.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KOMPAS 16 FEBRUARI 2010

      Plagiarisme dan Intelektual Publik

      Oleh ALOIS A NUGROHO

      Sepotong berita kecil cukup mengentak, judulnya "Guru Besar Diduga Menjiplak" (Kompas, 10 Februari 2010). Berita kali ini agak berbeda dari plagiarisme di kalangan akademisi yang biasanya mendapat perhatian publik. Berita itu "hanya" menyangkut artikel opini yang ditulis seorang guru besar dan dimuat di surat kabar.

      "Kebenaran" boleh dikatakan merupakan core business dari dunia akademis. Oleh karena itu, semua gambaran ideal tentang diskursus sepatutnya diupayakan terjadi di dunia akademis, termasuk di antaranya "kejujuran".

      Yang biasanya mendapat per­hatian publik ialah plagiarisme oleh para akademisi dalam rang-ka kegiatan penelitian. Seseorang yang ingin menjadi profesor mengumpulkan makalah para mahasiswanya serta diaku sebagai karyanya. Disertasi seorang doktor ternyata menjiplak karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Kasus semacam itu pernah jadi berita, apalagi bila terjadi "di balik tembok" perguruan tinggi negeri ternama.

       

      Itu tidak berarti kasus-kasus serupa tidak terjadi di perguruan-perguruan tinggi yang tak jadi bahan sorotan. Para akademisi yang pernah menjadi angota komisi jabatan akademik di perguruan tinggi masing-masing tentu dapat mengenali usaha "coba-coba" plagiarisme sebagai manifestasi dari apa yang oleh al-marhum Koentjaraningrat disebut sebagai "mentalitas menerabas". Tentu saja dengan catatan, kalau dapat diasunisikan bahwa akademisi senior bersangkutan tetap mengusahakan integritas moral akademik dan tidak mengkompromikannya dengan tuntutan "produktivitas" semata-mata. Lebih-lebih lagi, para pembimbing dan penguji skripsi atau tesis dituntut lebih teliti dalam memastikan bahwa karya para mahasiswa yang diuji bukan hasil plagiat Kabar angin tentang ada-nya jual beli skripsi yang sudah separuh jadi dan luasnya akses internet ke situs-situs yang menyajikan karya-karya ilmiah menuntut peningkatan ketelitian. Karena itu, ujian tesis atau skrip­si pertama-tama harus ditujukan untuk memastikan karya yang diuji benar-benar ditulis sendiri. Baru kemudian ujian ditujukan untuk menakar kadar kebenaran skripsi atau tesis bersangkutan serta derajat pengetahuan dari mahasiswa yang menulisnya

      Thomas Brandt, peneliti bisnis dari Jerman, pernah menyatakan di Indonesia telah terjadi "inflasi ijazah" (1997:211). Apa yang tertulis di sertifikat, diploma, atau ijazah tidak selalu mencerminkan kemampuan pribadi pemegangnya. Dalam konteks ini, upaya untuk memerangi plagiarisme akademis merupakan upaya urgen. maka untukmeningkatkan kuantitas sarjana, atau bahkan kuantitas guru besar tak perlu ditinggalkan, hanya perlu dilengkapi dengan upaya konkret untuk nieningkatkan "kualitas".

      Intelektual publik

      Namun, yang jadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini ialah plagiarisme oleh seorang akade­misi dalam perannya sebagai "intelektual publik". Dunia pendidikan kita mengistilahkannya de­ngan "pengabdian masyarakat", lengkap dengan konotasi yang kadang dianggap membelenggu. Bagi Edward Shils (1993), darma akademisi terhadap masyarakat melibatkan pula publikasi populer dan aktivitas politik

      Yang dimaksud dengan aktivi­tas politik bukan hanya menjadi anggota partai, tetapi juga keterlibatan dalam talkshow di media elektronik, menulis opini berbau politik di media cetak, berpartisipasi dalam seminar-seminar pu­blik tentang politik dantak ku-rang penting ambil bagian da­lam aksi demonstrasi.

      Dengan mengikuti pembedaan klasik antara "gown" (jubbah atau toga) dan "town" (kota, da­lam arti masyarakat di luar kampus), Shils mengelompokkan kewajiban akademisi menjadi "kewajiban sebagai pengajar di per­guruan tinggi" dan "kewajiban terhadap masyarakat sekitar". Komitmen terhadap kebenaran tidak hanya relevan dalam kegi-atannya sebagai dosen, tetapi juga relevan bagi aktivitas sebagai "intelektual publik".

      Alasan untuk itu, antara lain, karena dengan semua gelar yang disandang dan nama besar per­guruan tinggi yang dipikul, harapan publik kepada seorang aka­demisi amat besar. Harapan itu menyangkut penilaian yang bertanggung jawab dan informasi yang obyektif, imparsial, tak partisan. Kalau seorang guru besar secara publik mendukung kebijaksanaan tertentu, publik mengandaikan dukungan itu merupa­kan kesimpulan dari sebuah deliberasi ilmiah yang jujur.

      Kalau seorang dosen memimpin demonstrasi untuk menolak kebijakan tertentu, publik mengandaikan penolakan itu didasarkan pada komitmen terhadap ke­benaran. Harapan itu akan tetap ada seandainya sang akademisi tak memasang gelar dan nama besar perguruan tingginya. Kare­na itu, bagi para akademisi, kewa­jiban etis untuk tak melakukan plagiarisme berlaku pula pada ranah non-akademis. Publish or perish Wie schrijft die blifft. Yang tak menulis, takkan dikenal. Rupanya tuntutan ini, ditanibah tuntutan berpromosi dalam era industrialisasi jasa pendidikan ini, memperkuat godaan untuk merealisasikan "mentalitas menerabas" dalam aktivitas intelek­tual publik.

      ALOIS A NUGROHO

      Guru Besar Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Administrasi, Unika Atma Jaya,

      Jakarta

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 01 March 2012 14:43  

      Items details

      • Hits: 1206 clicks
      • Average hits: 13.3 clicks / month
      • Number of words: 4767
      • Number of characters: 43205
      • Created 7 years and 7 months ago at Thursday, 01 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 7 months ago at Thursday, 01 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,796
      • Sedang Online 136
      • Anggota Terakhir Dr. Ahmad Syawqi, S.Ag, S.IPI, M.Pd.I

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9121979
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      October 2019
      S M T W T F S
      29 30 1 2 3 4 5
      6 7 8 9 10 11 12
      13 14 15 16 17 18 19
      20 21 22 23 24 25 26
      27 28 29 30 31 1 2

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC