.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KORAN TEMPO 27 FEBRUARI 2010


      Plagiarisme dan Aktivitas Ilmiah


      Roy Thaniago, mahasiswa pascasarjana isi surakarta


      Nama Anak Agung Banyu Perwita mendadak ramai dibicarakan. Sayang, bukan karena prestasi, melainkan aib. Banyu, yang merapakan guru besar Institut Teknologi Bandung, terbukti melakukan plagiarisme, sesuatu yang sangat pantang dilakukan di dunia akademis. Dosen muda ini terbukti menjiplak karya Carl Ungerer dalam artikelnya di Jakarta Post edisi 12 November 2009. Ganjarannya, ia dicopot dari jabatan sebagai staf pengajar di ITB.

      Persoalan rendahnya kesadaran etis di kalangan akademisi pun punya catatan lain. Misalnya kasus di Universitas Hasanuddin, Makassar. Rasanya mata tak kaget dan memang tak perlu kaget membaca berita yang dilansir Kompas (6 Februari), yang berjudul "Dekan Sastra Bantah Penjualan Skripsi". Pemberitaan ini, yang juga diberitakan pada hari-hari sebelumnya, mengabarkan soal ditemukannya buku dan skripsi Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin yang dijual secara kiloan

       

      Oleh dosen dan mahasiswa yang menemukannya dikatakan bahwa skripsi itu dipungut dari karung buku yang dijual petugas kebersihan. Inilah yang melahirkan dugaan bahwa skripsi-skripsi tersebut dijual secara kiloan. Hal itu dibantah oleh Burhanuddin Arafah, Dekan Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, yang mengatakan bahwa pihaknya tidak menjual skripsi-skripsi tersebut. la menduga bahwa skripsi-skripsi tersebut dicuri ketika atap ruang perpustakaan sedang direnovasi. Terlepas dari siapa yang benar dan yang salah, kita tidak kaget bahwa aktivitas pencurian, pembajakan, dan penyepelean gagasan ihniah adalah hal yang lumrah di negeri ini. Bah­wa hak kekayaan intelektual bukan sesuatu yang dihargai oleh banyak orang, sekalipun oleh kalangan akademis itu sendiri. Bagaimana tidak, aktivitas colong-menyolong ide dan penjiplakan gagasan terjadi justru di lingkungan kampus suatu zona yang seharusnya meluhurkan aktivitas intelektual terse­but. Inikah ekses buruk yang ditimbulkan dari konsep pendidikan kita yang lebih mengarahkan peserta didik dan pendidik ke sifatnya yang materialistis, mekanistis, dan formalis-tis? Atau mengutip Mangunwijaya, bahwa hukum rimba pun berlaku dalam sistem pendidikan kita. Siapa kuat, siapa bertahan. Ya, siapa kuat (tahan malu) bermain curang, ia akan terus eksis.

      Cerita lama

      Cerita miring seputar aktivitas ilmiah di lingkungan pendidikan bukanlah hal asing buat kebanyakan orang. Dari penelusuran di Internet saja, banyak situs yang menjual skripsi dengan harga yang variatif. Sesuatu yang sebenarnya mudah diberantas kalau mau dilakukan.Ya, kalau mau.Tapi siapa yang mau repot-repot de­ngan pemberantasan itu kalau pa­ra pemasok naskah skripsi entah dosen, karyawan kampus, atau mahasiswa itu pun menikmati rupiah yang tak sedikit ketimbang membiarkan skripsi-skripsi terse­but dibiarkan mendebu dibaca laba-laba? Pihak berwenang pun enggan memberantas karena memang gagasan ilmiah bukan se­suatu yang lebih berharga daripada uang bangku atau poin kredit untuk menjadi guru besar.

      Selain di Internet, yang lebih menawarkan naskah jadi yang tinggal diutak-atik, ada yang si­fatnya menjual jasa. Jasa penulisan skripsi. Maka tak aneh bila ba­nyak sarjana yang setelah lulus ti­dak bisa mengaplikasikan ilrnu-nya dalam pekerjaan apalagi diajak berpikir abstrak. Itu tak lain karena mereka memakai jasa penuhsan skripsi yang dikerjakan dosen di kampus sendiri maupun di kampus tetangga. Bahkan pro­ses sidang skripsi pun bisa diskenariokan!

      Seperti halnya kencing yang ti­dak gratis, "bantuan gaib"ini pun ada bayarannya yang tidak kecil. Bantuan gaib dari dosen bisa di mulai dari yang kecil, dari hanya membimbing dengan meminjamkan skripsi-skripsi terdahulu sampai kemudian menuliskan skripsi dan merekayasa sidang skripsi. Akal bulus untuk meluluskan diri meraih gelar kesarjanaan bukan hanya dimonopoli para mahasiswa, karena para peng­ajar pun tekun melakukannya. Cerita mengenai seorang guru be­sar yang menulis banyak buku, padahal isinya adalah kumpulan tugas kuliah mahasiswanya yang tidak pernah dimintai izin sebe­lumnya, sudah menjadi cerita klasik untuk tidak mengatakan ce­rita legenda.

      Cerita lain, ternyata lembaga penelitian yang ada di perguruan tinggi adalah sumber pendapatan alternatif buat para dosen yang (katanya) kepepet kebutuhan ekonomi. Seorang dosen yang mengajukan proposal penelitian dan diloloskan dengan mudah mernakai skripsi mahasiswanya untuk dijadikan laporan penelitiannya."Saya punya hak di sana karena saya yang bimbing," kira-kira begitu pikir mereka. Isi penelitiannya tentu sama persis karena tinggal menyalin dan mengubah nama dan data fiktif lainnya.

      Sebagai pelicin, dengan murah hati disisihkannya dana hibah pe­nelitian itu untuk pegawai lembaga penelitian yang membantu meloloskannya. Dan untuk melenyapkan kecurigaan, karena proposalnya terlalu sering lolos, dipakailah nama rekan dosen lain sebagai pengaju proposal penelitian. Kontan saja banyak dosen yang kaget bahwa namanya ada di salah satu laporan penelitian yang tak pernah ia kerjakan. Ini tak lain kare­na nama mereka dipakai secara diam-diam.

      cermin pendidikan

      Maraknya kasuscermin pendidikan tersebut menyuratkan beberapa kesimpulan bah­wa (1) aktivitas pendidikan, yang salah satunya berupa gagasan ilmiah, bukan merupakan suatu yang dihargai di negeri ini; (2) para pengambil kebijakan yang mengurus sistem pendidikan di Indonesia tidak serius menangani kasus pembajakan dan plagiarisme gagasan ilmiah; dan (3) sistem pendidikan di Indonesia yang berorientasi materialistis, mekanistis, dan formali-sitis hanya menghasilkan lulusannya yang malas, curang, dan ber-mental instan.

      Untuk poin ketiga ini, akan semakin jelas bila kita lihat bagaimana, misalnya, universitas mengiklankan dirinya di media massa sebagai lembaga pendidikan yang menjamin lulusannya dalam mendapatkan pekajaan. Dan hal ini kemudian dipersepsikan masyarakat kebanyakan bahwa universitas hanya sebagai salah satu"meja birokrasi"yang harus dilewati untuk melegalisasi seseorang mendapatkan pekerjaan nantinya. Apalagi fakta bahwa pendidikan adalah barang mewah yang harus dibayar mahal, yang membuat kebanyakan orang melakukan berbagai cara untuk segera lepas dari cengkeraman biaya tinggi, turut menambah ekses buruk pendidikan kita.

      Dengan demikian, universitas bukan lagi sebagai laboratorium hidup dalam meramu dan mencetak manusia-manusia yang unggul dalam berkegiatan ilmiah maupun dalam berkepekaan sosial yang mempunyai posisi social kultural dalam masyarakatnya. Icipi univer­sitas hanya merupakan sebuah pe-ternakan atau tambak yang menyiapkan robot-robot mekanis yang patuh terhadap kebutuhan dunia industri semata. Dan obsesi mengantongi ijazah dengan jalan apa pun menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

      Maka perlukah Mata kaget de­ngan berita-berita semacam ini kalau ingatan kolektif mata menyimpan banyak catatan kelam mengenainya? Dengan tidak perlu ditambahi dengan cerita lain soal bisnis jasa pemberian gelar Dr HC pun, Mta sudah menganggap hal ini sebagai rahasia umum yang beredar di masyarakat. Walau me­rupakan rahasia umum, Mta ha­rus selalu maMum karena pihak berwenang punya kesibukan luar biasa ketimbang urusan yang mungMn sepele ini. Jadi, kalau mendengar cerita soal pembajak-an karya akademik, tidak usah sok kaget, deh! •

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 964 clicks
      • Average hits: 10.1 clicks / month
      • Number of words: 6015
      • Number of characters: 52720
      • Created 7 years and 1 ago at Thursday, 01 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,799
      • Sedang Online 84
      • Anggota Terakhir Messa Rahmania

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9134159
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      February 2020
      S M T W T F S
      26 27 28 29 30 31 1
      2 3 4 5 6 7 8
      9 10 11 12 13 14 15
      16 17 18 19 20 21 22
      23 24 25 26 27 28 29

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC