.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

HAKI
E-mail

KOMPAS 9 JUNI 2008

Sanksi Hukum dan Jurnal

Pengantar

Rubrik buku "Pustakaloka" Kompas, bekerja sama dengan komunitas Diskusi bulanpurnama dan Mejabudaya pada 24 Maret 2008 di Jakarta menyelenggarakan diskusi bertema "Plagiarisme dan Intelektualitas". Pemikiran peneliti senior Daniel Dhakidae pada diskusi itu telah dimuat pada rubrik "Bentara" halaman 57, Jumat (6/6). Adapun pada edisi kali ini dimuat pemikiran wartawan Seno Gumira Ajidarma (halaman 39) dan sosiolog Tamrin Amal Tomagola (halaman 40).

Mungkinkah menuntut secara hukum kasus-kasus plagiarisms? Di dalam diskusi, berkembang pembicaraan tentang kesulitan mengajukan plagiator ke hadapan pengadilan. Daniel Dhakidae, Tamrin Amal Tomagola, dan Seno Gumira Ajidarma masing-masing mengajukan bentuk kesulitan maupun penyebabnya jika akan menuntut plagiator ke meja hijau.

Oleh BIPURWANTARI

Meskipun plagiarisme itu tarnpak jelas, tapi kalau dicari tidak ketemu. Sangat tegas untuk urusan etika, tetapi ketika mau diselesaikan tidak bisa. Ini terjadi karena pla­giarisme sendiri sebenarnya bukan konsep hukum melainkan konsep etika, ujar Dhakidae.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 15:18 Read more...
 
E-mail

KOMPAS 19 FEBRUARI 2010

Plagiat dan kegersangan perguruan tinggi

Oleh TEUKU KEMAL FASYA


Wajah perguruan tinggi Indonesia kembali birulebam. Seorang guru besar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan dituduh melakukan plagiaris­me atau penjiplakan tulisan Carl Ungerer, penu-lis asal Australia.

Menurut pernyataan The Ja­karta Post, artikel "RI as a New Middle Power" adalah copy-paste dari tulisan yang diterbitkan di sebuah jurnal politik dan sejarah di Australia, "Middle Power: Con­cept in Australian Foreign Policy" (The Jakarta Post, 4/2). Kasus ini memang akhirnya membongkar praktik plagiarisme sang profesor yang telah dilakukan enam kali (Kompas, 10/2).

Bukan pertama

Penjiplakan adalah dosa besar dalam dunia pengetahuan, seni, dan sastra. Penjiplakan menun-jukkan bahwa otoritas keilmiahan seseorang dikangkangi dengan brutal demi kepentingan pribadi. Namun, apakah yang pantas disebut sebagai plagiat?

Menurut Ajib Rosidi, plagiat adalah pengumuman sebuah karya pengetahuan atau seni oleh ilmuwan atau seniman kepada publik atas semua atau sebagian besar karya orang lain tanpa menyebutkan nama sang pengarang yang diambil karyanya. Sikap ini agar publik mengakui bahwa kar­ya yang diambil sebagian atau semua karya orang lain itu se­bagai karyanya (Kompas, 26/8 2006). Di negeri ini, praktik pla­giat telah banyak ditemukan sebelum ini.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 15:15 Read more...
 
E-mail

KOMPAS 6 JUNI 2008

Plagiarisme dan Dilema Etika Kecendekiaan


Beragam reaksi dunia terhadap plagiarisme. Pertanyaannya, apakah dengan keterbukaan ruang tersebut tidak ada masalah etis dan moral dalam arti khusus dalam dunia akademia dan kecendekiaan secara umum? Masalah etika harus diangkat dan dijaga, dan malah penjagaannya harus ditingkatkan bukan demi puritanisme akademis atau intelektual,, akan tetapi demi kebutuhan yang sangat praktis, yaitu demi perkembangan masyarakat itu sendiri, kualitas perkembangan sosial. Tanpa itu "cendekiawan kelas kambing" akan mengusai medan dan para ahli sesungguhnya yang bekerja keras malah dipinggirkan.

Oleh DANIEL DHAKIDAE

Ketika menulis Commentarii de Bello Gallico, Laporan Perang Galia (gabungan wilayah Perancis, Belgia, dan Swiss sekarang), Caesar sebagai imperator dan sekaligus orator menyelesaikan tujuh jilid buku, sedangkan jilid kedelapan ditulis oleh pengagurnnya, Aulus Hirtius, seorang konsul, yaitu seorang hakim agung, kepala angkatan perang, dan imam agung dalam sistem republik Romawi kuno. Namun, tidak se­orang pun menuntut Caesar sebagai plagiator.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 15:12 Read more...
 
E-mail

Plagiarisme dan Kepengarangan

Andreas - IMAJINASI LEPAS, IMAJINASI TERBATAS, Cat minyak di atas kanvas, 110 x 150 cm, 2005

Belumjelas sejak kapan sejarah plagiarisme di Indonesia dimulai. Tetapi, dalam dunia kesusastraan Indonesia, pagi-pagi HB Jassin sudah harus membela Chairil Anwar yang telah menjadi ikon kesusastraan Indonesia, melalui buku kritik sastra berjudul Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45 (1956), dari tuduhan banyak orang yang menyatakan dan "membuktikan" bahwa penyair itu adalah plagiator.

MTSENO GUMIRA — AJIDARMA

Kreativitas plagiator?

Bagi HB Jassin, tuduhan semacam itu memiliki alasan dan tujuan etis, yakni bahwa plagiarisme merupakan penipuan tidak bermoral, dan ba-rangkali karena itu lantas selu-ruh karya Chairil Anwar kehi-langan kesahihannya. Atas tuduhan semacam itu, HB Jassin membelokkan perkara dari masalah moral kepada masalah sastra, yakni bahwa kredibilitas Chairil Anwar sebagai penyair ditentukan oleh kreativitas sas-tranya, bukan oleh pertimbang-an moralnya ketika melakukan tindakan yang membuat sebagian karyanya disebut plagiat. Mengikuti logika Jassin, mora-litas adalah urusan manusia dengan hati nuranbya sendiri, tetapi pekerjaan sastra Chairil, adalah urusan kritikus sastra untuk menunjukkan duduk perkaranya, sebagai perkara sastra. Dalam bahasa Jassin, "Saya tidak merasa mempunyai kompetensi untuk menyoroti sudut moral dari seniman ini. Dengan cara ini, kita menyingkirkan persoalan moral yang memang tidak pernah jadi perhitungan penyair semasa hidupnya.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 15:10 Read more...
 


Page 2 of 8

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,794
  • Sedang Online 75
  • Anggota Terakhir CECEP ABDUL AZIS HAKIM

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9113516
DSCF8803.jpg

Kalender & Agenda

July 2019
S M T W T F S
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC