wisata literasi maka semua yang bersangkutan dengan budaya Sunda  dapat dikapitalisasi, mulai dari pembuatan merchandise, kuliner, fashion, kursus  bahasa Sunda singkat untuk turis mancanegara, dan lain-lain sampai pementasan seni (termasuk drama dan film)  kolosal yang bertemakan Kerajaan Padjadjaran. Keempat,  Jawa Barat, dalam hal ini Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (BAPUSIPDA)  akan  menjadi model  untuk Indonesia bahkan untuk dunia bagaimana cara melakukan optimalisasi dan kapitalisasi literasi warisan budaya. Kelima, secara tidak langsung  masyarakat disadarkan tentang pentingnya membaca dan arsip dalam kehidupan.

Tentu saja perlu dukungan dan urun rembuk dari banyak pihak untuk mewujudkan cita-cita di atas. Dukungan moral dari para inohong, dukungan konseptual dari para akademisi, dan dukungan finansial dari para pengusaha sukses dan pemerintah daerah. Juga yang paling penting adalah adanya political will dari Gubernur Provinsi Jawa Barat.

Secara teknis perlu beberapa langkah untuk memajukan Babad Padjadjaran menjadi MOW, namun sebelum langkah adminsitratif  ditempuh yang sangat penting adalah diadakannya musyawarah dari para pemangku kepentingan (inohong, akademisi, pengusaha, dan pemerintah) untuk menguji kelayakan babad (Suherman)


Last Updated on Tuesday, 31 January 2017 13:32
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 5

Balai Pustaka

1. Di Bawah Lindungan
2. Siti Nurbaya

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


The Inspirational Librarian



Get the Flash Player to see this player.

time2online Joomla Extensions: Simple Video Flash Player Module

Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 3,543
  • Sedang Online 146
  • Anggota Terakhir Marustix

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9050912
Jantung_Sekolah1.jpg

Kalender & Agenda

August 2017
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC