.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KORAN TEMPO, SABTU 12 JULI 2008

       

       

      HARAPAN DARI KAKI

      PAPANDAYAN

      Empat tahun silam berdiri

      sekolah gratis yang tak digubris warga. Lalu murid

      angkatan pertamanya mencapai nilai kelulusan

      tertinggi. Semua berubah

      Menyekolahkan anak, bagi sebagian warga Nagrok Desa Sari Mukti, Garut, berarti kehilangan potensi pendapatan keluarga. Karena itu, ketika Madrasah s Sururon menawarkan pendidikan gratis, mereka tak meng­gubrisnya. Kalaupun ada anak yang bersemangat ikut sekolah, orang tua justru menagih kompensasi. "Kami diharuskan membayar Rp 5.000 sampai Rp 10 ribu," tutur Ridwan Saefudin, 36 tahun, pengajar di Su­ruron, saat ditemui Tempo, akhir Ju­ni lalu. Uang sebesar itu adalah penghasilan rata-rata yang -biasa di­dapat warga Nagrok sebagai buruh tani sayuran.

      Inceu, begitu Ridwan biasa disa­pa, tak patah arang. Bersama para sukarelawan lain dari Serikat Petani Pasundan (SPP), ia sudah bertekad untuk mengubah nasib para buruh tani itu melalui pendidikan. Selepas jam sekolah, Inceu dengan telaten menemui warga untuk meyakinkan mereka tentang pentingnya pencil­dikan bagi anak-anak. Usahanya tak sia-sia. Saat memulai sekolah ini pada Juli 2003, tercatat 70-an siswa yang hadir.

       

      Namun, belum genap setahun ber­selang, jumlah itu menyusut hingga lebih dari separuhnya. Konflik anta­ra buruh tani dan tuan tanah yang disokong aparat menjadi penyebab utama. Kondisi ekonomi para buruh tani itu kian terimpit. Sebagian be­sar anak-anak diminta orang tuanya kembali membantu di ladang.

      Dan inilah ritme harian para bo­cah di sana. Pagi-pagi sekali mere­ka sudah berada dalam badan truk, berdesakan dengan orang dewasa menuju bukit-bukit di kaki Gunung Papandayan untuk menanam ku­bis, tomat, dan aneka sayuran lain­nya. Sebagian lagi tinggal meng­asuh adik-adik mereka di rumah, sebelum akhirnya kawin dan men­jadi buruh tani seperti orang tua mereka. Sebuah lingkaran takdir yang kelihatannya tak akan bisa di­putus.

      Apa boleh buat. Inceu dan kawan­kawan hams berdamai dengan ke­adaan. Mereka berkonsentrasi pe­nuh mendidik 30-an siswa yang tersisa. Hasil didikan 10 guru itu--cuma seorang yang lulusan universitas sungguh membanggakan. Angkatan pertama murid mereka nme capai nilai kelulusan tertinggi 8,31. Bahkan untuk pelajaran baha­sa Inggris, mencapai 9,76. Tapi se­butan guru bukan hal yang diingin­kan Inceu. "Kami di sini bukan gu­m, tapi teman belajar," kata mantan rocker itu (lihat: "Rocker Insaf dari Sururon"). Hasil itu membuat mata warga desa terbuka. Mereka mulai percaya pada sekolah altematif yang di­garap Inceu dan kawan-kawan. Jumlah siswa pun meningkat. "Sekarang ada 249 orang. Kami telah meluluskan 90 siswa," kata Inceu. Sebagian berasal dari de­sa-desa di Jawa Barat bagian se­latan yang menjadi wilayah dampingan Serikat Petani Pa­sundan. Anak-anak yang datang dari luar Sarimukti tinggal di pe­santren atau di pondok guru.

      Dua tahun silam datang pula berkah yang membuat para pe­ngelola sekolah itu senang: akre­ditasi. Para murid tak hanya ber­kutat pada 14 mata pelajaran yang ditetapkan dalam kuriku­lion, mereka juga diajari tentang pertanian, kesenian, pencak silat, serta belajar mencintai kampung halaman.

      Kepada para murid diajarkan sejarah berdirinya kampung itu agar tumbuh rasa cinta dan tak malu sebagai anak petani. De­ngan begitu, sebagian murid yang telah lulus tak lagi lari ke kota untuk mencari pekerjaan, tapi berkreasi di kampungnya sendiri. "Cita-cita besar kami ingin menciptakan agen-agen perubahan bagi kehidupan peta­ni di sini," ujar Nurdin, seorang guru di Sururon.

      Hasilnya mulai terlihat. Sima­klah pengalaman Ruli, 15 tahun, salah seorang murid yang meng­aku dirinya sudah rnahir berco­cok tanam sawi, kol, dan caisim. Dengan antusias dia menjelas­kan proses berkebun, dari meng­gemburkan tanah, menanam be­nih, merawat tanaman, hingga memanen. "Biasanya, kalau pa­nen, hasilnya buat dibagi-bagi ke tetangga," katanya bangga.

      Penyuka pelajaran matemati­ka dan fisika itu juga mengaku memelihara kelinci dan ikan. Se­tiap ada anak kelinci yang baru lahir akan diberikan kepada mu rid yang belum punya kelinci un­tuk dikembang-biakkan. Dan ini tak membutuhkan waktu lama, karena usia kandungan kelinci hanya satu bulan.

      Keterbatasan fasilitas dan alat bantu sekolah bilkan masalah besar. Sekolah itu dikelilingi ri­buan meter persegi lahan kebun sayuran yang bisa clipergunakan siswa kelas I clan II untuk berla­tih menanam sayur. Praktek la­pangan di kebun akan selalu mengingatkan inereka sebagai anak petani.

      Dengan jurnlah siswa yang te­rus membengkak, dua ruang mi­lk Pesantren Sururon menjadi sesak. warga sekitar lantas bahu­membahu membangun sebuah rumah panggung memanjang, dengan kolam ikan di bawahnya, sebagai tempat belajar. Bangun­an berupa bilik itu terdiri atas ti‑

      ga ruang belajar, perpustakaan, dan ruang administrasi.

      Lima buah komputer, ratusan buku pelajaran, majalah, dan ba­caan populer lainnya turut me­lengkapi sekolah itu. Kepala Ba­dan Pertanahan Nasional Joyo Winoto serta antis Denada dan Desy Ratnasari tercatat sebagai pemberi bantuan.

      Sedangkan untuk menambah kemampuan para guru yang ra­ta-rata cuma lulusan SMA, me­reka saat ini sudah mulai meng­ikuti program Kejar Paket B da - Paket C, serta ada yang kuliah.

      Inceu, pak guru yang manta rocker. seperti ingin membalik-' kan syair lagu rock beken yang pemah dipopulerkan kelompok Pink Floyd beberapa dasawarsa silam: We don t need no educa­tion ...

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:35  

      Items details

      • Hits: 829 clicks
      • Average hits: 10.2 clicks / month
      • Number of words: 1876
      • Number of characters: 14673
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 131
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091400
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC